NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:616
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

Ruangan itu terasa jauh lebih sunyi setelah Damar pergi. Arga perlahan duduk kembali di sofa sambil mengusap wajahnya.

Ia menunjuk pintu bawah. “Gue suka orang itu, tapi cara dia ngomong bikin jantung gue capek.”

Han masih berdiri dekat meja sambil memegang kunci besi tua itu. Pandangannya belum berubah, seolah pikirannya sedang tidak berada di ruangan ini lagi. Nara memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan,

“Itu kunci tempat apa?”

Han tidak langsung menjawab, hanya menoleh sebentar kea rah Nara. Arga malah yang ikutan penasaran sekarang.

“Iya, Han,…ini serius loh. Bos geng lokal sampai kasih kunci dengan dramatis begitu…”

Han akhirnya menarik kursinya lalu duduk dengan perlahan. Kunci itu ia letakkan di atas meja. Benda tua itu terlihat berat dan dingin.

“Ini kunci gudang lama,” jawabnya.

“Gudang apa?” tanya Nara lagi.

“Dulu jadi tempat penyimpanan di area pelabuhan.”

Arga mengernyit dahinya.

“Pelabuhan? Bukannya daerah sini sudah lama mati?”

“Sebagian.”

Han bersandar di kursinya.

“Dulu distrik ini jauh lebih hidup. Jalur distribusi barang banyak lewat sini, sampai pemerintah pusat bangun pelabuhan besar yang sekarang.”

Nara memperhatikan wajah Han. Nada suaranya berubah sedikit tiap membahas distrik lama. Tidak hangat, api lebih terasa personal.

“Kamu pernah tinggal di sana?” tanyanya.

Han diam sebentar, “…kadang.”

Arga langsung menunjuk.

“Nah tuh. Jawabannya misterius lagi.”

Han mengabaikannya.

“Itu tempat aman terakhir yang masih tersisa.”

Kalimat itu membuat Nara sedikit tidak nyaman.

“ …kata terakhir itu terdengar sangat mengkhawatirkan.”

“Karena memang begitu.”

Sunyi lagi. Di luar, suara aktivitas pagi semakin ramai. Teriakan pedagang sayur terdengar samar dari jalan bawah. Motor lewat sesekali.

Kota tetap berjalan normal seperti biasa. Sementara mereka duduk di apartemen tua itu, menunggu semua kemungkinan untuk diburu oleh organisasi besar.

Nara menunduk melihat gelas air di tangannya. Ia masih belum terbiasa dengan semua ini. Beberapa hari lalu hidupnya sangat biasa saja. Sekarang ia bersembunyi bersama mantan pembunuh, ketua geng lokal, dan orang stress. Kalau diceritakan ke orang lain pun mungkin terdengar gila.

Arga mendadak berdiri lalu berjalan ke jendela.

“Kalau dipikir-pikir…” katanya sambil mengintip tirai sedikit, “…distrik ini lumayan unik ya.”

Nara ikut melihat keluar. Bangunan-bangunan tua berdiri cukup rapat. Cat yang mengelupas. Kabel listrik semrawut. Tapi orang-orang di bawah tampak saling mengenal. Beberapa bahkan melambaikan tangan satu sama lain sambil lewat.

“Tempat kayak gini biasanya justru paling solid,” lanjut Arga.

Han mengangguk kecil, “Karena mereka tidak punya siapa-siapa selain sesama mereka,” lanjutnya.

Nara menoleh, “Kamu besar di sini?”

Han tidak langsung menjawab, kemudian ia berkata pelan, “Sebagian hidupku.”

Ruangan kembali tenang. Nara sadar Han mulai lebih banyak bicara tentang masa lalunya sekarang. Masih sedikit dan berhati-hati. Tapi tidak tertutup lagi. Tiba-tiba suara langkah kaki cepat terdengar dari bawah. Refleks tubuh Han langsung berubah tegang. Tangannya otomatis bergerak ke pistol di meja.

Arga ikut mundur dari jendela.

Namun beberapa detik kemudian suara seseorang terdengar dari lantai bawah.

“Bang Damar bilang aman!”

Ketegangan Han sedikit mengendur. Ada suara motor yang kemudian terdengar menjauh. Nara menghembuskan napas lega.

“Aku mulai benci hidup seperti ini.”

