NovelToon NovelToon
Cinta Arini (Love Story Is Complicated)

Cinta Arini (Love Story Is Complicated)

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Nikahkontrak / Cintamanis / Tamat
Popularitas:151.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Laylatul Jannah

Arini dituduh melakukan penganiyaan terhadap atasannya. Dipecat secara tidak hormat hingga nyaris membuatnya dipenjara.

Seolah takdir buruk itu belum cukup untuknya. Ia harus menikahi lelaki yang terang-terangan mencintai wanita lain tapi mengambil keuntungan darinya.

Akankah takdir baik menghampiri kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laylatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Pernikahan

Bagian ke tujuh belas

Cuaca siang ini terasa menyengat, hingga sekujur tubuhku kini mulai mengembun. Padahal, ruang megah ini telah terpasang pendingin ruangan. Namun, entah mengapa semua itu tak mampu membuatku tetap sejuk.

Aku menyeka keringat di kening dengan ujung hijab yang sedang ku gunakan. Mencoba tetap mengumbar senyum meski dengan paksaan yang kuat.

Siang ini, nasibku baru saja di tentukan oleh Oma Dwi. Tak ada yang bisa berkata--tidak- termasuk kedua orang tuanya Riski. Sedangkan Riski sendiri, aku tidak mengerti apa yang sedang lelaki itu pikirkan. Ia duduk tenang dengan kaki kanan di silangkan di atas kaki kiri. Sesekali jemarinya mengetuk penyangga sofa.

Ambisinya untuk mendapat warisan dari Omanya, telah menyeretku dalam lembah yang tidak ku tahu seperti apa wujudnya nanti.

Aku tidak bisa membantah, perjanjian yang telah ku tandatangani dua bulan yang lalu adalah sebuah harga yang harus aku bayar sekarang. Tanpa peduli bersedia atau tidak. Di tambah lagi harapan Oma yang begitu besar pada diriku.

Lengkap sudah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti semua rencananya.

Berkas surat wasiat bersyarat baru saja di bacakan oleh kedua pengacara. Di hadapan aku, Riski dan kedua orang tuanya. Riski mendapatkan hampir semua aset milik Oma Dwi. Sedangkan sisanya akan menjadi bagian kedua orang tua dari Riski.

"Jadi semua sudah di putuskan, setelah kalian menikah. Maka, semua yang tertera dalam surat warisan ini akan sah menjadi milikmu, Riski." ucap Oma dengan suara yang berat. Kondisinya yang belum stabil membuat ia begitu kesulitan. Bahkan dalam hal berbicara.

"Tapi Ibu, saya masih belum mengerti, kenapa harus wanita ini yang Ibuk pilih untuk Riski. Sementara ada banyak gadis lain yang lebih sepadan dengan keluarga kita."

Aku menunduk, menatap kedua kaki sambil meremas ujung hijab. Di dalam sana, hati sedang bergemuruh. Ada banyak kalimat sedang bertindih di kepala, semuanya berebutan agar di ucapkan. Namun, apalah dayaku, jangankan membuka mulut, menatap kedua orang tua Riski saja saat ini, aku tak berani.

Oma Dwi menggenggam tanganku. Mencoba membuat ku menemukan sedikit kekuatan.

"Dari awal tadi sudah saya katakan. Tidak ada gadis manapun yang lebih pantas mendampingi cucuku selain nak Rini Valencia. Ia adalah sosok yang baik, tulus, ramah juga penuh kesabaran." ucap Oma dengan tegas. "Lagi pula nak Rini ini adalah wanita yang telah di pilih oleh anakmu." lanjud Oma dengan mengarahkan pandangan pada Riski.

****

Sesuai dengan rencana yang telah disusun. Hari ini adalah hari dimana aku dan Riski memilih gaun pengantin. Butik milik Irma menjadi pilihan Oma.

Aku melangkah dengan penuh keraguan sambil menggandeng tangan Oma. Tak ada Riski di sini. Ia beralasan jika di kantor sedang banyak pekerjaan. Katanya, bulan ini adalah bulan audit untuk semua proyek pemerintah di bawah naungan jabatan yang sedang didudukinya sekarang.

"Gimana dengan gaun ini, Rin!" Irma menunjukan satu gaun berwarna putih dengan taburan permata berwarna senada.

Aku menatap Oma, wanita yang memakai tunik batik berpadu dengan rok sopan berbahan polos, tersenyum membalas tatapanku. Aku tau ia bukanlah tipe wanita pemilih. Selama menurutnya baik, ia tidak akan mempermasalahkannya.

