Gadis belia dihadapkan dengan sebuah pernikahan, sayangnya dirinya hanya dijadikan sebagai penganti seseorang yang menghilang, lantas bagaimana saat seseorang yang perannya Ia gantikan telah kembali?? apa Gadis itu mampu bertahan atau memilih pergi??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takjub
Setelah perdebatan gara gara testpack, akhirnya disinilah Yumna dan Abi menunggu hasil benda pipih yang dicelupkan ke dalam air seni Yumna, Yumna yang berada di kamar mandi sedangkan Abi menunggu di luar.
'Ceklek'
Yumna melangkah begitu pula dengan Abi yang sudah tidak sabar untuk mengetahui hasilnya.
Abi:"bagaimana???"
Yumna tersenyum manis.
Yumna:"nih" Yumna menunjukan benda itu yang menunjukkan garis dua berwarna merah kepada Abi.
Abi: Apa ini artinya positif..??
Yumna: Ya'sepertinya begitu..!!"
Kedua nya nampak diam. Namun tiba-tiba mereka tertawa bersama.
Yumna: sayang tidak akan menyuruh ku untuk menggugurkannya kan..??" tanya Yumna sedikit khawatir.
Abi: Tidak, tidak akan pernah. Bagaimana kau berpikir aku akan membunuh anak ku sendiri..?"
Yumna: apa sayang yakin ini adalah anak sayang, apa sayang tidak meragukannya??sayang meninggalkan saya sebulan, siapa tahu saya punya pacar diluar sana!"
Abi tersenyum miring mendengar pertanyaan Yumna. Bagaimana Yumna sebodoh itu, meski Abi tidak bersamanya, segala sesuatu yang Yumna lakukan tidak seujung jari pun yang terlewatkan dari pandangan Abi, Bahkan Abi sangat heran dengan Yumna yang sama sekali Tidak berkeinginan untuk keluar rumah, apa wanita ini tidak bosan??
Abi:CK' meski aku tidak di rumah segala kegiatanmu aku mengetahuinya yumna." Abi menjawab dengan tegas.
"Dan, kenapa dalam waktu sebulan kau sama sekali tidak pergi keluar rumah??, Bahkan kartu kredit dan ATM dariku tidak pernah kau pergunakan??" tanya Abi beruntun.
Yumna: saya tidak keluar rumah karena tidak ada hal yang mendesak, sebisa mungkin saya tidak akan safar tanpa mahram."
Abi: apa itu Safar dan mahram..?"
" TENTANG LARANGAN WANITA SAFAR TANPA MAHROM
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah wanita safar (bepergian jauh) kecuali bersama dengan mahromnya, dan janganlah seorang (laki-laki) menemuinya melainkan wanita itu disertai mahromnya. Maka seseorang berkata: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya aku ingin pergi mengikuti perang anu dan anu, sedangkan istriku ingin menunaikan ibadah haji.” Beliau bersabda: “Keluarlah (pergilah berhaji) bersamanya (istrimu)”. \[HSR. Imam Bukhari (Fathul Baari IV/172), Muslim (hal. 978) dan Ahmad I/222 dan 246\]"
Abi: jadi Safar itu berpergian..?? dan mahram itu suami, termasuk saya??"
Yumna tersenyum mendengar pertanyaan Abi
Yumna: ya kurang lebih nya begitu"
Abi: jadi seandainya saya tidak pulang berbulan-bulan apa kamu tidak akan keluar rumah??"
Yumna: kalo tidak ada hal yang mendesak sebisa mungkin saya tidak akan keluar, kalaupun harus keluar pasti saya akan meminta izin kepada sayang."
Abi: apa izin ku begitu pentingnya??"
Yumna: Allah perintahkan agar para wanita lebih banyak tinggal di dalam rumah. Karena rumah adalah hijab yang paling syar’i baginnya. Allah berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
Tetaplah tinggal di rumah kalian, dan jangan melakukan tabarruj seperti tabarruj jahiliyah yang dulu. (QS. al-Ahzab: 33)
Allah gandengkan perintah untuk banyak tinggal di rumah dengan larangan melakukan tabarruj. Karena umumnya, wanita akan lebih rentan melakukan tabarruj jika dia sudah sering keluar rumah.
Karena itu, para wanita diperintah untuk banyak tinggal di dalam rumah. Dan ketika hendak keluar rumah, mereka harus meminta izin kepada suaminya.
Musthafa ar-Ruhaibani mengatakan,
ويحرم خروج الزوجة بلا إذن الزوج أو بلا ضرورة ، كإتيانٍ بنحو مأكل ; لعدم من يأتيها به
Seorag istri diharamkan untuk keluar tanpa izin suami, kecuali karena alasan darurat. Seperti membeli makanan, karena tidak ada yang mengantarkan makanan kepadanya. (Mathalib Ulin Nuha, 5/271)
Dan izin tidak harus dilakukan berulang. Istri bisa minta izi umum untuk akvitas tertentu, misalnya semua aktivitas antar jemput anak, atau ke warung terdekat atau pergi ke tempat kajian muslimah, atau semacamnnya. Dengan ini, istri tidak perlu mengulang izin untuk melakukan aktivitas yang sudah mendapat izin umum dari suami.
Allahu a’lam."
Ttakjub, Abi takjub dengan pengetahuan sang istri, begitu ta'at nya sang istri dengan agama, betapa beruntungnya Abi memiliki istri yang Sholehah. Lantas masih pantaskah Abi selalu membandingkan istri pertama dan istri kedua yang jelas-jelas memiliki keistimewaan yang berbeda?
menjijikkan...