Di bawah rembulan yang dingin, seorang jenderal berdiri tegak, pedangnya berkilauan memantulkan cahaya. Bukan hanya musuh di medan perang yang harus ia hadapi, tetapi juga takdir yang telah digariskan untuknya. Terjebak antara kehormatan dan cinta, antara tugas dan keinginan, ia harus memilih jalan yang akan menentukan nasibnya—dan mungkin juga seluruh kerajaannya. Siapakah sebenarnya sosok jenderal ini, dan pengorbanan apa yang bersedia ia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Fha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Yu Zhang bersandar santai di sebuah pohon besar, matanya terpejam menikmati desiran angin yang menerpa wajahnya. Tak lama kemudian, senyum tipis menghiasi bibirnya saat menyadari kehadiran seseorang yang mendekat. Ia sudah lama menunggu kedatangan orang ini.
"Apa ada pergerakan dari ibu tiriku tersayang?" tanya Yu Zhang tanpa membuka matanya. Nada bicaranya terdengar datar, namun tersirat nada sinis yang tersembunyi.
"Untuk saat ini belum ada, Tuan," jawab pria berjubah yang muncul dari balik pohon. Wajahnya tertutup rapat oleh tudung jubah, menyisakan tatapan mata yang tajam dan waspada. "Tapi..., aku punya firasat aneh dengan gadis itu."
"Maksudmu, Yun Xiao?" Yu Zhang akhirnya membuka matanya, menatap pria berjubah itu dengan tatapan menyelidik.
"Benar, Tuan..., Nona Yun ini sepertinya menyembunyikan sesuatu. Ada aura misterius yang mengelilinginya, dan gerak-geriknya sulit ditebak," jelas pria berjubah itu dengan nada serius. "Tetaplah berhati-hati, Tuan. Jangan terlalu percaya padanya."
"Aku tahu," balas Yu Zhang singkat. Ia kembali memejamkan matanya, namun pikirannya mulai berkecamuk. Ia juga merasakan hal yang sama tentang Yun Xiao. Ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu yang mengusiknya .
Namun, perhatian Yu Zhang tiba-tiba teralihkan oleh pergerakan mencurigakan di kejauhan. Ia melihat sekelompok orang berjubah hitam yang bergerak secara tersembunyi, berbaur dengan kerumunan orang di jalanan. yu zhang mengenali mereka, Mereka adalah anggota Mo Hui!
"Gawat!" gumam Yu Zhang, matanya membulat karena terkejut. Ia tahu bahwa Mo Hui tidak akan bergerak tanpa alasan yang kuat. Pasti ada sesuatu yang penting yang menjadi target mereka.
Ia melihat arah pergerakan anggota Mo Hui itu. Mereka menuju ke kediaman Tuan Zhong!
Jantung Yu Zhang berdegup kencang. Ia tidak boleh membiarkan Mo Hui menyakiti Tuan Zhong. Pria tua itu sudah banyak membantunya, dan ia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya.
"Aku harus memperingatkan Tuan Zhong," ucap Yu Zhang, bangkit dari sandarannya.
"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya pria berjubah itu, menyadari perubahan ekspresi Yu Zhang.
"Mo Hui menyerang kediaman Tuan Zhong, Yun Xiao juga ada disana" jawab Yu Zhang dengan nada panik. "Aku harus pergi memperingatkan mereka sekarang."
"Aku akan ikut denganmu, Tuan," kata pria berjubah itu. "Aku akan melindungimu."
"Tidak, Pergilah ke istana kekaisaran" tolak Yu Zhang. "Aku tetap membutuhkanmu untuk mengawasi ibu tiriku. Jika dia terlibat dalam serangan ini, aku ingin kau segera memberitahuku."
Pria berjubah itu terdiam sejenak, mempertimbangkan permintaan Yu Zhang. Akhirnya, ia mengangguk setuju. "Baiklah, Tuan. Aku akan melakukan apa yang kau perintahkan."
"Bagus," kata Yu Zhang.
Yu Zhang segera melesat pergi menuju kediaman Tuan Zhong, meninggalkan pria berjubah itu di belakang. Ia berlari secepat mungkin, berharap bisa tiba tepat waktu untuk mencegah Mo Hui melakukan tindakan yang tidak diinginkan.
Sementara itu, di kediaman Tuan Zhong, suasana terasa tenang dan damai. Tuan Zhong sedang Menemani Xin Lan yang sedang berlatih bela diri di halaman belakang, mencoba menguasai teknik-teknik baru yang diajarkan oleh Tuan Zhong.