"Oma sih setuju aja, cuma kan yang akan memakainya ini--" ucab Oma sambil menggenggam bahuku.

"Kalau Oma suka, Rini nurut aja, Ma."

Aku tak peduli dengan gaun apa yang akan ku pakai nanti. Semuanya tak akan mengubah apapun. Pernikahanku dengan Riski adalah sebuah kesalahan yang terencanakan.

Ah! Seandainya saja aku punya mesin waktu. Aku ingin kembali ke hari di mana lelaki tua itu memintaku untuk datang ke kantornya. Lalu menolak untuk datang. Sehingga jebakan itu tidak pernah terjadi dan aku tidak perlu menanggung beban hidup seperti ini.

"Rini!" panggilan Irma membuyarkan lamunanku.

"Iya, Bu."

"Kamu gak mau coba dulu, biar lebih yakin. Cocok atau tidak."

Ah! Untuk apa aku mencobanya? Jika bisa memilih, aku ingin menolaknya. Bukan hanya gaun itu saja, tapi semuanya, termasuk pernikahan. Setidaknya untuk saat ini.

"Enggak perlu, Bu! Aku dan Oma udah yakin kok. iya kan, Oma?"

****

Acara akad nikah telah terlaksanakan dengan penuh khitmat dan lancar. Tidak banyak yang hadir. Hanya keluarga, kerabat dekat dan relasi terdekatnya Oma.

Aku melambai tangan mengiringi Mama dan keluarga barunya meninggalkan halaman luas rumah Oma Dwi yang menurut isi surat warisan, sekarang akan menjadi milik aku dan Riski.

Mobil marsedes kelabu itu telah menghilang di balik pintu gerbang pagar. Aku mematung dengan pandangan kosong. Hingga seseorang menyentuh bahuku dari belakang.

"Istirahatlah, Nak! Kamu pasti sangat lelah." ucap Oma Dwi lembut.

Aku mengangguk lalu melangkah mengikuti Oma ke dalam rumah. Kini di rumah ini hanya tinggal aku, Oma Dwi, Riski dan Bi Nur. Sedangkan kedua orang tuanya Riski, setelah selesai acara, mereka langsung pamit pulang. Jika bukan Oma yang memaksa, tentu mereka tidak akan hadir.

Tubuh ini sudah sangat letih. Aku menuju kamar yang katanya kamar pengantin. Tentu ini bukan kehendakku. Oma Dwi yang memaksa.

Ragu-ragu aku memutar kenop yang ternyata tidak terkunci. Di atas ranjang yang telah di hias seindah mungkin, Riski tidur terlentang. Ia hanya mengenakan kaos putih dan celana selutut. Sepertinya saat ini, lelaki itu telah berada di alam mimpi.

Aku menuju kamar mandi dengan membawa handuk juga baju ganti. Berpakaian gaun pengantin seharian, membuatku gerah juga kesulitan.

Sambil melepaskan apa yang aku kenakan, aku mematut diri di depan cermin westafel. Menatap bayang sendiri dalam cermin. Benarkah aku telah menikah? Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan? Maafkanlah hamba karena telah membohongi semua orang.

Guyuran-guyuran air yang terpancar dari shower, tak mampu membuat pikiranku kembali segar. Aku memejam mata, mencoba menepis semua hal yang telah mengisi rongga hati dan kepalaku. Berharap ini hanyalah sebuah mimpi. Ya Allah. Tolong kuatkanlah hamba dalam menghadapi semua ini.

Setelah berganti baju. Aku melangkah keluar dari kamar mandi. Setengah terkejut mendapati lelaki yang telah sah menjadi suamiku duduk di tepi ranjang, menatapku dengan pandangan yang menurutku menjijikan.

"Kau sudah bangun," ucapku mencoba menghilangkan kecanggungan.

Bukannya menjawab, lelaki itu malah tersenyum nakal memindaiku dari atas hingga bawah. Beruntung aku sudah menggunakan pakaian lengkap beserta hijab.

Aku mulai cemas. Takut terjadi sesuatu di luar dugaanku juga di luar perjanjian yang kami sepakati.

"Aku tidak tau, jika saat tidurpun seorang wanita harus menggunakan hijab. Ku pikir hijab itu hanya di gunakan jika keluar rumah atau saat bertemu dengan lelaki noh muhrim. Ternyata saat bersama dengan suamipun, seorang istri juga wajib berhijab." celotehnya sambil memainkan beberapa kelopak mawar yang bertabur di atas ranjang.

