NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Yordan Dan Amara

Takdir Cinta Yordan Dan Amara

Status: tamat
Genre:Cinta Murni / CEO / Kisah cinta masa kecil / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hania

Sejak lama Yordan menyimpan rasa pada Amara, namun rasa itu harus dia simpan dalam-dalam dikarenakan ada sesuatu perbedaan mendasar antara mereka.

Sedih dan sakit tentu saja dia rasakan kini. Omong kosong jika, cinta tak harus memiliki, tapi ia sadar, cinta tak boleh memaksakan diri.

Bisakah Yordan menghapus rasa yang selama ini ia simpan ataukah ia akan menyerah sehingga cinta itu akan menemukan jalannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beatrix oh Beatrix

Aku ingin segera pergi menjauh dari rumah sakit. Pertemuanku dengan Arif membuatku trauma.Tapi mengapa ada saja sesuatu yang membuatku harus ke sana. Ah, mengapa semua melintas begitu saja dalam pikiranku.

Bayangan wajah Yordan yang berbaring lemah di pembaringan, Tanpa daya dan suara. Ia sungguh tak tega. Lalu nenek Yohana, ia sudah cukup berumur. ia pasti lelah dan keletihan.

Hati Amara amat gelisah.Ia memandang kosong pada makanan yang tinggal separuh di piringnya. Makanan itu tak lagi menarik perhatiannya. Selera makannya pun hilang. Ia segera meletakkan sendok dan garpu di atas piring.

"Amara, kok tidak kamu habiskan?" tanya Beatrix.

"Entahlah Beatrix. Aku kepikiran nenek Yohana."

"Hmmm... nenek Yohana atau kak Yordan?" ucap Beatrix dengan canda.

"Jangan bercanda kamu. Kak Yordan sudah punya tunangan." jawab Amara tanpa semangat.

"Baru tunangan saja. Bisa tuh, berpindah ke lain hati " goda Beatrix. Dia tak bisa membiarkan orang yang ada di hadapan nya tak mempedulikannya.

Ada saja yang ia lakukan, agar sahabatnya itu bahagia bersamanya. Dan menghabiskan makanan yang sudah dibelinya. Sayang bukan, kalau sampai terbuang percuma, mubazir namanya.

"Aku nggak ada kepikiran seperti itu, Beatrix. jangan-jangan kamu yang punya keinginan untuk menjadi persinggahan sementara kak Yordan ," jawab Amara dengan cueknya. Canda balas canda, biar impas. Sudah tahu hati sedang gelisah, digodanya pula.

"Kak Ahmad, aku kemana kan," jawabnya tak mau kalah.

"Siapa tahu saja, Kamu yang mau berpindah hati. Karena Kak Ahmad tak mau dijalan bareng saat pacaran.Dan kamu nya kecewa."

Beatrix tersenyum lebar.

"Ada-ada saja. Kita belum resmi juga., Ngapain juga jalan bareng. Nanti bikin iri orang. Hahaha..."

"Tidak jalan bareng, tapi chatting jalan terus tiap malam. Hahaha..."

Ampuh juga, cara Beatrix. Kini Amara tak lagi gelisah. Dia mau menyelesaikan makannya kembali.

"Tentu saja dong. Sebentar lagi, kita akan menikah. Banyak urusan yang harus dimusyawarahkan. Agar semua dapat berjalan lancar."

"Sebentar-sebentar. Serius nih," tanya Amara penasaran. Setahunya Beatrix mengenal Ahmad tak lebih 3 bulan yang lalu. Kok cepat sekali klik, dan menikah.

Beatrix mengangguk.

Hah!!!...Amara membelalakkan matanya. Seakan-akan tak percaya dengan yang Beatrix katakan.

"Benar kah. Kok mendadak sekali Atau jangan-jangan..."kata Amara penuh curiga. la tak melanjutkan kata-kata nya, khawatir akan menyinggung perasaan Beatrix.

Beatrix membalas tatapan Amara dengan tajam. Ia sedikit gemas pada sikap sahabatnya. Jangan bilang kalau dia hamil duluan. Tidaklah...

