NovelToon NovelToon
Dua Kehidupan Suamiku

Dua Kehidupan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.

​Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.

Apa yang terjadi pada Damar ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari yang Hangat

Udara pagi di desa Kendal itu menyusup masuk melalui celah jendela kamar Rania, membawa aroma tanah yang basah oleh embun dan wangi bunga kenanga yang mekar di sudut halaman. Rania terbangun bukan karena deru mesin kendaraan atau bisingnya klakson ibu kota, melainkan karena suara gamelan Jawa yang mengalun lirih dari radio tua di dapur, berpadu harmoni dengan kicauan burung kutilang yang bersahut-sahutan di dahan pohon mangga.

Ia membuka matanya perlahan, merasakan ketenangan yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan. Pancaran sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui ventilasi kayu menciptakan garis-garis emas di atas seprai putihnya. Sejenak, Rania memejamkan mata kembali, menghirup dalam-dalam udara yang masih murni itu. Beban berat di dadanya—tentang denda kantor, rahasia suaminya, dan ketidakpastian masa depan—seolah menguap terbawa angin pagi. Hari ini, ia tidak ingin menjadi dokter yang tegang; ia hanya ingin menjadi wanita yang merayakan kehidupan.

Rania bangkit, mengusap perutnya yang mulai terasa lebih rileks. Ia melangkah keluar kamar, menelusuri lantai tegel kuno yang terasa sejuk di telapak kakinya.

Kedamaian di Meja Makan

Di taman belakang, suasana tampak begitu asri. Taman itu tertata rapi dengan kolam ikan kecil yang airnya terus mengucur dari pancuran bambu. Di sana, di sebuah meja makan kayu jati yang besar dan kokoh, Aris sudah duduk tenang. Pria itu tampak sudah rapi dengan kaus polo hitam yang membungkus tubuh tegapnya, namun wajahnya tampak jauh lebih santai daripada biasanya.

Aris sedang menikmati secangkir kopi hitam yang mengepulkan aroma sedap, pandangannya lurus menatap hamparan kebun belakang yang hijau royo-royo. Ia sengaja bangun lebih awal, ingin meresapi setiap detik kedamaian ini sebelum kembali ke hutan beton Jakarta.

"Selamat pagi, Ris," sapa Rania lembut sambil melangkah mendekat.

Aris menoleh, dan untuk sesaat, ia terpaku. Ia melihat rona bahagia yang mulai muncul di wajah Rania. Sinar matahari pagi membuat kulit Rania tampak bercahaya, dan senyum yang tersungging di bibirnya bukan lagi senyum yang dipaksakan. Aris merasa seluruh rasa lelahnya, seluruh pengorbanan finansialnya, dan seluruh perjalanan sepuluh jam kemarin terbayar lunas hanya dengan melihat binar mata itu kembali.

"Selamat pagi, Ran. Tidurmu nyenyak?" tanya Aris, suaranya terdengar lebih hangat dari biasanya.

"Sangat nyenyak. Mungkin ini tidur terbaikku dalam dua bulan terakhir," jawab Rania sambil duduk di hadapan Aris. "Suasana di sini benar-benar beda, ya? Aku merasa seperti baru lahir kembali."

Aris mengangguk, menyesap kopinya perlahan. "Itulah kekuatan tanah kelahiran. Dia selalu tahu cara memeluk anaknya yang sedang luka."

Wibawa Sang Panutan Desa

Tak lama kemudian, Bapak Suprapto muncul dari arah samping rumah, mengenakan kaus putih polos dan celana kain panjang, lengkap dengan caping yang tersampir di punggungnya. Meski penampilannya sederhana, wibawa pria tua itu tidak bisa disembunyikan.

Di desa ini, Bapak Suprapto dan Ibu Lastri bukan hanya sekadar penduduk biasa. Mereka adalah keluarga yang bisa dibilang kaya dan sangat berpengaruh. Bukan hanya karena kepemilikan lahan sawah yang luas atau rumah joglo yang megah, melainkan karena kepribadian mereka. Banyak tetangga yang segan sekaligus hormat karena kedermawanan mereka. Jika ada warga yang sakit atau butuh bantuan modal, pintu rumah Bapak Suprapto selalu terbuka. Mereka adalah panutan, oase moral di tengah komunitas desa tersebut.

