Zea telah berjanji pada dirinya untuk menutup hatinya rapat-rapat dan tidak ingin menjalin sebuah hubungan baru, dia tidak ingin lagi mengenal apa itu Cinta karena penghianatan yang pernah di alaminya.
Tapi karena ancaman yang di lakukan seorang pria asing yang tidak dia kenal dan memaksanya untuk menikahi dirinya dan pada akhirnya zea dengan terpaksa menikah.
Namun siapa sangka pernikahan yang di alami zea adalah sebuah neraka baginya, karena pria yang telah me jadi suaminya tersebut memiliki tujuan balas dendam pada keluarga zea hingga zea harus menjalani takdir hidup yang begitu menyakitkan hati dan fisiknya.
Next....
NB: ini cerita menguras air mata gaes siapkan tissue yah, dan menguras emosi dengan kelakuan bejat alvaro
•
•
•
•
Selamat membaca karya pertamaku 🖤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Mdf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Saya lebih suka ketiadaan yang utuh dari pada kehadiran sebagian... Zeana Febiola
✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰✰
Ke esokan harinya zea sedang menyiapkan sarapan untuknya dan mama rini. setelah menyiapkan sarapannya zea segera memanggil mama rini untuk sarapan bersama, zea membantu mama mendorong kursi rodanya menuju ruang makan.
Keduanya begitu menikmati sarapannya tanpa berbicara hanya terdengar suara sendok dan garpu beradu dengan piring yang berisi makanan.
Mama rini dan zee telah menyelesaikan sarapannya zee segera membereskan piring kotor bekas makanan. terlebih dulu dia mengantarkan mama rini ke ruang keluarga untuk menonton televisi.
Setelah menyelesaikan pekerjaan di dapur zee menyusul mama rini untuk ikut bergabung menonton TV.
Ketika sedang asik menonton suara ketukan pintu dari ruang tamu terdengar.
"Sayang ada tamu, coba kamu lihat ke depan." perintah mama rini.
kemudian zee segera beranjak untuk melihat sesorang yang mengetuk pintu rumahnya.
Ketika pintu sudah di buka oleh zee, zee membulatkan matanya dan menampilkan raut wajah kaget melihat tamu yang berada di hadapannya saat ini.
Alvaro dan roy saat ini sedang berada di kediaman zee.
"Ka.. kalian sedang apa berada di rumahku, ada perlu apa kemari dan kenapa tidak menghubungiku terlebih dulu." ucap zea dengan gugup dan raut wajah hawatir.
Alvaro hanya menatapnya sinis dan menampilkan senyum sinisnya kepada zea, dan memberi kode pada roy untuk menjelaskan kedatangannya ke rumah zea.
"Siapa yang bertamu nak, kenapa kamu tidak mempersilahkannya masuk." ucap mama rini yang tiba tiba muncul di belakang zee sambil berusaha mendorong kursi rodanya.
"Iya ma.. in.. ini teman zee." sahut zea dengan gugup.
Kemudian zee mempersilahkan keduanya untuk masuk.
"Silahkan duduk." ucap zea.
Alvaro dan roy duduk setelah di persilahkan oleh zea dan juga mama rini ikut bergabung.
"Sayang kamu buatkan minum buat teman kamu ya." perintah mama rini pada zea.
Zea menjawab dengan anggukan dan senyum, di benaknya ada rasa hawatir yang menguasai dirinya. bagaimana ini, apa yang akan mereka lakukan.? pikirnya dalam hati.
Samar samar zea mendengar obrolan di ruang tamu, mereka hanya berkenalan sesekali bercanda. zea tidak mendengar obrolan yang menyangkut dirinya dan alvaro.
Setelah selesai membuat minuman untuk kedua tamu itu, zea keluar dengan nampan dan dua gelas yang berisi menuman hangat karena sekarang masih di katakan pagi waktu baru beranjak ke pukul sembilan lewat dua puluh menit.
Zea meletakkan dua gelas minuman hangat itu ke hadapan alvaro dan roy, lalu mempersilahkan untuk minum.
"Bagini, saya kemari ada hal penting yang ingin di bicarakan." ucap alvaro
Deg
Perasaan zea sudah harap cemas, nafasnya seakan tercekat, pikiran zea sudah mulai berkeliaran. apakah alvaro akan menagih syarat yang pernah di ajukan atau bahkan menagih uang ganti yang sudah di keluarkan sebagai biaya rumah sakit ibunya.? segala macam pikiran sudah menguasai otaknya.
"Apa yang ingin di bicarakan nak, apa ini menyangkut zea.?" sahut mama rini yang sudah mulai penasaran.
"Iya, ini ada hubungannya dengan zea dan juga tuan saya alvaro, terlebih dulu perkenalkan saya roy dan ini tuan alvaro." kata roy sambil memperkenalkan diri pada mama rini kemudian di susul oleh alvaro, tidak lupa mereka menyalami tangan mama rini.
Mama rini semakin di buat penasaran
"Saya akan melamar putri anda untuk menikah dengan saya." ucap alvaro dengan tegas dan suara datar sekilas dia melirik ke arah zea.
