Bumi mengalami kehancuran dengan munculnya banyak Monster melalui retakan dimensi, hingga bencana ini disebut sebagai The Chaos.
Manusia mulai beradaptasi dan berevolusi. Kini setiap manusia punya Status Window sebuah layar hologram mengambang yang hanya dapat dilihat oleh pemiliknya. Dan manusia pun disebut sebagai Userator. Namun tidak semua Userator itu kuat, karena syarat menjadi kuat adalah Awakening.
Arka adalah Userator biasa yang belum Awakening, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tiba-tiba dinikahkan dengan seorang gadis bernama Sisil untuk melunasi hutang Ibunya.
Siapa sangka setelah menikah—Arka malah Awakening, kekuatannya meningkat.
[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan banyak keuntungan dan meningkatkan kekuatanmu!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramirisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 Sarang Cinta
[Peringatan Sistem! Istri Anda sedang berada dalam kondisi kecewa dan khawatir atas tindakan Anda!]
[Peringatan Keras: Harap segera ambil tindakan darurat dan jangan pernah membuat istri Anda merasa kecewa!]
Melihat peringatan darurat dari sistem pertamanya yang berwarna merah, Arka tersentak panik. Tanpa memedulikan harga dirinya sebagai lelaki, Arka langsung menjatuhkan tubuhnya, berlutut dengan kedua lutut menyentuh lantai di hadapan Sisil.
"Sayang... Maafkan aku," ucap Arka dengan wajah paling tulus dan memelas yang bisa ia tunjukkan.
"Aku sungguh-sungguh tidak ada maksud untuk membuatmu cemas atau ketakutan. Aku murni hanya ingin melindungimu. Aku berjanji, lain kali aku akan bertindak jauh lebih hati-hati dan mengutamakan keselamatan."
Melihat suaminya yang perkasa tiba-tiba berlutut pasrah di depannya seperti pelayan yang bersalah, kemarahan Sisil runtuh seketika. Wajahnya merona merah karena malu sekaligus panik.
"Ih, Mas! Apa-apaan sih! Sudah, cepat bangun! Jangan berlutut begitu di tempat terbuka, memalukan tahu!" seru Sisil tergopoh-gopoh, menarik kedua lengan bidang Arka untuk memaksanya berdiri tegak kembali.
Begitu Arka berdiri dan Sisil tidak lagi cemberut, papan peringatan merah di hadapan matanya seketika memudar dan lenyap tanpa bekas—menandakan bahwa hati sang istri telah kembali tenang.
"Tapi beneran, ya, Mas... Tolong jangan diulangi lagi kejadian seperti tadi," ucap Sisil dengan nada melembut, menatap mata suaminya dalam-dalam.
"Kalau segala sesuatu masih bisa dibicarakan dengan kepala dingin dan baik-baik... ya coba dibicarakan baik-baik dulu, jangan langsung pakai otot."
"Iya, istriku sayang. Aku janji," jawab Arka tersenyum lega.
Sisil mengembuskan napas tenang, lalu mulai mengedarkan pandangan indahnya ke sekeliling untuk memperhatikan di mana posisi mereka saat ini berada.
Detik berikutnya, matanya tertuju pada sebuah bangunan Kastel Vila raksasa yang berdiri luar biasa megah di hadapan mereka. Bangunan itu dikelilingi oleh pagar pelindung futuristik yang memancarkan pendar magis yang sangat aman.
"Mas... kita... kita sebenarnya sedang ada di mana sekarang?" tanya Sisil terbata-bata, terintimidasi oleh kemegahan bangunan tersebut.
Arka melepaskan tawa renyah, merangkul pundak mungil istrinya. "Memangnya kamu lupa dengan janji kita semalam, hm? Hari ini kan kita sudah sepakat untuk pergi melihat rumah baru kita."
"Hah?!! M-Mas... Jangan bercanda..." Tubuh Sisil menegang seketika, jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak. "Ini... Bangunan megah ini adalah rumah baru kita?!"
"Iya, ini rumah kita yang baru. Bagaimana menurutmu? Bagus, kan?" ucap Arka bangga.
"Mas... ini... ini bukan cuma bagus, tapi ini terlalu mewah dan sangat besar!" ucap Sisil dengan suara bergetar, jiwanya seolah terguncang menatap properti kelas atas PIK 2 tersebut.
"Untuk sarang cinta kita berdua, tentu saja aku harus memberikan tempat yang paling aman, terbaik, dan paling nyaman untukmu, Sayang," ucap Arka lembut.
Sisil menoleh, menatap Arka dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Ini... ini beneran rumah kita, Mas? Bukan milik orang lain?"
"Iya, Sayang. Ini rumah kita. Beneran milikmu," Arka meyakinkan penuh kepastian.
Mendengar konfirmasi itu, air mata kebahagiaan yang membuncah langsung mengalir deras membasahi pipi Sisil.
Tanpa membuang waktu, ia langsung menghambur memeluk erat tubuh Arka, menangis tersedu-sedu di dada suaminya akibat rasa haru yang teramat sangat.
Tring! Tring! Tring!
[Selamat! Anda telah berhasil membahagiakan istri Anda!]
[Seluruh Atribut Stat Dasar Anda Mengalami Peningkatan!]
[Anda mendapatkan...]
[Anda mendapatkan....]
Rentetan notifikasi emas dari Status Window terus berbunyi di sudut retinanya, memuntahkan berbagai macam benefit kekuatan yang luar biasa besar. Namun, Arka memilih untuk mengabaikan layar emas tersebut.
Fokus dan perhatian penuhnya saat ini ia berikan sepenuhnya untuk membalas pelukan hangat Sisil, mendekap erat tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih banyak ya, Mas... Aku senang banget... Sungguh," bisik Sisil di sela tangis bahagianya.