"Rania, Aris... sudah bangun ya?" sapa Bapak Suprapto dengan suara baritonnya yang mantap. "Aris, nanti sebelum pulang, Bapak sudah siapkan oleh-oleh di bagasi mobil. Beras hasil panen sendiri, telur asin, dan beberapa kerajinan tangan untuk teman-temanmu di kantor."

"Terima kasih banyak, Pak. Bapak terlalu repot-repot" ujar Aris merasa tidak enak.

"Ah, repot apa? Kamu sudah seperti anak sendiri," sahut Bapak Suprapto sambil melirik ke arah lahan kosong di sebelah rumah. "Bapak hari ini sibuk. Tukang-tukang sebentar lagi datang. Lahan itu mau Bapak garap, rencana mau buat pondasi untuk klinik kecilmu nanti, Ran. Bapak ingin semuanya cepat jalan agar kamu punya kegiatan dan tidak melamun terus."

Rania tertegun, matanya berkaca-kaca. "Bapak benar-benar mau membangunnya sekarang?"

"Tentu saja. Untuk calon cucu dan ibunya, apa yang tidak Bapak lakukan?" Bapak Suprapto tertawa renyah, sebuah tawa yang memberikan rasa aman yang luar biasa bagi Rania.

Sarapan yang Hangat

Ibu Lastri kemudian datang membawa nampan berisi sarapan desa yang menggugah selera: nasi liwet, ayam goreng bumbu kuning, sambal terasi segar, dan lalapan dari kebun sendiri. Mereka duduk melingkar di meja makan tersebut, menikmati hidangan pagi dalam suasana kekeluargaan yang kental.

Aris memperhatikan bagaimana Rania makan dengan lahap. Nafsu makannya kembali, sebuah pertanda baik bagi kesehatan janinnya. Di sela-sela sarapan, mereka mengobrol ringan. Tidak ada pembicaraan tentang Damar, tidak ada pertanyaan tentang kasus hukum. Hanya tawa kecil dan cerita tentang masa kecil Damar yang diceritakan Ibu Lastri dengan jenaka.

Rania merasa sangat bersyukur. Di Jakarta, sarapan biasanya dilakukan terburu-buru sambil mengecek ponsel dan berita tagihan. Di sini, sarapan adalah ritual kasih sayang. Ia merasa dikelilingi oleh benteng yang tak kasat mata—Bapak Suprapto dengan wibawanya, Ibu Lastri dengan kelembutannya, dan Aris dengan kesetiaannya yang tanpa syarat.

Perpisahan yang Berat

Setelah sarapan selesai, suasana mulai berubah sedikit melankolis. Aris melirik jam tangannya. Ia harus segera berangkat agar tidak kemalaman sampai di Jakarta. Ia beranjak dari kursinya, mengambil kunci mobil SUV yang diberikan Rania kemarin.

"Pak, Bu... saya pamit dulu ke Jakarta," ujar Aris sambil menyalami Bapak Suprapto dan Ibu Lastri secara bergantian.

"Hati-hati di jalan, Ris. Jangan lupa istirahat kalau capek menyetir. Mobil itu sudah milikmu sekarang, rawat baik-baik ya," pesan Ibu Lastri sambil menepuk bahu Aris.

Terakhir, Aris berdiri di depan Rania. Ada jeda panjang di antara mereka. Aris ingin mengatakan banyak hal—ingin mengatakan betapa ia ingin tetap di sini, ingin mengatakan betapa ia akan merindukan wanita ini setiap detik. Namun, ia hanya mampu tersenyum tipis dan mengatur suaranya agar tetap tenang.

"Aku pulang dulu, Ran. Jaga dirimu baik-baik di sini. Kalau ada apa-apa, sekecil apa pun, langsung telepon aku. Aku akan langsung meluncur ke sini," ujar Aris.

