Dayuh sigadis Indigo atau supranatural, dia memiliki kelebihan itu semenjak umur batita, Yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Terutama Ibu Dayuh yang memiliki kelebihan yang cukup istimewa itu dari keturunan sebelumnya. Jika Ibunya memiliki anak atau keturunan, dengan berjalannya waktu dan bertambahnya umur anak tersebut maka kelebihan Ibunya akan berkurang. Maka tugas selanjutnya adalah anaknya yang melanjutkan. Jika tidak memiliki penerusnya maka kelebihan tersebut akan terus dimilikinya dan berkembang.
.
Ibu ingin menceritakan pengalaman yang Ibunya alami selama ini. Mungkin nanti Ibunya akan menceritakan secara pelan-pelan.
Akan kah Dayuh menerima semua kelebihan nya atau sebaliknya melepaskannya?
Yuk simak cerita nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 Penemuan Mayat Dalam Mimpi
Sesampainya diatas mereka lalu mengikuti Noah. Noah menyeret karung besar berisi sepotong mayat, anak-anak kecil yang telah dia bunuh.
Noah sudah membuat lubang sebelumnya, ada 5 lubang yang dia buat. Sengaja dia membuat seperti itu, dia akan menambahkan pohon buah apel dan yang lainnya. Agar tidak ketahuan oleh orang lain atau tetangganya. Noah sangat teliti melakukan nya, dia tidak akan meninggalkan jejek sedikit pun diruangan bawah tanah. Agar polisi tidak mengetahui pembunuhannya.
" Kak, aku kebawah lagi ya kakak disini saja." Ucap Dayuh lalu meninggalkan kan Sitara.
" Ya Dek, Hati-hati ya." Sahut Sitara sambil mengangguk kan kepalanya.
Dayuh pun kembali keruang bawah tanah, Dia akan mencari-cari sesuatu yang lain. Disaat dia meraba dinding Lintang tiba-tiba muncul, Lalu menunjuk ke sebuah dinding yang tertutup oleh sticker. Sticker yang mirip kayu didekat rak penyimpanan alat perkebunan dan lainnya.
Dayuh pun mengerti dan mengangguk kan kepalanya. Betapa terkejutnya Dayuh ketika menekan pintu itu." Wah... Terbuka."
" Oh ini ruangan khusus besar juga ya." Ucap Dayuh kembali." Pantas saja polisi gak mengetahui jejak, dia pakai cairan begini. Hemm... Pintar juga dia.." Sambung Dayuh kembali.
Noah memiliki ruangan khusus lagi, Ruangan berisi barang-barang dan alat-alat medisnya. Dia akan menyimpan semua barang-barangnya disana, setelah memakai alat-alat atau sejenisnya dia akan menyimpan nya kembali.
Wajar sana polisi tidak mengetahui nya, Noah memiliki cairan penghilang sejak darah atau sejenisnya agar tak tercium aromanya. Semua cair itu dia beli sendiri keluar negeri.
Dayuh kembali menyusul Sitara dikebun.
" Kak, gimana apa dia kubur?" Tanya Dayuh sambil memperhatikan Noah dari balik pohon.
Sitara menjawab lalu menyuruh Dayuh melihat sendiri." Sudah Dek, tuh lihat sendiri. Menguburkan anak-anak seperti binatang Dek. Lalu dia memberikan cairan setiap dia menguburnya."
" Cairan kimia agar aroma nya gak tercium kak, Jadi gak ketahuan bisa jadi pupuk organik kak." Sahut Dayuh dengan wajah santai.
Sitara yang mendengar penjelasannya Dayuh lalu Sitara yang mendengar penjelasan Dayuh langsung menutup mulutnya, wajahnya pucat pasi.
“Ya Allah… sampai segitunya dia nyiapin semuanya,” ucapnya lirih, nyaris berbisik.
Dayuh mengangguk pelan. “Makanya, Kak. Ini bukan pembunuhan biasa. Dia udah rencanain dari awal… rapi, bersih, dan kejam.”