Mereka berdua, Terlihat akrab layaknya kakek dan Cucu kesayangan.
Tiba-tiba, sekelompok anggota Mo Hui muncul dari balik pepohonan dan langsung menyerang kediaman Tuan Zhong. Mereka bergerak dengan cepat dan efisien, membunuh semua penjaga yang menghalangi jalan mereka.
Tuan Zhong terkejut mendengar suara keributan di luar. Ia segera menutup bukunya dan bangkit dari kursinya.
"Apa yang terjadi?" gumam Tuan Zhong, berjalan menuju pintu.
Namun, sebelum Tuan Zhong sempat membuka pintu, pintu itu sudah didobrak oleh seorang anggota Mo Hui. Anggota Mo Hui itu mengacungkan pedangnya ke arah Tuan Zhong, siap membunuhnya.
"Kau akan mati di sini, Yu Zhang!" teriak anggota Mo Hui itu dengan nada bengis.
Tuan Zhong tidak panik. Ia sudah menduga bahwa Mo Hui akan datang menyerangnya suatu saat nanti. Ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi ini.
Dengan gerakan cepat, Tuan Zhong meraih tongkat yang berada di dekatnya dan mengayunkannya ke arah anggota Mo Hui itu. Tongkat itu menghantam kepala anggota Mo Hui itu dengan keras, membuatnya pingsan seketika.
Tuan Zhong bertarung dengan gagah berani, menggunakan tongkatnya untuk melumpuhkan semua musuhnya.
Namun, jumlah anggota Mo Hui terlalu banyak. Tuan Zhong mulai kewalahan. Ia terluka di beberapa bagian tubuhnya, dan napasnya mulai tersengal-sengal.
Xin Lan yang mendengar suara keributan segera berlari menuju ruang depan. Ia terkejut melihat Tuan Zhong dikelilingi oleh anggota Mo Hui.
"Kakek!" teriak Xin Lan, berlari menghampiri Tuan Zhong.
"Xiao Xiao, jangan mendekat!" teriak Tuan Zhong. "Mereka berbahaya!"
Namun, Xin Lan tidak mendengarkan kakek nya. Ia melompat ke tengah kerumunan anggota Mo Hui dan mulai menyerang mereka dengan brutal.
Xin Lan menggunakan semua teknik bela diri yang telah ia pelajari dari Tuan Zhong. Ia bergerak dengan cepat dan lincah, menghantam semua musuhnya dengan pukulan dan tendangan yang mematikan.
Anggota Mo Hui terkejut dengan kemampuan Xin Lan. Mereka tidak menyangka bahwa seorang gadis muda seperti dia bisa begitu kuat.
Namun, sama seperti Tuan Zhong, jumlah anggota Mo Hui terlalu banyak. Xin Lan mulai kewalahan. Ia terluka di beberapa bagian tubuhnya, dan napasnya mulai tersengal-sengal.
Tuan Zhong dan Xin Lan bertarung bersama-sama, bahu membahu melawan anggota Mo Hui.
Namun, mereka tahu bahwa mereka tidak bisa bertahan selamanya. Jumlah anggota Mo Hui terlalu banyak, dan mereka semakin terdesak.
Tiba-tiba, seorang anggota Mo Hui berhasil menyelinap di belakang Xin Lan dan mengacungkan pedangnya ke arahnya.
"Xiao xiao, awas!" teriak Tuan Zhong.
Xin Lan terkejut dan berusaha menghindar, namun ia terlambat. Pedang anggota Mo Hui itu menebas punggungnya.
Xin Lan merasakan sakit yang luar biasa di punggungnya. Ia terjatuh ke tanah, tidak bisa bergerak.
"Xiao xiao!" teriak Tuan Zhong, berlari menghampiri Xin Lan.
Namun, sebelum Tuan Zhong sempat mencapai Xin Lan, anggota Mo Hui yang lain menghadangnya. Mereka menyerang Tuan Zhong dengan brutal, membuatnya tidak bisa mendekati Xin Lan.
Tiba-tiba yu zhang yang selesai menyerang sisi kanan langsung menerjang kearah anggota mo Hui untuk membuka jalan untuk tuan zhong.
Tuan Zhong melihat Xin Lan terbaring tak berdaya di tanah. Ia merasa putus asa dan marah. Ia tidak bisa membiarkan Xin Lan mati di hadapannya.
