Hai guys ini karya baruku, jika ingin tahu awal mula kisahnya silahkan baca dulu judul sebelumnya...
👉 Harga diri yang terjual
👉 Liontin (petaka cinta Cantika)
Nggak baca juga ngga apa-apa , senyamannya Readers ku saja.
Next...
Aku seorang dokter, wajahku tampan ala Oppa Oppa Korea. Aku memang seperti anak mami. Kulitku putih bersih rajin perawatan.
Tapi jangan sepelekan aku. Selain ahli mengobati aku juga pandai mematahkan tulang jika kalian mengusikku.
Mau coba...
Hargai karyaku dengan ⭐5, like, vote, and gift. Jangan lupa komen.
Salam damai dari Author 👊✌
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyn malini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengikis jarak
Tempat yang paling ingin dikunjungi Julian setelah tiba di Jakarta adalah rumah sakit. Bukan untuk bekerja, melainkan untuk memeriksa kandungan Sahara.
Julian ingin memastikan kondisi kesehatan anak dan istrinya secara menyeluruh. Setelah itu, barulah ia merasa lebih tenang dan mulai memikirkan langkah selanjutnya.
“Bagus, janinnya berkembang dengan baik. Istirahatlah yang cukup, perhatikan pola makan dan konsumsi vitamin. Satu hal lagi yang paling penting, yaitu susu,” jelas Dokter Sani sambil memperhatikan layar monitor dengan saksama.
Julian mendengarkan dengan seksama. Pandangannya beralih dari layar monitor ke arah Sahara. Rasa haru bercampur bahagia tak mampu ia sembunyikan. Bahkan, bibirnya tak henti-hentinya tersenyum.
Tanpa rasa sungkan, Julian mengecup kening Sahara. Tindakan itu membuat Sahara merasa sangat malu di hadapan Dokter Sani, sedangkan Julian melakukannya dengan wajar. Dokter Sani tertegun melihat sikap temannya yang berbeda dari biasanya.
Sebuah map mendarat tepat di kepala Julian, hingga membuat Sahara terkejut. Sementara Julian hanya bisa mengaduh sambil menatap pelaku perbuatannya. Siapa lagi kalau bukan Dokter Sani.
“Halalkan dulu anak orang… main cium-cium saja!” ujar Dokter Sani dengan wajah kesal.
“Sudah kok, hanya malam pertamanya saja yang belum,” jawab Julian dengan santai. Wajah Sahara makin memerah mendengar ucapan suaminya yang tak ada batasannya.
“Benarkah?” Mata Dokter Sani membulat tak percaya. “Baguslah, itu baru laki-laki sejati. Jaga Sahara dengan baik, jangan sampai ia pergi lagi karena kebodohanmu,” nasihat Dokter Sani sambil menatap Julian yang tersenyum bangga dengan sikapnya yang terlihat sombong.
“Tentu saja, tidak perlu khawatir. Baiklah… kami pulang dulu, istriku pasti sudah lelah.” Julian bangkit dari tempat duduknya dan membantu Sahara turun dari ranjang pemeriksaan.
“Jangan dulu mengganggu Sahara, tunggu satu bulan lagi baru boleh,” ujar Dokter Sani sebelum Julian melangkah keluar dari ruangan itu.
“Ya… aku sudah mengetahuinya.” Raut wajah Julian langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Ia keluar sambil menggenggam erat tangan Sahara. Sementara itu, Sahara yang mengerti maksud Dokter Sani hanya bisa menunduk karena malu. Keduanya berjalan menuju area parkir khusus petinggi rumah sakit.
“Lelah?” tanya Julian sambil memasangkan sabuk pengaman untuk Sahara.
Sahara hanya mengangguk sembari memejamkan matanya. Dua hari terakhir terasa sangat melelahkan baginya. Pernikahan yang mendadak, peristiwa yang menegangkan, dilanjutkan dengan perjalanan jauh tanpa persiapan. Terlebih lagi setelah efek obat penenang yang diberikan Julian habis, ia menjadi sulit tidur kembali selama perjalanan di pesawat.
Akibatnya, saat ini matanya terasa sangat berat. Mungkin karena kondisi kehamilan membuatnya mudah lelah belakangan ini.
