Maxim Stroge Anderson tidak pernah tertarik menjalin hubungan dengan siapa pun. Dia merasa bosan dengan para wanita yang hanya menginginkan harta saja tanpa mengetahui apa itu cinta.
Sampai di mana kedua orang tuanya ingin menjodohkannya dengan seorang wanita dari salah satu rekan kerja sang Daddy. Namun, di saat itu pula Maxim malah bertemu dengan seorang gadis buta yang membuatnya jatuh hati.
Akankah sang Mafia bisa mendapatkan cinta dari wanita buta tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
Setelah menunggu selama beberapa hari akhirnya Larissa akan membuka perbanyakan ini adalah saat-saat yang paling mereka tunggu. Tidak hanya Maxim saja merasa gugup, tapi Larissa juga merasakan hal yang sama. Dia takut jika apa yang telah mereka lakukan saat ini tidak membuahkan hasil dan hanya sia-sia saja.
Semua orang yang ada di ruangan ini merasa tegang untuk mengetahui hasil dari operasi yang telah mereka lakukan. Maxim sendiri benar-benar berharap bahwa operasi yang sudah terlaksana membuahkan hasil yang memuaskan demi keadaan Larissa.
"Pelan-pelan di buka matanya, dan kita akan mulai menyesuaikan dengan cahaya nanti." ruangan ini sengaja dimatikan lampunya dan bahkan gorden pun tertutup untuk menyesuaikan kondisi mata Larissa setelah menjalani operasi.
Mendengar apa yang dokter katakan membuat Larissa melakukannya. Dia membuka kedua matanya perlahan-lahan. Dari apa yang dilihatnya saat ini masih gelap, sama seperti apa yang dia rasakan beberapa waktu yang lalu ketika dia buta. Kini pun dia masih merasakan hal yang sama, hanya saja dia seperti melihat bayang-bayang dan saat lampu di hidupkan matanya seperti di sorot sinar ketika lampu hidup dan gorden terbuka.
"Bagaimana?" tanya dokter ketika melihat Larissa masih berusaha untuk menyesuaikan kondisinya.
"Perih dok," jawabnya karena itu yang dia rasakan saat ini. Matanya perih dan belum bisa menyesuaikan dengan cahaya yang begitu terang menurutnya.
"Bagaimana ini dok? kenapa dia merasakan pedih?" tanya Maxim yang merasa panik dengan keadaan Larissa.
Mendengar suara Maxim membuat Larissa kembali berusaha membuka kedua matanya dan betapa kagetnya dia ketika melihat pria tinggi tegap dan gagah di depannya sana. Pria itu berwajah tegas dengan garis rahang yang tajam.
Larissa terus aja menatap pada pria yang juga melihat ke arahnya saat ini. Keduanya saling menatap hingga masih mendengar suara lembut wanita itu memanggil namanya.
"Maxim..." panggil Larissa dengan lembut. Dia masa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Setelah mengalami kebutaan hampir selama setahun, kini dia bisa kembali melihat dan itu berkat Maxim.
"Kau melihatku Larissa?" tanya Maxim ketika mendengar Larissa menyebut namanya.
"Ya, aku bisa melihat mu sekarang." jawab Larissa hingga membuat mereka semua di sana bisa bernafas dengan lega, terutama bagian dokter dan perawat yang telah berusaha keras membantu operasi Larissa kemarin.
"Akhirnya kau bisa melihat lagi Larissa. Kau bisa melihatku sekarang." ucap Maxim penuh dengan rasa kebahagiaan, tapi tiba-tiba saja kepalanya merasa pusing dan itu membuat para dokter panik seketika.
"Larissa, kau baik-baik saja?" tanya Maxim kembali panik ketika melihat keadaan Larissa yang menurun.
"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing dan mata ku kembali buram." jawabnya hingga membuat tim dokter kembali memeriksa apa yang terjadi pada Larissa dan ternyata itu semua hal yang wajar setelah menjalani operasi besar seperti yang di alami pasiennya.
"Tidak perlu khawatir. Ini hal yang biasa. Semoga saja setelah istirahat dan menjalani pemeriksaan lanjutan semuanya akan baik-baik saja. Ini Biasa terjadi, tidak perlu khawatir tuan," jelas sang dokter tentang keadaan Larissa saat ini.
Merasa semuanya sudah baik-baik saja membuat dokter dan para perawatnya langsung pergi meninggalkan ruang rawat Larissa.
Suasana menjadi canggung setelah dokter meninggalkan mereka berdua di malam ini. Terutama terjadi pada Larissa sendiri karena dia belum terbiasa dengan keadaan barunya saat ini. Apalagi ketika mengetahui bahwa Maxim benar-benar sangat tampan dan penuh kharismatik. Jantungnya berdebar ketika kedua mata mereka saling bertabrakan seperti itu.
"Dokter bilang kamu harus istirahat lagi. Jadi-"
"Aku baik-baik saja Maxim..." ucap Larissa yang bersikap seolah-olah dia memang baik-baik saja walau tidak seperti itu yang sebenarnya.
"Tapi dokter bilang kamu harus istirahat, jadi biarkan aku membantu mu." Maxim membantu Larissa untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati dan tatapan keduanya saling mengunci satu sama. Jantung keduanya pun berdebar kencang seolah-olah memberikan arti tentang apa yang sedang mereka rasakan saat ini.
***
selesaikan 1 per 1 cerita agar tdk bingung dan membuat kami menunggu
mknya typo nya byk sekali krn thornya sdr bingung kali yg mana yg mana cerita nya dibuat setengah2 jdnya kacau deh..
bikin cerita tentang Reyden donggggg