Sedari kecil hanya di urus oleh neneknya membuat Elsa sangat mencintai neneknya, hingga dia rela melakukan apa saja demi kebahagiaan neneknya. Hingga dia tidak berani menolak untuk menikah dengan pilihan neneknya.
Namun setelah menikah dia baru tahu, kalau Fattah menikahinya hanya karena malas berantem dengan kakanya Indra. Indra memaksa Fattah menikahi Elsa karena mengira Elsa kekasih Fattah. padahal Elsa dan Fattah tidak kenal satu sama lainnya.
Bagaimana nasib Elsa?
******
ini pengalaman Author nulis ya..
mohon bimbingan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 17 Tasyakkuran
Setelah mengetahui kehamilan Elsa, Fattah melarang Elsa mengantar jemput Nazwa sekolah. Di rumah pun Elsa dilayani para pembantu seperti anak kecil, melakukan apa saja tidak boleh, hanya pembantu yang melakukan.
Elsa bosan dengan hal ini. Namun Fattah sangat pandai membuat mood Elsa bagus lagi. Fattah sangat memanjakan istrinya ini. Tubuh Elsa pun kini semakin berisi karena kehamilan dan juga pelayanan manja dari semua orang.
Kabar kehamilan Elsa sudah diketahui semua keluarga Fattah dan sahabat sahabat Fattah.
Di kantor Indra.
Hari ini kerjaan di kantor tidak banyak, hingga para karyawan mengaggur.
Indra lama tidak bertegur sapa dengan Wijaya, Indra menemui Wijaya ke meja kerja Wijaya. Mereka saling tanya kabar. Lalu mulai membicarakan Elsa dan Fattah.
"Luar biasa Wi ponakan mu itu, dia lebih memilih tinggal bersama mertua, daripada di rumah Fattah, padahal kan kebanyakan menantu jarang mau kumpul sama mertua, istri aku salah satu nya, Elsa mau tinggal disana. Ibu aku tentu senang banget," kata Indra.
"Elsa ngga biasa sendiri, dia biasa sama nenek nya, wajar ia lebih memilih tinggal bersama ibumu, secara bersama ibumu mungkin dia merasa bersama nenek nya,"
"Hem ... mungkin banget tuh ... ponakan kamu itu juga sayang banget sama Nazwa, sekarang Nazwa lengket banget sama dia, dulu satu hari aja dia ngamuk kalo ngga ketemu ibu, sekarang 10 hari di rumah kamu sedikitpun tidak menanyakan neneknya, bangga aku sama ponakan mu Wi,"
"Iya ... rame banget rumah saat ada Nazwa, pas mereka kembali hem ... mendadak sepi,"
"Iya ... Nazwa itu heboh banget orangnya. Gila ya si Fattah, sudah ngehamilin ponakan kamu aja ..." seru Indra.
"Yah ... hak dia, kan Elsa istrinya," seru Wijaya.
"Terimakasih banget Wi, ponakan kamu itu istri, ibu dan menantu yang terbaik bagi keluarga kami," lirih Indra.
"Aku juga terimakasih, Fattah suami yang baik banget. Mertua aku aja sayangnya minta ampun sama Fattah. Fattah, Elsa, itu terus yang dia ingat,"
"Pernikahan salah sangka, tapi mereka menjalani semuanya sangat bahagia," lirih hati Indra.
****
Hari ini jadwal Elsa periksa. Fattah sudah siap sedari tadi.
"Kamu mau kemana?" Tanya Fattah melihat Elsa masuk keruang ganti baju.
"Ngambil buku catatan kesehatan yang di beri dokter klinik saat meriksa aku kemaren," jawab Elsa.
Elsa keluar dari kamar ganti membawa tasnya.
"Sini tas kamu, kamu nggak boleh bawa apa-apa," lirih Fattah.
"Masyha Allah ... tas itu ringan banget sayang ...." lirih Elsa keceplosan memanggil Fattah sayang.
