Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KOTA LAMA, JANTUNG LAMA
BAB 15 — KOTA LAMA, JANTUNG LAMA
Pesawat mendarat mulus saat pagi hari baru saja menyapa kota Jakarta.
Dari balik kaca kecil jendela pesawat, Keisha menatap hamparan kota yang pernah ia tinggalkan lima tahun lalu dengan hati yang penuh luka dan ketakutan. Gedung-gedung pencakar langit tampak semakin banyak dan menjulang, jalanan raya terlihat lebih padat dari ingatannya, dan langit yang sedikit berkabut itu terasa begitu akrab dan familier.
Sudah lima tahun berlalu. Namun begitu roda pesawat menyentuh landasan, rasanya seakan baru kemarin sore ia pergi meninggalkan kota ini sambil menangis tersedu-sedu, membawa sejuta ketakutan di dada.
“Mama... kita udah sampai ya?” suara kecil itu memecah lamunannya.
Keisha menoleh, melihat Leo yang duduk di sebelahnya dengan mata masih setengah mengantuk, rambutnya sedikit berantakan.
“Iya, Sayang. Kita sudah sampai.”
“Ini rumah Mama dulu?”
Keisha tersenyum kecil, rasa rindu yang membuncah memenuhi dadanya.
“Ini kota tempat Mama besar, Nak.”
Leo langsung menempelkan wajahnya ke kaca dingin, matanya membelalak kagum melihat pemandangan di bawah.
“Wah... banyak mobil sekali, Ma!”
“Nanti kalau sudah turun, bakal lihat lebih banyak lagi,” jawab Keisha lembut.
Begitu kaki mereka menyentuh lantai bandara, udara hangat dan lembap khas Jakarta langsung menyambut tubuh mereka yang sudah terbiasa dengan dinginnya Kanada.
Leo langsung meringis lucu, tangannya mengibas-ngibaskan wajah.
“Panas sekali, Ma...”
Keisha tertawa kecil melihat tingkah anaknya. “Iya lah, ini kan musim panas di sini. Baru juga keluar dari pintu.”
Anak itu langsung melepas jaket tebalnya dan menyerahkannya pada ibunya sambil mengeluh kecil. Tingkah polos itu sedikit banyak membantu meredakan ketegangan yang menyelimuti hati Keisha.
Namun hanya sedikit.
Semakin mobil taksi yang mereka tumpangi melaju mendekati kawasan tempat tinggal orang tuanya, jantung Keisha berdegup semakin kencang dan tak beraturan.
Bagaimana reaksi Ibu dan Ayah melihat Leo?
Bagaimana jika mereka marah besar?
Bagaimana jika mereka kecewa dan tak mau mengakui cucunya?
Apa jawabanku nanti kalau mereka bertanya siapa ayah anak ini?
Ribuan pertanyaan berputar kacau di kepalanya.
Hingga akhirnya, mobil itu berhenti tepat di depan sebuah rumah tua yang sangat ia rindukan.
Pagar cat putihnya masih sama.
Pohon mangga besar di halaman depan masih berdiri kokoh dan rindang.
Teras kecil dengan pot-pot bunga kesayangan ibunya masih tertata rapi di sana.
Tubuh Keisha mematung di tempatnya. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
“Mama kenapa nangis lagi?” tanya Leo polos sambil mengusap pipi ibunya dengan tangan kecilnya.
Keisha tertawa di sela tangisnya. “Karena Mama bahagia, Sayang... Mama sangat bahagia.”
Pintu depan rumah terbuka bahkan sebelum Keisha sempat mengetuk atau menekan bel.
Ibunya berdiri di ambang pintu. Wanita itu terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu via video call. Rambut hitamnya kini lebih banyak diselingi uban yang memutih. Namun matanya... matanya tetap sama, teduh dan penuh kasih sayang yang tak pernah berubah.
“Keisha...” suara ibunya pecah, bergetar hebat.
“Bu...”
Tanpa menunggu lagi, mereka berdua berlari mendekat dan saling memeluk erat sambil menangis tersedu-sedu. Lima tahun kerinduan, lima tahun pertanyaan, dan lima tahun kekhawatiran runtuh begitu saja dalam satu pelukan hangat itu.
Ibunya memegang wajah putrinya berkali-kali, seolah tak percaya ini nyata.
“Kamu pulang... kamu benar-benar pulang...”
“Iya, Bu... maafkan Keisha baru bisa pulang sekarang...”
Belum sempat kalimat itu selesai, sosok tegap ayahnya muncul dari balik pintu. Pria yang dulu selalu terlihat kuat dan tegas itu kini posturnya sedikit membungkuk karena usia. Rambut di pelipisnya sudah memutih total.
Namun saat mata mereka bertemu, ketegasan di wajah lelaki itu luluh seketika. Matanya langsung memerah.
“Sha...” panggilnya parau.
Keisha menatap ayahnya, air mata makin deras membasahi pipi.
“Yah...”
Ayahnya tidak banyak bicara. Ia hanya melangkah maju dan memeluk putri bungsunya itu lama sekali. Pelukan yang berisi jutaan makna: rindu, amarah yang sudah memudar, rasa lega, dan cinta yang tak pernah putus.
Kemudian, mata kedua orang tua itu perlahan beralih dan jatuh pada sosok kecil yang berdiri memegang ujung baju ibunya.
Leo berdiri dengan tenang dan sopan, memegang tas kecilnya sendiri. Wajahnya yang tampan, kulitnya yang cerah, hidungnya yang mancung, dan tatapan matanya yang tajam... semuanya terlihat begitu mencolok dan berbeda dari ciri khas keluarga mereka.
Ibunya menatap dengan wajah bingung campur takjub.
