Medina Khaled, gadis cantik bermata Hazel dari Ghaza yang telah di adopsi oleh seorang dokter relawan bernama Yasmin Ameena, dan suaminya bernama Ardan Mahesa, memiliki putra tunggal Rendra Mahesa.
Dokter Yasmin menolong Medina di bawah reruntuhan bangunan. Gadis itu masih bisa di selamatkan.
Dokter Yasmin merasa iba pada Medina yang sebatang kara, ia membawa Medina pulang ke Indonesia dan menjadikan nya anak angkat.
Setelah dewasa, Medina menolak tawaran dokter Yasmin untuk melanjutkan studinya di Amerika menyusul Rendra yang sudah disana. Medina ingin bekerja, belajar mandiri. Dokter Yasmin tidak ingin kehilangan Medina. Akhirnya ia menyuruh Rendra untuk pulang, dan menikahi Medina. Mau tak mau, ke-duanya harus menuruti keinginan dokter Yasmin, walau Rendra sudah memiliki kekasih. Rendra menyayangi Medina, tapi ia punya selera di luar sana. Membuat Rendra bermain di belakang Medina.
Bagaimana kah kelanjutan Rumah Tangga nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosseroo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Medina kembali menemui Husna di kafe tempat ia bekerja. Husna membawakan majalah yang sempat ia bicarakan waktu lalu.
"Ini majalahnya. Lihat deh, ini kan kak Rendra. Dan di samping nya model Vanessa Queen. Pose mereka intim banget loh Med."
"Kok, aku bodoh banget ya. Aku terlalu percaya."
Husna menatap sedih temannya itu.
"Gue gak tau sebelumnya kalau elo beneran merit akhirnya sama kak Rendra. Soalnya abis lulus gue langsung ke Amerika sih ikut kakak gue."
"Na, menurut lo. Mas Rendra selingkuh gak sih?"
"Ya kalau boleh jujur sih. Wanita mana yang gak tertarik Med. Udah lah tampan, mapan, dewasa, suaranya aja bikin meleleh para wanita."
"Lo juga, gitu?!"
"Ya gak kali, gue mah udah punya cowok. Maksudnya kalau kaya cewek model Vanessa mah pasti gak bakal lewatin kesempatan buat deketin kak Rendra."
"Gue awalnya curiga. Gue udah nanya ke sekertaris nya, tapi hubungan mereka cuma sebatas pekerjaan katanya."
"Dan lo percaya?" namun Medina menggeleng lemah.
"Gue nemuin lipstik di ranjang tempat tidur, di ruang kantor mas Rendra. Gue tanya ke orangnya, dia bilangnya beli buat gue. Tapi itu warna merah terang Na. Gue yakin, mas Rendra tau gue gak suka warna terang."
"Duh, gue langsung merinding."
"Pas malam pengantin, ada panggilan dari kontak bernama Vanessa Queen. Pas mau gue angkat, langsung mati."
"Dan mas Rendra selalu menjauh jaga jarak saat mendapat telefon, dia juga suka tersenyum saat berbalas pesan."
"Gue pernah coba cari nama Vanessa Queen lagi di ponsel mas Rendra, tapi nihil Na. Gak ada riwayat apapun, bahkan kontaknya juga gak ada."
Husna menghela nafas panjang. Ia mengusap punggung Medina yang bergetar menahan tangis.
"Terus, lo mau gimana Med?"
"Gue pengin cari bukti kuat Na. Gue perlu bantuan seorang hacker, mungkin?"
"Lo bisa bantuin gue gak Na. Lo yang udah lebih dulu disini dari pada gue."
"Coba gue tanya kakak gue. Lo tenangin diri lo dulu oke, nih di minum dulu." Husna menyodorkan segelas air putih untuk Medina.
Beberapa menit berlalu. Husna kembali bersama kakaknya mendekati Medina.
"Med, ini kakak gue Hana. Dia lama disini."
"Hai kak, saya Medina."
"Hana."
"Jadi, kamu mau cari hacker gitu?"
"Aku butuh, buat cari bukti perselingkuhan suamiku."
Hana memberikan sebuah kartu nama pada Medina.
