Descnya dibaca dulu ya sayang❤️
novel ini dalam masa penulisan ulang untuk mengganti keseluruhan nama tokoh, para pembaca harap maklum atas ketidaknyamanan ini.
Thank you ♥️
***
~Hilangkan perasaanmu, balas dendam akan berhasil ketika kamu tak berperasaan~
.
.
.
Ini karya pertama Author semoga kaka-kaka semua suka.. kalau gak suka skip aja nee🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atika.NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~17 Apa yang terjadi padanya
*Istri? Lalisa Xavier, aku tak menganggapmu seperti itu. Pernikahan ini bukanlah hal yang benar-benar ingin ku lakukan*
*Hal yang ingin ku lakukan adalah membuatmu menderita!*
Lisa menatap mangkuk dihadapannya, ia mengingat ucapan Seidon yang baru saja ia katakan tadi.
"Kenapa sedih? Lisa, semua orang yang menikah ingin bahagia. Mereka beruntung tapi, kau tidak" gumamnya dengan bibir bergetar.
"Aku lapar sekali.. sisa makanan Tuan masih banyak, jika di buang sangat disayangkan" gumam Lisa.
Ia meletakan nampan di atas meja makan dan menatap sisa makanan itu.
Kemudian Lisa duduk, memakan sisa sop dan nasi yang masih ada dengan lahap. Dia sangat kelaparan sejak acara kemarin. tapi tiba-tiba ia terhenti,
"Aku.. ingin sekali merasakan rasanya dicintai oleh Tuan, bagaimana rasanya menjadi wanita beruntung yang dicintai Tuan.." ia meletakkan sendoknya perlahan dan menatap piring dihadapannya.
*Seperti apa rasanya memiliki suami..* batinnya.
"Nyonya... Kenapa tidak meminta pelayan untuk melayani anda sarapan?"
"Alexi? Kau disini? K-kau darimana" kata Lisa kaget.
"Saya baru saja datang, apa anda butuh sesuatu?"
"Tidak.. jika butuh akan ku ambil sendiri"
Alexi menatap makanan yang di makan oleh Lisa.
*Mangkuk nasi dan sop berada diatas nampan, apakah Nyonya membawanya ke dapur dan sengaja memakannya?* Batin Alexi.
"Nyonya, makanan baru tersedia untuk anda kenapa malah memakan makanan sisa?" Tanya Alexi.
"Tidak apa-apa, ini sudah cukup makanku tidak banyak juga" jawab Lisa.
"Sayang kan kalau dibuang,.."
Lisa berdiri dan berniat untuk mencuci piring sisa makannya tapi Alexi segera memanggil pelayan untuk membantu Lisa.
"Anda tidak di ijinkan melakukan pekerjaan rumah, biar para pelayan yang melakukannya" kata Alexi.
"Aku bisa melakukannya, mencuci bekas makananku sendiri bukanlah hal berat"
"Nyonya, tugas anda bukanlah di dapur, Tuan membayar kami memang untuk melakukan hal itu" bantah Alexi.
"Pelayan, tolong cuci piring kotor itu dan buatkan jus untuk nyonya" suruh Alexi.
"Baik,"
Lisa terdiam, ia menatap Alexi yang menatapnya juga. Ada beberapa pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Alexi dan begitu sebaliknya tapi keduanya memilih untuk diam.
"Alexi, jika dibandingkan dengan para pelayan.. sebenarnya aku masih lebih rendah daripada mereka. Kenapa kau memperlakukanku seperti nyonya" kata Lisa.
"Tidak peduli rendah atau tinggi, jika Tuan menikahi mu itu artinya kau adalah nyonya kami"jawab Alexi.
"Tapi, Tuan tidak menganggap ku seperti itu"
"Kami hanya akan mendengarkan ucapan Tuan, selagi Tuan tidak berkata apapun. Saya akan tetap melayani Nyonya sebagaimana mestinya" kata Alexi.
