Alya, seorang wanita lembut dan setia, tak pernah membayangkan rumah tangganya yang terlihat sempurna harus terguncang oleh kenyataan pahit. Suaminya, Reza, yang selama ini ia percaya dan cintai sepenuh hati, tiba-tiba membawa wanita lain dan memperkenalkannya sebagai istri sirinya. Hancur dan terluka, Alya dipaksa menerima kehadiran orang ketiga dalam hidupnya, meski batinnya menolak keras.
Namun, hidup tak semudah menelan kenyataan
Alya harus menghadapi dilema antara mempertahankan rumah tangganya demi Ibunya atau memperjuangkan harga dirinya yang diinjak-injak. Perlahan, rahasia demi rahasia tentang rahasia istri sirinya mulai terungkap, membuka luka lama dan menguji batas kesabaran Alya. Mampukah cinta bertahan saat kepercayaan telah dikhianati? Ataukah Alya akan menemukan kekuatannya sendiri untuk berdiri dan memilih jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niya_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Langkah Alya terasa berat. Dengan map coklat berisi berkas perceraiannya kini mantap ia ajukan, ia berjalan perlahan menuju gedung pengadilan negeri. Di sampingnya, Amel setia menemani, Alya juga sudah menunjuk seorang pengacara muda bernama Pak Ardi sudah siap menangani kasusnya.
Di lobi pengadilan, suara langkah kaki dan bisik-bisik orang terasa menekan. Alya menatap papan nama bertuliskan Pengadilan Agama dengan dada berdebar. Ini bukan sekadar formalitas ini adalah titik balik dari hidupnya.
Kini berkas gugatan resmi diterima oleh petugas, Alya merasakan sesuatu dalam dirinya runtuh, tapi pada saat yang sama, ada bagian lain yang terasa lega. Ia akhirnya memilih jalannya sendiri.
“Baik, Ibu Alya. Berkas gugatan sudah kami terima. Nomor perkara akan segera keluar dalam beberapa hari, dan sidang pertama akan dijadwalkan. Harap Ibu bersedia hadir,” ucap seorang petugas pengadilan dengan nadanya yang formal.
Alya menarik napas, ia mencoba tegar
"Terima kasih, Pak. Saya Insya Allah bersedia."
“Langkah pertama sudah kita ambil. Jangan khawatir, Bu Alya. Saya akan pastikan semua proses ini berjalan dengan baik," sahut Pak Ardi.
Amel tersenyum tipis sambil memberi semangat. “Lihat, Al. Lo udah sejauh ini. Jangan ragu lagi. Ini waktunya lo mulai hidup baru tanpa bayang-bayang Reza lagi lo berhak bahagia."
Alya dengan suara bergetar, tapi penuh dengan keyakinan. “Aku harus kuat. Bukan cuma untuk diriku tapi juga untuk Ibu."
Sementara itu di apartemennya, Reza yang baru saja merebahkan tubuhnya di sofa sehabis pulang kerja tiba-tiba ia menerima sebuah amplop coklat dari seorang kurir. Wajahnya menegang ketika membaca nama pengirim Pengadilan Agama. Tangannya gemetar membuka surat itu, dan seketika dunia serasa runtuh begitu ia membaca kalimat tegas
“Panggilan sidang perkara perceraian antara Alya binti Nurohman terhadap Reza Nugraha.
Reza menatap surat itu lama sekali, hingga detak jantungnya terasa berdegup keras. Ia tidak percaya Alya benar-benar berani mengambil langkah ini. Amarah, penyesalan, dan rasa takut bercampur aduk dalam dirinya.
Reza menggenggam surat, berbicara pada dirinya sendiri dengan suara parau.
“Kurang ajar wanita itu! sudah kubilang aku tidak mau bercerai malah dia lakukan tanpa persetujuanku!”
Nadia penasaran melihat air muka Reza berubah. “Kenapa Mas? sepertinya kamu sedang kesal? Map apa itu?” tanya Nadia penasaran.
Reza tanpa berkata apapun langsung membanting map itu ke atas meja lalu meninggalkan Nadia pergi.
Nadia yang penasaran langsung membuka map itu dan melihat isinya. Ia tersenyum tipis ketika membaca isi dari map itu. Nadia puas karena hal yang ia nantikan akhirnya terjadi.
