Luna yang hidup dengan kakeknya yang sudah tua mau tidak mau menerima pernikahan paksa yang sudah diatur oleh sahabat kakeknya.
"Kakek aku hanya ingin menemani Kakek dimasa tua," Luna berkata lirih sambil menyentuh tangan keriput kakeknya.
Tidak pernah terlintas di pikiran Luna jika akan menikah dalam perjodohan, Luna gadis polos dan tidak neko-neko harus menikah dengan CEO yang dingin dan galak tidak pernah dekat dengan seorang wanita.
Lalu bagaimana Luna bisa menjalani pernikahan dengan suami yang super Perfect, sedangkan dirinya merasa seperti Upik abu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Humaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badak bercula merah
"Duh, kenapa lagi ini motor!"
Luna menghentikan motornya dipinggir jalan, ia mencoba kambali menghidupkan mesin motornya tapi tetap tidak mau menyala, pukul lima sore Luna pulang bekerja, tapi baru sampai pertengahan jalan kok motornya tiba-tiba mogok.
Bugh
Luna memukul bagian depan motornya karena kesal, "Kamu minta jatah servis kan makanya mogok," Dumel Luna memarahi motornya.
Gadis itu menatap kesekeliling, dan ternyata ia berada di tengah dari bengkel terdekat, maju sama mundur sama jauhnya Luna hanya bisa menghela napas.
"Apes bener hari ini," Desahh Luna dengan wajah lelah.
Kafe cukup ramai pengunjung, ia pun istirahat hanya sebentar itupun untuk makan dan minum. Luna berjalan kaki sambil mendorong motornya, hingga baru berjalan 10 meter tiba-tiba ada motor berhenti di sampingnya.
"Motor kamu kenapa?" tanya seorang pemuda setelah membuka helm full face nya.
Luna menghentikan langkahnya dan menatap pemuda yang wajahnya masih tertutup helm sebagian, hanya terlihat bagian matanya saja.
"Ndak lihat motor saya mogok!" Ketus Luna dengan wajah jutek.
"Ish, biasa aja sih, ngak usah ngegas." Pria itupun memilih untuk menghentikan motornya didepan motor Luna, hingga saat membuka helm Luna baru menyadari siapa pria tadi.
Luna mencebikkan bibirnya, "Sok iyes kamu Do," Ucap Luna yang mengenal pemuda itu.
Aldo tertawa renyah, ia menaruh helm dan mendekati Luna.
"Lagian motor body bagus onderdilnya kok soak?" Ucap Aldo berniat menghina kendaraan Luna.
"Iya, dia saingan sama mantan-mantan kamu yang sudah ditinggalkan, bodynya yahud onderdilnya soak!" Balas Luna lebih kejam.
Bukanya marah Aldo justru semakin tertawa, "Habisnya kamu selalu menolak ku Lun, jadi akunya begini." Kilahnya dengan wajah cengengesan.
Luna tidak menggubris, ia membiarkan Aldo mengotak atik motornya.
Aldo adalah teman sekolahnya, raja gombal dan juga playboy, pacarnya banyak bahkan satu minggu bisa ganti 9 kali. Nahkan parah?
"Ini harus di bawa ke bengkel Lun, gak bisa diperbaiki sendiri." Ucap Aldo yang sudah berdiri menatap Luna yang menghela napas.
"Yaudah deh, biar aku bawa ke bengkel." Luna sudah menarik standar motornya, tapi suara Aldo membuat Luna kembali melepaskan standar motornya.
"Biar temen aku yang ambil dan membawanya ke bengkel, mereka ada didekat sini kok." Ucap Aldo sambil menghubungi teman-temannya.
Setelah mendapat kepastian Aldo mengirim lokasi mereka, "Kamu aku antar saja sekalian aku ingin silaturahmi dengan calon Kakek mertua." Ucap Aldo sambil memainkan alisnya naik turun.
Luna mendelik sambil geleng kepala, ia sudah biasa dengan tingkah temanya ini.
"Ayook, tapi aku ngak mau mahar sedikit." balas Luna dengan wajah di buat serius.
"Buset langsung minta mahar aja neng, kalau minta DP dulu boleh ngak neng?"
Plak
"Aldo mesyum!" Pekik Luna membuat keduanya tertawa.
*
*
Raditya duduk diruang tamu dengan santai sambil mengecek email lewat ponsel. Ia baru saja menyuruh Bimo untuk mengantar Kakek Seto kerumah kakeknya, karena mereka ingin melihat pertandingan bola bersama, dan hal itu cukup membuat Raditya tersenyum lebar mengingat rencananya akan menghukum Luna.
Raditya yang sibuk, mengerutkan keningnya saat mendengar suara kenalpot motor yang asing, karena ia paham betul suara mesin motor Luna.
Raditya memilih untuk beranjak dari duduknya, melihat siapa yang datang kerumah.
Raditya tidak langsung membuka pintu, pria itu memilih untuk mengintip lebih dulu dari jendela, hingga tatapannya menajam saat melihat Luna turun dari motor seorang pria dan bahkan Luna tertawa hingga membuat lesung pipinya begitu tercetak jelas, membuat tawa Luna begitu cantik didepan pria itu.
Tanpa sadar tangan Raditya mengepal erat, tatapan matanya begitu tajam setajam silet jika diumpamakan. Tapi bukan itu melainkan Raditya merasakan dadanya bergemuruh melihat interaksi kedekatan Luna dengan pria yang jauh lebih muda darinya, sepertinya seumuran dengan Luna.
"Ya udah deh, kamu balik. soalnya kuping ku gatal sejak tadi mendengar bunyi ponselmu." Ucap Luna sambil terkekeh.
Aldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tersenyum bodoh didepan Luna.
"Peliharaan ku minta dikasih makan, mereka suka rewel kalau telat dikasih makan." ucapnya sambil nyengir.
"Alaah, sak karepmu. Penting bukan aku peliharaan mu." Ucap Luna lagi sambil berjalan meninggalkan Aldo.
"Terima kasih Do, nanti kamu hubungi saja aku!" Teriak Luna membuat Aldo menunjukan jari jempolnya tanda persetujuan.
Luna tidak menyadari jika dibalik jendela seorang pria yang tak lain adalah suaminya sedang menahan marah melihat interaksi mereka tadi.
Bahkan Raditya rasanya Ingin sekali menghajar pria yang sudah berani mendekati Istrinya itu.
Ceklek
Terdengar suara handel pintu diputra dan disusul dengan pintu terbuka, Luna yang tidak tahu ada Raditya berdiri begitu terkejut, seperti melihat hantu, alias orang kesurupan. Karena wajah Raditya yang garang dengan kedua mata yang melotot tajam.
"Astaga!" Kejut Luna sampai tubuhnya berjingkat karena terkejut.
"Om, ngapain berdiri kek hantu begitu!" Pekik Luna setelah menyadari jika didepanya adalah Raditya.
Raditya tidak menjawab, tapi melihat wajahnya yang mengeras dengan tatapan sangat tajam cukup membuat Luna ketakutan.
"Mampus, badak bercula merah sedang ngamuk." Gumam Luna dalam hati.