"Sayang? Lagi dong, aku suka,"
"Udah bawain aja tas aku, tapi ambil dulu amplop putihnya, itu hasil Usg kemarin," lirih Elsa.
"Ih kamu jahat Hasil USG ngga kasih lihat," gerutu Fattah membuka tas Elsa mencari amplop putih.
"Yeee kamu nggak nanya," seru Elsa.
Fattah membuka Amplop putih itu. Senyumnya begitu lebar melihat foto Usg.
"Anak kita?" Ringis Fattah.
Elsa mengangguk dan senyum. Fattah menarik Elsa kepelukannya,
"Makasih sayang ... aku nggak pernah sebahagia dan sesenang ini ... rumah tanggaku sebelumnya tidak ada ketenangan seperti ini, bahkan aku tidak bisa menikmati ke indahan seperti ini saat Nazwa dalam kandungan ibunya. Nazwa lahir juga tidak mendapat kasih sayang ibu nya ..." lirih Fattah teringat kenangan masa lalunya.
"Sayang tetaplah disisiku ... jangan kau renggut kebahagian ini ...," lirih Fattah melepaskan pelukannya dan menatap Wajah istrinya.
"Masa lalu ku ..." lirih Fattah
"Mas ....jangan sedih ... nanti anak kita sedih ..." lirih Elsa memotong kata kata Fattah.
Fattah tersenyum dan mengecup lembut bibir Elsa. "Makasih sayang ..." lirih Fattah yang berhenti sebentar, lalu melanjutkan lagi melahap bibir istrinya itu.
Sulit melepas pangutannya, namun mereka harus segera kerumah sakit untuk periksa kehamilan Elsa.
Sesampai di rumah sakit Fattah selalu menggandeng Elsa berjalan menuju Ruangan Dokter. Setelah bicara panjang lebar Dokter mulai memeriksa kandungan Elsa.
Dokter kaget saat melakukan USG, karena ada dua calon bayi di dalam sana.
"Sudah Usg bu ...? " Tanya Dokter.
"Sudah 1 kali," jawab Fattah yang setia di samping Elsa.
"Terus kata Dokter yang kemaren memeriksa ibu apa kata nya?" Tanya Dokter yang masih melakukan Usg di perut Elsa.
"Ngga ada Dok ... kata nya baik-baik aja ... usianya 5 minggu, itu saja" jawab Elsa.
"Ada masalah dok?" Tanya Fattah tegang.
Dokter tersenyum, dia mulai Faham kenapa Dokter sebelumnya tidak mengatakan kalau bayi di dalam ada dua.
"Tidak pak. Semua nya baik, ibu nya sehat baby nya juga sehat," ucap dokter.
Dokter kembali ke mejanya, sedang Elsa di bantu perawat membersihkan sisa gel yang ada di perutnya. Mereka duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Dokter.
Dokter membaca pesan dokter lain yang memeriksa Elsa sebelumnya, ia pun Faham, kenapa dokter itu menyembunyikan berita ini demi kesehatan mental ibunya. Karena Elsa yang baru 18 tahun, kalau dia tahu dia akan punya dua anak sekaligus, di khawatirkan dia stres selama masa kehamilannya.
Cukup memastikan keadaan ibu dan anak itu sehat dan baik-,baik saja selama kehamilan ini.
________________________
Setiap bulan nya Elsa dan Fattah memeriksa kehamilan Elsa di pada Dokter itu.
Sekarang masuk bulan ke 7 kehamilan Elsa.
seperti biasa Dokter melakukan pemeriksaan seperti biasa. Dokter tidak bisa menjawab pertanyan Elsa dan Fattah tentang jenis kelamin Anak mereka.
Karena anak mereka laki-laki dan perempuan.
"Bayi ibu ini pemalu, dia nggak mau dilihat," seru Dokter.
"Udah mas ... laki-laki atau perempuan sama saja yang penting mereka sehat," seru Elsa.
"Hem ... ibu benar," seru Dokter.
***
Di rumah mulai sibuk untuk mengadakan pengajian Tasyakkuran 7 bulan kehamilan Elsa.