Dengan penuh amarah Tuan Zhong mengaktifkan mata Ungunya yang telah lama ia simpan,Yang langsung membuat para anggota Mo hui Mundur selangkah karena terkejut melihat keturunan mata ungu klan Liu yang legendaris.
Tuan Zhong mengumpulkan semua chi-nya dan memfokuskannya ke dalam tongkatnya. Tongkat itu mulai bersinar terang, memancarkan aura spiritual yang kuat.
"Mata ungu iblis!" teriak Tuan Zhong, mengayunkan tongkatnya ke arah anggota Mo Hui.
Sebuah gelombang energi yang dahsyat menghantam anggota Mo Hui, membuat mereka terpental jauh dan hancur seketika.
yu hanya bisa melongo melihat kemampuan tuan zhong.
Tuan Zhong terhuyung dan jatuh berlutut di tanah. Ia kehabisan tenaga karena faktor usia.
yu Zhang Dengan sigap menahan tubuhnya yang renta .
Tuan Zhong menghampiri Xin Lan dan memeluknya erat.
"Xiao xiao ,kau tidak apa-apa?" tanya Tuan Zhong dengan nada khawatir.
Xin Lan tersenyum lemah. "Aku baik-baik saja, Kakek. Terima kasih,Ssstt."
Yu Zhang membantu Tuan Zhong dan Xin Lan berdiri. Ia kemudian menatap anggota Mo Hui yang pingsan dengan tatapan marah.
"Aku tidak akan membiarkan kalian lolos begitu saja!" teriak Yu Zhang.
Yu Zhang mengeluarkan pedangnya dan menyerang anggota Mo Hui yang pingsan dengan brutal. Ia membunuh sisa anggota Mo hui yang berusaha kabur satu per satu.
Setelah semua anggota Mo Hui tewas, Yu Zhang menatap Tuan Zhong dan Xin Lan dengan tatapan khawatir.
"Kita harus segera pergi dari sini," kata Yu Zhang. "Tempat ini tidak aman lagi."
Tuan Zhong dan Xin Lan mengangguk setuju. Mereka tahu bahwa Mo Hui akan mengirim lebih banyak orang untuk menyerang mereka. Mereka harus segera mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.
Yu Zhang membantu Tuan Zhong dan Xin Lan meninggalkan kediaman Tuan Zhong. Mereka berjalan menuju tempat yang aman, meninggalkan kediaman Tuan Zhong yang telah hancur dan berlumuran darah.
....
Mereka menyelinap di antara rumah-rumah penduduk, menghindari patroli Mo Hui yang semakin ketat.
Suasana semakin mencekam. Suara teriakan dan tangisan terdengar semakin dekat. Kakek Liu tahu, mereka tidak punya banyak waktu lagi.
"Kita harus cepat!" bisik Kakek Liu. "Mereka semakin dekat."
Mereka memasuki sebuah lorong sempit dan gelap yang mengarah ke bawah tanah.
"Tetaplah di belakangku," bisik Kakek Liu. "Lorong ini penuh dengan jebakan. Jangan sampai kalian menyentuh apapun."
Kakek Liu memimpin jalan, dengan hati-hati menghindari jebakan-jebakan yang tersembunyi di sepanjang lorong. Xin Lan dan Yu Zhang mengikuti di belakangnya, dengan jantung berdebar kencang.
Setelah berjalan cukup lama, mereka akhirnya tiba di ujung lorong. Kakek Liu membuka sebuah pintu kayu yang tersembunyi di balik semak-semak lebat.
"Kita sudah sampai," bisik Kakek Liu. "Kita aman sekarang."
Xin Lan dan Yu Zhang keluar dari lorong dan menghirup udara segar dengan lega. Mereka berada tak jauh dari pintu masuk desa.
Setelah mencoba berbaur dengan warga sekitar, Mereka bertiga akhirnya ketahuan.
"Pergilah! Aku akan menghadapi mereka,kita akan berkumpul lagi di gunung itu."Tunjuk kakek Liu.
Xin Lan dan yu zhang hanya mengangguk, Keduanya langsung berpencar, untungnya hanya sedikit yang mengejar Xin Lan dan yu zhang.
...
Namun, Sialnya begitu Xin Lan dan Yu Zhang berada didepan gerbang tiba tiba saja Mereka terkepung oleh anggota Mo Hui.
Xin Lan dan yu zhang tidak punya pilihan lain ,selain bertarung melawan mereka, Mereka menangkis serangan pedang dengan gesit, membalas dengan pukulan dan tendangan yang tepat sasaran. Beberapa anggota Mo Hui tumbang dalam sekejap, namun jumlah mereka terlalu banyak.
