Geofanny Guwencia Gabriel, seorang sosialita sekaligus putri sulung seorang taipan bisnis, merasa dunianya dijungkirbalikkan. Kebebasannya yang ia agung-agungkan direnggut paksa setelah serangkaian ancaman serius ditujukan kepadanya. Sang ayah pun menyewa seorang pengawal pribadi untuk melindunginya setiap saat.
Masuklah Eric Abram. Seorang pria yang lebih mirip patung Yunani daripada manusia: tinggi, tegap, dengan wajah dingin dan tatapan setajam elang. Bagi Geofanny, Eric adalah pengganggu nomor satu, seorang "babysitter berotot" yang mengikuti setiap geraknya dan merusak semua rencananya. Geofanny bertekad untuk membuat pria itu tidak betah dan berhenti dari pekerjaannya.
Namun, semua usahanya sia-sia. Eric adalah seorang profesional sejati yang tak tergoyahkan. Di balik sikapnya yang kaku, Geofanny tanpa sengaja melihat kilasan kerapuhan dan masa lalu kelam yang membentuk pria itu menjadi pelindung yang tangguh.
Ketika ancaman itu bukan lagi sekadar gertakan dan sebuah serangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GrendysS_08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 | Apa aku jatuh cinta padanya?
Hari itu seperti biasa Eric mengawal Fany pergi ke perusahaan, saat ini mereka berada dalam perjalanan menuju perusahaan Gabriel Piala Media.
"Maaf Nona, hari ini Anda hendak bepergian kemana?" Eric membuka obrolan, masih dengan terus
mengemudikan mobil.
"Aku hanya di kantor saja hingga pukul dua belas siang, setelahnya pergi ke kampus hingga pukul tujuh malam" jawab Fany melihat ponselnya yang menampilkan semua jadwalnya yang baru saja di kirimkan Nana asisten pribadinya.
"Silahkan" Eric membuka pintu mobil untuk Fany, dan mempersilahkan Fany untuk turun.
"Terima kasih" balas Fany tersenyum.
"Tolong parkirkan" Eric menyerahkan kunci mobil pada security di dekatnya, lalu menyusul Fany yang sudah lebih dulu masuk ke dalam perusahaan, dan langsung naik ke kantor Fany.
Pukul 12.00 siang...
Seperti yang di katakan oleh Fany pagi tadi, Eric mengantar Fany pergi ke kampus, Eric melajukan mobil
dengan kecepatan rata-rata, hingga akhirnya mobil berhenti di parkiran kampus.
Ceklek
"Silahkan" Eric membuka pintu mobil dan mempersilahkan Fany untuk keluar.
"Kamu mau menunggu dimana Ric?" tanya Fany sambil melangkah menuju kelasnya.
"Saya akan menunggu dan berjaga di depan kelas Anda Nona" jawab Eric tersenyum.
Fany masuk ke dalam kelas, dan kembali keluar kelas setelah perkuliahan selesai tepat pukul tujuh malam.
"Menunggu lama Rie?" tanya Fany ketika keluar dari dalam kelas.
"Tidak Nona" jawab Eric.
"Ayo kita pulang" Fany masuk mobil dan segera memerintahkan Eric untuk melakukan mobil.
"Aku lapar Ric" ucap Fany tak lama setelah mobil yang di naikinya melaju.
"Baik Nona"
Eric membelokan mobil ke sebuah rumah makan ssederhana, Eric segera turun dari mobil dan juga mempersilahkan Fany turun dari mobil, Fany dan Eric duduk di kursi makan bagian luar dari rumah makan sederhana tersebut.
"Tidak apa jika makan di luar?" tanya Eric sambil tangannya mengibas-ngibas di depan wajah Fany. untuk menghindari debu yang berusaha menyentuh kulit Fany.
"Tidak apa Ric" jawab Fany sambil tangannya bergerak meminta seorang pelayan mendatangi meja mereka.
"Mau pesan apa Tuan, Nona? "pelayan perempuan mendatangi meja mereka, dan menyerahkan buku
menu ke atas meja, Fany dan Eric memesan makanan.
"Mohon di tunggu" ucap pelayan tersebut dan pergi untuk menyiapkan pesanan Eric dan Fany.
"Silahkan setelah beberapa saat, pelayan itu kembali dengan membawa semua pesanan Eric dan Fany, dan meletakkannya ke atas meja.
"Terimakasih" ucap Fany tersenyum menerima makanan yang di pesan.
"Selamat menikmati" pelayan itu pergi melanjutkan pekerjaannya lagi.
Eric dan Fany segera makan, mereka makan dalam diam, hanya sesekali saja terjadi obrolan di antara keduanya, karena rasa kecanggungan yang masih terjadi di antara keduanya, setelah kejadian adegan ciuman mereka di hari sebelumnya.
Dert.. Dert.. Dert..
Ponsel Eric bergetar di atas meja, Eric melihat siapa yang menghubunginya, "Ayudia" gumam Eric melihat nama orang yang menghubunginya, Fany melirik sekilas ponsel Eric yang bergetar di atas meja.
"Ayudia, siapa?" batin Fany.
"Angkatlah Ric"
"Baik Nona Fany, saya permisi" jawab Eric meraih ponsel dan pergi sedikit menjauh dari Fany untuk menjawab panggilan telepon tersebut.
Fany melihat Eric yang pergi menjauh darinya hanya untuk mengangkat panggilan dari seseorang yang bernama Ayudia, "Siapa Ayudia itu? Mengapa dia harus menjauh seperti itu hanya untuk menjawab telepon? Apa dia di hubungi kekasihnya"" banyak sekali pertanyaan yang berada dalam kepalanya.
