NovelToon NovelToon
Kisah Yang Belum Tuntas

Kisah Yang Belum Tuntas

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuryanthi Sudarma

Pertemuan tak di sengaja di sebuah pesta menjadi jalan dua anak manusia menyelesaikan masalah yang pernah terjadi di antara mereka. Sayangnya pihak perempuan alias Luna merasa enggan untuk berurusan kembali dengan Adnan. Dia berusaha menjauh tapi Adnan tidak pernah membiarkan itu terjadi. Sebab apa yang ada di tangan Luna adalah sebuah anugerah yang dia tunggu selama ini.

Akankah kisah mereka berkahir manis atau tragis? Silahkan baca dan kasih komentarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuryanthi Sudarma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Sunyi yang biasanya menemani malam seakan pergi digeser riuh warga yang berkumpul di halaman rumah orangtua Luna. Mereka menunggu seorang pria yang telah menyebabkan kerugian pada salah satu warga.

Halim menenangkan mereka, dengan menjaminkan dirinya. Meskipun begitu tak lantas membuat warga membubarkan diri.

Luna yang tak percaya dengan apa yang dia lihat, mengalihkan tatap pada pengatur waktu yang menempel di dinding. Suara detaknya seperti menertawakan Luna yang kebingungan.

"Pak, ini ada apa?" Saat bertanya jelas sekali Luna kebingungan.

"Nanti dulu ya," kata Halim yang kembali melangkah keluar dan meyakinkan warga bahwa seorang pria yang kini ada di rumahnya tidak akan melarikan diri.

"Jangan sampai dibebaskan begitu aja, Pak," ujar salah seorang warga. Kemudian yang lain ikut menyuarakan hal serupa.

"Iya, iya saya jamin. Sekarang bubar, besok pagi kembali lagi ke sini. Kita selesaikan setelah sama-sama dingin kepala. Yo bubar-bubar! Angin malam tidak baik untuk kesehatan."

Kerumunan mulai berkurang, satu persatu warga kembali ke rumahnya masing-masing. Pak Halim masih di luar rumah sampai tidak ada lagi warga yang rela kedinginan hanya karena takut pria itu tidak bertanggung jawab.

Halim masuk ke dalam rumah, duduk menghadap pria yang wajahnya mengalami lebam akibat dikeroyok warga. Luna juga, hanya Titin yang masih di dapur menyediakan minum serta mengambil air dingin juga kotak P3K.

"Akang teh dari mana dan mau ke mana?" tanya Halim.

Pria itu menoleh pada Luna, kemudian secercah senyum terlihat di bibirnya, "Saya dari jakarta, mau ke sini ke rumah anda," jawabnya.

Halim mengerutkan kening, menoleh pada Luna, "Kamu mengenalnya, Neng?"

"Dia... Adnan, dari jakarta," jawab Luna datar.

"Adnan? Adnan yang sering disebut oleh Vano?" Titin yang datang dari dapur ikut menatap putrinya. Meletakan air minum kemudian duduk di sebelah Luna.

Luna mengangguk, seketika itu pula senyum di bibir Adnan surut saat melihat kepalan tangan Halim.

"Jadi kamu pria bajingan itu?" Suara Halim terdengar tidak lagi ramah seperti tadi. "Hah?"

Dia marah mengetahui kalau pria yang telah ditolongnya ternyata orang yang telah merusak masa depan anaknya. Halim bergerak secepat kilat dan Adnan tidak sempat menghindari dua tamparan yang didapatkan di pipi. Terasa panas namun Adnan membiarkannya. Memaklumi sikap seorang ayah yang menyayangi putrinya. Dia pun pasti akan melakukan hal sama andai itu terjadi pada anaknya. Atau bahkan lebih dari sekedar tamparan.

"Saya minta maaf, Pak," kata Adnan menunduk menyesali perbuatannya.

"Maaf? maaf, hah? Kamu pikir semua selesai dengan kata maaf. Anak saya harus kehilangan masa depan karena pria biadab seperti kamu. Dia harus menanggung kesusahan selama enam tahun. Di mana kamu?" Suara Halim terdengar keras, tangannya masih mengepal namun terlihat sekali dia menahan diri agar tidak kebablasan melampiaskan amarah. Padahal jika menerapkan hukum agama bisa saja Halim menerapkan hukum qishas, mengingat anak perempuannya telah dirugikan. Namun dia tak melakukan itu karena menyadari diri sendiri yang masih banyak kekurangan.

"Permintaan maaf saya memang tidak cukup, Pak, tapi saya datang ke sini dengan niat baik. Saya ingin menebus kesalahan dan bertanggung jawab. Saya ingin menikahi Luna dengan restu dari anda."

