Di desa terpencil, Zifa hidup bersama Mama Auna dan Uti Yaya, dihantui kerinduan akan ayahnya yang hilang, hingga kebenaran pahit terungkap bahwa ayahnya telah menikah lagi, berbeda dengan cerita Mama Auna tentang ayahnya yang bekerja di luar negeri. Malam-malam misterius dengan hilangnya hewan ternak warga desa menambah teka-teki, sementara takdir mempertemukan Auna dengan cinta pertamanya, Zhafran, yang kini kaya raya. Rahasia masa lalu yang terkubur dalam-dalam muncul ke permukaan: Zifa ternyata bukan anak Fauzan, melainkan darah daging Zhafran! Kini, Auna harus memilih antara mengungkap kebenaran yang mengubah hidup Zifa atau terus memendamnya demi melindungi putrinya dari intrik dunia gemerlap. Mampukah Auna mempertahankan Zifa, ataukah takdir akan memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Menganga
Zhafran, dengan amarah yang membara, menggendong Auna keluar dari kamar hotel itu. Tatapannya dingin, sama sekali tak mencerminkan cinta yang selama ini ia tunjukkan pada Auna. Auna hanya bisa menangis, mencoba menjelaskan bahwa semua ini adalah jebakan, tapi Zhafran seolah tuli.
"Zhaf, dengerin aku dulu. Ini semua nggak seperti yang kamu lihat. Aku dijebak," lirih Auna di tengah isak tangisnya.
Zhafran tak menjawab. Ia terus berjalan cepat menuju mobilnya, membuka pintu, dan mendudukkan Auna di kursi penumpang. Tanpa sepatah kata pun, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota yang ramai.
Selama perjalanan, Auna terus berusaha menjelaskan, tapi Zhafran tetap bungkam. Ia hanya fokus pada jalan, rahangnya mengeras menahan amarah. Auna merasa seperti orang asing di samping suaminya sendiri.
Sesampainya di depan rumah Auna, Zhafran menghentikan mobilnya. Tanpa menoleh, ia berkata dengan suara datar, "Turun."
Auna menatap Zhafran dengan mata sembab. "Zhaf, kamu percaya sama aku kan? Aku nggak mungkin ngelakuin itu," ucap Auna dengan nada memohon.
Zhafran menghela napas panjang. "Aku butuh waktu untuk berpikir, Auna. Sekarang, turunlah." Setidaknya Zhafran masih memulangkan mu, Au.
Auna tak punya pilihan lain. Dengan hati hancur, ia membuka pintu mobil dan keluar. Ia berdiri terpaku di depan rumahnya, menatap mobil Zhafran yang melaju kencang meninggalkannya.
Air mata Auna semakin deras mengalir. Ia merasa begitu sendiri dan tak berdaya. Ia tahu, fitnah ini bisa menghancurkan segalanya yang telah ia bangun bersama Zhafran.
Dengan langkah gontai, Auna masuk ke dalam rumah. Uti Yaya dan Zifa langsung menghampirinya dengan wajah khawatir.
"Auna, ada apa Nak? Kenapa kamu nangis?" tanya Uti Yaya sambil memeluk Auna erat.
Zifa juga ikut memeluk Auna, "Mama kenapa? Om Zhafran mana?"
Auna tak bisa menjawab. Ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya di pelukan Uti Yaya dan Zifa. Ia merasa begitu sakit dan terluka.
"Sabar ya, Nak. Ceritakan semuanya sama Ibu," ucap Uti Yaya dengan lembut.
Setelah tangisnya mereda, Auna menceritakan semua kejadian yang menimpanya di hotel itu. Ia menceritakan tentang minuman yang membuatnya pusing, tentang Rina yang menyeretnya ke kamar hotel, dan tentang foto-foto yang diambil sebagai bukti perselingkuhan.
Uti Yaya mendengarkan dengan seksama, raut wajahnya semakin lama semakin geram. Ia tak menyangka, Rina bisa melakukan hal sekeji itu.
"Ya Allah, tega sekali wanita itu. Sabar ya, Nak. Ibu percaya sama kamu. Kamu nggak mungkin melakukan hal itu," ucap Uti Yaya sambil mengusap air mata Auna.
Zifa juga ikut memberikan semangat, "Mama yang sabar ya. Zifa percaya sama Mama."
Auna merasa sedikit lega mendengar dukungan dari Uti Yaya dan Zifa. Tapi, hatinya tetap merasa sakit dan khawatir. Ia takut Zhafran tidak akan pernah percaya padanya.