Seketika manik zea membulat dia kaget atas pernyataan yang di ucapkan alvaro. bagaimana bisa dia langsung berbicara ke intinya pada mama rini yang kondisinya belum sepenuhnya membaik.?
Mama rini juga tidak kalah terkejutnya, setaunya zea tidak pernah menceritakan teman laki laki kepadanya apa lagi seorang pacar yang akan di jadikan seorang suami.
"Ma.. sebenarnya zea tidak ingin me.." Perkataan zea belum selesai sudah di potong oleh alvaro.
"Saya dan zea akan melangsungkan pernikahan satu minggu lagi, saya harap tante akan menyetujuinya." sarkas alvaro, dan matanya menatap tegas ke arah zea.
Zea tidak berani berkata kata lagi, ia hanya pasrah tidak mungkin dia menolak perjanjiannya dengan pria yang ada di hadapannya sekarang.
"Tante terserah zea saja nak, apapun yang terbaik menurut kalian." kata mama rini
"Zea hanya perlu bersiap saja, segala macam keperluan itu sudah menjadi urusan saya, bagaimana zea apa kamu setuju?" ucap alvaro dan melihat ke arah zea.
Zea hanya menjawab dengan anggukan, ia tidak ingin berkata banyak kali ini.
"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu karena masih banyak urusan yang harus di selesaikan." Pamit alvaro dan roy, keduanya beranjak dari duduknya dan meninggalkan rumah mama rini dan zea.
Setelah kepergian alvaro dan roy, mama rini langsung menyerang zea dengan segala macam pertanyaan. bagaimana tidak seorang pria tiba tiba datang melamar putrinya tanpa memberitahunya terlebih dulu, bahkan pernikahannya akan di gelar satu minggu lagi.
"Zea sudah berapa lama kamu mengenalnya.? kenapa kamu tidak pernah bercerita kepada mama jika kamu memiliki laki laki yang akan menikahimu, apa kamu yakin sudah ingin menikah nak? " mama rini memberondong pertanyaan pada zea.
"Zea yakin ma, zea akan menikah dengannya. dia laki laki baik." ucap zea yakin agar mama rini tidak curiga.
zea belum ingin berterus terang kepada mamanya untuk masalah perjanjiannya bersama alvaro, dan tidak ingin membebani mama rini jika mengetahui biaya operasi yang sudah di tanggung oleh alvaro.
"Baiklah kalau memang itu keputusan yang akan kamu ambil, semoga ini jalan terbaik ya sayang, semoga laki laki itu bisa menjagamu seperti ayahmu yang selalu menjaga mu dan memberimu semangat di setiap hari hari mu." Ucap mama rini memberi semangat pada Putri angkat kesayangannya itu.
"Iya ma.. zee berharap seperti itu." sahut zee dengan menampilkan raut wajah tegar, meskipun sebenarnya di dalam hati zea tidak tenang dan selalu tersemat rasa hawatir akan masa depannya.
"Zea antar mama ke kamar nak, mama ingin beristirahat di kamar saja." pinta mama rini
Mama rini merasa kalau putri angkatnya ini ada yang di sembunyikan. tidak mau mengorek lebih dalam karena zee sepertinya tidak ingin bercerita.
ingin rasanya menumpahkan air matanya tapi tidak mungkin jika di hadapan zee dia tidak boleh terlihat lemah, sehingga mama rini meminta tolong pada zea di antarkan ke kamar saja.
"Iya mama, mama sebaiknya beristirahat saja. lusa mama sudah harus terapi sesuai jadwal yabg di tentukan oleh dokter." zea berkata seraya mendorong kursi roda milik mama rini.
Keduanya sudah sampai di kamar mama rini.
"Sudah saya sampai sini saja." ucap rini menghentikan zea yang akan membantunya untuk naik ke tempat tidur.
"Apa mama mau zee temani disini.?"
Mama rini hanya menggelengkan kepala dan berkata "tidak usah nak, mama ingin sendiri."
"Baiklah ma, kalau begitu zea keluar dulu mau ke taman belakang rumah sudah lama zea tidak menjenguk tanaman di sana." sahut zea.
Zea berlalu keluar meninggalkan kamar mama rink, sebenarnya zea tau kalau mama rini sedang sedih terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Maaf ma zea belum bisa menceritakan masalah zea sekarang, zea beeharap mama akan mengerti." gumam zea dalam hati.
Kemudian zea melangkahkan kakinya menuju taman belakan rumahnya, di sana terdapat banyak tanaman yang bunga bunga yang sudah di tanam oleh mama rini dan di bantu oleh ayah Dimas waktu itu.
Zea masih ingat ketika dia kecil kedua orang tuan angkatnya selalu meluangkan waktu untuk bertanama di halaman belakang rumah mereka.
"Zee rindu masa masa itu, zea juga sangat merindukanmu ayah, seandainya ayah masih ada keluarga kita tidak akan seperti ini." gumam zea kedua manik matanya sudah menggenang.
★
★
★
★
Bersambung...
Terimakasih sudah Setia menunggu kelanjutan ceritanya jangan bosan ya, jangan lupa tinggalkan jejak dan beri vote se ikhlasnya 😊🙏🙏