Sekuel dari novel Rafania Amora. Author sarankan sih baca dulu novel Rafania Amora. Tapi kalau malas dan ingin langsung baca novel Stay With Me pun juga tak apa. Suka-suka.
Aleta Zeline Al Malik.
Gadis yang baru berusia 19 tahun itu terus merengek pada papanya setelah tidak mendapatkan persetujuan dari sang mama. Terus membujuk dan meyakinkan mereka agar dapat menyetujui keinginannya. Melanjutkan pendidikannya di Jakarta.
Hingga pada akhirnya dia pun berhasil mendapatkan persetujuan dari keduanya. Tanpa di duga olehnya, pertemuan yang tidak sengaja dengan seorang lelaki telah membuatnya masuk kedalam sebuah masalah yang mengakibatkan mereka harus menikah.
Pernikahan dadakan pun terjadi. Sosok pemuda dengan ketulusan dihatinya telah bersanding dengannya. Begitu sabar dan menerima setiap hal yang dilakukan olehnya.
Setelah menjalani kehidupan baru mereka sebagai sepasang suami-istri, berbagai peristiwa satu persatu bermunculan, hingga tanpa disengaja hubungan antara mereka pun menguak rahasia di antara kedua orangtuanya.
Berulang kali takdir menguji cinta mereka, hingga suatu ketika terjadilah peristiwa yang semakin membuat mereka terpuruk.
Yuk langsung baca novelnya..
ig : Faray_glad
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon faray_glad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
" Jaga diri baik-baik. ! Jangan suka molor bangunnya ! Sekarang kamu sudah jadi seorang istri. Kamu bisa lihat mama kan. Bagaimana mama melayani papa kamu. Mama harap kamu bisa memperlakukan Ino sama hal mama memperlakukan papa kamu " tutur Nia
Pagi-pagi sekali, setelah sholat subuh. Ammar beserta keluarga besarnya telah bersiap untuk segera kembali pulang ke Malaysia.
Zeline yang terus merengek minta agar mereka lebih lama berada di Jakarta, namun tetap tidak bisa menahan mereka untuk tidak kembali pulang. Hingga disinilah mereka sekarang berada, Bandara internasional Soekarno Hatta.
Zeline mengangguk kecil.
" Iyah, ma. Akan zeline usahakan. " jawabnya yang disusul dengan gerakan tubuhnya yang memeluk wanita tua itu. Zeline kembali menangis.
" Zeline, sayang mama. " ucapnya dengan memeluk tubuh mamanya dengan erat, bibirnya bergetar karena menahan Isak tangisnya.
" Sama papa gak sayang, ni " sahut Ammar yang sejak tadi menunggu kedua wanita itu saling memberikan ucapan perpisahan.
Zeline meleraikan pelukannya. Senyumnya melebar ketika melihat sosok lelaki paruh baya yang tampak masih sangat gagah dari usianya. Namun, wajahnya tetap basah akibat menangis.
" Zeline juga sayang, papa. Banggeeett. Kenapa papa gak pindah disini aja, sih ? " ucap zeline yang kemudian beralih memeluk papanya dengan sangat erat
" Perusahaan pusat kan berada di Malaysia, sayang. Papa gak bisa ninggalin gitu aja. Besok pun jika kalian sudah lulus kuliahnya. Papa berharap, kalian bisa ikut tinggal bersama disana " jelas Ammar
" Sudah, Jangan nangis lagi dong. ! Gak malu apa dilihatin sama suami " ledek Ammar
Keduanya saling melepaskan pelukannya. Ammar mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah putrinya yang tampak kacau karena terlalu lama menangis.
Kemudian zeline memajukan kembali tubuhnya dengan wajahnya yang mendekat kearah telinga.
" Pa, jangan lupa jam tangan yang ku pesen kemarin yah " bisik zeline yang membuat ammar terkekeh
" Minta sana, sama suami kamu " jawab Ammar dengan melirik kearah Ino yang saat ino juga sedang memperhatikan putrinya.
" Minta apaan, pa ? " sahut khal yang merasa penasaran.
" Papa.. Iiihhh " ucap zeline kesal bercampur malu.