"Halo" jawab Eric setelah mengangkat panggilan telpon.
"Halo Kak, syukurlah akhirnya kakak mengangkat panggilan telpon ku" terdengar sahutan dari balik telpon.
"Ya, ada apa?" jawab Eric malas
"Bisakah Kakak besok menemui ku?" sahut lagi dari balik telpon.
"Untuk apa?" tanya Eric.
"Bisakah Kakak besok menemuiku?" tanya orang dari balik telpon lagi.
"Bisa, dimana?" balas Eric sedikit malas
"Bank Unggulan Asia, lantai 4" sahut lagi orang dari balik telpon
Tut.. Tut.. Tut..
Eric langsung memutuskan panggilan setelah mendengar ucapan dari balik telepon, Eric kembali duduk, Eric tak lagi meneruskan makannya, karena sudah tak ada selera lagi.
"Kamu tak melanjutkan lagi makan mu?" Fany bertanya pada Eric yang baru saja kembali duduk di hadapannya, sambil mengambil satu lembar tisu untuk membersihkan bekas makan yang tertinggal di bibirnya.
"Tidak Nona, saya sudah kenyang" jawab Eric singkat.
Karena Fany pun sudah usai makan. Fany membayar makanan mereka, kemudian masuk ke dalam mobil dan langsung meminta Eric untuk melajukan mobil.
Eric melirik sekilas Fany dari spion tengah mobil yang duduk di kursi belakang. Eric menimbang- nimbang apa yang akan di ucapakannya pada Fany prihal orang yang tadi menghubunginya.
"Nona" Eric berusaha membuka obrolan.
"Hmm" sahut Fany.
"Sebelumnya maafkan saya Nona"
"Apa ada yang ingin kamu sampaikan? Dan sepertinya penting." sahut Fany.
"Besok saya ijin tidak bisa mengawal Anda"
"Kenapa Ric" tanya Fany menaikan alis dan mendekatkan posisinya pada Eric.
"Ada urusan keluarga Nona"
"Yausudah, tak masalah" jawab Fany sambil tersenyum tipis, dan kembali menyandarkan bahunya pada sandaran kursi.
"Keluargamu ya?" batin Fany sambil tersenyum miring
Fany turun dari mobil saat mobil berhenti di depan kediaman utama keluarga Gabriel, Eric langsung melajukan mobil menuju garasi untuk memarkirkan mobil, dan langsung menuju bangunan yang berada di belakang rumah kediaman keluarga Gabriel.
Di kamar, Fany menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur. Fany menaruh asal barang bawaannya, di lepasnya secara kasar sepatu hak tinggi yang di pakainya, di tatapnya langit-langit kamar sambil mengingat kejadian di rumah makan tadi dan perkataan yang di katakan Eric di mobil tadi.
"Mengapa dia meminta besok untuk libur setelah mendapatkan telepon dari orang tadi?, sebenarnya siapa itu Ayudia? Apa itu benar-benar keluarganya? Atau justru kekasihnya?" banyak sekali pertanyaan dalam kepalanya.
"Aku penasaran sekali, sebaiknya besok aku mengitunya, agar rasa penasaran ku terbayarkan," Fany
menjentikan tangan dengan mata berbinar.
Pagi hari....
Pagi-pagi sekali Eric pergi meninggalkan rumah kecil yang berada di belakang kediaman utama keluarga Gabriel, Eric menaiki motornya menuju ke tempat, di sisi lain, Fany yang melihat dari atas kamarnya, bahwa motor Eric keluar dari garasi kediaman keluarga Gabriel, cepat-cepat Fany menyusul Eric dengan menaiki mobil, dan mulai menyusul Eric dengan sedikit menjaga jarak.
"Bank Unggulan Asia?" ucap Fany setelah melihat Eric membelokan motornya ke lingkungan bank
tersebut. Fany memarkirkan mobilnya di parkiran sebelah parkiran motor, Fany memperhatikan Eric yang
turun dari motor dan mulai masuk ke dalam bank tersebut.
Fany turun dari mobil, dan langsung mengikuti Eric dari belakang.
"Dia siapa? Mengapa security-security itu nampak menghormati Eric?" dahi Fany berkerut melihat beberapa orang security di depan pintu utama bank tersebut yang tampak begitu menghormati Eric.
"Selamat pagi Mas Eric" ucap seorang security pada Eric sambil memberikan hormat.
"Aku ingin menemui Ayudia di lantai 4, apa dia sudah datang?" tanya Eric pada security tersebut.
"Sudah Mas, baru saja"
Setelah mendapatkan jawaban, Eric langsung menuju lantai 4, di sisi Fany, ia langsung mendatangi security dan berkata dia pun ingin ke lantai 4 menemui Ayudia.
"Selamat pagi Pak, saya ingin bertemu dengan Ayudia"
"Maaf, sudah ada janji sebelumnya?"
"Sudah Pak"
"Langsung saja ke lantai 4"
Fany menuju lantai 4, tak lama setelah Fany tiba di lantai 4, Fany melihat Eric yang sedang di peluk seorang perempuan.
"Kamu bilang ada urusan keluarga, ternyata ucapan mu tak sesuai dengan yang ku lihat saat ini" Fany
mencibir melihat Eric yang masih di peluk seorang perempuan.
"Tapi mengapa dengan perasaan ku?" Fany memegang dadanya yang terasa sesak.
"Apa aku jatuh cinta padanya?" senyum miring terukir di bibir Fany.
...****************...