Seperti boneka, Lilyana merasa hidupnya diperalat keluarganya untuk kepentingan bisnis. Diminta bertunangan dengan Dave demi bisnis lalu tiba-tiba diminta putus karena tunangannya dituduh berkhianat terhadap perusahaan keluarganya.
Lily merasa inferior karena kelainan jantung bawaan yang dideritanya. Sejak orang tuanya meninggal, ia bersusah payah dengan segala keterbatasannya membangun kepercayaan diri, memperjuangkan cintanya dan membebaskan sengketa warisan dan perebutan kekuasaan di perusahaan keluarganya.
Akankah keberuntungan selalu berpihak padanya? Apakah ia mampu mengembalikan kedamaian dan kejayaan keluarganya? Bagaimana pula akhir kisah cinta segitiganya dengan seorang arsitek yang romantis dan petani sukses yang penuh semangat?
JANGAN LUPA DUKUNG LILY DENGAN LIKE dan VOTE yaa 😍😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya-senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih tentang ide gila Satya
Pagi ini Satya berjanji akan membicarakannya bertiga di meja makan. Asep tak sabar ingin mendengar sendiri apa pendapat Lily tentang ide gila Satya itu.
Tepat seperti dugaan Asep, Lily meradang mendengar ide gila Satya. “Kak Satya itu apa-apain sih? Papa sedang kritis. Kita nggak usah bicara soal harta dulu deh. Lebih baik pikirkan usaha untuk membuat papa sembuh.”
“Kemungkinan papa sembuh hanya 10%, itu pun butuh waktu yang lama dan kecil kemungkinan papa bisa sehat seperti sediakala. Pembuluh darah di batang otaknya pecah. Dibawa ke rumah sakit luar negeri pun sudah tak memungkinkan lagi dengan kondisi seperti sekarang ini. Kata dokter, pasien dengan kondisi seperti papa rata-rata hanya mampu bertahan hidup dengan bantuan peralatan medis dalam hitungan jam.”
Lily menunduk sedih. Ia meletakkan sendok, tak lagi ingin menyuap makanan yang rasanya tiba-tiba berubah jadi hambar.
“Kita tetap berusaha keras agar papa sembuh, Ly. Tapi kita juga harus siap dengan kondisi terburuk. Kita perlu memperjuangkan hak kamu kalau-kalau hal buruk terjadi sama papa. Apa kamu rela hak kamu dirampas pelakor itu? Ingat, dia sudah membunuh mama dan berkali-kali membayar orang untuk membunuhmu. Dia itu sangat licik. Sampai sekarang kita tetap tak punya bukti kuat untuk menjebloskannya ke penjara. Kamu sadar itu kan?”
Lily diam. Ia mencoba menetralisir degup jantungnya yang mulai berdetak lebih cepat dengan menarik nafas panjang beberapa kali. Sulit menahan amarahnya tiap kali ia ingat kekejaman ibu tirinya. Ia mencoba mengkonsentrasikan pikirannya pada nafas dan melakukan sitkari pranayama lagi untuk meredam amarahnya. Berusahalah untuk tenang, Lily. Jangan emosi.
Bersyukur ia sudah berkali-kali diselamatkan dari upaya pembunuhan yang disusun begitu rapi. Setiap upaya yang mencelakakan dirinya tak berjejak. Yang tertangkap polisi pun hanya pelaku yang sama sekali tak dikenalnya dan tidak jelas apa motifnya melakukan tindak kriminal itu. Mereka semua bungkam tak menyebutkan siapa otak di balik rencana pembunuhan itu. Padahal jelas, satu-satunya orang yang membenci dan ingin ia cepat mati hanyalah ibu tiri laknat itu.
Sementara Asep menggigit bibir, trenyuh sekaligus ngeri membayangkan bagaimana kehidupan Lily yang sebenarnya. Ia baru tahu alasan kenapa ada sistem keamanan berlapis yang mengikuti Lily kemanapun. Ternyata ada orang yang menginginkan kematiannya.
“Aku nggak peduli sama harta papa, kak. Aku sudah punya cukup banyak warisan emas dan perhiasan mama. Aku juga sudah dapat hibah kebun yang di Jampang itu. Terima kasih kakak sudah membantu Lily memperjuangkannya.”
“Itu tidak cukup Lily. Penghasilan kebun dan kafe kamu itu paling banyak hanya 30% dari uang bulanan yang ditransfer papa ke rekeningmu kan? Kalau papa tidak ada, transfer itu juga terhenti.”
“Iya. Tapi aku sudah belajar untuk hidup lebih irit. Aku sekarang sudah terbiasa pakai baju murah dan menikmati makanan sehat yang murah meriah.”
