Semuanya berawal dari Wasiat yang di berikan Rima. Perempuan yang sudah ia anggap sebagai penolong hidupnya, meminta hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Bagaimana bisa Rima meminta Asyna untuk menikah dengan suaminya? Asyna memang sangat mencintai pria itu, tapi semenjak hatinya patah ia takut melangkah dalam aliran sakit itu lagi. Tapi demi apapun, Asyna akan melakukan semua permintaan perempuan itu, meskipun risikonya adalah di benci oleh laki-laki yang dicintainya, Raihan.
Akankah Asyna mampu membuat Raihan jatuh cinta dan melupakan masa lalunya bersama Rima?
Ikuti terus kisah mereka di novel ini yah. Happy Reading ☺️☺️☺️.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daundia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam
Rumah sangat sepi. Hanya suara televisi yang berisik, menampilkan sinetron yang pemainnya sangat digandrungi oleh masyarakat. Asyna duduk nyaman di sofa sambil membuka toples yang berisi camilan pedas kesukaannya.
Tubuhnya terasa lelah setelah berjam-jam mendorong troli berisi makanan. Rasanya punggungnya seolah mau patah, sementara bahu dan kakinya terasa nyeri.
"Assalamu'alaikum!"
Suara Raihan menyadarkan Asyna. Dengan spontan Asyna menegakkan tubuhnya, "Wa'alaikumsalam," ucapnya.
Raihan berjalan menasuki rumah dan menemukan keberadaan Asyna yang sedang asyik memakan camilan sambil menonton sinetron yang diputar oleh salah satu televisi swasta.
Asyna melirik jam yang tergantung di dinding. Pukul 20:30, Raihan benar-benar pulang terlambat hari ini.
"Hei Asy!"
Asyna menoleh ke arah Raihan dengan muka lempeng.
Raihan terkekeh kecil kemudian duduk di sofa samping Asyna. Tangannya ikut mencomot camilan pedas kesukaan Asyna. "Ka-mu udah makan?", tanya Raihan sambil mengunyah.
Asyna menggeleng.
Raihan menepuk tangannya senang.
Asyna yang tidak mengerti hanya terdiam dengan ekspresi datar.
"Aku juga belum makan. Ayo kita makan di luar!", ajak Raihan.
Asyna berpikir sejenak, "Em memangnya mas Rai mau makan apa?", tanya Asyna.
"Emm, aku pengen apa ya, entahlah gak tahu Asy. Kalau kamu pengennya apa?"
"Aku lagi gak pengen apa-apa si. Sebenarnya kalau boleh aku mau masak bawal bakar. Kebetulan di kulkas masih ada dua ikan bawal." , ucap Asyna.
"Tentu aja boleh, aku juga suka bawal bakar. Itu makanan favoritku." Raihan tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat tahu Asyna akan memasak bawal bakar kesukaannya. Raihan tahu Asyna pasti masih mengingat makanan-makanan kesukaannya semasa kecil dulu.
"Baiklah aku akan memasak, setengah jam lagi masakan akan siap di meja."
"Iya Asy. Aku juga mau mandi dulu."
Asyna mengangguk kecil.
Raihan segera berjalan ke kamarnya dan mandi, sementara Asyna berlalu ke dapur untuk memasak. Asyna mengambil dua ekor ikan bawal yang tersimpan rapi di dalam kulkas. Ikan itu berukuran besar dan cukup untuk lauk mereka hari ini.
Setengah jam kemudian,
Raihan melihat makanan yang terhidang di meja dengan mata sipitnya.
Asyna memandang arah lain agar tidak melihat wajah aneh Raihan itu.
"Jadi? Ini masakan apa Asy?", tanya Raihan dengan sedikit terawa.
Asyna mengerutkan dahinya, "Mas tertawa?", sahutnya dengan sedikit cemberut.
Raihan mengibaskan tangannya, "Bukan, aku tidak bermaksud begitu."
"Lalu apa?", lanjut Asyna yang masih belum puas dengan jawaban Raihan.
Raihan memandang ikan bawal di depannya yang hangus di mana-mana, "Em, kurasa memang ikan bawal bakar ya seperti ini." Raihan menoel sedikit daging ikan bawal di depannya.
Asyna menunggu penasaran akan tanggapan suaminya. Memang benar ikan bawal bakarnya sedikit hangus, tapi menurutnya rasanya masih tetap enak. Manis, pedas, ditambah dengan rasa yang ditimbulkan dari hasil bakaran.
"Emm, ini enak," ucap Raihan sungguh-sungguh sambil memandang Asyna.
Asyna berdeham kecil mengabaikan detak jantungnya yang meloncat-loncat saat melihat senyuman tulus dari bibir Raihan. Sudah lama sekali senyuman tulus seperti itu tidak dilihatnya. Senyuman yang membuat dirinya dulu terjebak dalam pusaran cinta monyet hingga saat ini, mungkin. Sepertinya usaha untuk melupakan Raihan tidak akan berbuah manis. Bagaimana dia bisa melupakan laki-laki itu?