Han memandangnya sekilas.

“Kamu akan terbiasa.”

“Aku ngga mau terbiasa.”

Jawaban itu membuat Han terdiam. Dan entah kenapa, Nara merasa pria itu sebenarnya setuju. Arga kembali duduk sambil membuka salah satu camilan dari Damar.

“Kalau boleh jujur…” katanya sambil mengunyah, “…gue masih bingung kenapa organisasi sebesar itu repot banget ngejar kita.”

Nara ikut menatap Han. Pertanyaan itu memang belum benar-benar terjawab. Han mengusap pelipisnya pelan.

“Karena mereka takut sesuatu akan bocor.”

“Data itu?” tanya Nara.

“Bukan cuma datanya.”

Han melanjutkan, “Helios tidak suka kehilangan kontrol.”

“Kedengarannya kayak organisasi villain di film-film,” ujar Arga sambil mengunyah cemilan

Han tidak tertawa, tapi juga tidak mengiyakan

“Itu karena kamu belum lihat cara mereka bekerja.”

Nara memperhatikan wajah Han. Ada sesuatu berbeda tiap pria itu membicarakan tentang Helios. Bukan sekadar marah, tapi lebih seperti seseorang yang pernah melihat sesuatu terlalu buruk. Dan itu mungkin yang belum pernah benar benar hilang darinya.

“Siapa sebenarnya mereka?” tanya Nara pelan.

Han terdiam cukup lama kali ini. Sampai Nara berpikir ia tidak akan menjawab pertanyaannya.

Namun akhirnya pria itu berkata pelan, “Di luar, mereka kelihatan seperti institusi biasa.”

“Rumah sakit.”

“Perusahaan keamanan.”

“Lembaga amal.”

“Investor.”

“Orang-orang penting.”

Arga berhenti mengunyah.

Han melanjutkan, “…tapi di belakang semua itu…” nada suaranya makin rendah, “…mereka membeli orang.”

Ruangan terasa lebih dingin sekarang.

“Maksudnya?” tanya Nara.

“Mereka membantu orang yang putus asa.” Han menatap kosong ke jendela. “Lalu memastikan kalau orang itu tidak pernah bisa pergi.”

Nara langsung teringat cerita soal adik Han. Dadanya terasa tidak nyaman lagi.

Arga bersandar di sofa, “…dan kalau ada yang kabur?”

Han menatap pistolnya di atas meja.

“Mereka akan dijadikan contoh.”

Tidak ada yang bicara beberapa detik setelah itu. Karena cara Han mengatakannya terlalu tenang. Seolah ia pernah melihat langsung seperti apa “contoh” yang dimaksud.

Nara akhirnya berdiri pelan lalu berjalan ke jendela. Cahaya pagi masuk samar dari sela-sela tirai. Di bawah sana, jalanan distrik lama masih bergerak normal. Orang-orang masih tetap hidup meski kota besar mungkin sudah melupakan mereka. Tempat rusak seperti ini justru lebih terasa manusiawi dibanding organisasi besar yang tampak sempurna dari luar.

“Kamu tahu…” katanya pelan tanpa menoleh, “…aku dulu selalu berpikir kalau orang berbahaya itu kelihatannya pasti menyeramkan.”

Han memperhatikannya.

“Ternyata ngga….” Kata Nara sambil tersenyum pahit, lalu melanjutkan, “…kadang mereka pakai jas mahal.”

Han tidak menjawab. Namun ada sesuatu kecil di matanya yang terlihat seperti mengiyakan. Arga tiba-tiba menunjuk Han.

“Ngomong-ngomong, gue penasaran nih.”

“Apa.”

“Lu dulu punya kamar ngga di gudang itu?”

“Kenapa tanya begitu?” tanya Han sambil mengernyit kecil.

“Karena kalau iya…” Arga menunjuk kunci di meja. “…berarti kita bakal pindah ke sarang edgy milikmu.”

Nara menahan tawa kecil. Han menghela napas tipis.

“Itu cuma tempat persembunyian aja.”

“Itu kalimat yang sangat tidak meyakinkan, Han.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, suasana ruangan sedikit lebih ringan. Meski hanya sebentar, karena jauh di bawah sana, tanpa mereka sadari, sebuah sedan hitam perlahan-lahan memasuki jalan utama distrik lama.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!