Alexi adalah kepala pelayan yang bisa menyuruh semua pelayan rumah melakukan pekerjaan apapun. Baginya Lisa adalah nyonya rumah itu meskipun ia tau tujuan Seidon menikahinya bukanlah untuk di jadikan sebagai istri pada umumnya.
"Terimakasih, Alexi" kata Lisa.
"Nyonya, kenapa anda memakan sisa makanan Tuan?"
"Alexi, aku bukanlah nyonya disini aku juga bukan istri dari Tuan. Aku hanyalah budak disini, memakan makanan sisa itu tidak masalah" kata Lisa sendu.
"Soal ini, tolong jangan adukan pada Tuan"
"Maksud anda memakan bekas sisa makanan ini?"
Lisa mengangguk mengiyakan pertanyaan Alexi, kemudian ia kembali ke kamar untuk melihat Seidon. Alexi hanya terdiam melihat Lisa yang begitu kasihan.
Ia kembali ke kamar dan mendapati Seidon yang sudah tidak ada di tempat tidur. Ia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.
"Dia sedang mandi? Apa kondisinya sudah membaik?"
Lisa mendekat dan berniat mengetuk pintunya, tapi belum sempat ia melakukannya pintu itu telah terbuka dan Seidon keluar dari sana.
"Ah! M-maaf.."
Ia segera berbalik setelah melihat seidon telanjang dada di depannya.
"Sedang apa didepan sini?"
"Aku mendengar gemercik air jadi aku memeriksanya, apa kondisimu sudah baik? Kenapa Tuan mandi pagi-pagi?" Tanya tanpa membalikkan badan.
"Aku bukan orang lemah, alkohol bukanlah hal yang mematikan. Sedikit mabuk itu tidak masalah" katanya berjalan keruang ganti.
Lisa melirik sampai pintu ruang ganti tertutup. Ia menghela nafas pelan dan beralih melihat ranjang.
Ia membereskan selimut yang berantakan dan merapikannya. meskipun tubuhnya masih sangat gemetaran Lisa berhasil melakukannya dengan baik, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan setelah ini. Tak beberapa lama Seidon sudah siap dan rapi dengan baju kantornya. Lisa menoleh dan berjalan mendekati Seidon.
"Apa? Kenapa mendekati ku?" Tanya Seidon sambil mengancingkan lengan bajunya.
"Tuan, aku ingin pergi kerumah ayahku.. aku ingin melihat kondisinya.."
Seidon menoleh menatap Lisa dengan tajam, tangannya beralih mencengkeram rahang Lisa yang perlahan semakin kuat.
"Tidak.. kau tidak boleh pergi kemanapun meskipun keluar dari pintu rumah ini jika terlihat olehku maka kakimu akan ku potong!"
Braak!!
Seidon mendorong Lisa dengan kuat hingga tubuhnya terjatuh membentur meja. Pinggulnya terkena ujung meja, sangat ngilu dan berhasil membuat Lisa tidak bisa bergerak.
"Kenapa? Sakit?"
Seidon kembali mendekati Lisa dan berjongkok dihadapannya.
"Tunggu saja, jangan terburu-buru.. besok masih ada waktu" katanya.
"Tanpa ijin dariku jika kau berani macam-macam, aku tidak akan segan-segan padamu. Paham?!"
Lisa mengangguk dan tidak berani menatap pria yang ada di hadapannya itu. Seidon langsung pergi begitu saja dan menutup pintu kamar dengan cukup keras.
"Aawwhh.. sakit sekali.."
Ia memegangi pinggulnya yang terasa begitu ngilu, ia berdiri dan duduk di sofa samping meja dan melihat pinggulnya. Mendengar suara mobil yang berbunyi, Lisa buru-buru melihat dari balkon dan ternyata Seidon akan pergi kekantor.
hari pertama pernikahan mereka, Lisa bingung harus melakukan apa. Pengawalan dirumah begitu ketat, Lisa tidak lepas dari pandangan Alexi dan pengawal rumah.