Perdana Wijaya, Marni, Dzikri datang kerumah Fattah. Keluarga besar Fattah juga sudah hadir semua. Semua orang Terlihat Akrab. Para undangan dan yang mengisi Acara sudah mulai berdatangan.
Acara Tasyakkuran berjalan dengan lancar.
Selesai Acara Wijaya dan Maya berkumpul di ruang keluarga bersama Fattah dan kakak kakak nya. Maya Akrab dengan semua kaka ipar Fattah.
"Fattah! Cepat banget kamu buat istri kamu tekdong ..." seru Rahman kaka pertama Fattah.
"Bagus kan ... artinya walau lama masuk kotak, senjataku tetap berfungusi juga peluru nya," sahut Fattah dengan bangga membela diri.
"Eh ... ponakan Wijaya itu kamu bantai berapa kali semalam? kasian ... masih kecil dia Fattah," ejek Indra.
"Kecil? tapi pedes lho, cabe asli kan gitu," seru Fattah.
Semua tertawa.
Fattah celangak-celenguk mencari sosok Elsa, Setelah selesai pengajian tadi ia tak lagi melihat istrinya itu. Fattah kesana kemari mencari Elsa, di atas tidak ada di bawah tidak ada juga. Sedang Nazwa Asyik bermain bersama semua sepupu nya dan Dzikri.
"Lihat Fattah, dia ngga bisa jauh sama ponakan kamu Wi walau sekejap," ledek Indra.
"Elsa di kamar sama neneknya Fattah," seru Maya.
"Nggak ada bi, aku baru dari atas," jawab Fattah.
"Siapa yang bilang Elsa di kamar kamu ... Elsa sama nenek di kamar tamu ..." seru Indra.
Fattah segera berjalan menuju kamar tamu. Benar saja Elsa tengah lelap tidur di peluk nenek nya. Fattah lega melihat Elsa baik-baik saja, dia khwatir Elsa pingsan karena kelelahan.
Fattah kembali berkumpul bersama kaka kaka nya.
"Fattah ... mendingan pindah kamar dulu kebawah, capek lho bumil turun naik tangga, apa lagi nanti gimana bawa turun Elsa saat elsa sakit perut saat akan melahirkan," lirih Fira, Istri Indra.
"Iya, mending pindah di kamar bawah dulu sampai melahirkan nanti," seru Maya.
Fattah setuju. Ia meminta pembantu memindahkan beberapa barang Elsa ke kamar tamu yang satu nya.
Semua orang kini sudah pulang kerumah mereka masing masing. Elsa harus rela neneknya pulang. Karena neneknya tidak mau bermalam di rumah Fattah. Padahal Fattah dan Elsa berusaha keras membujuk sang nenek.
Setelah makan Malam Elsa dan Fattah menempati kamar baru mereka yang dekat ruang tamu.
Elsa mengenakan Daster tali satu, perutnya yang besar pun menyembul dari bailk Daster.
Elsa duduk di tempat tidur sambil mengipas diri nya. Semakin besar kehamilannya, bukan cuma makin berat, tapi juga makin gerah. Padahal Ac sudah menyala dengan suhu paling Dingin Fattah dengan setia mengipasi Elsa.
"Yank ... kamu semakin kesini semakin cantik,
Kamu seksi banget deh ... buka ya ... pleas ...
pemandangan seperti ini akan ber akhir jika yang di dalam sana keluar, izinkan aku menikmati semua ini," lirih Fattah
Elsa pasrah Fattah melepas yang melekat padanya
"Udah mas nggak usah dikipas lagi udah kurang gerah nya," lirih Elsa.
Fattah mengelus perut buncit Elsa dan menciuminya. Sesekali Elsa mengikik karena bayinya juga bergerak-gerak. Fattah semakin senang bermain di perut Elsa karena merasakan pergerakan Bayi nya.
"Sayangz aku boleh 'Assalamu Alaikum ' nggak? Aku mau bertamu sama Anak kita," lirih Fattah.