“Jadi kamu rela pelakor itu menguasai seluruh harta papa? Kamu perlu tahu, dia ternyata mengambil kesempatan saat kita mengasingkan diri dengan mengambil alih rumah Menteng, Ly. Dia membuat benteng keamanan di rumah kita dan menguasainya. Dia telah memasukan keluarganya ke dalam Goldlight Energy dan mengobrak-abrik manajemen di perusahaan itu.” Satya membelokan pikiran Lily mencoba mempengaruhi dari sudut pandang yang lain, kejahatan ibu tirinya yang selama ini tidak pernah diceritakan pada Lily.
“Tentu saja tidak,” jawab Lily setengah berteriak.
Tiba-tiba saja Lily menyesal mengikuti saran keluarganya untuk mengasingkan diri menghindari pemberitaan yang berkaitan dengan keluarganya. Seharusnya ia tetap di rumah itu. Ia terlalu pengecut untuk sekedar menyampaikan pendapatnya. Kenapa saat itu ia yang harus diasingkan? Kenapa bukan perempuan pembuat masalah itu saja yang diasingkan? Bukankah pembuat onar itu adiknya? Sedangkan Lily tak punya hubungan apa-apa dan sama sekali tidak kenal dengan pembuat onar itu. Bukankah ini bodoh? Kenapa pula ia sama sekali tak pernah berpikir kala perempuan itu akan menguasai rumah Menteng dengan cara itu? Ia merasa benar-benar bodoh.
“Kalau begitu, kita harus mulai permainan ini. Kita hanya perlu memperjuangkan hak kamu. Kalau sudah dapat dan kamu tidak mau mengambil bagianmu, sumbangkan saja ke yayasan yatim piatu atau lembaga sosial lainnya. Harta itu akan lebih bermanfaat jika tanganmu, Ly. Dan akan jadi bencana kalau pelakor itu yang menghabiskannya
untuk berfoya-foya dengan keluarganya. Aku nggak rela mereka mengambil semua yang telah diperjuangkan keluarga kita dengan kerja keras. Tidak akan ada yang dirugikan sama sekali. Perempuan itu serakah. Sekali lagi aku tegaskan, kita hanya mengambil hak kamu. Kang Asep sudah bersedia bantu kita kalau kamu setuju ideku.”
“Kita tak perlu libatkan kang Asep dalam masalah keluarga kita, Kak.”
“Aku sudah ngobrol panjang dengan kang Asep semalaman. Dia tertantang kok dengan permainan ini. Kalian berdua itu sebenarnya cocok satu sama lain. Kamu dan kang Asep hanya perlu waktu untuk saling mengenal. Kalian bisa mulai saling mengenal dengan lebih bebas dalam ikatan pernikahan. Kalau kalian ternyata tidak saling cinta, kalian bisa bercerai. Kalau kalian saling cinta, silahkan lanjutkan. Aku sangat percaya dia dikirim Tuhan pada waktu yang tepat. Kamu dan kang Asep sama-sama orang baik. Seumur-umur kamu bakal susah dapat jodoh kalau melewatkan kesempatan ini.”
Kali ini Lily diam. Ia sadar Satya mulai memainkan emosinya dan mengeluarkan jurus-jurus negosiasi untuk mempengaruhi pemikirannya.
“Kamu tahu, salah satu harapan papa yang belum terwujud adalah menyaksikan putri bungsunya menikah. Beliau sebenarnya terpukul sekali dengan kasus Dave. Papa sudah mempersiapkan pernikahanmu yang seharusnya dilaksanakan bulan depan. Papa sudah bayar booking wedding organizer yang kontraknya belum dibatalkan sampai sekarang. Kalaupun umurnya tak panjang, setidaknya dengan menikah kamu telah membuatnya bahagia.”
Benar. Bukan hanya Lily yang kecewa dengan batalnya rencana pernikahan itu. Papa pasti sangat kecewa. Beliau telah menyiapkan segalanya untuk pesta pernikahan itu, termasuk legalitas hadiah saham yang dijanjikannya. Lily mencoba menatap lagi laki-laki berperawakan sedang di hadapannya. Dia bukan tipe lelaki metroseksual seperti Satya dan Dave. Penampilannya sederhana seperti orang kebanyakan, tapi dia sopan dan menghargai pendapat perempuan. Dia baik. Tentu saja Lily bersedia mencoba mengenalnya. Tapi bagaimana dengan Siska ya? Sepertinya sahabatnya itu tertarik pada Asep. Meskipun Asep tak pernah menunjukan sikap atau respon yang sama, tapi ia tidak ingin menikungnya.
Bayangan papa kembali muncul di hadapannya. Kondisinya kritis. Hanya satu harapannya yang belum sempat terwujud, menikahkan putri satu-satunya. Papa dan almarhumah mama telah memperjuangkan kehidupannya dengan susah payah selama bertahun-tahun. Apa pun dipertaruhkan demi kehidupan anak perempuan berkebutuhan khusus yang jelas-jelas berbeda dengan anak-anak normal lainnya. Jika kondisi jantungnya sekarang telah jauh lebih baik, mereka berdualah yang memperjuangkannya dengan harta, darah dan air mata. Tak tahu sudah berapa banyak uang dihabiskan untuk pemeriksaan kesehatan, obat serta rangkaian operasi perbaikan katup jantung yang dijalaninya di rumah sakit dalam dan luar negeri. Bisa mengantarkan anaknya ke pintu gerbang pernikahan pasti jadi harapan semua orang tua di dunia ini. Begitupun papa yang masih memegang prinsip bahwa pernikahan adalah peristiwa sakral yang menandai tuntasnya beban tanggung jawab sebagai orang tua. Karena dengan akad, tanggung jawab seorang ayah terhadap anak perempuan berpindah ke suaminya.