"Sepanjang hidupku, aku bahkan tidak pernah berani berpikir untuk memiliki sebuah rumah sendiri yang sebagus dan semewah ini..."
Arka tersenyum tulus, jemarinya bergerak lembut mengusap sisa-sisa air mata yang masih membasahi wajah cantik Sisil.
"Aku... Aku sebenarnya hanya takut..." Sisil mendongak, menatap mata Arka dengan pandangan sendu yang memperlihatkan trauma masa lalunya.
"Aku cuma mau Mas tidak membuangku... Aku cuma mau Mas tetap menerima kehadiranku... Aku cuma mau Mas tidak merasa terbebani dengan keberadaanku di sisimu... Aku cuma mau Mas terus bersamaku selamanya..."
Mendengar curahan terdalam Sisil, dada Arka terasa berdenyut nyeri. Ia menangkup kedua pipi lembut istrinya, menatap lurus ke dalam manik matanya dengan keseriusan penuh.
"Hey... Dengarkan aku baik-baik, Sayang," ucap Arka, suaranya terdengar berat dan sarat akan emosi ketulusan.
"Di saat aku memutuskan untuk mengambil tanganmu dan menikahimu, detik itu juga aku sudah siap lahir batin untuk menerimamu sepenuhnya dan memberikan apa pun yang kumiliki dan akan selalu melindungimu."
Arka mengelus lembut ibu jarinya di pipi Sisil. "Kebetulan... setelah aku menikah denganmu, kehidupanku langsung berubah total. Aku mengalami Awakening, mendapatkan kekuatan, sehingga rezeki dan segala urusanku menjadi jauh lebih lancar. Semua berkah dan kekayaan ini... murni ada karena kehadiranmu di hidupku, Sil. Kamu adalah pembawa keberuntungan terbesarku. Makanya, aku akan terus memberikan apa pun yang kupunya untukmu, karena semua kemewahan ini adalah milikmu juga... Milik kita bersama."
Sisil tertegun mendengarnya, dadanya dipenuhi kehangatan yang luar biasa besar. Ia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang Arka. "Aku sangat sayang kamu, Mas..."
"Aku juga sangat menyayangi kamu," balas Arka memeluknya erat.
"A-Anu... Maaf mengganggu, Tuan Arka..."
Sebuah suara interupsi yang sangat ragu-ragu dan penuh rasa sungkan mendadak terdengar dari arah pintu masuk.
Seorang staf senior pengurus kawasan PIK 2 tampak berdiri di sana dengan wajah memerah, tampaknya sudah menyaksikan adegan romantis pasutri tersebut sejak beberapa menit lalu namun terlalu takut untuk mengganggu.
Sisil yang menyadarinya langsung melepaskan pelukannya dengan terburu-buru karena malu, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di balik pundak Arka. Sementara Arka hanya terkekeh pelan, merasa sangat senang.
"Ada apa?" tanya Arka pada staf tersebut.
"Mohon maaf, Tuan. Kami baru saja menyelesaikan proyek penambahan properti eksternal sesuai instruksi Anda tadi siang. Area taman bunga asri, kolam renang, dan fasilitas pengaman tambahan semuanya sudah siap seratus persen. Apakah Anda dan Nyonya berkenan untuk memeriksanya sekarang?" tanya si staf dengan sikap takzim.
"Ayo, kita lihat bersama, Sayang," ajak Arka, menggandeng erat tangan Sisil.
Sisil hanya mengangguk malu-malu dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
Mereka berdua pun berjalan mengitari seluruh sudut vila mewah tersebut. Sisil benar-benar dibuat terkagum-kagum tanpa henti melihat bagian dalam mansion yang menyerupai istana modern, lengkap dengan pemandangan taman belakang yang luar biasa indah dan kolam renang yang langsung menghadap ke cakrawala.
Setelah tur keliling selesai, sang staf pengelola melangkah maju dan menyerahkan sebuah map kulit eksklusif yang berisi tumpukan berkas fisik kepada Arka.
"Tuan Arka, ini adalah seluruh dokumen nyata, sertifikat legalitas teritorial, dan hak kepemilikan atas vila ini yang sudah dikemas secara resmi," ucap staf tersebut formal.
Arka menerima map mewah tersebut, namun tanpa membukanya, ia langsung mengulurkan tangannya dan menyerahkan map itu sepenuhnya ke dalam pelukan Sisil.
"Sayang, berkas kepemilikan vila ini... semuanya sudah terdaftar atas nama kamu sendiri," ucap Arka sembari tersenyum tipis.
Sisil tersentak kaget, memeluk map tersebut di dadanya. "Eh?? Kenapa... Kenapa tidak pakai nama Mas Arka saja?, kan sama saja,"
"Sebab dari awal, aku memang berniat membeli vila ini khusus sebagai hadiah untuk kamu istriku tercinta," jawab Arka mantap tanpa celah.
Sisil menatap berkas di pelukannya, lalu beralih menatap wajah tampan suaminya. Ia tahu, dalam hal memanjakan dan memberikan hadiah, ia tidak akan pernah mungkin bisa menang melawan Arka.
Sisil akhirnya mengulas senyum paling manis dan bahagia yang pernah ia miliki, lalu mengangguk patuh. "Yasudah deh... Aku terima dengan penuh rasa syukur kalau ini adalah pemberian dari suamiku yang sangat hebat ini."
Sambil memeluk dokumen rumah baru mereka, Sisil bersumpah di dalam hatinya bahwa dia juga harus membuat suaminya itu bahagia dengan cara apapun yang bisa ia miliki.
Bersambung...
like+ bunga🌹✍️
kalo berkenan mmpir y thor😉
Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile dan like .. terima kasih /Grin/