Apakah kalian percaya dengan keberadaan Vampire ? Bahkan makhluk Immortal lainnya ? Bukankah mereka hanya legenda saja ?
Sebuah novel yang akan mengajak kalian masuk kedalam kehidupan para immortal.
Seorang Gadis yang ditakdirkan untuk menjadi pasangan seorang Pangeran Vampire akan membawamu masuk kedalam berbagai rintangan yang gadis itu hadapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Strawberry_girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16:Pernyataan
...~Felix Part On View~...
...Aku duduk di sebuah sofa sambil tetap menggendong Eva ala bridal style. Perlahan tangan kananku yang kugunakan untuk mengangkat kedua kakinya menyingkap anak rambut yang menutupi wajahnya yang teduh. ...
Aku menatap wajah gadisku ini dengan wajah sendu. Dia bahkan melindungiku tadi. Betapa malunya aku jika Ibuku melihat hal tadi. Apalagi statusku sebagai pangeran tercuek dan terkejam sepanjang masa.
"Hoaam." Suara Justin yang menguap lebar membuyarkan lamunanku.
"Ku kira kamu mati." Sarkasku sambil melirik tajam kearahnya.
Ia berjalan menuruni tangga dengan cengiran yang membuatku ingin segera menggamparnya. Dibelakangnya ada Ivana dan Kevin yang memasang tampang kesal.
"Ck. Yayayaya aku tau aku salah! Pseudoku hampir habis tadi! Jadi aku gunakan kesempatan tadi untuk tidur." Justin berdecak sambil duduk di sofa yang ada di depanku.
"Jujur aku sangat terkejut dengan sikapnya tadi. Mungkin kakak akan segera mati jika dia tidak datang." Ucap Ivana yang membuatku mendengus kesal.
"Aku hanya sedikit lengah tadi! Aku tidak akan mati semudah itu! Lagipula, pseudoku telah aku bagi di dalam tubuh Eva." Sahutku cepat sembari memperlihatkan tatapan tajam.
"Cih, kau sampai kewalahan tadi." ucap Justin memandang remeh ke arahku. Aku hanya memelototkan mata kesal.
"MASIH LEBIH BAIK DIA KEWALAHAN DARIPADA KAU YANG TIDUR SAAT KAU TAHU KAK EVA MENGAMUK!!." Suara toa Kevin menggema hingga membuat beberapa pajangan dari kaca pecah.
"Adikmu?." Tanyaku kepada Justin.
"Adik pungut tadi pagi." Ucap Justin santai, dan langsung membuat Kevin mengerucutkan bibirnya.
Ivana tertawa sambil menoyor kepala Kevin.
"Adik durhaka kamu!." Kevin berseru marah.
"Kau tadi tidur?." tanyaku memastikan perkataan Kevin tadi.
" Begitulah." ia kembali nyengir.
"KAU BODOH SEKALI RUPANYA!!. KAU TIDAK TAHU AKU TADI HAMPIR KEHILANGAN SEBELAH TANGANKU KARENANYA!." bentakku dengan suara melebihi suara toa Kevin.
Mereka hanya menutup telinganya rapat-rapat sambil memandang takut bercampur kesal kearahku.
"Ngh.."
Lengguhan lemah kudengar setelah aku mengeluarkan suaraku tadi.
Aku melihat ke arah Eva yang mengeliat pelan sambil mengernyitkan dahinya. Merasa tidak nyaman.
"Hei hei!." aku berseru tertahan saat merasakan tubuhnya mengeliat tidak beraraturan. Geraman kecil lolos dari mulutnya.
"Kakak kurasa dia kesakitan." Ucap Justin panik.
"Pseudonya terlalu banyak ia keluarkan. Biasanya seperti itu." Ivana menambahi
Aku menggigit pergelangan tanganku lalu menempelkannya pada mulut Eva.
Perlahan dia mulai tenang saat darahku lumayan banyak masuk kedalam kerongkongkongannya.
Perlahan matanya terbuka sedikit lalu mengerjap pelan.
"Felix.." panggilnya lemah kepadaku. Aku tersenyum lalu mendekatkan diri padanya.
"Aku.." ia terbatuk pelan sehingga ucapannya terpotong.
"Kau kenapa?." Tanyaku khawatir saat melihat dia menutup matanya kembali.