Malam itu juga, Reza langsung mendatangi rumah orang Alya dengan wajah merah padam tanpa basa-basi, ia langsung mengetuk keras pintu hingga membuat suasana rumah menjadi tegang. Alya yang baru selesai berbincang dengan ibunya terkejut mendengar suara Reza ia bergegas langsung membuka pintu di sana Reza sedang berdiri dengan mata liar penuh amarah.
Reza menyeruak masuk, suaranya meledak
“Apa maksudmu, Alya? bercerai? Kamu pikir aku akan diam saja membiarkan apa yang kamu mau terjadi? Tidak akan, Alya. Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu!”
Alya berdiri tegak, dengan wajahnya yang tenang. “Aku sudah memutuskan, Mas. Aku tidak mau terus jadi korban dalam rumah tangga ini. Hubungan kita sudah berakhir."
Reza menepuk meja keras, wajahnya memerah. “Sudah aku bilang tidak! Aku tidak akan biarkan kamu menghancurkan rumah tangga kita begitu saja! Kamu milikku, selamanya, Alya!"
Alya menatap tajam, dengan suara meninggi
“Rumah tangga apa? Kamu yang mengawali menghancurkannya, Mas! dengan menikahi GU*DIK itu tanpa sepengetahuanku! Aku tidak akan kembali, padamu. Cukup sudah!"
Reza mendekat, ia mengeluarkan jurus terakhir. “Heh, kamu lupa yah Alya, siapa yang menolong Ibumu kalau bukan aku jika bukan karena aku Ibumu itu sudah lama mati! Tahu kamu!”
Mata Alya membelalak, suaranya gemetar karena marah. “Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu, Mas di depan Ibuku! Jaga ucapanmu, Mas! Uang yang kamu pinjamkan waktu itu sudah aku kembalikan lunas. Dan walaupun belum, nyawa Ibu tidak bisa ditukar dengan arogansimu itu, melihatmu seperti ini aku semakin yakin untuk menceraikanmu!"
Reza mendekat, nadanya sinis. “Hah! Tanpa aku, kamu itu bukan siapa-siapa, Alya. Ingat! Aku yang menjadikan kamu seperti ini karena aku kamu bisa kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang bagus seperti sekarang!”
Alya menatap tajam, suaranya lantang
“Tidak! Aku bisa seperti ini karena aku bisa, Mas. Aku kuliah tidak memakai uangmu sepeser pun aku bisa kuliah karena mendapatkan beasiswa bukan karena kamu! Semua yang aku capai, semua yang aku perjuangkan, itu hasil kerja keras aku sendiri. Kau hanya menempel, mengambil, lalu mengklaim semua seolah-olah milikmu!"
Reza mengepalkan tangan, wajahnya memerah. “Dasar perempuan tidak tahu diuntung!"
Rahma menyela, berdiri di samping Alya kakaknya. “Dengar, Mas Reza? Mbak Alya tidak takut lagi padamu. Semua orang sudah tahu siapa yang sebenarnya tidak tahu diuntung disini yaitu kamu!”
Alya menyambung, dengan suara penuh keyakinan. “Aku sudah selesai hidup di bawah bayanganmu, Mas. Kalau kamu masih mau teriak-teriak soal kebaikanmu di masa lalu, simpan saja. Karena sekarang aku tidak berhutang apa-apa lagi padamu. Yang kamu miliki tinggal amarah dan penyesalan."
Reza terdiam sejenak, wajahnya menegang, lalu menunduk dengan geram.
“Ini semua terjadi karena kesalahan kamu Alya kalau saja kamu bisa memberiku anak aku akan setia kepada kamu. Tapi lihat saja kamu pasti akan menyesal, Alya. Kamu akan menyesal telah meninggalkan aku!"
Alya melangkah maju, tatapannya dingin menusuk. “Itu semua hanya alasan kamu Mas, untuk berbuat zina. Aku yang bodoh karena bertahun-tahun hidup denganmu. Sekarang waktuku berhenti menyesal, dan mulai bahagia tanpa kamu."
Reza pergi sambil membanting pintu, meninggalkan suasana rumah penuh ketegangan, tapi di sisi lain, Alya akhirnya menunjukkan kekuatan sejatinya.
Bersambung.....
Jangan lupa di like guys....🥰