Malam itu, Auna tidak bisa tidur nyenyak. Ia terus memikirkan Zhafran dan bagaimana cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Ia tahu, ia harus berjuang untuk mempertahankan rumah tangganya.
***
Keesokan harinya, mentari pagi menyinari rumah Auna dengan sinarnya yang hangat, namun tak mampu menghangatkan hati Auna yang masih diliputi kesedihan. Ia terbangun dengan mata sembab dan tubuh yang terasa lemas. Semalaman ia tak bisa memejamkan mata, terus memikirkan Zhafran dan bagaimana cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah.
Saat Auna sedang melamun di ruang tamu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Uti Yaya yang membukakan pintu, dan betapa terkejutnya ia melihat Rafka berdiri di depan rumahnya dengan wajah penuh penyesalan.
"Assalamualaikum, buk. Maaf, saya mengganggu," ucap Rafka dengan suara lirih.
Uti Yaya menatap Rafka dengan tatapan dingin. "Ada perlu apa kamu datang ke sini?" tanyanya dengan nada ketus.
Rafka menghela napas panjang. "Saya mau minta maaf, Buk. Saya tahu, saya sudah membuat Auna dalam masalah besar. Saya benar-benar menyesal," jawab Rafka dengan nada penuh penyesalan.
Uti Yaya terdiam sejenak, lalu mempersilakan Rafka masuk. "Masuklah. Auna ada di dalam," ucap Uti Yaya dengan singkat.
Rafka masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Ia melihat Auna duduk di ruang tamu dengan tatapan kosong. Hatinya semakin merasa bersalah.
"Auna, maafkan aku. Aku nggak tahu kalau semua ini akan terjadi," ucap Rafka dengan nada penuh penyesalan.
Auna menatap Rafka dengan tatapan datar. "Kenapa kamu ada di sana, Rafka? Kenapa kamu nggak bisa menghindarinya?" tanya Auna dengan nada lirih.
Rafka menundukkan kepalanya. "Aku juga nggak tahu, Auna. Aku cuma ingat, aku minum sesuatu dan tiba-tiba aku sudah ada di kamar itu," jawab Rafka dengan nada bingung.
Uti Yaya mendekat dan menenangkan Auna. "Sudahlah, Nak. Jangan menyalahkan Rafka. Ini semua sudah terjadi. Sekarang, yang penting adalah bagaimana cara membuktikan bahwa kamu tidak bersalah," ucap Uti Yaya dengan lembut.
Rafka mengangkat kepalanya dan menatap Auna dengan tatapan penuh keyakinan. "Auna, aku akan bantu kamu. Aku akan cari tahu siapa yang sudah menjebak kita dan membuktikan bahwa kamu tidak bersalah," ucap Rafka dengan nada tegas. Auna tidak ingat apa-apa setelah tidak sadarkan diri itu padahal sebelumnya Auna sudah tau siapa dalangnya, yaitu Rina.
Auna menatap Rafka dengan tatapan ragu. "Apa kamu yakin, Rafka? Ini bukan masalah yang mudah," tanya Auna dengan nada khawatir.
Rafka mengangguk dengan mantap. "Aku yakin, Auna. Aku nggak akan biarin kamu menderita karena kesalahan yang tidak kamu lakukan," jawab Rafka dengan nada penuh keyakinan.
Setelah berbicara dengan Auna dan Uti Yaya, Rafka memutuskan untuk mencari Zhafran dan menjelaskan semuanya. Ia tahu, Zhafran pasti sangat marah dan kecewa. Tapi, ia berharap Zhafran mau mendengarkannya dan percaya bahwa Auna tidak bersalah.
Rafka pergi ke rumah Zhafran karena di rumah Auna, Zhafran tidak ada dan kata Auna, Zhafran belum pulang dari waktu itu, tapi ia tidak menemukan Zhafran di sana. Menurut pembantunya, Zhafran belum pulang sejak kemarin. Rafka merasa semakin khawatir. Ia takut Zhafran melakukan sesuatu yang bodoh karena amarahnya.
Rafka terus mencari Zhafran ke berbagai tempat, namun ia tetap tidak menemukannya. Ia merasa frustrasi dan tak berdaya. Ia tahu, waktu semakin menipis dan ia harus segera menemukan Zhafran sebelum semuanya terlambat.
Pesan dari aku penulis kisahmu:
Auna, jangan putus asa ya. Rafka sudah berjanji akan membantumu. Bersama-sama, kalian pasti bisa melewati semua ini. Ingatlah, kebenaran pasti akan terungkap pada waktunya.