Bagaimana jika jiwamu bertukar dengan orang yang sangat kamu benci, pria yang selalu mengolok-olok mu karena penampilanmu yang culun?!
Denada seorang siswi berkacamata tebal dengan kawat gigi dan buku ditangannya, Si Empat Mata adalah julukan yang sudah melekat dengannya. Habis habisan merasakan Bullying di Sekolah baik dari teman wanita ataupun pria. Seorang pria yang sangat ia benci bernama Rendra juga sering ikut mengerjainya.
Tiba-tiba mendapatkan accident dan bertukar jiwa dengan Rendra, semua kehidupan menjadi berputar sekarang?!
Bagaimana Denada menjalani kehidupan barunya dengan memakai tubuh pria, dan Rendra yang harus merasakan menstruasi untuk pertama kalinya?!
Read More...
Si Empat Mata Reborn.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vietha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 | Nada Kalung Lo...
Kelanjutan cerita kemarin...
"Hukk... Hukk... "
Rendra yang saat ini tengah asik bermain game di kamar mungil Denada tiba-tiba tersedak tanpa sebab.
"Duh, kok perasaan gue gak enak nih!"
Sejenak Ia terhenti dari ponselnya, Rendra melihat ke sekeliling kamar dan merinding tiba-tiba. Orang tengah asik bermain game, tak ada angin hujan kok tiba-tiba Ia tersedak pikirnya.
"Halaah... habis kan nyawa gue... "
Tak payah memperdulikan itu, Ia kini kembali melanjutkan game-nya yang hampir lose itu.
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Dilain sisi saat ini Denada masih bercermin dalam bilik kamar Rendra, ia yang memperhatikan pantulan diri Rendra dengan teliti sambil memegangi alat pencukurnya memang berniat untuk membalas budi Rendra.
Namun Nada tetaplah Nada, ia berfikir layaknya seorang perempuan yang senang kebersihan, melihat bulu-bulu Rendra yang begitu banyak inisiatifnya ingin merapikan semua bulu-bulu ini agar Rendra senang pikirnya.
Saat ini Denada sudah siap mencukur bulu di wajah Rendra, namun baginya ini masih terasa kurang. Mata Nada melihat ke arah kaki Rendra yang penuh dengan bulu lebat keriting kini.
"Ah kayaknya kalau pake alat cukur gak selesai ini, di waxing aja lah ini!"
Selang beberapa waktu paketan alat waxing yang dipesannya datang, Denada langsung sigap merapihkan bulu-bulu di kaki Rendra.
Wraaapp... Wraaap...
Suara tarikan dari kertas waxing terdengar nyaring. Bukan hanya nampak rapi, tapi saat ini kaki Rendra sudah mulus bagai singkong tanpa kulit. Memang sangat mulia sekali niat hati Nada ini ya. Haduuh.
"Waah udah cantik kakinya, Rendra pasti senang, hihi... "
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Keesokan hari di Sekolah.
Hari masih pagi Denada sudah sampai di Sekolah. Ia berjalan dengan riang menggunakan tubuh Rendra yang sudah dirapikan dan di bersihkannya sejak semalam.
"Rendra... "
Dalam langkahnya ada seseorang yang terus memanggil dari arah belakang namun Nada tetap tak berbalik.
"Rendra!" ucap Tyo kini yang sudah sampai mendekat sambil memegangi bahu Nada.
[Ah Tyo, duh mimpi apa gue semalem Tyo ngedatengin gue]
Seketika Denada terhenti dan terdiam mendapati pemandangan yang dilihatnya dari dekat kini. Matanya mulai berbinar menatap Tyo pagi-pagi sudah mencarinya, kakinya mulai melambai dan tanpa sadar jemari ikut menyangkutkan rambut pendek itu ke telinga.
"Rendra, ye... pagi-pagi kok malah bengong!" sentak Tyo menyadarkannya.
[Astaga Rendra, oiya gue lupa Tyo kan liat gue Rendra, yaah berarti tadi dia nyariin Rendra dong, duh Nada]
Setelah selesai bergumam dalam pikirannya akhirnya Denada mulai menegapkan badannya kini dan berakting sebagai Rendra di depan Tyo.
"Oh iya Tyo ada apa?!"
"Ini Ndra ada yang mau gue omongin sama lo!"
Mereka mulai dalam pembicaraan yang serius kini di depan gerbang Sekolah.
"Gue suka sama Nada Ndra! Gue mau ngedeketin dia!" ucap Tyo di sana dengan jelas.
Denada yang mendengarkan hal itu, walaupun kini Ia masih menggunakan identitas Rendra, namun satu kalimat yang barusan Tyo bilang sangatlah membuatnya senang.
Bagaikan mendengar ledakan kembang api meriah dalam pikirannya, duaar... duaar...
Denada langsung terbuai dalam angan-angan. Senyuman merekah lebar dan kembali lagi Ia terdiam terpana melihat ketampanan seorang Tyo dihadapannya.