“Tidurlah…” Julian kemudian mengatur posisi kursi Sahara agar dapat direbahkan, sehingga ia bisa beristirahat dengan nyaman.
Tanpa menjawab, Sahara langsung berbaring senyaman mungkin. Tak butuh waktu lama, napasnya terdengar teratur, menandakan ia sudah terlelap.
Julian tersenyum tipis melihat istri barunya itu tidur dengan lelap. Bahkan ketika Julian menyelimuti tubuhnya dengan jaket, Sahara tidak terganggu sedikit pun.
“Kamu terlihat sangat menggemaskan saat tidur, sayangnya aku harus menahan diri,” gumam Julian pelan.
Ia mengemudikan mobilnya dengan hati-hati agar Sahara dapat beristirahat dengan tenang. Sesekali ia melirik ke samping untuk memastikan keadaan istrinya. Hingga akhirnya mobil mewah itu berhenti tepat di depan sebuah rumah besar berlantai tiga.
Tanpa membangunkan Sahara, Julian menggendongnya dengan sangat hati-hati. Ia membaringkannya di atas kasur berukuran besar di salah satu kamar di lantai dua. Julian menatap wajah Sahara yang tampak tenang dalam waktu yang lama. Tangannya perlahan bergerak mengusap kepala wanita itu, merapikan helaian rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
Setelah memastikan Sahara tidur dengan nyenyak, Julian menghela napas panjang sebelum akhirnya melangkah menuju ruang kerjanya di lantai tiga. Masih banyak hal yang harus ia selesaikan.
“Ed, kita harus bertindak cepat sebelum orang-orang jahat itu mengganggu anak dan istriku,” ujar Julian saat berbicara melalui telepon. Orang yang diajak bicara itu tak lain adalah Edward.
“Ini sangat berisiko, Jul! Kita butuh dukungan yang lebih kuat. Mereka bukan penjahat biasa,” jawab Edward dari seberang telepon.
“Aku tidak peduli, Ed. Keselamatan Sahara adalah prioritas utamaku. Atau jangan-jangan kamu takut?” tanya Julian dengan nada menyindir.
“Kau terlalu meremehkan situasi, Julian. Jika aku penakut, tentu aku tidak akan bekerja seperti ini. Aku hanya tidak ingin kita mengalami kegagalan karena kurang persiapan,” jawab Edward.
“Kau ingin menjaga istrimu, aku mengerti, tapi jangan sampai bertindak tergesa-gesa,” lanjutnya.
“Begini saja, aku akan mencari orang yang dapat membantu kita. Dia teman lamaku. Semoga saja ia bersedia memberikan bantuan. Untuk saat ini, nikmati saja masa-masa sebagai pengantin baru. Urusan lain serahkan kepadaku,” ujar Edward.
Edward memahami kecemasan Julian. Ia sangat mengenal sifat sahabatnya itu—Julian akan melakukan apa saja demi melindungi keluarganya, bahkan rela menjadi tameng bagi mereka.
“Baiklah, Ed. Aku serahkan urusan ini kepadamu. Kabari aku segera jika ada perkembangan apa pun. Aku ingin mengadakan resepsi pernikahan, namun sebelum itu aku harus memastikan keamanan istri dan anakku,” jawab Julian.
“Baik, aku mengerti.” Sambungan telepon pun terputus.
Julian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerja. Rasa lelah mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia memejamkan mata sejenak untuk mengurangi rasa penat.
Namun, ketukan pintu dari luar membuyarkan kesadarannya yang hampir saja terlelap.
“Masuklah…”
Sesosok tubuh mungil dengan wajah yang manis muncul dari balik pintu yang terbuka. Siapa lagi kalau bukan Sahara.
“Maaf mengganggu, Dok,” ujar Sahara dengan suara lembut.
“Silakan masuk, kemari…” Suara Julian terdengar berat karena rasa lelah dan kantuk, namun ia tetap tersenyum meski matanya terlihat sayu.
Sahara melangkah masuk. Matanya menatap sekeliling ruangan dengan rasa takjub. Ruangan yang luas itu tertata rapi. Sebuah lemari besar berisi deretan buku tersusun dengan rapi. Berbagai peralatan medis juga tersusun di sisi lain ruangan. Sebuah model anatomi tubuh berdiri tegak di salah satu sudut ruangan.