" Bocah, gak usah ikutan urusan orang dewasa " ucap zeline kearah khal
" Dewasa apanya ? Kita itu sama, incess " balas khal yang membuat semuanya menjadi tertawa
Bukan karena apa, memang pertumbuhan khal dan keen sangatlah baik. Sehingga kini diusianya yang baru 12 tahun, kedua bocah laki-laki itu tampak melebihi batas kewajaran. Hingga postur tubuh mereka hampir sama dengan tubuh zeline.
" Khal, sudah.. Jangan godain kakak kamu terus ! " tutur Ammar
" Iyah, ntar nangis sampe rumah.. Bilang kangen " sahut Nia
Mendengar penuturan dari mamanya, membuat zeline tertawa puas melihat kedua adiknya yang sedang menahan malu.
" Sini, bocah besar. Peluk kakak incess " ucap zeline sembari merentangkan kedua tangannya. Bersiap untuk menyambut pelukan dari kedua adik kembarnya.
Tak menunggu lagi kedua adik kembarnya itu segera melangkah besar untuk menghampiri kakaknya dan segera memeluknya erat.
" Kak, keen bakal kangen sama kakak " ucap keen lebih dulu.
Tanpa diduga jika saat ini keduanya sudah menangis di dalam pelukannya.
Ammar dan Nia hanya tersenyum tipis melihat ketiga anaknya.
Sedangkan Ino menatap kearah istri dan adik iparnya itu dengan tatapan sendu. Merasakan sesuatu yang berbeda didalam hatinya. Seakan membuatnya menghangat walau hanya menatapnya saja.
Dia sungguh iri melihat keharmonisan keluarga istrinya tersebut. Bahkan dia dan farel saja jarang untuk saling berbicara apalagi untuk bercanda.
Namun, dia merasa berbeda ketika sedang berkumpul bersama dengan khal dan keen. Kedua bocah itu sangat menyenangkan bahkan dihari pertama kali mereka kenal.
" Kak Ino, tolong jaga incess ku baik-baik, yah... " pinta khal dengan gerakan tiba-tiba yang menghampiri dirinya bahkan belum sempat Ino mengiyakan atau menyanggupi permintaan adik iparnya itu.
Tubuh khal sudah lebih dulu memeluknya. Kemudian disusul dengan keen yang juga memeluknya.
" Tolong jaga incess kami yah, kak ! " pinta keen
" Hem.. Pasti. Kalian tidak perlu khawatir. Incess kalian pasti akan baik-baik saja " ucap Ino dengan tersenyum lebar
" Sudah.. sudah.. Jika kalian terus saja melakukan drama, kita akan terlambat sampai rumah dan kalian akan bolos lagi " tutur Nia
" Khal, keen.. Sudah ! " tutur Ammar.
Kini keduanya telah meleraikan pelukannya. Mengusap wajahnya yang sudah basah dengan kasar.
Ino perlahan melangkah mendekati nia dan Ammar. Tangannya meraih tangan Nia untuk diciumnya, begitupun dengan Ammar.
" Hati-hati ma, pa " ucap Ino
" Iyah.. Kami titip zeline yah, no. Dia sedikit bandel. Jadi papa harap kamu bisa sabar menghadapinya " tutur Ammar
" Iyah, pa. "
" Bye.. Kami berangkat dulu " ucap Nia
Kini seluruh keluarga besar Ammar telah berbalik. Mereka semua tampak melambaikan tangannya dengan terus melangkah menuju pintu khusus bagi mereka yang menggunakan pesawat pribadi.
" Ayo kita pulang ! " ucap Ino setelah sekian menit mereka masih berdiam diri ditempatnya. Bahkan ketika keluarga besar dari istrinya sudah tak terlihat lagi.
Zeline menoleh kearah Ino dengan tajam.
" Jangan berlaga sok baik di depan orang tuaku. ! Bahkan pernikahan kita terjadi karena keterpaksaan. Jadi, jangan berani kamu berbuat macam-macam padaku. ! "
" Satu hal lagi, setelah kuliah mu selesai. Aku ingin kita segera berpisah " ucap zeline dengan sengit
Ino tertegun menatap wajah cantik zeline yang sedang memadam menahan amarahnya. Baru saja dia ingin membuka suara, namun zeline lebih dulu pergi meninggalkan dirinya.
