Skywa Caeloryn Isyra
Seorang gadis hidup tanpa ibu. Di besarkan oleh orang tua tunggal membuatnya menjadi kepribadian yang mandiri. Dari kalimat yang asal di ucap namun bermakna serius. Mengantarkan Cael—begitu orang memanggilnya ke pernikahan yang dingin. Cael bak kasat mata dalam istana megah. Cinta sepihak menghancurkan seluruh mimpi dan harapannya setelah suaminya—Kavi Danendra Bimantara. Membawa wanita lain sebagai adik madu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin
Di bangku kayu yang sama, sosok itu kembali terlihat. Pria berandalan dengan jaket kulit hitamnya sedang duduk bersandar, satu kakinya diangkat ke atas lutut yang lain. Ia tidak sedang merokok kali ini. Ia hanya menatap kosong ke arah cakrawala, seolah-olah dia juga sedang memikul beban dunia di pundaknya.
Cael ragu sejenak, namun akhirnya ia melangkah mendekat dan duduk di ujung bangku yang sama, memberi jarak yang sopan namun cukup untuk menunjukkan kehadirannya.
"Datang lagi?" suara serak pria itu memecah kesunyian tanpa menoleh sedikit pun.
Cael mengangguk pelan, meski ia tahu pria itu tidak melihatnya. "Rumah masih belum terasa seperti rumah," jawab Cael jujur, sebuah pengakuan yang bahkan tidak berani ia katakan pada dirinya sendiri di depan cermin.
Pria itu terkekeh pelan, tawa yang terdengar getir namun tulus. Ia menoleh, menatap Cael dengan mata yang tajam namun tidak menghakimi. "Setidaknya kali ini matamu tidak sesembab kemarin. Baguslah. Dunia memang masih brengsek, tapi sepertinya kamu sudah mulai belajar cara mengatasi nya."
Cael tersenyum tipis—senyum tulus pertamanya dalam beberapa hari ini. Di samping orang asing yang terlihat berbahaya ini, ia justru merasa lebih aman daripada saat berada di samping suaminya sendiri di kantor tadi.
...----------------...
Lampu teras sudah menyala terang saat Cael membelokkan mobilnya masuk ke halaman. Jantungnya berdesir sedikit lebih cepat ketika melihat mobil sedan hitam milik suaminya sudah terparkir rapi di garasi. Ini adalah pemandangan yang tidak biasa bagi Cael belakangan ini.
Ia melangkah masuk dengan perasaan waspada. Aroma masakan yang sedap memenuhi ruangan, tanda bahwa kedua asisten rumah tangga kiriman mertuanya sedang menjalankan tugas mereka dengan sangat baik. Di ruang tamu, Cael melihat suaminya sedang duduk di sofa sambil membaca tablet, seolah-olah ia adalah kepala keluarga yang sudah lama menunggu kepulangan istrinya.
"Kakak sudah pulang, maaf aku terlambat." Cael mencoba menyapa sambil tersenyum tipis.
Kavi hanya diam fokus pada benda di hadapannya. Merasa di abaikan Cael memilih melangkah masuk.
Meja makan tertata sempurna dengan hidangan mewah yang disiapkan kedua asisten rumah tangga, namun suasananya terasa lebih dingin daripada es. Cael dan Kavi duduk berseberangan dalam jarak yang terasa berkilo-kilo meter jauhnya.
Hanya ada suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring, memecah kesunyian yang mencekam. Tidak ada pertanyaan tentang bagaimana hari ini berjalan, tidak ada candaan, bahkan tidak ada kontak mata. Di sudut ruangan, kedua asisten itu berdiri dengan tangan bertaut, sesekali saling lirik dengan bingung karena melihat pasangan suami-istri yang tampak seperti orang asing yang terpaksa berbagi meja.
Kavi makan dengan gerakan kaku, matanya terpaku pada makanan seolah-olah piring itu adalah dokumen kantor yang membosankan. Sementara Cael, mengunyah tanpa gairah, pikirannya justru melayang kembali ke bangku taman dan percakapan singkatnya dengan pria berandalan tadi sore. Kontrasnya begitu nyata. Di sini ada kemewahan tapi menyesakkan, di sana ada kesederhanaan tapi membebaskan.
Setiap kali asisten rumah tangga mendekat untuk menuangkan air, suaminya akan berdeham kecil, mencoba menciptakan kesan bahwa semuanya baik-baik saja, namun kegagalan komunikasi mereka terlalu nyata untuk disembunyikan.
