NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH DUA

Lukas terbangun karena cahaya sore yang menyelinap masuk melalui celah gorden. Matanya terasa berat dan tubuhnya masih setengah mati karena lelah. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha memfokuskan penglihatan. Ketika akhirnya ia bisa melihat jelas, ia justru terlonjak.

Ada seseorang di sebelahnya.

Rambut panjang. Seragam kerja. Nafas pelan teratur.

Ririn.

Bahkan tangan perempuan itu tergeletak di atas perut Lukas.

Lukas langsung duduk tegak. "Ha-hah? Apa ini..."

Ia menatap sekeliling, memastikan ini benar kamar hotelnya. Dan iya, ini kamarnya. Ia menatap Ririn lagi, bingung dan sedikit panik. Ia mencoba mengingat kejadian terakhir sebelum tertidur.

Ririn memijatnya. Dia kelelahan. Punggungnya terasa ringan. Lalu gelap Ia tertidur.

Tapi, kapan Ririn ikut tidur dengannya?

Dan... kenapa di ranjangnya?

Tubuh Lukas menegang. Namun, setelah melihat

pakaian Ririn masih rapi, lengkap, kancing tertutup, rok tidak bergeser, ia menghembuskan napas lega.

Tidak ada yang terjadi.

Tetap saja, ini aneh. Sangat aneh.

Tiba-tiba Ririn bergerak. Kelopak matanya terbuka perlahan.

"Eh..." Ririn mengucek mata. "Pak... Lukas? Ya ampun, saya ketiduran?!"

Lukas hanya menatapnya, masih bingung.

Ririn buru-buru duduk tegak dan menjauh sedikit, wajahnya dibuat seolah malu sekaligus panik.

"Maaf banget, Pak! Saya tadi cuma mau pijitin Bapak sampai Bapak tidur, tapi saya juga ikut ngantuk. Saya-saya nggak ada maksud apa-apa. Sumpah, Pak!" ucap Ririn.

Lukas menghela napas panjang, tidak ingin memperpanjang keadaan. Ia terlalu lelah untuk curiga terlalu jauh.

"Nggak apa, Rin. Yang penting tidak terjadi apa-apa," ucap Lukas.

Ririn tersenyum kecil. "Ngg... nggak, Pak. Tentu nggak. Bapak juga tidur nyenyak, kan?"

Lukas mengangguk. "Iya, terima kasih. Badan saya terasa lebih enakan setelah dipijat kamu."

Mendengar itu, sorot mata Ririn berbinar bangga sekaligus senang.

"Kapan pun Bapak capek... kalau butuh dipijat lagi... saya siap bantu," katanya pelan dan penuh makna.

Lukas hanya tersenyum sopan. "Iya, terima kasih."

Ririn berdiri dan merapikan bajunya. "Saya siap-siap dulu, Pak. Kita harus ke tempat klien sebentar lagi."

Lukas mengangguk.

Namun, belum sempat Ririn membuka pintu-

Ding dong!

Bel pintu berbunyi.

Ririn menoleh cepat, wajahnya berubah canggung.

Lukas maju membuka pintu dan-

Sean berdiri di depan dengan wajah kaget.

"Loh wow!" seru Sean spontan. "Saya nggak salah kamar, kan? Bener ini kamar Pak Lukas?"

Lukas mengangkat alis. "Iya, ada apa?"

Sean memicingkan mata, menoleh perlahan ke arah Ririn yang masih berdiri di dalam kamar, wajah memerah.

"Eh... saya kayak... ganggu sesuatu, ya?" ujar Sean.

"Sean, tidak ada apa-apa di sini," jawab Lukas tegas.

Ririn buru-buru menunduk. "S-saya tadi cuma nganter minyak pijat, Pak Lukas pegal-pegal katanya."

Sean menaikkan kedua alis sampai hampir bersentuhan dengan rambutnya. "Ah... pegal, ya?"

"Satu kata lagi, Sean..." Lukas memperingatkan.

Sean langsung batuk pura-pura. "Oke oke, saya nggak bilang apa-apa. Tapi, kita harus siap-siap. Setengah jam lagi kita berangkat."

"Baik," jawab Lukas.

Ririn lewat sambil menunduk, berjalan cepat keluar dari kamar. Sean melihatnya lalu kembali menatap Lukas dengan penuh kecurigaan bercampur godaan.

Namun, Lukas hanya menutup pintu tanpa menjelaskan apa pun.

Di rumah, Adelia juga baru bangun dari tidur gelisahnya. Ia bangkit perlahan, merasakan kepalanya sedikit berat. Ia mengira itu karena tidur terlalu lama. Atau mungkin karena minuman herbal dari Bastian tadi.

Ia bangun, mengambil handuk, dan mandi untuk menyegarkan diri. Setelah itu ia mengenakan pakaian kasual yang sopan namun rapi-kemeja putih lembut dan celana panjang cokelat.

Baru saja ia selesai merapikan rambut, ponselnya berdering.

Adelia langsung mengambilnya dengan penuh harap.

"Mas Lukas?"

Namun, ternyata bukan.

Itu pesan dari teman lamanya.

"Del, kita reuni kecil yuk sore ini! Kamu bisa datang, kan? Udah lama banget kita nggak ketemu!"

Adelia menatap pesan itu lama. Ia sangat ingin keluar rumah untuk menenangkan pikiran. Bertemu teman mungkin bisa mengalihkan rasa takutnya.

Akhirnya ia membalas singkat.

"Aku pasti datang."

Adelia mengambil tasnya dan turun ke bawah.

Namun begitu ia menuruni tangga, seperti biasa...

Bastian ada di sana.

Muncul dari ruang tengah, seolah tahu Adelia akan turun.

"Del," panggilnya. "Kamu sudah bangun?"

Adelia tersenyum kaku. "Iya, Pa. Terima kasih... untuk minuman herbal tadi."

Bastian tersenyum puas. "Bagus kalau kamu merasa lebih baik."

Adelia perlahan melangkah ke arah pintu, tetapi Bastian segera bertanya,

"Kamu mau ke mana?" tanya Bastian.

"Saya mau ketemu teman, Pa. Reuni kecil," jawab Adelia.

"Oh gitu?" Bastian mengangguk perlahan. "Yasudah, Papa anter."

Adelia langsung menggeleng. "Tidak perlu, Pa. Saya bisa pesan ojek atau taksi."

"Kamu mau pergi sendirian?" tanya Bastian, nadanya berubah tajam.

"Iya, Pa..." jawab Adelia.

"Apa Papa perlu ikut? Takut kamu kenapa-kenapa nanti," ucap Bastian.

"Tidak perlu, Pa. Benar-benar tidak perlu-"

Namun, Bastian sudah mengambil kunci mobil dari meja.

"Papa anter kamu, titik!" kekeuh Bastian.

Adelia tidak bisa melawan. Ia hanya mengangguk pelan dan mengikuti Bastian keluar rumah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!