Ino mengusap wajahnya kasar.
" Aku tidak pernah menganggap pernikahan ini sebuah permainan. Lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti ! " gumamnya sendiri sembari kedua matanya masih terus menatap kearah istrinya.
***
" HHAAAAAHHHHHH "
" AAAAPPPPAAAAA ?? "
ucap kedua sahabat Ino yang saling bersahutan.
Bukannya ikut pulang bersama dengan sang istri. Kini ino sedang berada di cafe biasa tempatnya berkumpul dengan kedua temannya.
" Lo, nikah beneran ? " tanya Erick
" Gak.. Pasti Lo sedang bercanda kan " sahut gery
Ino hanya menggeleng pelan sembari meneguk kembali minumannya.
" Mana mungkin aku bercanda. " ucap Ino yang kembali membuat kedua temannya melotot tak percaya
" Eh, seriusan Lo " ucap Gery
" Iyah serius. "
" Kok bisa ? Siapa ceweknya ? " tanya gery
" Iyah, kan Lo gak punya cewek " cetus Erick
" Sial, lo. Ceritanya panjang. " ucap ino
" Bentar lagi gue pasti jarang kumpul. Mertua gue udah kasih kerjaan " lanjutnya
" Ampun.. Lo beneran, no ? Iiiiiisss.. gua masih gak percaya deh. " ucap Gery
" Terserah. " ucap Ino yang saat ini sedang duduk dengan malas
" Eh.. eh.. Kalau Lo udah nikah, mana mungkin pengantin baru berjauh-jauhan kayak gini. paling juga gas pol nih di dalam kamar. Iyah gak, Rik " ucap gery
Seketika itu Erick menjadi antusias untuk kembali mengorek informasi.
" Iyah, trus Kenapa Lo ada disini. ? Gak nemenin istri Lo dikamar. Main adik-adikkan " ucap Erick
" Sial.. Emangnya gue Gery yang suka mainan adik-adikkan " Balas inodwngan sedikit kesal
Hahahahha
" Mana ada pengantin baru gak suka main begituan. Lo bohongin kita, yah " ucap gery
" Lagian, mana ada pengantin baru wajahnya kusut begini. " sahut erick
" Dasar, kalian berdua tambah bikin pusing " ucap Ino dengan kesal.
Ino yang hendak beranjak dari duduknya seketika itu tangannya ditahan oleh Gery dan Erick.
" Heh, ceritain dulu biar kita percaya. Main pergi aja " ucap Erick
" Iyah.. Ceritakan pada kami ! Biar beban Lo berkurang " tutur gery
Kemudian Ino kembali terduduk ditempatnya yang tadi. Lelaki itu kini mulai membuka suara. Memulai menyerukan keadaan beberapa hari yang lalu. Dimana awal mulanya tragedi membawanya berujung pada sebuah pernikahan.
Kedua teman Ino hanya terperangah mendengar cerita Ino yang lebih mirip dengan sebuah film.
" Gila.. Lo beruntung banget bisa nikahin cewek cantik itu. " ucap Erick
" Eh, tapi gue heran. Kenapa dia gak tertarik yah sama Lo " ucap Gery
" Heemmm.. Pasti dia udah punya cowok idaman " cetus Erick yang kali ini membuat kedua temannya mengalihkan pandangannya. Menatap lekat wajahnya.
" Ada apa ? " tanya Erick yang merasa terintimidasi
" Gak ada. Cuman kali ini lo bener banget " ucap Gery dengan menganggukkan kepalanya beberapa kali
Ino menelan ludahnya sedikit berat.
Aku takkan membiarkan orang lain memiliki mu, zeline.
" Gue balik dulu, yah " ucap Ino dengan tiba-tiba
Melihat Ino yang sudah beranjak berdiri. Membuat Gery dan Erick pun ikut beranjak dari duduknya.
" Eh.. eh.. gue anterin deh. Sekalian pengen lihat rumah baru Lo " ucap Gery
" Ikutan.. " sahut Erick
Kini ketiganya telah pergi dari cafe tersebut. Mereka semua segera masuk kedalam mobil dan Gery segera melajukan mobilnya menuju alamat rumah zeline yang berada sedikit jauh dari tempat mereka sekarang .
Tbc
🙏