“Kemari…” Suara berat itu menyadarkan Sahara dari kekagumannya. Ia pun melangkah perlahan mendekat, sementara Julian telah mengulurkan tangannya menyambut.
Begitu Sahara berada cukup dekat, Julian menarik tangannya perlahan hingga wanita itu terkejut dan mengeluarkan suara kecil. Tanpa diduga, Julian tidak hanya mendekatkannya, melainkan membuat Sahara duduk tepat di atas pangkuannya.
“Aduh, Dokter…” seru Sahara secara spontan.
Sementara itu, Julian justru tersenyum jahil. Dengan sigap ia melingkarkan kedua lengannya di pinggang Sahara, membuat wanita itu terkurung dan hanya bisa pasrah meski perasaan canggung serta malu bercampur menjadi satu.
“Dokter, aku berat. Turunkan aku, ya?” pinta Sahara yang merasa tidak nyaman.
“Hanya sebentar saja, Ara.” Alih-alih melepaskan, Julian malah memeluk tubuh Sahara dengan erat.
Bukan pelukan yang penuh nafsu, melainkan pelukan yang penuh kehangatan dan kasih sayang. Julian memejamkan matanya menikmati ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Aroma tubuh yang selama ini ia rindukan terasa bagaikan sumber energi baru baginya. Ia tidak menghiraukan rasa canggung yang dirasakan Sahara, karena ia sengaja melakukan sentuhan-sentuhan lembut ini agar istrinya perlahan terbiasa dengannya.
Julian sangat mengenal sifat Sahara. Wanita yang mandiri ini tidak akan bersikap manja kepadanya, apalagi mendekat layaknya seorang istri. Oleh karena itu, Julian harus memulai untuk mendekatkan hubungan mereka. Jika tidak, akan selalu ada jarak di antara keduanya.
Dan benar saja, tubuh Sahara yang semula tegang perlahan mulai mengendur. Tangannya pun terangkat dan melingkar di leher Julian. Dengan leluasa ia menatap wajah suaminya yang terlihat sangat lelah.
Rasa nyaman mulai merasuk ke dalam hati Sahara. Sekilas ia teringat segala kebaikan dan pengorbanan yang telah dilakukan Julian untuknya. Di tengah semua kejadian buruk yang menimpanya, ada Julian yang hadir dengan segala kelebihannya.
Tanpa sadar, tangan Sahara mengusap-usap kepala Julian dengan lembut. Tubuhnya pun tak bisa berbohong; tanpa perintah, ia bersandar dengan manja di dalam pelukan suaminya. Rasa aman yang diberikan Julian berhasil menghapus batasan yang ada di antara mereka.
Julian tersenyum tipis saat merasakan tubuh Sahara tidak lagi tegang. Namun, senyumnya berubah menjadi cemas ketika ia merasakan punggung bajunya mulai basah dan tubuh Sahara bergetar pelan.
“Maaf, apakah aku menyakitimu, Ara?” tanya Julian dengan nada khawatir.
Sahara hanya menggeleng sembari menyeka air matanya.
“Mengapa menangis? Ada bagian tubuh yang terasa sakit?” tanya Julian lagi.
“Tidak ada, maafkan aku… mungkin karena pengaruh kehamilan, aku jadi mudah terharu seperti ini,” jawab Sahara sambil mencoba tersenyum, meski air matanya terus mengalir.
“Terima kasih, Dokter. Aku hanya merasa sangat beruntung dapat bertemu denganmu,” ujarnya lagi dengan suara serak yang disertai isakan.
“Aku-lah yang beruntung memiliki istri secantik ini sekaligus sedang mengandung anak ku. Meskipun prosesnya terasa sangat tidak biasa. Tidak sia-sia aku menahan diri hingga usia tiga puluh tiga tahun, jika hadiah yang kudapatkan adalah paket lengkap seperti ini,” ujar Julian sambil terkekeh pelan, lalu mencubit pipi Sahara dengan lembut.
Keduanya pun kembali berpelukan. Julian merasa bahagia, usahanya tidaklah percuma. Sahara perlahan mulai membuka hatinya kepadanya. Tanpa jarak, tanpa rasa canggung, dengan begitu akan lebih mudah menumbuhkan rasa sayang di antara mereka.