Kemudian pikirannya beralih lagi pada ibu tirinya. Perempuan itu benar-benar jahat. Bukan hanya merencanakan pembunuhan, kelicikannya juga telah membuatnya menguasai sebagian harta keluarganya yang bukan haknya. Lily makin benci dia. Benar kata Satya, ia harus memperjuangkan haknya agar perempuan serakah itu tidak menguasai seluruh harta dan kerajaan bisnis keluarga yang telah dibangun bertahun-tahun dengan kerja keras orang tuanya.
Lily merasa tak punya pilihan lagi. Ia merasa ini adalah kesempatan terakhirnya untuk membuat papa bahagia dan lepas dari tanggung jawab melindungi anak perempuannya yang rapuh. Lily tidak tahu apakah selama ini papa bahagia dengan isteri mudanya itu. Lily sayang papa. Ia bukan anak pemberontak. Kebenciannya pada perempuan itulah yang telah membuatnya abai. Bahkan Lily tak sudi hadir di pertemuan keluarga yang papa bilang penting kemarin sore karena tak ingin bertemu dengan perempuan licik itu. Meski tak ada setitikpun di hatinya maksud mengabaikan papa, tapi ia sekarang merasa seperti anak durhaka. Andai tahu papa akan stroke separah ini, Lily pasti akan datang meski dengan merangkak sekalipun.
Akhirnya Lily mengangguk setuju. Demi papa. Demi mengurangi rasa bersalahnya telah mengabaikan keinginan sederhana papa, ia menyetujui ide gila itu. Ia tahu, Satya pun tak akan berhenti meyakinkannya sampai Lily menyetujui ide gilanya itu. Pantang menyerah. Keluarganya mengakui kehebatannya dalam hal lobi-melobi. Dia punya banyak stok kalimat persuasif. Dia akan mengeluarkan satu demi satu kalimat-kalimat itu dengan tatapan ramah menggiring lawan bicaranya untuk setuju pada idenya. Kalimat-kalimatnya seperti mantra. Tak heran jika ia banyak berhasil mendapatkan kontrak bisnis karena keahliannya itu.
Satya meminta asistennya untuk membuat surat kontrak, semacam surat perjanjian pra nikah sesuai kesepakatan mereka bertiga yang harus ditandatangani Lily, Asep, asistennya dan dirinya sebagai saksi. Mereka akan menjenguk papa jam 11 sesuai jam besuk rumah sakit. Katanya, seluruh keluarga inti akan datang menyaksikan. Mereka akan melaksanakan akad nikah di hadapan papa. Surat-surat akan segera diurus tim legal hari berikutnya.
Lily menghela nafas. Satya mengurus semuanya dengan cepat mengerahkan kenalan dan anak-anak buahnya. Semua urusan beres saat mereka masuk ke ruang VVIP rumah sakit yang dilengkapi dengan peralatan standar ICU dengan pengawasan dokter dan perawat private 24 jam penuh. Seluruh keluarga inti telah hadir di ruangan itu, termasuk ibu tirinya. Asep mengundang seorang pamannya yang tinggal di Jakarta untuk menjadi saksi pernikahannya yang mendadak. Tak mungkin mendatangkan kedua orang tuanya dalam waktu sesingkat itu. Tapi ia tetap memberitahu dan meminta restu mereka lewat telepon.
Penghulu dari kantor urusan agama dan notaris keluarganya juga sudah berada di sana. Rombongannya bersama Satya memang datang lebih lambat dari yang direncanakan karena terjebak macet dan memutuskan mampir shalat dzuhur dulu di mushola rumah sakit sebelum naik lift ke ruang VVIP rumah sakit itu.
Satya memperkenalkan Asep ke seluruh keluarganya dengan sangat percaya diri. Sedangkan Asep yang biasanya tersenyum tengil dan banyak bicara, saat itu lebih banyak diam sambil mengamati situasi, kondisi serta orang-orang yang baru saja dikenalnya. Ia sedikit menundukan wajahnya, berusaha menyembunyikan kegugupannya karena tak cukup siap dengan pernikahan dadakan ini. Mungkin juga merasa tak nyaman dengan tatapan keluarga Lily yang tak semua ramah. Semua yang hadir sudah tahu ide gila Satya itu. Bahkan Bram –kakak sulungnya- sudah bersiap menggantikan papa sebagai wali nikah.
wawasann kerennnn, mantapp
sayangg yg bacaa nya msih sdkittt..
smangat kaa..