Kehidupanku berakhir saat ditikam tunangan dan adik tiriku sendiri.
Tapi saat aku membuka mata, aku ber Reinkarnasi menjadi Ratu es putri yang dibuang keluarga kerajaan karena "tidak punya kekuatan".
Apes? Enggak. Karena aku membawa [Sistem Es Dewa].
Misi: Selamat, Balas Dendam, dan Jadi Ratu!
Keluarga yang mengusirku? Tunggu saat aku membekukan kerajaan kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIKAMAN DI BALIK BAYANGAN
Gelombang hawa panas dari Scorching Purgatory beradu sengit dengan hawa sedingin es dari tubuh Elena. Di udara, Sir Leon melesat kembali seperti kilat keemasan. Pedang besarnya menebas bertubi-tubi dari berbagai arah, menciptakan badai aura angin yang mengoyak atmosfer.
TRANG! DENTANG! CRAAK!
Setiap tebasan Leon menghantam perisai es baru yang diciptakan Elena secara instan melalui sistemnya. Namun, tekanan fisik dari pendekar Pedang itu bukan hal sepele. Elena bisa merasakan setiap getaran benturan itu meresap ke dalam tulang-tulangnya, menguras cadangan mananya dengan kecepatan yang tidak biasa.
"Kenapa, Penyihir Agung?" Leon berteriak di tengah ayunan pedangnya, wajahnya dipenuhi kegilaan bertarung. "Di mana kesombonganmu yang kemarin membantai Pasukan Salib?! Apakah kau hanya bisa bersembunyi di balik dinding es ini?!"
Elena tidak membalas provokasi itu. Sepasang matanya yang biru es terus mengamati pola gerakan Leon. Pikiran taktisnya berputar cepat.
'Pria ini mengandalkan kecepatan angin untuk memperingan berat pedangnya. Jika aku bisa membekukan aliran udara di sekitarnya...'
Namun, sebelum Elena sempat memformulasikan mantranya, insting Immortal Ice Heart di dalam dadanya mendadak berdenyut kencang. Rasa sakit yang tajam seperti tusukan jarum tak kasat mata memperingatkannya akan bahaya fatal yang datang dari arah belakang.
Dari balik bayang-bayang jubah es Elena sendiri, sebilah belati perak tipis meluncur senyap tanpa mengeluarkan hawa keberadaan sedikit pun. Itu adalah Nona Valerica. Menggunakan sihir bayangan tingkat tinggi, dia telah mengabaikan seluruh pertempuran di lini depan dan merayap melewati celah pelindung absolut, mengincar jantung sang Maharani Es.
Belati itu bukan senjata biasa. Itu adalah Belati Penebusan, artefak suci yang dilapisi racun perusak mana. Satu goresan kecil saja sudah cukup untuk mengacaukan sirkulasi energi di dalam tubuh seorang Penyihir Agung.
"Mati kau, penghianat," bisik Valerica tepat di belakang telinga Elena.
Jarak belati itu hanya tinggal beberapa sentimeter dari punggung Elena. Dalam kondisi melayang di udara dan ditekan oleh tebasan Leon dari depan, Elena tidak memiliki ruang untuk menghindar.
ROAAAAAARRRRR!
Sebuah raungan naga yang memekakkan telinga membelah medan perang. Frost, yang sedang bertarung melawan puluhan ksatria di bawah, melihat bahaya tersebut. Tanpa memedulikan tubuh raksasanya yang menjadi sasaran empuk para penyihir api musuh, Frost meluncurkan ekor berduri esnya dengan kecepatan kilat, menghantam udara di belakang Elena.
BOOOMM!
Hantaman ekor Frost berhasil memblokir jalannya belati Valerica, namun harga yang harus dibayar sangat mahal. Karena fokusnya terbagi, barisan belakang Aliansi memanfaatkan momentum tersebut. Sepuluh Penyihir Agung Lingkaran 7 musuh melepaskan sepuluh bola api raksasa Solar Flare yang menghantam punggung raksasa Frost secara bertubi-tubi.
CRASH! CRAKK!
Sisik berlian es milik Frost pecah di beberapa bagian. Naga Kuno itu melengking kesakitan saat dagingnya terbakar oleh api suci. Darah naga yang berwarna biru keperakan menetes ke atas salju, langsung menguap karena panasnya magma bawah tanah musuh.