Ia hanya mondar mandir dan bolak balik kamar tanpa ada kegiatan apapun. Ia kembali ke dapur, meminta pada Alexi kalau dia ingin melakukan sesuatu disana.
Tapi lagi-lagi Alexi melarangnya melakukan pekerjaan rumah.
"Alexi, aku tidak ada kegiatan apapun. Aku mencari kesibukan agar aku tidak kesepian"
"Apa yang ingin anda lakukan? sebaiknya kembali ke kamar dan istirahat, dengan kondisi anda yang seperti ini apa yg bisa dilakukan" Tanya Alexi.
"Eum.. aku, ah iya.. aku ingin membuat kue kering, boleh yaa..? Jika istirahat dan menuruti diriku yang lemah aku akan cepat mati nantinya"
Alexi terdiam, menatap Lisa yang sangat berantakan. wajahnya yang lebam dan banyak luka begitupun dengan tangan dan kakinya.
*Entah seberapa banyak luka yang tidak terlihat, tapi dia mencoba untuk terlihat baik-baik saja.. dia mencoba untuk menerima keadaan atau sedang membohongi dirinya* batin Alexi.
"Baik, Jika anda merasa diri anda kuat dan bisa melakukannya lakukan saja, tapi saya akan tetap mengawasi"
"Iyaa tentu saja.. asiiikk akhirnya.."
Lisa langsung berjalan cepat ke dapur dan menyiapkan semuanya. Ia paling bisa membuat kue jenis apapun yang pastinya sangat enak.
Alexi meminta beberapa pelayan membantunya tapi Lisa menolak, ia ingin di dapur sendirian dengan adonannya. Alexi juga tidak mengganggu, ia berdiri di pintu dapur dengan memperhatikan Lisa yang terlihat gembira sambil memasak.
*Aku menemukan jawaban dari pertanyaan yang ada di otakku barusan, dia sedang membohongi dirinya sendiri* batin Alexi menatap Lisa.
"Kenapa dulu aku tidak berjualan kue saja ya? Tapi modal membuat kue ini juga besar, aku tidak punya uang ." Gumam Lisa yang dapat di dengar oleh Alexi.
*Nyonya terlihat sangat kasihan, sangat disayangkan jika Tuan selalu menyiksanya* batin Alexi.
4 jam berlalu, akhirnya pekerjaan Lisa selesai, bukan hanya 1 macam kue kering saja tapi ada beberapa macam kue lain yang ia buat. Membuat kue ini hanya memakan waktu 2 jam, tapi dengan kondisi Lisa yang sekarang ini dia benar-benar memaksakan dirinya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Nah, sudah selesai.. Alexi cobalah.. apakah enak atau tidak?" Kata Lisa antusias.
"Nyonya, dari baunya sudah terlihat itu enak"
"Tapi aku mau kau mencobanya, jika enak aku akan memberikannya pada Tuan" katanya.
"Baiklah"
Alexi mencobanya, sesuai dugaan. Kue buatan Lisa sangat enak dan lembut.
"Ini enak, nyonya benar-benar bisa membuat kue" kata Alexi.
"Apa menurutmu Tuan akan suka?"
*Bahkan dia memikirkan orang yang telah menyakitinya* batin Alexi.
"Apa kau dengar? Menurutmu apa Tuan menyukainya? Apa dia akan suka?" Tanya Lisa lagi.
"Nyonya, sebenarnya Tuan bukan tipe orang yang suka kue. Tapi anda boleh mencoba untuk menawarkan kue ini padanya nanti" jelas Alexi.
"Bagus, kalau begitu aku akan menyisihkan khusus untuknya"
Ia mengambil toples kue didalam lemari piring kemudian memasukkan banyak kue kedalamnya. Ia tersenyum senang dan menyimpan kue itu.
"Dan yang ada di loyang ini, untuk kalian semua. Berbagilah" kata Lisa.
"Apa nyonya tidak mau mencobanya? Ini buatan anda"
"Aku akan mencobanya nanti bersama Tuan, hari semakin siang aku akan mandi"
Sangat antusias dan senang, Lisa berjalan ke kamar dengan riangnya. Ia melakukan hal itu untuk melupakan kesedihannya yang ia pendam.