Luna dengan Titin saling menoleh, menunggu reaksi Halim berikutnya. Mereka tahu kalau Halim memiliki sifat mudah memaafkan. Tapi untuk kasus Luna sekarang sepertinya tidak akan lagi demikian. Luna juga tidak percaya Adnan akan menyusulnya, padahal sebelumnya dia juga sudah membaca pesan dari Aas.

Senyum sinis terlihat di bibir Halim yang masih menatap Adnan dengan tatapan tajam. "Menikah?" tanya Halim kemudian tertawa mengejek. "saya tidak akan dengan bodohnya menyerahkan anak saya untuk menderita seumur hidup. Di luaran sana saya masih percaya ada banyak pria baik yang bisa mendampingi anak saya."

Adnan menunduk, menghela nafas dalam-dalam. Saat itu dia berharap Halim tidak akan mengatakan kalimat yang sama dengan yang dikatakan Adam tadi siang.

"Luna akan menikah dengan Aziz. Dia pria baik yang saya pilih untuk menjadi suami, teman, dan ayah untuk Vano," lanjut Halim.

Pupus sudah harapan Adnan, dia menoleh pada Luna yang diam saja. Perempuan itu seolah membenarkan ucapan ayahnya.

"Apa tidak ada kesempatan untuk saya, Pak," pintanya memelas. "Demi Tuhan saya ingin memperbaikinya. Saya yang menyebabkan Luna menderita, saya yang menyebabkan Vano tidak memiliki ayah. Saya ingin menebusnya, tolong beri saya kesempatan." Adnan turun dari sofa yang diduduki hendak bersimpuh di kaki Halim, namun pria itu menjauh. Menghindari tangan Adnan yang hendak memohon.

"Untuk malam ini saya biarkan kamu tinggal di sini. Besok kamu harus harus bertanggung jawab untuk kerugian yang kamu lakukan pada pagar rumah Pak Arif. Obati luka di wajah kamu itu." Halim kemudian menoleh pada Luna, "Tidak perlu menolongnya. Masuklak ke kamar. Bu, ayo."

Adnan tatap satu persatu tuan rumah yang meninggalkan dirinya di ruang tamu. Menghilang di balik pintu yang tertutup. Tanpa berniat mengobati luka yang dia dapat. Dia merebahkan tubuh di sofa dan mememjamkan mata.

Lelah setelah tiga jam menempuh perjalanan jakarta-Bandung membuat dia mudah memejamkan mata. Tak peduli hawa dingin yang menyentuh kulitnya.

Tadi siang, sepulang dari rumah Adam-Aas, Adnan langsung kembali ke kantor. Menemui Gisha dan meminta nomor Luna darinya karena baru ingat perempuan itu pernah di minta menghubungi Luna. Berbekal nomor serta kecanggihan teknologi, lokasi Lina akhirnya bisa ditemukan. Namun saat hendak akan pergi, Senja mengingatkan bahwa dia memiliki jadwal penting dengan salah satu perencana pembangunan pemerintahan.

Meski kesabaran kembali diuji, Adnan tetap menyelesaikan lebih dulu pekerjaannya. Pukul 20:00 pekerjaannya selesai kemudian memutuskan menyusul Luna. Tak peduli bahwa tubuhnya membutuhkan istirahat. Pada akhirnya mobil yang dia kendarai oleng dan menabrak salah satu pagar rumah warga. Menyebabkan kerusakan dan kerumunan warga. Beruntung saat di keroyok, Halim datang bagai dewa yang menyebabkan dari amukan warga. Namun ternyata dia juga yang sekarang menghancurkan harapannya pada Luna.

Pikiran yang belum benar-benar tidur, membuat Adnan kembali bangun saat merasakan benda hangat di atas tubuhnya. Ternyata yang dia lihat adalah Luna yang memberikan selimut.

"Luna!" Adnan cekal tangan Luna agar mereka memiliki kesempatan untuk bicara. "Apa benar yang dikatakan ayahmu?"

Luna mengangguk.

"Kenapa... kenapa tidak memberikan kesempatan itu untuk saya, Na? Kenapa harus orang lain?" Suara Adnan terdengar berat dan bergetar.

"Anda sudah mendengar alasannya dari bapak. Kenapa harus mempertanyakan lagi pada saya?"

"Luna...."

"Tidurlah, Pak Adnan ini sudah larut. Besok Anda akan kembali ke jakarta. Saya tidak ingin disalahkan jika terjadi sesuatu pada Anda."

Adnan lepaskan tangan Luna dengan perasaan tidak rela. Dia tatap kembali perempuan berwajah cantik seperti rembulan itu.

"Saya tidak siap kehilangan kalian," ujar Adnan yang masih dapat di dengar oleh Luna. Namun perempuan itu memilih abai dengan menutupi pintu kamarnya rapat-rapat.

Adnan dekap selimut yang diberikan Luna tadi. Tanpa diminta, air mata jatuh saat dia memejamkan mata dan membayangkan mereka yang tidak bisa lagi digapai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!