"Gue suka sama Nada, dia anak yang baik, bahkan sebelum dia jadi cantik seperti sekarang ini, gue sering liat dia baca buku di perpustakaan dulu, Nada..."
Tyo saat ini mulai menjelaskan hal panjang lebar mengenai Denada kepada Rendra yang dikiranya itu. Tyo berbicara serius sambil membalikkan badannya, Ia hanya fokus berbicara sendiri.
Sedangkan Denada yang terbuai dalam lamunan kini tanpa sadar sudah mulai memonyongkan bibirnya. Sungguh pemandangan aneh jika dilihat orang, dan benar saja tak lama Rendra yang barusan tiba di Sekolah menyaksikan hal itu dari kejauhan.
"What?!" (╬ 〇ₒ〇)
Mata Rendra langsung terfokus pada bibir Denada, eh bukan bibirnya yang makin maju ke arah Tyo yang masih membelakanginya di sana. Tentu saja Rendra langsung naik darah.
Ia dengan cepat berjalan diam-diam mendekati Denada dan menutup mulutnya sambil membawanya pergi dari sana secepatnya sebelum Tyo melihat.
"Jadi gitu Ndra, gue sebagai teman minta lo jangan gangguin Nada lagi... " ucap Tyo kemudian yang telah selesai sambil membalikkan badannya.
Namun yang Ia dapati sekarang Rendra yang diajaknya bicara tadi sudah tak ada lagi di sana, Tyo hanya bisa menggaruk kepalanya sambil menoleh kanan dan kiri.
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Saat ini di Koridor Tangga Sekolah.
"Ihhh... lepasin Rendra apaan sih!"
Denada langsung membuka kuncian tangan Rendra darinya sesampainya di basecamp mereka. Tangga keramat ini, pagi-pagi sangat sepi. Ditambah dengan emosi yang terlihat dari raut wajah Rendra kali ini membuat Denada seketika menelan ludah setelahnya.
"Lo ngapain tadi di gerbang monyong-monyong gitu, gila ya udah, untung si Tyo gak merhatiin lo, wah kacau nih udah, bisa abis reputasi gue gini ceritanya!"
Cecar Rendra dengan cepat memarahinya. Denada hanya bisa diam dan tertunduk mendengarkan omelan Rendra di sana.
"Maaf Ndra... " ucap Denada sambil menggoyangkan badannya.
"Tegap! Tegap gini lo, duh Nada... ugght!"
Rendra mulai geram dan sudah gatal ingin mencekiknya, ya namanya juga perempuan kan.
"Yaudah iya tegap nih, oiya coba deh lo liat penampilan lo hari ini, semalam gue rapiin, bagus kan... " lanjut Denada cengengesan sambil menirukan gaya Rendra.
Sejenak Rendra memperhatikan satu persatu dirinya, Ia melihat wajahnya sudah bersih dari bulu, berarti Denada habis mencukurnya semalam pikirnya.
"Wait, jangan bilang kalau... "
Sontak tangan Rendra langsung dengan cepat menaikan celana panjang itu. Jelas saja matanya melotot seketika, Ia kini melihat kakinya sudah mulus seperti kaki wanita, tak ada sehelai pun bulu di sana.
"Nada... ini bulu kaki gua kemana?!"
"Udah Nada bersihin semalam, buat bilang makasih ke Rendra udah bantuin Nada jadi cantik... " ucap Denada dengan polosnya.
"Yaa Tuhan... " (˚ ˃̣̣̥⌓˂̣̣̥ )
Rendra langsung terduduk dan frustasi di sana, bulu kaki lebat yang selalu dipeliharanya dengan baik selama ini telang hilang dimutilasi Nada.
"NADA!" teriak Rendra kesal.
Ia mulai bangun dan nampak marah, tentu saja Denada langsung panik, apa yang salah pikirnya. Rendra dengan cepat mendekat dengan tangannya seraya ingin mencekik Denada, seolah dalam bahaya Denada juga seketika berusaha menghindar.
Mereka berputar-putar ditepi tangga itu lagi, kejar-kejaran kesana kemari. Tiba-tiba kaki Nada terpeleset dan hampir jatuh lagi ke tangga, namun kali ini Rendra sigap menangkapnya.
Ia menarik tangan Nada dan mereka berdua tersungkur kelantai dengan posisi bertindihan saling berhadapan. Suasana hening sejenak di sini, emosi Rendra tiba-tiba jadi hilang sesaat.
Posisi yang sama seperti mereka terakhir kali terguling dari tangga, namun kali ini tidak terjadi kecelakaan seperti waktu itu.
Tiba-tiba fokus Rendra berpindah saat melihat kalung yang dikenakan Denda berubah warna menjadi Merah.
"Nada kalung lo... "
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Lanjut di Next Bab.
siapa yg datang...nada kah..??
author memang suka bikin penasaran
trus ciuman lagi tukar lagi
ternyata masih dipertimbangkan ya🤭🤭