Dari balik pohon, mereka melihat Noah meratakan tanah dengan sangat teliti. Setelah karung terakhir ditimbun, ia menyiram cairan bening ke atas tanah lalu menutupnya dengan lapisan pupuk dan daun-daun kering. Tak lama kemudian, Noah menanam bibit pohon apel tepat di atas gundukan tanah itu.
“Dia… dia nanam pohon di atas jasad mereka…” suara Sitara bergetar, matanya berkaca-kaca.
“Iya, Kak. Supaya kalau ada yang curiga, orang cuma lihat kebun buah. Subur, rapi, gak ada yang aneh,” jawab Dayuh dengan rahang mengeras menahan emosi.
Tiba-tiba angin berembus pelan. Dayuh merasakan hawa dingin di belakang lehernya. Saat ia menoleh, Lintang berdiri tak jauh dari mereka, wajahnya sendu, matanya menatap ke arah tanah yang baru dikubur.
Lintang mengangkat tangannya perlahan, menunjuk salah satu gundukan.
“Di situ… Kak…” suaranya lirih, hampir tak terdengar. “Mereka semua nya… di situ…”
Napas Dayuh tercekat. Dadanya terasa sesak.
“Iya, Dek… kami tahu,” bisiknya pelan. “Kami janji… kamu dan teman-temanmu gak bakal dilupain.”
Lintang tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip perpisahan. Perlahan tubuhnya memudar, menyatu dengan kabut malam.
Sitara memperhatikan Dayuh dengan wajah cemas. “Dek… kamu lihat sesuatu lagi ya?”
Dayuh mengangguk pelan. “Lintang… dia nunjukin tempatnya, Kak.”
Sitara menutup mata sejenak, menarik napas panjang. “Berarti… semua ini nyata. Bukan mimpi. Bukan halusinasi.”
“Iya,” jawab Dayuh tegas. “Dan besok… kita harus mulai bertindak. Semua lokasi ini harus kita ingat. Kita gak boleh salah.”
Noah akhirnya berdiri tegak, menepuk-nepuk tangannya seolah puas dengan pekerjaannya. Ia menatap kebunnya sambil tersenyum tipis, lalu berjalan masuk ke dalam rumah tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Begitu Noah menghilang dari pandangan, Sitara menarik lengan Dayuh.
“Dek, kita harus pergi sekarang. Kalau dia balik lagi ke kebun—”
“Aku tahu, Kak,” potong Dayuh cepat. “Ayo.”
Mereka berdua mundur perlahan, memastikan tidak ada suara yang mencurigakan, lalu berlari kecil menjauh dari kebun itu.
Lanjutannya bisa seperti ini, menambahkan ketegangan dan perasaan karakter.
Setelah menjauh beberapa meter dari kebun, Dayuh dan Sitara berhenti di balik semak-semak. Nafas mereka tersengal, tapi matanya tetap menatap ke arah rumah Noah. Malam yang sunyi membuat semua bunyi—angin, daun bergesek, bahkan detak jantung mereka—terasa terlalu keras.
“Kak… aku masih bisa ngerasain… bau… dan suasananya…” bisik Dayuh, wajahnya tegang.
Sitara mengangguk pelan, menutup mata sejenak. “Iya, Dek. Aku juga. Rasanya… pengen muntah, tapi kita harus kuat. Kita harus ingat semuanya, biar… besok bisa dilaporin.”
Dayuh menatap Sitara. “Kita harus siap, Kak. Aku gak mau ada lagi yang jadi korban kayak mereka.”
Sitara menepuk bahu Dayuh. “Tenang, kita bakal bertindak. Tapi kita harus rencanain semuanya dengan hati-hati. Noah… dia gak main-main. Dia licik, bersih, rapi. Kita gak bisa gegabah.”
Di kejauhan, dari jendela rumah Noah, sebuah cahaya samar bergerak. Mereka berdua menahan napas, menempel di semak. Cahaya itu bergerak dari ruang tengah ke koridor, lalu hilang.
“Dia masih di rumah… Tapi sepertinya lagi sibuk sama hal lain,” bisik Dayuh, matanya menyorot setiap gerakan di rumah itu.
Sitara menarik napas panjang. “Besok kita ke kantor polisi. Semua yang kita lihat… harus dicatat. Gak boleh ada yang kelewat. Foto, catatan, lokasi gundukan… semuanya.”