“Ini...?”
Keisha menelan ludah susah payah. Tangannya gemetar hebat memegang bahu anaknya.
“Bu... Yah... kenalkan, ini Leo.”
“Leo siapa, Nak?” tanya ayahnya pelan.
Keisha menghembuskan napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya.
“Anakku, Yah... Leo anak Keisha.”
Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti teras rumah itu. Ibunya menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak kaget. Ayahnya membeku, menatap cucunya dengan pandangan tak bisa berkata-kata.
Berbeda dengan orang dewasa yang tegang, Leo justru tersenyum manis dan ramah, lalu melambaikan tangan kecilnya ke arah kakek dan neneknya.
“Halo...” sapanya polos.
Momen tak bersalah itu berhasil mencairkan suasana. Ibunya langsung menangis lagi karena terharu.
“Ya Tuhan... cucu Ibu...”
Keisha menunduk dalam, bahunya bergetar. “Maafkan Keisha, Yah... Bu... Keisha jahat...”
Namun alih-alih memarahi, ibunya justru berlutut dan memeluk Leo erat-erat ke dalam dadanya.
“Masuk dulu yuk... masuk semua, di luar panas.”
Ayahnya berdiri diam beberapa saat, menatap cucunya dengan pandangan sulit diartikan, lalu tanpa bicara sepatah kata pun, ia mengambil alih koper besar dari tangan Keisha dan membawanya masuk.
Itu caranya berkata: Ayah menerima kalian.
Melihat itu, tangis Keisha pecah semakin keras, kali ini adalah tangis kelegaan yang luar biasa.
Siang harinya di meja makan, suasana sudah jauh lebih cair. Leo sibuk menyantap makanan dengan lahapnya, sesekali memuji masakan neneknya dan bercerita ini itu dengan antusias. Rumah yang lama sunyi kini kembali hidup dan penuh tawa.
Namun saat anak itu pergi bermain ke ruang tengah, percakapan serius yang ditunda akhirnya harus dilakukan.
“Ayah siapa?” tanya ayahnya memecah keheningan, suaranya terdengar tenang namun tegas.
Keisha menggenggam gelas di depannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Namanya Arsen, Yah.”
“Suamimu?” tanya ibunya cepat.
“Bukan...” jawab Keisha lirih, menunduk dalam.
Ruangan makan itu mendadak terasa dingin dan kaku kembali. Ibunya menutup wajah dengan tangan, menghela napas panjang. Ayahnya memejamkan matanya sesaat, seakan berusaha menguatkan hati.
“Jadi kamu pergi dan menghilang lima tahun lalu... karena masalah ini?”
Keisha mengangguk terus menerus sambil menangis tersedu.
“Aku takut... aku bodoh... aku panik dan enggak tahu harus gimana saat tahu aku hamil... aku malu buat hadap Bapak sama Ibu...”
Hening beberapa saat. Hanya isak tangis Keisha yang terdengar menyedihkan.
Lalu ayahnya menghela napas panjang yang terdengar berat dari dasar dadanya.
“Kamu memang bodoh, Keisha.”
Keisha makin menunduk, siap menerima kemarahan itu.
“Tapi kamu tetap anak Ayah.” Ia menatap putrinya dengan mata yang juga tampak basah. “Harusnya kamu pulang dari dulu. Jalanin aja hidup ini. Sekarang kamu sudah punya anak, kamu harus kuat demi dia.”
Mendengar kalimat itu, pertahanan diri Keisha runtuh total dan ia menangis sejadi-jadinya di hadapan orang tuanya.
Hari-hari pertama di Jakarta berjalan hangat dan penuh keakraban.
Leo sangat cepat beradaptasi dan akrab dengan kakek neneknya. Ia berlari-lari kecil di halaman rumah, memanjat sofa dengan lincah, mengacak-acak mainan dan membuat rumah itu kembali berisik namun penuh kebahagiaan.
Namun di balik senyumnya, Keisha tetap menyimpan rasa cemas yang tak hilang-hilang.
Setiap kali keluar rumah, matanya selalu waspada ke kanan dan ke kiri.
Setiap melihat mobil hitam mewah lewat, jantungnya selalu berdegup kencang tak karuan.
Setiap mendengar nama Arsen disebut-sebut di berita bisnis, tubuhnya akan langsung menegang kaku.
Ia tahu Jakarta ini luas. Tapi ia juga tahu betul... takdir kadang punya cara sendiri untuk mempertemukan orang yang sedang saling lari.
Sore itu, cuaca terasa sangat panas dan gerah.
Leo merengek manja meminta es krim.
“Mamaaa... beliin es krim dong...”
“Nanti saja ya, besok kalau ada uang jajan tambahan.”
“Enggak mau! Sekarang juga!” rengek anak itu sambil memeluk kaki ibunya.
Wajah memelas dengan mata besarnya itu sulit sekali ditolak. Akhirnya Keisha menyerah dengan gelengan kepala dan senyum tipis.
“Ya sudah... tapi cuma sebentar ya. Kita ke minimarket depan komplek saja.”
Leo langsung bersorak kegirangan.
Mereka pun berjalan keluar rumah bergandengan tangan, menyusuri jalanan perumahan yang tenang.
Keisha sama sekali tidak tahu...
Bahwa hanya beberapa kilometer dari tempat mereka berada, sebuah mobil sedan hitam mewah sedang berhenti menunggu lampu lalu lintas berubah warna.
Di kursi belakang, Arsen duduk dengan wajah datar dan dingin, menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.
Benang takdir sedang ditarik dari dua arah yang berbeda.
Dan ujungnya... sudah sangat dekat.
Bersambung...