"Ini kartu nama hacker kenalan gue. Dia asli Indonesia, tapi dia kerja di perusahaan Amerika. Dia ahli IT, makanya keahliannya di butuhin disini. Karena disini lebih dihargai."
"Wah, keren yah.." puji Husna.
"Tapi, kamu gak boleh bocorin ke siapapun. Ini rahasia."
"Siap kak Hana."
Malamnya, saat Rendra tengah tertidur. Medina mencoba menghubungi nomor yang tertera di kartu tersebut.
Cukup lama panggilan itu tersambung.
"Hello."
"Ya, hello.."
"Who is this with, and where?"
(ini dengan siapa, dan dimana?)
"I am Medina. Sir, can you help me?"
(saya Medina. tuan, bisakah anda menolong ku?)
"Of Course!"
(tentu)
Medina lalu menceritakan kecurigaan yang ia rasakan. Ia juga mengirim foto suaminya beserta model yang sedang naik daun itu.
Sang hacker meminta waktu dua hari untuk melacak semuanya. Medina menyanggupi untuk menunggu.
*******
Pagi hari di meja makan, Medina sudah duduk manis disana. Rendra yang baru keluar dari kamarnya merasa aneh, karena Medina tidak membangunkannya. Hanya saja saat ia terbangun, setelan jas kantor telah menggantung, siap untuk di kenakannya.
"Sayang, kok gak bangunin mas?"
Rendra mendekati Medina dan mengecup puncak kepalanya.
"Tidur mu sangat pulas. Sepertinya mas kelelahan semalam."
"Walaupun mas lelah, mas akan senang kalau kamu bangunin."
Medina hanya tersenyum kecil.
"Sarapanlah dulu mas. Kamu sering melewatkan sarapan berama ku."
"Maaf ya, mas sibuk." lirihnya menggenggam tangan Medina.
Usai sarapan Rendra berpamitan padanya. Tinggal lah kini Medina sendiri, di sebuah sofa panjang. Ia mencoba membuka lembar demi lembar majalah yang di penuhi gambar Vanessa.
"Dia memang cantik, body nya juga bagus. Pantas saja kalau sampe mas Rendra tertarik."
Hati Meda merasa tersayat setiap ia membuka lembaran kertas itu. Segala brand yang di kenakan model itu, sungguh pas dan cocok di pakai olehnya.
"Kok hatiku sakit banget ya. Saingan ku sebagus dan secantik ini?"
Di kantor
Vanessa sudah duduk di sofa ruang kantornya. Rendra tidak habis pikir. Wanita itu masih saja nekat dengan tingkah konyolnya yang merugikan dirinya.
"Kau tidak lelah, hah? Aku saja lelah melihat mu begini!" Rendra menatap tajam.
"Tatapan apa itu Rendra? Aku bukan musuhmu. Kita pernah saling berbagi, tak bisakah kamu lembut sedikit tanpa harus bersikap kasar?"
"Kau harus mengikuti intruksi ku! Kalau ku bilang berhenti, berarti kau memang harus berhenti!"
"Ren, aku tahu di hatimu masih ada aku. Istrimu sedang hamil tua kan. Kau pasti merasa kedinginan, aku bisa memberikan kehangatan yang indah untuk mu."
"Cukup Vanessa! Kenapa kau selalu menguji kesabaran ku!"
"Ren, hati ku benar-benar sakit kau duakan, kau bahkan menikahi wanita lain saat kita masih bersama!
Aku tak membencimu kan, aku masih setia padamu! Tapi kau tetap meninggalkan ku."
"Cerita kita sudah usai Vanessa. Sudah cukup kan bahagia yang ku berikan padamu.
Sekarang, carilah kebahagiaan mu sendiri tanpa melibatkan aku!"
"Bagaimana bisa aku harus bahagia tanpa melibatkan kamu. Sedangkan kamu adalah duniaku sekarang."
Vanessa menitikkan air mata, ia lalu pergi meninggalkan Rendra dan menutup pintu dengan kasar.
Rendra mengusap wajahnya kasar. Ia tidak menyangka jika Vanessa akan benar-benar menganggap permainan yang ia jalani selama ini, hal serius bagi wanita itu.
...----------------...