"Jangan su'udhon dulu . Kami nggak mau pacaran lama-lama. Dari pada nanti bikin dosa, lebih baik disegerakan bukan. Apalagi kami jauh dari orang tua dan satu kampus pula. dan kelihatannya pacaran setelah menikah lebih asik deh." kata Beatrix dengan tawa penuh goda.

Beatrix tak mau kalau sahabatnya sendiri akan berpikir aneh-aneh, selama ini dia sangat ingin 'berpacaran' sesuai dengan agama yang dia anut. meskipun dia sadar, kalau dirinya belum terlalu paham dengan agamanya.

"Wah, kamu kok nyebelin sih. Berita gembira seperti ini. Kamu tidak memberitahuku."

"Bukannya begitu. Aku dan kak Ahmad masih kuliah. ."

"Tapi aku diundang kan?"

"Insyaallah," jawab Beatrix.

"Hm...senangnya yang mau nikah," kata Amara kemudian.

"Kapan kamu menyusul?" tanya Beatrix dengan isengnya .

"Kapan-kapan saja deh. Lagian sama siapa?"

"Sama manusia lah. Masa sama kambing."

Hehehe....

Tanpa terasa makanan yang ada di piring Amara, kini telah kandas. demikian juga dengan piring Beatrix. Tak sebutir nasi pun ada di tempatnya.

Tiba-tiba Beatrix menangkap bayangan seorang wanita yang sudah amat dikenalnya. dia bergandengan tangan sangat mesra dengan seorang laki-laki yang sudah tampak berumur. Mereka berjalan menuju meja kosong yang berada di samping nya.

"Tante Gelcira,"sapa Beatrix dengan senyum bahagia. Dia segera memeluk tantenya dengan hangat.

" Beatrix, sudah. Tante tidak bisa nafas nih," ucapnya sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Beatrix.

"Kamu sama saja sejak dulu. Nggak pernah berubah. Memeluk orang seakan-akan ingin mengantarkannya ke alam kubur," ucapnya dengan bersungut.

"Habis aku kangen sekali sama, Tante."Beatrix pun segera melepaskannya dengan tersenyum sempurna seakan-akan tak terjadi apa-apa.

"Itu suami tante, ya?" tanya Beatrix sambil ekor matanya melirik pada lelaki yang duduk dengan tenang di sampingnya.

Gelcira mengangguk, dan dia langsung memperkenalkan Beatrix pada suaminya.

"Ini ponakanku yang paling manja di keluarga," kata Gelcira

Beatrix pun mengangguk hormat kepada beliaunya. lalu Beatrix pun mengikuti ke tempat duduk Gelcira, meninggalkan Amara seorang diri.

Tante Gelcira seumuran dengan kita-kita, tetapi lelaki di sampingnya sudah tumbuh beberapa lembar uban.Kelihatan sekali kalau umur mereka terpaut cukup jauh. Tapi kalau takdir mau lari ke mana.

Beatrix senyum-senyum sendiri melihat pasangan di depannya.

"Tumben Tante ke sini. Apa mau menjengukku."tanya Beatrix kemudian.

"Maunya...Sudah gede juga masih ingin dijenguk. Sebentar lagi Kamu kan juga akan menikah."

Hehehe... Beatrix tertawa manis hingga gigi-giginya yang putih terlihat berjajar rapi di bibirnya.

"Aku ke sini tuh mau jenguk anaknya mas Gabriel, namanya Yordan. Seminggu yang lalu ia kecelakaan,"

"Jangan-jangan Yordan yang tante maksud adalah Yordan yang baru saja aku jenguk.

"Benarkah,"tanya Gelcira terkejut.

"Bagaimana keadaannya?" tanyanya kemudian.

"Alhamdulillah, tadi dia sudah sadar berkat temanku Amara. Itu dia."kata Beatrix sambil menunjuk ke arah Amara.

Gabriel yang memang sudah gelisah memikirkan keadaan putranya merasa lega, setelah mendengar keterangan dari keponakan istrinya. Ia pun menengok ke arah Amara. Wanita yang membuat Yordan sadar.