Sejenak aku bergeming. Ada apa dengan lelaki itu? Apa dia sudah lupa dengan perjanjian yang telah ia buat sendiri? Bahwa meskipun telah menikah. Antara aku dan dia tetaplah orang asing.

"Oma memaksaku untuk tidur di kamar ini. Jadi, kamu yang tidur di atas atau aku?" tanyaku sambil menatap bunga mawar di atas nakas. Sedangkan kedua tangan menyilang ke dada.

Lelaki itu terkekeh, dari ekor mata aku dapat melihat, pandangannya mengarah ke wajahku.

"Menurutmu, posisi mana yang paling menyenangkan? Atau kita coba kedua-duannya."

Kembali aku bergeming, pura-pura tidak tau kemana arah pembicaraannya. Sekilas aku memindai wajahnya yang sejak dari tadi menyuguhkan senyuman nakal. Aku jadi curiga, jangan-jangan ia sedang membayangkan malam pertama kami. Ah! Lelaki itu semakin tidak waras.

"Kamu mau kemana?" tanya Riski saat aku memungut salah satu bantal dan guling di sampingnya.

"Tidur di lantai." jawabku ketus.

"Oh! Padahal apa salahnya berbagi ranjang, kitakan sudah sah jadi suami istri."

Aku membating kedua benda empuk itu di lantai. "Sudahlah Riski. Kamu jangan lupa, kita ini pura-pura menikah, jadi menjadi suami istripun pura-pura." ucapku dengan penuh penekanan.

"iya aku tau, tapi--"

"Tidak ada tapi-tapi. Aku lelah. Mau istirahat. Jadi tolong jangan ganggu aku. Tolong."

Aku tidak tau pasti kapan diri ini mulai terlelap. Hingga suara alarm dari ponsel berdering nyaring. Sambil menggeliat aku meraba-raba sumber suara lalu mematikannya.

Tanpa sengaja tangan kananku menyentuh sesuatu yang hangat. Memaksaku untuk menoleh dan membuka mata.

"Riski!" begitu terkejut karena mendapati lelaki itu terlelap di sampingku dengan dada bidang yang terbuka.

Sambil menyibak selimut. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya telah terjadi. Bukankah semalam aku tidur di lantai? Lalu apa ini? Kenapa malah terbangun di samping pria itu. Apakah aku naik ke ranjang sambil terlelap? Atau?

Bersambung ...

1
Remince Silalahi
iiiiihhh itu arini bodo ato buta tuli dll sdh dihianiti di fitnah kdrt masih aj berbunga2 hati cuma ramuan sedikit g kls
Remince Silalahi
usirlah semua yg menjadi bokicot itu rini
Remince Silalahi: 💪😍👍🤣😍😍😍😍😍😍👍👍👍
total 1 replies
Hap£!π
endingnya krg greget thor
gmn kbr keluargga galuh
Hap£!π
kok ak deg2an ya thor bacanya
Hap£!π
baru nemu thor
😘
jejak dlu
halutiaphari
semangat💪
TK
lanjut 👍
Hannah
Makasi sudah mampir..hehe
♋Ichageul💞
Hai kemana aja baru up lagi? semangat terus ya
Vanni Maulida
arini terlalu bodoh
halutiaphari
Apa cuma aku ya yang merasa kesal sama sikapnya Riski , dia terlalu plin-plan. Seharusnya jika mencintai Arini tidak perlu main kasar terlebih lagi main tangan.

Maaf ya author, aku jadi ikutan kesel sama Riski 🙏
TK
lanjut
NinLugas
kk aq hdr jgn lp mmpir balik ka
Hannah: makasi ya.
ia..🤗
total 1 replies
Jungkook wife
"Istri yang Terabaikan" Datang lagi memberikan like nya. Maaf telat berkunjung, Tapi saya selalu mendukung karya Kakak. Mari saling mendukung, ditunggu Feedback nya selalu. Terimakasih.
Elisabeth Ratna Susanti
suka😍
Rini Rahma
kak, jangn konflik terus nah. kasih arini dan riski bahagia gitu
Hannah: ia, Dek.
makasi y tuk masukannya.
ini rencana mau kk endingkan jdi kk buat konflik dulu sebelum berakhir
total 1 replies
♋Ichageul💞
Ayo tetap semangat dong. Banyak kok yang nunggu kelanjutan kisah Arini dan Risky💪
Hannah: Makasi, Kak
total 1 replies
Kohaku
First
TK
lanjut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!