“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Mending mancing daripada balikan
Kalimat tajam Beni membuat Serena tersentak seolah baru saja ditampar. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya yang indah. Ia melangkah maju satu kali, mencoba meraih lengan Beni, namun Beni dengan cepat mundur selangkah, menolak untuk disentuh.
Tangan Serena menggantung di udara dengan menyedihkan. "Beni... tolong dengarkan aku dulu," ratih Serena, air matanya mulai luruh membasahi pipinya. "Kemarin... kemarin setelah aku pergi, Kai... bajingan itu langsung meninggalkanku begitu saja setelah tahu aku hamil, padahal dia bilang akan tanggung jawab. Dia... dia bilang aku sudah tidak berguna lagi dan menendangku keluar dari rumahnya. Ayahnya juga mengancam akan mengusir keluargaku jika aku terus mendekati Kai..."
Beni terkekeh sinis, sebuah tawa meremehkan yang menusuk ulu hati Serena. "Lalu? Apa hubungannya denganku? Saat kau bersenang-senang di atas ranjangku dengannya, apa kau memikirkan posisiku sebagai suamimu? Sekarang setelah kau dibuang seperti sampah oleh tuan mudamu itu, kau baru datang menangis di depanku?"
"Aku khilaf, Beni! Aku bersumpah aku menyesal!" Serena bersujud di atas tanah, menangis tersedu-sedu di depan kaki Beni, mengabaikan debu pantai yang mengotori lututnya. "Aku baru sadar kalau hanya kau yang benar-benar tulus menyayangiku... hanya kau yang mau bekerja keras semalaman di laut demi memberi aku makan. Tolong... tolong beri aku satu kesempatan lagi. Kita bisa memulai semuanya dari awal. Kita lupakan soal utang, kita lupakan soal Kai..."
Beni menatap wanita yang bersujud di bawahnya itu dengan kepala dingin. Pikirannya melayang pada kenangan makam kecil di lereng bukit yang ia kunjungi sore kemarin.
Mengingat bagaimana anak malang itu harus meninggal karena kelalaian orang tua kandungnya, rasa benci di hati Beni sudah mencapai titik di mana ia bahkan tidak merasa perlu untuk marah lagi.
"Memulai dari awal?" Beni berbisik rendah, membuat Serena mendongak dengan secercah harapan di matanya yang basah.
Namun, kalimat Beni berikutnya menghancurkan harapan itu hingga berkeping-keping.
"Serena, saat kau memakai namaku untuk berutang pada lintah darat, aku memaafkanmu. Saat kau menipuku soal anak itu, aku tetap menyayanginya karena dia tidak bersalah. Kecuali saat kau membawa laki-laki lain ke dalam rumah peninggalan orang tuaku... kau sudah mati di mataku," ucap Beni dengan penekanan di setiap kata. "Satu-satunya alasan aku tidak memotong lehermu dan Kai saat itu adalah karena aku tidak mau mengotori tanganku dengan darah makhluk hina seperti kalian."
Beni melangkah melewati Serena yang masih terduduk lemas di tanah. Ia membuka pintu rumahnya, lalu berbalik sebentar di ambang pintu.
"Pergilah dari sini sebelum aku kehilangan kesabaranku dan memanggil warga untuk menyeretmu. Kita sudah selesai, Serena. Dan untuk urusan perceraian... tenang saja, aku yang akan menyewa pengacara terbaik di kota untuk menyelesaikannya agar wajah busukmu itu tidak perlu kulihat lagi."
BRAKK!
Beni menutup pintu rumahnya dengan keras, menguncinya dari dalam. Di luar, Serena hanya bisa menangis histeris, memukul-mukul tanah dengan penyesalan yang terlambat.
Di dalam rumah, Beni menyandarkan tubuhnya di balik pintu, menarik napas dalam-dalam.
Rasa kantuknya sempat hilang karena drama barusan, namun ia menolak membiarkan wanita itu merusak harinya.
Ia berjalan menuju tempat tidur, merebahkan tubuhnya, dan memejamkan mata.
Di kepalanya, bayangan tentang menu ikan spiritual dan masa depan restorannya di kota jauh lebih menarik untuk dipikirkan daripada meratapi masa lalu yang sudah membusuk.