Lima bulan sebelum pernikahan Rara dan Devan terlaksana, Rara memergoki tunangannya itu tengah berada di rumah saki bersama seorang perempua hamil, awalnya ia mengira itu saudara nya, namun kenyataan pahit harus terpaksa ia telan mengetahui bahwa wanita yabg bersamanya adalah istrinya, wanita yang dinikahi devan satu tahun yang lalu. Dunia Rara seakan berhenti detik itu juga, sakit tentu saja iya rasakan, kecewa apa lagi, Rara tidak tahu harus bagaimana lagi hidupnya tak lagi sma, Rara yang dulu periang kini berubah menjadi pendiam dan berkali kli masuk rumah sakit karena terlalu lelah karena pikirannya. Angga yang kebetulan menjadi dokter yang menangani Rara dan juga seorang sahabat dari Riri, kakak Rara berniat menjodohkan keduanya Angga tentu saja bahagia karena bagaimana pun ia memang sudah diam-diam menyimpan hati pada perempuan cantik pemilik cafe tempat dirinya makan siang di jam istirahatnya. Angga tidak ingin menyerah meskipun gadis itu tidak juga memberikan kepastian meski berkali-kali dirinya mengungkapkan perasaannya. Rara hnya tidak ingin menerima laki-laki itu di saat hatinya masih bersemayam laki-laki masa lalu yang telah menggoreskan luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Semenjak hari itu Angga merasa bahwa Rara menjauh mesti tak sepenuhnya, namun jarak itu Angga rasakan. Malam ini Angga mengantarkan Rara pulang dengan sedikit paksaan setelah beberapa kali perempuan itu menolak. Jujur Angga sudah tak tahan dengan jarak yang Rara ciptakan ini dan Angga ingin segera menyalesaikannya dan menipiskan kembali jarak antara dirinya dan Rara.
Perkataan Rara tempo hari sejujurnya membuat Angga marah dan emosi, bagaimana tidak? Saat itu Rara memintanya untuk jangan memaksakan, padahal Angga pernah katakan bahwa dirinya siap untuk bertahan, tapi Angga sebisa mungkin untuk tidak meluapkan emosinya karena tidak ingin membuat perempuan yang dicintainya itu semakin menjauh dan parahnya lagi membenci dirinya dan menolak kehadirannya. Angga tidak mau itu terjadi karena ia sangatlah mencintai perempuan pendek namun cantik itu.
Tidak ada percakapan selama dalam perjalanan hingga di kediaman Rara. Perempuan itu hanya mengucapkan terima kasih lalu turun dari mobil sebelum Angga sempat menahan kepergiannya. Angga memukul keras stir mobilnya melampiaskan kekesalan.
“Gak masuk dulu, Ga?” Ferdi datang menghampiri Angga yang masih berada di dalam mobil yang kacanya terbuka.
“Nggak deh.”
“Lo kenapa? Lagi ada masalah sama Rara? Gue liat beberapa hari ini Rara juga murung, gue kira setelah nerima lo dia bakalan lebih ceria, tapi kok …”
“Dia belum nerima Gue, Fer.” Jawab Angga lesu.
“Loh, kok belum, Rara sempat cerita sama Riri dia bakalan nerima lo.” Angga yang mendengar itu segera membuka pintu mobilnya dan keluar, berdiri berhadapan dengan Ferdi.
“Kapan Rara bilang kayak gitu?” tanya Angga penasaran dan juga harap-harap cemas.
“Lima hari yang lalu deh kalau gak salah,” ucap Ferdi coba mengingat. Angga terdiam sejenak, lalu tiba-tiba memukul lengan Ferdi kucup keras melampiaskan kekesalannya. Ferdi yang mendapat pukulan tiba-tiba itu mendorong Angga agar menjauh.
“Lo kenapa sih tiba-tiba mukul gue!” Kesal Ferdi.
“Sorry, gue kelepasan.” Sesal Angga.
“Coba cerita, ada apa sebenarnya sama kalian berdua?”
“Tepatnya lima hari yang lalu, gue emang gak makan siang sama Rara kayak biasanya, karena Resa, teman kerja gue bawa makanan banyak, dan nawarin buat makan bareng. Ya usah gue makan sama Resa di ruangan gue. Gue gak tahu kalau Rara datang, tapi pas gue sama Resa udah selesai makan niat awalnya gue mau nganterin Resa keluar ruangan doang, tapi gue liat ada Rara didepan pintu. Setelah gue tanya dia Cuma jawab mampir dan nganterin Sani untuk berobat. Dan sedari hari itu sampai sekarang ini dia kayak ciptain jarak aja sama gue. Gue gak tahu kalau hari itu dia emang niat nerima gue. Kalau aja gue tahu …” Sesal Angga tertunduk lesu.
“Lo udah jelasin?” Angga mengangguk. Ferdi menepuk bahu sahabatnya itu prihatin.
“Sabar aja, mungkin dia cuma ngerasa kecewa. Lo tahu, ini pertama kalinya lagi dia membuka hatinya selama satu tahun ini. Dan lo juga tahu dia sempat merasakan kekecewaan yang amat besar selama ini.” Angga kembali mengangguk lalu izin untuk pulang berhubung hari sudah malam, tidak lupa mengucapkan terima kasih pada sahabatnya itu.
Angga meninggalkan komplek perumahan Rara dengan rasa bahagia dan juga sedih. Bahagia karena mendengar Rara sempat akan menerimanya juga sedih karena nyatanya perempuan itu mundur sebelum sempat mengatakan. Dan Angga menyesal telah mengecewakan pujaaannya itu, meski itu hanya berasal dari sebuah kesalah pahaman.
“Aku janji, akan mengembalikan kepercayaanmu lagi, Ra. Tetap disana, jangan melangkah menjauhi ku.”
paling suka liat matahari terbenam
eeeeeaaaa 😁
tuh ortu Devan gk setuju sm Rara atau gmn sich, kok bisa"nya baru seminggu tunangan mlh di jodohkan sm orang lain, dan Devan jg harusnya tuh bicara sm keluarga Rara dr awal gk jadi cowok pengecut kayak gitu, masak dh nikah setahun msh ada rencana nikah sm Rara 😤