...----------------...
Hari-hari berikutnya berubah menjadi rutinitas yang aneh dan mekanis. Meski kini mereka tinggal di bawah satu atap, rumah itu terasa seperti dua kutub yang tidak pernah bersinggungan. Mereka hidup dalam labirin waktu yang sengaja diatur agar tidak perlu berpapasan.
Setiap pagi, Cael turun ke ruang makan saat Kavi sudah berangkat lebih awal ke kantor. Ia hanya mendapati sisa aroma kopi dan kursi yang masih sedikit hangat sebagai tanda keberadaan pria itu. Sebaliknya, saat sore hari, Cael tiba di rumah Kavi sudah mengunci diri di kamar atau ruang kerja nya.
Di kantor pun, dinding pemisah yang mereka bangun semakin tebal. Kavi seolah menciptakan protokol baru untuk memastikan wajah Cael tidak perlu muncul di hadapannya. Segala urusan pekerjaan, mulai dari penyerahan laporan hingga instruksi revisi, kini selalu diperantarai oleh asisten pribadi pria itu.
Kavi benar-benar menghapus eksistensi Cael sebagai istri maupun bawahan langsung. Di koridor kantor, jika mereka tidak sengaja berpapasan, Kavi akan sibuk menatap ponsel atau berbicara dengan staf lain, melewati Cael seolah ia hanyalah bagian dari dekorasi ruangan.
...----------------...
Angin danau terasa lebih dingin dari biasanya, membawa aroma air dan tanah yang lembap. Setelah berminggu-minggu terjebak dalam rutinitas "rumah tangga" yang melelahkan, Cael akhirnya melangkah kembali ke bangku kayu.
Ia mengira pria itu sudah tidak ada di sana, namun sosok dengan jaket kulit hitam itu masih duduk di tempat yang sama, seolah waktu tidak pernah bergerak baginya. Pria itu sedang menatap riak air sambil memainkan pemantik api di tangannya.
"Lama tidak kelihatan. Kupikir kamu sudah menemukan cara untuk betah di rumah," suara serak pria itu menyambutnya, bahkan sebelum Cael sempat duduk.
Cael tersenyum tipis, kali ini tanpa beban untuk menyembunyikan kerapuhannya. "Aku hanya belajar cara menghilang di dalam rumah sendiri," jawabnya pelan sambil mengembuskan napas panjang.
Pria itu menyodorkan sebuah kaleng minuman dingin yang belum dibuka ke arah Cael. "Menghilang itu melelahkan," gumam nya pelan. "Kadang, lebih baik terlihat dan dibenci daripada ada tapi dianggap tidak ada. Setidaknya kalau dibenci, kamu tahu kamu masih nyata."
Kalimat itu menghujam jantung Cael. Di tengah kemewahan rumah dan jabatan di kantor, ternyata pria berandalan di tepi danau inilah yang paling memahaminya.
Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini terasa berbeda. Bukan sunyi yang menyesakkan seperti di meja makan rumahnya, melainkan kesunyian yang memberikan ruang untuk bernapas. Hanya ada suara gesekan dedaunan kering yang tertiup angin dan sesekali suara mesin kendaraan dari kejauhan.
"Terimakasih minumannya."
Pria itu hanya mengangguk. "Sudah gelap..." Ucapnya sambil berdiri.
Cael menarik nafas panjang lalu ikut berdiri meninggalkan kursi kayu itu. Rasanya sedikit rileks dan tenang. Aroma parfum pria di hadapannya tertinggal di belakang. Maskulin tidak menusuk ada kelembutan yang memberikan rasa tenang saat menghirupnya.
Setiba di jalan utama. Mereka berpisah kembali seperti sebelumnya tidak ada kata perpisahan atau perkenalan seperti pada umumnya. Lampu-lampu jalanan mulai benderang menerangi jalan. Cael menyetir pelan tidak terburu-terburu sengaja menikmati sisa sore nya sebelum masuk ke dalam rumah mewah yang mengurungnya dalam kesunyian. Benar kata pria berjaket kulit. Lebih baik di benci namun terasa ada ketimbang di diamkan seolah tidak ada. Roda empat itu berhenti di halaman rumah namun di sampingnya tidak ada mobil Kavi terparkir.
Semoga kelak, Kavi akan dihinggapi rasa sesal yang mendalam karena telah memilih Sheza