______
Sore hari pun tiba jarum jam berputar begitu cepat dan sudah menjelang malam. Lisa duduk di ruang tamu dengan toples kue yang tadi ia sisihkan untuk Seidon.
Ia berniat menunggu kepulangan Seidon yang tak kunjung datang. Rumah begitu sepi, pelayan sangat sibuk seharian melakukan tugas mereka masing-masing.
Alexi melihat Lisa begitu senang menunggu Seidon pulang dan terus menatap toples kue spesial untuk sang suami.
Pukul 10.00 malam Seidon baru tiba dirumah, ia masuk dengan dasi yang telah berantakan dan pakaian lusuhnya yang sedikit ada bercak merah disana.
Wajahnya lusuh dan masam, matanya memerah seakan menahan emosi yang besar.
Lisa yang melihat itu langsung berdiri menghampiri Seidon dengan senyuman, berniat untuk menyambutnya tapi
"Tuan, akhirnya kau pulang" kata Lisa senang.
"Minggir!"
"Apa Tuan lelah? Aku akan membantumu bersih-bersih, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu dan jug-"
Plaakk!
Tamparan keras mengenai wajah Lisa hingga ia tersungkur di lantai.
"Cerewet!! Aku lelah dan kau malah banyak bicara dihadapan ku!"
Seidon melepas ikat pinggangnya dan menghajar Lisa mati-matian. Ia hanya bisa menangis tanpa bisa berbicara sepatah katapun, ia berusaha menghindari cambukkan Seidon tapi mau kemana? Ia akan terus ditebas oleh benda lentur itu.
"Tuan tolong hentikan, itu sakit.. tolong jangan pukul lagi"
Bagai orang yang kesetanan, ia terus menerus mencambuk Lisa dengan ikat pinggang itu. Tidak puas dengan hal itu, Seidon menarik rambutnya dan menyeret Lisa ke kamar.
"Kau benar-benar membuatku kesal!"
Tak ada satu orang pun yang berani menolong Lisa, bahkan Alexi dan Bastian hanya terdiam saat Seidon mulai memukuli gadis cantik itu.
"Tolong.. jangan, ini sakit.. Tuan lepaskan aku.. aku mohon.."
"Diam!"
Bruak!!
Ia mendorong Lisa dengan kasar dan berhasil menabrak meja, vas diatasnya seketika pecah dan hancur.
Tak sampai disitu, Seidon mengangkat kursi dan berniat menghantam Lisa tapi tiba-tiba dia terhenti.
"Sakit sekali.... sakit, Tuan tolong ampuni aku, jangan lakukan lagi"
Lisa meringkuk kesakitan, semua berantakan. Beberapa cambuk kan berhasil membuat luka ditubuhnya semakin parah.
"Karena kau berisik, aku tidak suka wanita yang berisik" kata Seidon sambil melempar kursi itu ke tembok.
"Tuan maafkan aku, aku hanya mencoba menyambut mu saja, aku tidak berniat membuatmu marah.. maaf, maafkan aku.. aku tidak akan melakukannya lagi, jangan pukul aku" rintih Lisa memohon.
"Ciih!"
Seidon pergi begitu saja, ia melepas semua pakaiannya dan berlalu ke kamar mandi. Bajunya berserakan dilantai kamar, Lisa yang melihatnya langsung peka bahwa ada bercak merah disana.
"Itu.. apakah dia habis melakukan sesuatu? Kenapa ada bercak darah di pakaiannya.."
Lisa meraih kemeja putih milik Seidon dengan tangan bergetar dan melihatnya dengan jelas, ada sedikit bau amis yang berasal dari noda merah itu.
"Ini, ini bau darah.. a-apa ini darahku? Ataukah Tuan.. apa yang Tuan lakukan sebelum pulang ke rumah.." gumam Lisa memegang kemeja Seidon dengan tangan gemetaran.