Elsa mengangguk dan tersenyum.
"Sayang ... ayah datang ... kita main petak umpet ya ... " lirih Fattah berbicara pada perut Elsa.
Fattah segera ber aksi untuk mengunjungi bayinya yang masih dalam Rahim Elsa dan bermain maju mundur cantik di tempat bayinya itu bersemedi.
*****
Setiap kerja Fattah selalu membeli perlengkapan bayinya dan juga mainan buat Nazwa. Kalau hanya membeli buat Bayi, takutnya Nazwa cemburu. Hingga kamar mereka yang di atas mulai di penuhi keperluan Bayi.
Fattah yang karier nya terus cerlang kembali mendapatkan kenaikan jabatan. Hingga tugas Fattah juga semakin banyak. Akhir akhir ini Fattah sering pulang terlambat karen pekerjaan. Hingga Elsa merasa kesepian.
***
Hari ini Nazwa dan Nadia di bawa ibu Fattah kerumah Rahman kakak pertama Fattah karena ada acara. Elsa tengah hamil besar tidak di izinkan Fattah ikut kerumah kakak nya. Elsa dirumah di temani bi imah dan pak Fahri.
Rumah sangat sepi, karena tidak ada teriakan Nazwa. Elsa duduk santai di ruang tamu sambil menonton Televisi.
Rupanya hari ini hari syukuran kantor tempat Fattah bekerja. Dan acara itu diliput salah satu stasiun Tv Swasta.
Senyum Elsa mengambang melihat suaminya di sorot kamera, terlihat Fattah memegang Tropy penghargaan sebagai karyawan terbaik.
Hati Elsa sakit melihat wanita-wanita cantik bersalaman dan cipika-cipiki pada Suaminya dan Fattah terlihat menikmati itu. Kini gilirah Fattah di wawancarai salah satu repoeter.
"Selamat bapak Fattah mendapat penghargaan karyawan terbaik tahun ini," kata Reporter.
"Iya makasih ... ini buat istri dan anak saya, berkat mereka saya sampai di titik ini," ucap Fattah
"Istri bapak disini?" Tanya Reporter.
"Tidak istri saya hamil besar tidak mungkin bawa dia kemari," jawabFattah.
Repoerter terus melakukan tanya jawab bersama Fattah.
Elsa mematikan Tv nya, karena tidak sanggup melihat Fattah di kelilingi wanita wanita yang jauh lebih cantik dari dirinya. Dadanya terasa sesak. Dirinya sebelum hamil saja masih jauh Cantik wanita wanita yang ada di sekitar Fattah. Elsa sungguh merasa jatuh dan terpuruk menyadari siapa Fattah dan siapa dirinya.
"Seharusnya salah satu wanita cantik itu yang jadi istri kamu mas ... kenapa yang jadi istri kamu wanita jelek dan miskin seperti aku," rengek Elsa.
Air matanya jatuh, perasaan yang kacau, di tambah hormon kehamilan yang susah di tebak, mudah sekali Elsa menagis.
"Assalamu alaikum ..."
Seru seseorang, Elsa segera menghapus Air matanya dan menjawab Salam itu.
"Wa alaikum salam," jawab Elsa,
Ternyata Indra dan dua temannya.
"Eh hai Sa ... nggak ikut ibu kerumah kak Rahman ...?" Sapa Indra.
"Enggak di izinkan mas Fattah kak," jawab Elsa
"Siapa Ndra?" Tanya salah satu temannya
"Oh, ini Elsa, Elsa kenalkan ini Damar dan ini Malik, mereka teman masa kecil aku dan Fattah. Oh ya ... ini Elsa Istri Fattah," Seru Indra.
Elsa tersenyum menyambut teman teman Indra.
"Bik Imah ..." Teriak Elsa.
Bi Imah datang.
"Iya non Elsa ..."lirih Imah
"Bi ... bantuin aku kekamar terus buatin kak Indra dan temannya air ya ..." Pinta Elsa.