Di tengah pertarungan sengit, sebuah hantaman keras dari seorang anggota Mo Hui yang bertubuh besar mengenai Xin Lan, membuatnya terhuyung dan jatuh tersungkur. Kepalanya membentur tanah dengan keras, dan kesadarannya perlahan memudar.
Melihat Xin Lan dalam bahaya, Yu Zhang bertindak cepat. Ia mnggenggam segenggam pasir. Dengan gerakan cepat, ia melemparkan debu itu tepat ke wajah anggota Mo Hui yang menyerang Xin Lan.
Pria itu terbatuk-batuk dan memegangi matanya, memberikan Yu Zhang kesempatan untuk bertindak. Dengan sigap, ia menarik Xin Lan yang pingsan dan menyeretnya ke tempat yang aman, di balik tumpukan jerami yang teronggok di dekat gerbang.
Sementara itu, di tempat lain, Kakek Liu tengah menunjukkan kehebatannya dalam bertarung. Dengan pedang pusakanya yang menari-nari, ia melibas para anggota Mo Hui dengan mudah. Gerakannya cepat dan mematikan, setiap tebasan pedangnya merenggut nyawa lawannya.
Pemimpin pasukan Mo Hui, seorang pria bertubuh kekar dengan wajah bengis, merasa jengkel melihat anak buahnya tumbang satu per satu di tangan Kakek Liu. Ia maju menghadang Kakek Liu, dengan pedang di tangannya.
"Kakek gila, berhenti menghalangi tugas kami!" geram pemimpin pasukan Mo Hui. "Kau akan menyesal telah berurusan dengan Mo Hui!"
Kakek Liu tertawa terbahak-bahak, seolah-olah ia tidak menganggap serius ancaman pemimpin pasukan Mo Hui. "Mo Hui? Aku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya," ejek Kakek Liu. "Apakah kalian sekelompok badut yang mencoba menakut-nakuti orang?"
Pemimpin pasukan Mo Hui semakin geram mendengar ejekan Kakek Liu. Ia menyerang Kakek Liu dengan pedangnya, namun Kakek Liu dengan mudah menangkis serangannya.
"Kau akan kubuat menyesal!" teriak pemimpin pasukan Mo Hui, melancarkan serangan bertubi-tubi.
Kakek Liu hanya tersenyum mengejek. Ia dengan mudah menghindari serangan pemimpin pasukan Mo Hui, sambil sesekali melancarkan serangan balasan yang membuat lawannya kewalahan.
Kakek Liu tiba-tiba, menghentikan gerakannya. Ia menatap wajah pemimpin pasukan Mo Hui dengan seksama.
Pemimpin pasukan Mo Hui terkejut mlihat kelakuan nya. Ia merasa tidak nyaman ditatap seperti itu.
Kakek Liu menggaruk-garuk kepalanya, mencoba mengingat sesuatu. "Ah!" seru Kakek Liu tiba-tiba. "Kau adalah anak buah si bodoh Feng Yan, kan? Yang dulu sering kulihat menjilat sepatunya!"
Wajah pemimpin pasukan Mo Hui memerah karena marah. Ia tidak menyangka bahwa Kakek Liu akan menghinanya.
"Sialan kau, Kakek gila!" teriak pemimpin pasukan Mo Hui, menyerang Kakek Liu dengan membabi buta.
Namun, Kakek Liu dengan mudah menghindari serangan pemimpin pasukan Mo Hui. Dengan gerakan cepat, ia merebut pedang dari tangan lawannya dan menusukkannya tepat ke jantungnya.
Pemimpin pasukan Mo Hui tersungkur ke tanah, matanya melotot karena tersentak merasakan tusukan tersebut. Ia tidak menyangka seorang kakek gila mengalahkannya dengan begitu mudah.
Kakek Liu menatap mayat pemimpin pasukan Mo Hui dengan tatapan jijik. "Dasar sampah," gumamnya.
Setelah mengalahkan pemimpin pasukan Mo Hui, Kakek Liu melanjutkan aksinya. Ia melibas semua anggota Mo Hui yang tersisa tanpa ampun. Dalam waktu singkat, semua anggota Mo Hui tergeletak tak bernyawa di tanah.
Kakek Liu berdiri di tengah mayat-mayat itu, dengan pedang pusakanya yang berlumuran darah. Ia tampak seperti dewa kematian yang baru saja turun dari langit.
"Bagaimana keadaan cucuku ya."Gumam kakek.
...
lanjut thor