"Eva!!." aku memanggilnya keras. Ketiga adikku terlihat cemas.
"Feliiix!. Jangan berteriak atau aku patahkan lehermu!!." teriaknya pelan sambil membuka matanya kembali.
Ivana, Kevin, dan Justin tertawa keras saat mendengar ucapan sakas dari Eva.
"Kau membuatku khawatir." ucapku lalu menarik hidungnya pelan.
"Aw!!. Kau gila?!." ia membentakku sambil mengelus hidungnya sendiri.
"Kau tidak apa-apa kan ??. Apa yang kau rasa?." Tanyaku pelan,
"Lebih mendingan-- Justin mana?." Ia langsung beranjak duduk saat menanyakan Justin.
"Hati-hati" aku membantunya duduk.
"Hei! Maaf tadi aku tertidur." Justin memperlihatkan cengirannya.
"Tertidur?" tanya Eva tidak mengerti.
"Pseudonya hampir habis tadi, dia jarang memakan jiwa makhluk hidup, jadi pseudonya menipis." jelasku.
"Kau merasakan pseudomu berkurang?" tanya Justin kepadanya.
"Aku tidak tahu, tapi , aku lapar Felix." Ia memandangku sambil memasang wajah memelas.
"Baiklah ayo kita ke kota." Ucapku sambil berdiri dan tetap menggendongnya.
"Eh?!. Kenapa ke kota?." Tanya dia terkejut,
"Persediaan makanan kita habis. Jadi aku akan membelikanmu makanan di kota. Aku juga mau makan." Jelasku panjang.
"Aku akan berjaga dirumah." Ucap Ivana dan diangguki oleh Kevin. Sedangkan Justin ikut denganku.
Malam ini aku akan membuatnya merasa Istimewa.
◎◎◎
"Kau Serius mengajakku kemari??!." Eva memekik senang saat kuajak menuju ke restoran termewah di Edmonton. (pict restoran di atas)
"Kau tidak suka?." tanyaku padanya.
"Kau gila?!. Aku sangat menyukainyaa!!." ia melompat kecil seperti anak kecil.
Aku menggandengnya masuk dan sontak semua pasang mata menatap ke arah kami.
Gaun hitam yang Eva kenakan serasi dengan jas hitam yang kugunakan. Tadi kami sempat menuju ke mall untuk membeli beberapa pakaian.
Bahkan mallnya aku beli sekaligus karena kesal Eva bingung memilih baju.
Flashback On
Felix!. Baju itu bagus, tapi yang ini juga bagus." Rengeknya padaku.
"Ambil saja semua." ucapku kesal. Apakah semua wanita selalu lama dan bingung untuk memilih baju yang dipakai mereka?. Ayolah, itu hanya baju.
"Jangan marah dong." ucapnya dengan tersenyum lalu mencubit pipiku.
"Aww!. Aku tidak marah Eva, ayo beli bajunya lalu makan." aku mengacak-acak rambutku.
"Justin kemana?." tanyanya sambil memilih beberapa baju.
"Mencari makan." ucapku cuek.
kurasa dia terbiasa dengan sikap cuekku sejak aku ceritakan pribadiku beberapa saat yang lalu.
"Kenapa tidak menunggu kita saja?." tanyanya lagi.
"Dia sedang dalam mode lemah, jadi dia harus segera mencari nyawa murni. Kau tahu, saat dikamarmu tadi sebenarnya dia tidak pingsan, hanya saja dia lemah lalu tertidur. Dia juga sengaja tidak menghentikanmu." Jelasku panjang.
"Aargh!. Aku kesal Felix, aku tidak bisa memilih satu baju!." rengeknya hampir
menangis.
" Aku tidak bisa jika berbelanja hanya membeli satu baju saja." Ucapny kesal.
" Panggilkan pemilik mall ini sekarang!." ucapku saat mencegat salah satu pelayan.
Pelayan itu mengangguk lalu pergi.
"Sudah jangan menangis, kau cengeng sekali." aku mengusap pipinya,
"Aku tidak menangis Felix!." dia mengerucutkan bibirnya, aku hanya tertawa.
"Ada apa tuan, ada yang bisa dibantu?."
"Saya beli mall ini." Ucapku tegas yang langsung membuatnya terkejut.
"Fel --" Belum selesai Eva berbicara, aku menyuruhnya untuk diam.
