NovelToon NovelToon
Tanteku Istri Mafia

Tanteku Istri Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta Terlarang / Mafia
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Modulo12

Willi, pria dengan pemikiran mendalam jatuh cinta dengan teman sekelasnya. Namun, semua tak akan dapat terjadi. Perempuan itu, adik dari pria jahat yang merenggut kebahagiaan tenteku.

Wanita yang terpaksa menikah dan sengsara, Alisya. Adik angkat dari ibunya Willi. Willi dan Alisya memiliki jarak umur yang tak begitu jauh. Cinta, bisa saja hadir diantara keduanya. Namun, pria jahat itu tak akan membiarkannya.
"Semua wanita adalah milikku." Damar, sang pria kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Modulo12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekhawatiran Willi

Pagi itu, Willi sarapan dengan perasaan gelisah yang tidak bisa ia hilangkan. Saat baru bangun tidur tadi, pesan dari dokter Reza telah mengusik pikirannya. Namun, seperti biasa, ia harus tetap berangkat ke sekolah. Pikirannya terasa begitu kacau, tetapi ia tahu bahwa tidak ada cara untuk menghindari kenyataan. Sekolah adalah rutinitas, dan meskipun ia sedang menghadapi masalah besar, kehidupan tidak berhenti hanya karena itu.

Dengan berat hati, Willi mengenakan seragamnya, memasukkan buku-buku ke dalam tas, dan melangkah keluar dari rumah. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, pikirannya terus kembali kepada kak Alisya. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa dokter Reza tidak bisa memberikan lebih banyak informasi? Willi merasakan perutnya sakit, melilit karena kekhawatiran. Yaa, pikiran kacau memang bisa memengaruhi kesehatanmu. Dia tidak bisa berhenti memikirkan kakaknya, yang selama ini selalu menjadi pelindungnya. Sekarang, tiba-tiba, keadaan terbalik.

Begitu sampai di sekolah, Willi berusaha keras untuk fokus pada pelajaran, tetapi pikirannya terus melayang. Di dalam kelas matematika, ia bahkan tidak mendengar penjelasan gurunya tentang persamaan kuadrat. Matanya menatap ke papan tulis, tetapi otaknya sibuk memutar ulang pesan dokter Reza.

Suatu saat, tanpa sadar, ia menjatuhkan buku catatannya ke lantai. Suara buku itu yang terjatuh menarik perhatian seisi kelas. Teman-temannya melihat ke arah Willi dengan bingung, sementara gurunya menghentikan penjelasan untuk menegurnya.

"Willi, kamu baik-baik saja?" tanya gurunya dengan nada prihatin.

Willi tersentak dari lamunannya dan buru-buru membungkuk untuk mengambil bukunya. "Maaf, Pak," katanya, mencoba terdengar normal. "Saya hanya... kurang tidur."

Gurunya mengangguk, meski tatapan khawatir masih tampak di wajahnya. Willi mencoba untuk kembali fokus, tetapi otaknya terasa terlalu penuh untuk bisa berkonsentrasi pada pelajaran. Ia hanya berharap waktu istirahat segera tiba.

Ketika bel istirahat berbunyi, Willi langsung duduk di bangkunya, memandang kosong ke depan tanpa melakukan apa pun. Tangannya terkepal di atas meja, sementara napasnya teratur namun berat. Dia berusaha menenangkan diri, tetapi kecemasan terus-menerus menyerangnya dari berbagai arah.

Di tengah kesendiriannya, Intan datang menghampiri meja Willi. Dengan senyumnya yang cerah, ia duduk di sebelahnya, meletakkan tasnya di atas meja dan menatap Willi dengan penuh perhatian.

"Kamu kenapa, sih? Dari tadi kayaknya melamun terus," kata Intan dengan nada ringan, mencoba memecahkan kebekuan. "Lagi mikirin apa?"

Willi tersentak kecil dan menoleh ke arah Intan. Sebuah senyum canggung terukir di wajahnya, tapi di dalam hatinya, dia merasa tidak ingin membicarakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Nggak ada apa-apa, kok," jawab Willi dengan cepat, berusaha terdengar santai. "Cuma... lagi capek aja."

Intan menaikkan alisnya, jelas tidak sepenuhnya percaya. "Capek? Masa iya capek sampai segitu parahnya? Biasanya kamu nggak separah ini, deh."

Willi tertawa kecil, mencoba mengalihkan perhatian Intan. "Iya, mungkin kebanyakan belajar semalam. Aku menyelesaikan tugas matematika itu sampai malam."

Intan mengangguk, meski rasa penasaran masih jelas terlihat di wajahnya. "Ya udah, kalau capek istirahat aja. Nggak usah dipaksain."

Willi mengangguk dan tersenyum, meskipun di dalam hatinya ia merasa bersalah karena harus berbohong kepada Intan. Namun, ia tahu bahwa ia tidak bisa melibatkan siapa pun dalam situasi ini, terutama tidak teman-temannya. Willi merasa bahwa apa yang terjadi dengan Alisya adalah sesuatu yang harus ia hadapi sendiri.

1
setetes tinta
semangat thor
gemar
wowww
Subah Man
rezdod bati bali
Iky Yy
🥰
Modulo: baca teruus
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!