"Eh ... diam aja disini nggak apa-apa," seru Damar
"Enggak ... aku mau istirahat, capek lama duduk," jawab Elsa.
"Oh, hamil ...? Sudah berapa bulan mbak?" Tanya Malik.
"7 bulan," jawabElsa.
Saat Elsa Menuju kamar tamu, Indra dan teman nya Asyik melihat layar laptop yang di bawa Indra.
Hingga mereka tidak melihat kemana Elsa.
Saat mereka selesai pada Laptop, bi imah sudah menyajikan minuman dingin di meja dan camilan.
Elsa yang rebahan sangat jelas mendengar semua pembicaraan Indra dan temannya itu. Mereka saling melepas rindu karena tinggal di tempat yang jauh.
Indra menelpon Fattah, mengabari dua teman kecil mereka ada dirumah.
"Fattah bentar lagi pulang," seru Indra.
"Weh asyik neh ... lama kita nggak ngumpul," seru Damar.
"Eh ... bini Fattah tu dilihat aja muda banget ya ..." lirih Damar.
"Iya ... dia baru 18 tahun, ponakannya teman kerja aku," jawab Indra.
"Lho gimana cerita nya, kok Fattah milih wanita itu? Dia mah masih di bawah sama wanita-wanita yang mengejar cinta fattah selama ini, yaa kelebihannya usia muda doang, kalau paras mah jauh," seru malik.
"Ih kejam banget kamu Malik. Tapi iya juga sih. Secara wanita wanita yang cinta sama Fattah itu hemmm," sahut Damar.
"Itu kesalahan aku ..." lirih Indra.
Elsa yang mendengar kata Indra jantungnya seakan di hantam batu besar sangat sakit dan sesak.
"lho ... bagaimana cerita nya ...?" Tanya Damar.
"Aku kira Elsa itu pacarnya Fattah, karena aku pernah melihat mereka bersama di pasar malam. Aku cari tahu siapa wanita yang bersama Fattah di pasar malam, eh ternyata ponakan teman kerja aku. Terus aku marahin Fattah habis habisan, karena nggak ngakuin kalau wanita itu kekasihnya. Kami ribut karena Fattah kekeh membela diri kalau ia tak mengenal wanita itu. Fattah lelah dengan semua tuduhan ku. Akhir nya dia pasrah saat kami mendesaknya untuk menikahi Elsa, Fattah malas ribut sama aku dia pun setuju menikah. Semua pernikahan pun Fattah nggak mau tau." Terang Indra.
"Oh aku kira Fattah terlalu milih eh kepilih yang. Secara Fattah gitu, sekali tunjuk yang mana aja! Wanita pasti langsung menerima," seru Damar.
"Mungkin aja Fattah alergi sama cewek cantik karena masa lalunya, secara istri pertamanya itu aduhai ... jauh banget sama yang ini." seru Malik.
Elsa mendengari semua itu langsung tidak sadarkan diri, dia tidak sanggup lagi menahan Rasa sakitnya. Serasa ia menelan bulat-bulat Pil Pahit yang begitu besar. Untung saja ia sudah dalam posisi rebahan.
"Tapi seiring berjalannya Waktu Fattah benar-benar menerima istrinya, memang muda tapi luar biasa. Apalah artinya paras cantik. Kalau hati nya busuk!!!
Kalian tahu kan Fattah menangkap basah istri nya kuda-kudaan dengan selingkuhan ...?"
"Ibu aku saja sayang banget sama Elsa, Elsa menantu satu-satunya yang dekat sama ibu.
istri aku aja nggak mau tinggal sama ibu. Istri Fattah itu istri yang luar biasa, dia sangat sayang sama ibu dan anak Fattah," terang Indra.
"Iya sih ... nggak ada ketenangan kalau cuma cantik, tapi kalau bisa cantik dan baik kenapa tidak?" Seru Damar.
Mereka tertawa terbahak bahak.
hmmm.... entahlah 🙃🙃🙃
Dasar Elsa Masih Bocil,