"Tapi tuan --"
"Asisten saya akan kemari nanti. Saya akan beli sesuai harga yang kau minta." Selaku.
"Sekarang semua baju disini milikmu. Sudah kan?." aku tersenyum pada Eva. Hingga kusadari beberapa wanita disana berteriak heboh sambil melihat ke arahku.
"Ada apa dengan mereka?" bisikku pada Eva.
"Pasang wajah datarmu! Aku tidak suka senyumanmu dilihat orang lain selain aku!" Bisiknya tegas. Ada nada cemburu di sana.
"Aku akan mengganti bajuku." dia hendak pergi saat aku menahan tangannya lalu memberikan gaun berwarna hitam.
"Pakai." ucapku datar. Ia mengangguk lalu menerimanya.
Flashback Off
"Jika kau bingung dengan menu makanannya aku akan membeli restoran ini juga Eva." Ucapku saat ia tak henti-hentinya bergumam bingung.
Pada akhirnya aku dan dia memesan dua steak dan dua gelas wine. Apa kabar Justin?. Dia sedang mencari nyawa untuk santapannya.
"Hari ini aku sangat senang sekali!." Eva berseru senang. Aku tersenyum menanggapinya.
"Jangan berbicara saat makan Eva!." tegurku saat dia menjelaskan panjang lebar betapa senangnya dia.
"Ayolah, Disini sedang sepi, aku ingin bebas bersikap." ucapnya sambil mengarahkan pisau steak ke arahku.
Aku memasang cengiran kearahnya. Aku baru tahu dia sekesal ini. Dia melanjutkan makannya begitu juga denganku.
Walaupun aku makan, tapi tubuhku tidak bisa menyerap apapun dari makanan ini tapi aku tetap kenyang. Tubuhku hanya menerima Darah.
"Eva. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." ucapku saat kami telah selesai makan.
"Iya?." tanyanya sambil menyunggingkan senyum manisnya.
"Aku bukanlah pria yang ganteng dan kaya. Aku hanyalah seorang Felix. Aku juga tidak memiliki tampang seperti Idol Korea kesukaanmu itu.
Tapi hari ini, dengan kesungguhan hatiku aku ingin mengatakan hal yang telah lama kupendam." Aku menatap matanya kelam.
" Will you be Mine?." Ucapku sembari menekuk salah satu lututku di hadapannya. Aku mengulurkan tanganku padanya dengan satu buket bunga mawar.
Kulihat matanya berkaca-kaca sembari menutup mulutnya. Dentingan piano mengalun lembut.
"Yes, I'will!." ia menerima buket bunga mawar dari tanganku.
Aku tersenyum lebar lalu berdiri di depannya. Ia juga ikut berdiri.
"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, melepasmu, menghianatimu dan membuatmu sakit hati." Bisikku pelan.
Ia tersenyum haru. Aku mendekatkan wajahku padanya lalu mengecup bibirnya lama. Tanpa kuduga ia membalas kecupanku.
Hari ini aku telah memilikinya walau tidak seutuhnya. Tapi dia adalah takdirku. Aku akan memilikinya perlahan namun pasti.
The End
Kagak Woy!!!.
Becanda doang hehehehehehehehe
Jangan lupa Voment yaa..
Dapat sledingan manis dari Kevin Toa😊😊😊
Silahkan kunjungi kembali,Ayo kita saling mendukung yaa. Terimakasih.
Jangan lupa kunjungi kembali dan like sebanyak - banyak nya ya. Terimakasih.
Dukungan kalian selalu memberikan ku semangat dalam berkarya.
Fresh Nazar mampir kasih like lagi mendukungmu. Ditunggu like dan komen balikmu ke TERPAKSA MENIKAHI BIG BOSS dan ISTRI YANG TERSIKSA. Kita saling support terus ya.
Fresh Nazar mampir kasih like lagi mendukungmu. Ditunggu like dan komen balikmu ke TERPAKSA MENIKAHI BIG BOSS dan ISTRI YANG TERSIKSA. Kita saling support terus ya.
"Istri yang Terabaikan" telah update.
Silahkan kunjungi dan berikan like sebanyak - banyak nya yaa. Terimakasih.
"Istri yang Terabaikan telah UP!"
Jangan lupa mampir dan berikan like dan komentar nya ya. Terimakasih.