Dayuh mengangguk. “Aku bakal catat semua, Kak. Aku janji.”
Mereka berdua kemudian perlahan-lahan melangkah menjauh dari kebun. Hati mereka berat, tapi tekad mereka mulai terbentuk. Malam itu, bukan hanya kengerian yang mereka rasakan—tapi juga rasa tanggung jawab yang membakar di dada mereka.
Di atas kebun, pohon apel muda yang ditanam Noah bergoyang pelan diterpa angin. Seolah diam-diam menyaksikan rahasia gelap yang tersembunyi di bawah tanahnya.
Dayuh menarik napas panjang, menatap Sitara yang wajahnya masih pucat pasi. Ia merasakan ketegangan dan kesedihan menempel kuat pada kakaknya. Suasana malam, bau tanah basah, dan bayangan kebun itu begitu nyata—seolah mereka benar-benar bisa merasakan penderitaan para korban.
“Kak… Kak Sitara,” bisik Dayuh pelan, menepuk bahu Sitara agar sadar dari lamunannya.
“Ingat… kita ini sekarang berada di… bukan di sini saja. Ini… ini semacam… masa lalu Noah… dan para korban. Kita lihat semuanya, tapi jangan terbawa suasana. Kita harus tetap fokus, Kak.”
Sitara menutup matanya sejenak, berusaha menenangkan napasnya. “Aku… aku tahu, Dek. Tapi rasanya… aku ikut merasakan semuanya. Ini… berat banget.”
Dayuh menunduk, menatap sekeliling kebun. Cahaya bulan menembus celah-celah daun, membentuk bayangan menyeramkan di tanah.
“Iya, Kak. Aku juga ngerasa. Tapi kita harus inget… kita bukan korban di sini. Kita cuma… saksi. Saksi untuk mereka. Kalau kita larut… kita bisa kehilangan kendali. Kita gak boleh salah langkah besok.”
Sitara mengangguk pelan. “Iya, Dek. Aku… akan berusaha.”
Dayuh menatap pohon apel muda yang baru ditanam Noah. Angin malam membuat rantingnya bergoyang pelan, seolah ingin memperingatkan mereka. “Lihat… Kak, pohon itu… itu simbol masa lalu yang ingin dia sembunyikan. Tapi kita harus lihat semuanya dengan kepala dingin. Kita harus catat setiap detail. Setiap lubang, setiap cairan, setiap pohon… semuanya.”
Sitara menarik napas panjang, menenangkan diri. “Aku ngerti, Dek. Aku bakal coba fokus. Jangan sampai aku terbawa perasaanku sendiri.”
Dayuh meletakkan tangannya di pundak Sitara, menatapnya dengan tatapan serius tapi penuh kasih sayang. “Kita harus kuat, Kak. Biar mereka… anak-anak itu… dan semua yang jadi korban… gak sia-sia. Kita harus bawa kebenaran keluar dari sini.”
Malam itu, angin kembali berhembus, membawa aroma tanah dan daun yang basah. Di alam lain—masa lalu Noah—tangisan lembut anak-anak yang menjadi korban terdengar samar. Dayuh dan Sitara menundukkan kepala, menahan diri agar tidak panik. Mereka sadar, meski alam itu menyeramkan dan penuh kengerian, mereka harus tetap teguh.
Dayuh berbisik lagi, suaranya nyaris tertelan angin. “Kak… kita sekarang bukan sekadar saksi, tapi juga penjaga ingatan mereka. Jangan sampai kita hilang di masa lalu ini.”
Sitara menatap mata Dayuh, air matanya mulai menetes, tapi ada tekad baru yang menyala di dalamnya. “Iya, Dek… kita bakal ingat semuanya. Dan kita bakal bertindak.”
Malam itu, mereka berdua melangkah perlahan menjauh dari kebun, hati mereka berat namun teguh. Di balik pohon apel yang muda, bayangan masa lalu Noah dan para korban terus membayang, mengingatkan mereka bahwa kebenaran harus dibawa ke permukaan—meski harus menghadapi kengerian yang paling gelap sekalipun.