"Frost!" Elena berseru, untuk pertama kalinya emosi kemarahan yang murni meledak di wajahnya yang biasanya sedingin es.
Valerica yang serangannya gagal segera melompat mundur, melebur kembali ke dalam kabut asap hitam medan perang dengan tawa rendah. "Naga yang setia. Tapi karena dia melindungimu, pertahanan monster itu sekarang telah hancur!"
Di bawah sana, dua Ice Chimera milik Elena mulai kewalahan. Salah satu kepalanya telah dipenggal oleh kapak raksasa milik Sir Reinhardt yang memimpin pasukan zirah berat menembus lini depan. Pasukan es Elena mulai terdesak mundur mendekati dinding gerbang utama benteng.
[Sistem: Peringatan Darurat. Integritas Pasukan Makhluk Es menurun hingga 45%.]
[Konsumsi Mana Pengguna berada di titik kritis: Sisa Mana 30%.]
Elena mendarat di atas salah satu menara benteng yang retak. Napasnya sedikit memburu.
Dia menatap Frost yang kini terengah-engah di udara dengan luka bakar yang mengepulkan asap di punggungnya. Pemandangan darah naga kontraknya yang mengalir di atas tanah membuat hati Elena bergejolak. Sisa-sisa emosi manusiawi yang tersisa di dalam dirinya terbakar menjadi kebencian yang berkobar-kobar.
'Manusia... mereka selalu menggunakan cara-cara kotor. Mereka menyerang dari belakang, mereka menggunakan jumlah untuk menindas, mereka menghancurkan semua yang berharga di sekitarku,' batin Elena, ia mengepalkan tinjunya begitu erat hingga kuku-kukunya memutih. 'Sama seperti Julian... sama seperti Alicia. Manusia tidak pernah berubah. Mereka adalah hama yang harus dimusnahkan hingga ke akarnya!'
Tiba-tiba, layar virtual sistem di depan matanya berkedip merah dengan tulisan tebal yang menyala-nyala.
[Sistem: Mendeteksi Gejolak Emosi Kebencian Mutlak pada Pengguna.]
[Kondisi Tersembunyi Terpenuhi: Ketidakpercayaan Total terhadap Ras Manusia.]
[Misi Darurat Diaktifkan: Pertaruhan Jiwa Ratu Es.]
* [Pilihan A: Mundur ke dalam Istana Fase 3 dan gunakan Batas Pelindung Absolut untuk bertahan (Peluang selamat 90%, namun seluruh pasukan luar akan hancur dan poin sistem berkurang menjadi negatif).]
* [Pilihan B: Serahkan sisa 30% Mana Anda dan sisa 3.500 Poin Sistem untuk mengaktifkan paksa Glacial Judgment dengan mengorbankan vitalitas fisik (Peluang berhasil: 50%. Risiko: Kerusakan inti mana jika gagal).]
Elena menatap layar itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah seratus ribu pasukan musuh yang mulai bersorak kemenangan di bawah sana, dipimpin oleh Leon dan Reinhardt yang berjalan angkuh menuju gerbangnya.
"Mundur?" Elena tertawa parau, sebuah tawa penuh kegilaan tirani yang bergema memotong suara gemuruh perang. "Aku, Elena von Silversnow, tidak akan pernah merangkak mundur di hadapan serangga-serangga ini!"
Elena mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke langit. Jubah biru keperakannya berkibar hebat saat seluruh energi terlarang di dalam hutan Frozen Abyss mulai tersedot ke arah tubuhnya.
"Sistem! Ambil sisa manaku! Ambil seluruh poin yang tersisa!" teriak Elena, matanya kini sepenuhnya berubah menjadi putih bersih tanpa pupil, memancarkan cahaya magis yang menakutkan. "Aktifkan... Glacial Judgment!"
[Sistem: Pilihan B Diterima.]
[Memulai Proses Pembongkaran Batas Mana Terlarang...]
[Mengunci Seluruh Medan Perang Lembah Ratapan.]
Seketika, langit hitam di atas mereka berhenti bergerak. Udara panas dari magma Scorching Purgatory mendadak membeku di udara, berubah menjadi uap padat yang jatuh seperti batu.
Seluruh pasukan Aliansi, termasuk tiga Ksatria, mendadak merasakan firasat buruk yang membuat bulu kuduk mereka berdiri tegak. Sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar sihir Penyihir Agung sedang turun dari langit.