Rania menggenggam tangan Aris sebentar. "Terima kasih untuk segalanya, Ris. Untuk pengorbananmu, untuk kesabaranmu. Tanpa kamu, aku mungkin sudah menyerah di Jakarta kemarin."

"Jangan bicara begitu. Kamu kuat, Ran. Aku hanya sedikit membantumu berdiri kembali," Aris melepaskan genggamannya perlahan. "Aku akan terus memantau kasus itu. Kalau ada perkembangan tentang... dia... aku akan langsung kabari."

Rania mengangguk. Ia melepas kepergian Aris dengan pandangan mata yang tenang. Ia melihat mobil SUV itu perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah joglo, hingga akhirnya hilang di balik tikungan jalan desa yang rimbun dengan pepohonan.

Memulai Hidup Baru

Sepeninggal Aris, Rania tidak merasa kesepian. Ia berjalan menuju teras depan, di mana Bapak Suprapto sudah sibuk menyambut kedatangan empat orang tukang bangunan dengan peralatan lengkap. Mereka menyapa Bapak Suprapto dengan sangat hormat, "Selamat pagi, Mbah Suprapto," ujar mereka.

Rania melihat Bapaknya sedang membentangkan denah kasar di atas meja batu, menjelaskan rencana pembangunan lahan di sebelah rumah. Suara denting cangkul yang mulai menyentuh tanah dan riuh rendah instruksi Bapak Suprapto menjadi musik baru bagi Rania.

Ia duduk di kursi goyang di teras, membiarkan sinar matahari pagi menghangatkan kulitnya. Rania sangat bersyukur. Di sini, ia merasa martabatnya dikembalikan. Ia bukan lagi istri yang dicampakkan, melainkan bagian dari keluarga terhormat yang sedang menanti fajar baru.

Sejenak, bayangan Damar melintas di benaknya. Namun kali ini, rasa sakitnya tidak setajam kemarin. Ia menyadari bahwa hidup harus terus berjalan, dengan atau tanpa pria itu. Ia memiliki bayi yang harus dijaga, ia memiliki orang tua angkat yang luar biasa, dan ia memiliki sahabat sejati seperti Aris yang selalu menjaganya dari kejauhan.

"Terima kasih, Tuhan, sudah membawaku pulang," bisik Rania sambil mengelus perutnya.

Udara desa Kendal terus menyambutnya dengan hangat. Di bawah naungan rumah joglo yang kokoh itu, Rania mulai menanam akar barunya. Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Damar atau "Dara" di Semarang saat ini bersama Mario, namun satu hal yang pasti: Rania tidak akan membiarkan bayang-bayang masa lalu menghancurkan kebahagiaan yang baru saja ia temukan di tanah ibunya.

Ia memejamkan mata, mendengarkan kicauan burung yang kian ramai, hanyut dalam kehangatan yang jujur dan tulus. Hidupnya mungkin telah hancur berkeping-keping di Jakarta, namun di sini, di desa ini, kepingan-kepingan itu mulai tersusun kembali menjadi sesuatu yang lebih indah dan lebih kuat.

1
Junita Lempoi
bagus ceritanya
𝐀⃝🥀Weny
semoga kau menyesal setelah operasi damar...
Ayu Putri
bagus
Ayu Putri
udah lah ran SM Aris aja,mas damar mu gak kembali,walopun kembali jg bukan damar yg dulu yg ada udh JD dara
Halwah 4g: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayu Putri
ternyata damar gay, harusnya ceraikan Rania dulu, kasian Rania nunggu yg gak pasti
Halwah 4g: emang..kasian ya say
total 1 replies
Ayu Putri
belum up ya Thor 🥺🥺🥺
Ayu Putri
lanjut kak othor
Dian Yuliana
iya kok gak ada kelanjutannya
𝐀⃝🥀Weny
thor, Iki critane dilanjut opo gak to.. kok suwi men gak up neh🤦
Halwah 4g: suabarrr nggih
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
thor ayo lanjut dong, jangan bikin penasaran...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!