"Kau tidak makan?" Raihan mengambil bawal bakar di piring dan menaruh pada piring Asyna yang hanya berisi nasi putih.
"Tentu saja aku makan, terima kasih," ucap Asyna pelan.
"Hem, bukan masalah." Raihan menyantap makanannya dengan hikmat, sesekali menatap perempuan di depannya yang makan perlahan. Raihan jadi teringat akan masa lalu, Rima. Astaga, apakah dia berdosa jika memikirkan Rima lagi? Semua memori tentang Rima tidak bisa dilupakannya. Sejak remaja dia sudah jatuh hati pada perempuan itu, dan Asyna sudah ia anggap sebagai adiknya. Raihan mengatur napasnya, mencoba memikirkan hal lain. Raihan tahu Asyna pasti tidak mengharapkan apapun darinya, apalagi cinta. Tapi Raihan merasa sangat bersalah, semua perlakuannya selama ini sangat buruk. Raihan ingin setidaknya perempuan itu nyaman dan tidak merasa tersakiti saat bersamanya. Bermenit-menit mereka makan dalam diam.
"Maaf kalau masakanku tidak seenak masakan Rima," ucap Asyna saat piringnya sudah kosong.
Raihan tersentak dan menatap Asyna terkejut, "Aku bahkan tidak memikirkan sejauh itu Asy," Raihan meraih tangan kiri Asyna yang bisa dijangkaunya. Raihan meremas tangan itu seolah menjelaskan bahwa Raihan tidak berpikir sejauh itu.
Asyna meneguk ludahnya, genggaman Raihan di tangan kirinya sangat erat. "Oh, em baguslah," ucapnya final. "A-a-ku sudah selesai." Asyna melepaskan tangannya dari genggaman Raihan dan langsung membawa piring kotornya menuju wastafel.
Raihan menghembuskan napas leganya. Pertanyaan Asyna sungguh membuatnya terkejut. Dia memang memikirkan Rima, tapi bukan memikirkan masakannya. "Heh, hahahah." Raihan mengusap wajahnya dengan tangan. Rasanya seperti dia sedang kepergok selingkuh di depan istrinya.
Raihan meraih gelas berisi air putih dan meminumnya hingga tandas. Makanan di piringnya pun telah habis. Sepertinya tadi Asyna kehabisan kata-kata hingga langsung meninggalkannya tanpa mengambil piring kotor miliknya.
*****
Asyna memeluk erat selimutnya, udara malam memang sangat dingin. Semakin dingin lagi saat hujan ikut menemani malamnya. Asyna berguling tak nyaman saat beberapa nyamuk menggigit kulitnya.
Raihan yang berada di sampingnya terganggu dan akhirnya terbangun saat manusia di sampingnya bergerak tak henti-henti. Raihan mengusap matanya yang masih lengket.
Asyna kembali bergerak, kali ini sambil menarik semua selimut, membuat Raihan kedinginan karena tak mendapat kehangatan dari selimut tebalnya. Raihan berdecak kecil kemudian menarik sedikit selimut.
"Dingin," igau Asyna pelan.
Raihan melihat tubuh Asyna yang bergetar kecil karena kedinginan. Sepertinya hujan kali ini membuat udara semakin dingin. Raihan tersenyum kecil dan menarik tubuh Asyna dalam pelukannya. Sementara selimut tebal itu membungkus tubuh mereka berdua.
"Maafkan aku Asy." Raihan mengecup kening Asyna sangat lama membuat Asyna terganggu dan akhirnya membuka mata.
Asyna terpaku, semua terasa seperti mimpi. Bukankah memang dia sedang tertidur? Jadi ini hanya mimpi? Sungguh? Asyna tersenyum lebar, Raihan di dalam mimpinya sangat berbeda dengan di dunia nyata. Biarkan dia merasa bahagia sejenak meskipun hanya dengan ilusi Raihan.
Raihan menarik wajahnya saat merasakan sentuhan di wajahnya. Perempuan itu terbangun? Astaga, apa yang harus dikatakannya? Apa dia akan dianggap sebagai pria yang memanfaatkan keadaan?
"Asy, aku bisa..."
Belum sempat Raihan menyelesaikan ucapannya, sebuah kecupan ia rasakan. Raihan terpaku seperti patung, sementara perempuan di sampingnya tersenyum lebar.
"Sepertinya aku tidak bisa melupakanmu,"
Raihan mengepalkan tangannya, pandangan putus asa itu membuatnya ikut terluka. Raihan kembali mendekatkan wajahnya, "Jangan pernah lupakan aku," dan sedetik kemudian Raihan berhasil mencuri ciuman pada bibir Asnya.
Asyna yang merasa hanya bermimpi langsung tertampar, ini bukan mimpi. Ciuman ini, ini sungguh nyata, ini Raihannya, Oh dear.
TBC........