Amara yang ditunjuk Beatrix secara tiba-tiba terkejut. dia pun mengangguk penuh hormat kepada Gabriel dan Gelcira, meski dia tidak tahu apa yang dikatakan oleh Beatrix.

Gabriel pun mengangguk, sebagai balasan sapaan dari Amara.Gabriel mengamati Amara dengan seksama. seakan-akan dia merasa tidak asing dengan wajah gadis di depannya. Tapi di mana Dia pernah bertemu.

Tak lama kemudian Gabriel memanggil seorang pelayan dan memesan makanan untuk mereka berdua. Dia membiarkan istri dan keponakannya bercengkrama. Sementara dia menjadi pendengar setia. Sesekali tersenyum melihat tingkah konyol mereka.

"Kok bisa. Apa yang dia lakukan?"tanyanya.

"Kelihatannya dia punya chemistry dengan Kak Yordan," jawab Beatrix dengan asal.

Sementara Beatrix asik ngobrol dengan keluarga tantenya. Amara menunggu dengan sabar pesanan untuk Yohana.

"Wah... ternyata aku sama Kak Yordan saudara dong," gumam Beatrix.

Tak berapa lama, pesanan Gabriel datang bersama dengan pesanan Amara.

Beatrix merasa sungkan sendiri. Dia pun berlalu dari hadapan mereka. Dia kembali ke tempat duduknya bersama Amara.

"Sudah selesai ngobrolnya?" tanya Amara dengan wajah ditekuk. Dia jengkel mengapa kebiasaan sahabatnya itu nggak pernah hilang. Kalau sudah ngobrol, tidak kenal waktu.

Dengan tertunduk malu dan penuh senyuman Beatrix pun mengangguk.

"Eh, bagaimana kalau makanan itu kita titipkan ke tanteku," kata Beatrix mencoba mengalihkan perhatian.

"Emm... ide yang bagus juga kebetulan aku belum memanggil jasa pengantar makanan," jawab Amara.

Untuk saat ini, biarlah berjalan sesuai rencana. Kembali ke kampus untuk kuliah. Besok saja, aku menemuinya. Sekalian berpamitan.

Keduanya pun menghampiri Gelcira.

"Tante aku titip ini ya, untuk nenek Yohana,"kata Beatrix.

"Lha, kenapa tidak kalian antar sendiri?"

"Aku ada kuliah tante. Titip ya," kata Beatrix

"Baiklah."

"Insya Allah besok kami akan menjenguknya lagi."

Gabriel tersenyum kecil, melihat keponakan barunya. Yang dengan cueknya menitipkan makanan pada tantenya. Ada-ada saja, pikirnya.

1
Tien
co cuit 🥺
Tien
Alhamdulillah akhirnya sah
Tien
ceritanya menggemaskan
Tien
akhirnya, lama sekali kakak
Tien: ya Allah sehat selalu kakak
total 2 replies
Tien
terima kasih
Tien
in syaa Allah Allah mudahkan untuk kakak
Hania
mohon dukungannya ya... kedepannya bisa update setiap hari
Tien
ye .....kakak dah up lagi, terima kasih
Tien
Maacih kakak
Tien
lagi.... lagi.... semangat kakak
Tien
kakak terima kasih
Tien
ah....kakak kenapa kepotong disini kan jadi kesel aku 😭....... penasaran harus nunggu lagi. cepat up lagi ya kak
Tien
terima kasih up-nya kak & ditunggu lanjutannya
Tien
terima kasih up-nya kak
Tien
semangat terus kakak
Tien
up yang banyak kak
aku dah sabar menunggumu ❤️
Tien
hayu kakak semangat untuk berkarya
Hania
maaf beribu maaf, jika update sangat lama, banyak kesibukan di dunia nyata sehingga sulit menemukan waktu untuk menulis.🙏🙏🙏
Tien
justru selalu menunggu up nya kak
Hania
Alhamdulillah sudah 14 bab.
jangan bosan untuk baca karyaku. ♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!