Garis kehidupan setiap orang kadang berliku. Awalnya mungkin sedikit menyimpang, tapi tujuan akhir yang ditentukan Tuhan tidak pernah meleset. Demikianlah yang terjadi dengan kehidupan Darel dan Dara di kisah sebelumnya.
Novel lanjutan ini akan mengisahkan:
》Perjalanan hidup Darel dan Dara selanjutnya bersama kedua anak mereka.
》Begitu juga dengan garis kehidupan Mikha dan Manche yang terhisap dalam lika liku kehidupan cinta Darel dan Dara sebelumnya.
Selamat membaca.
Semoga terhibur. 🙏🤗💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Tertahan.
...~•Happy Reading•~...
...♥︎ Empat Hari Kemudian♥︎...
Kandara bersama kedua anaknya dan Bu Selvine telah berada dalam pesawat komersial menuju bandara Soekarno-Hatta, Jakarta dari bandara Incheon, Seoul, Korea Selatan.
^^^Darel telah berangkat ke New York, Amerika. Kemudian Kandara berbicara dengan Mikha dan orang tua Darel tentang rencananya bersama anak-anak yang akan kembali ke Indonesia. Orang tua Darel mengijinkan dengan beberapa syarat, karena Darel telah mengirim pesan kepada Mikha sebelum terbang. Agar dia membantu Kandara saat bicarakan rencananya dengan orang tua mereka. ^^^
^^^Setelah perundingan yang panjang, orang tua Darel ijinkan dengan syarat dikawal oleh seorang dari tim keamanan perusahaan sampai tiba di Jakarta. Kandara menerima dan sangat berterima kasih untuk pengertian orang tua Darel.^^^
^^^Dari pengawal, Kandara mengetahui, bahwa para paparasi atau media selalu ada di bandara untuk mengadu keburuntungan mereka. Mungkin hari itu ada artis atau idol atau orang penting yang bisa diambil foto atau video untuk bisa diberitakan. Itu adalah pekerjaan mereka setiap hari, menunggu dan menunggu.^^^
^^^ Walau harus melewati perhatian dan pandangan ingin tahu para media di bandara, karena melihat kedua anak kembarnya, Kandara berusaha tenang. Pengawal mengambil jarak dari Kandara dan keluarganya, agar tidak menyolok. Kandara menerima semua yang dijelaskan dan dilakukan pengawal.^^^
^^^Kandara bersyukur, mereka bisa berada dalam pesawat dengan baik dan duduk di first class, sehingga tidak terganggu atau menarik perhatian penumpang lain saat melepaskan masker.^^^
^^^Untuk di Jakarta, Kandara berpikir tidak terlalu ketat dan tidak perlu was-was. Cukup mereka berhati-hati saja untuk keluar dari bandara, semuanya sudah aman dan terbebas dari banyak gangguan.^^^
Saat tiba di bandara Soeta, Kandara tidak telalu bermasalah karena mereka mendapat perlakuan khusus dari pihak crew pesawat. Semuanya sudah diatur oleh Pak Darpha dan Mikha, karena Darel sedang sibuk menyelesaikan masalah perusahaannya dan tidak bisa diganggu. Sehingga Pak Darpha turun tangan membantu Mikha, agar penerbangan mereka bisa nyaman dan tidak banyak gangguan.
Mereka tidak bermasalah dengan para penumpang. Saat di Imigrasi, ada yang memperhatikan, tetapi Kandara bersikap biasa dengan anak-anaknya. Pengawal Pak Darpha tetap menjaga jarak dari mereka, tapi tetap berada dalam jarak yang aman dijangkau, jika terjadi sesuatu dengan keluarga Kandara.
Ketika tiba di Imigrasi untuk dilakukan pemeriksaan, mereka tertahan lama karena berbagai hal membuat Kandara sempat panik dan emosi.
"Ada apa dengan biola anak kami?" Tanya Kandara saat biola Efrima ditahan oleh pihak Imigrasi.
"Ibu ikut saya ke ruangan Imigrasi. Nanti kami jelaskan di sana." Kata salah seorang petugas yang mendekatinya dan berbicara pelan.
"Pak, kami sedang terburu-buru. Katakan saja, ada apa dengan biola anak kami." Kandara tidak mau ikut, karena selain harus tinggalin anak-anak, dia juga jauh dari pengawal Pak Darpha.
Kandara mulai curiga, saat mendengar bisik-bisik diantara petugas yang mengatakan bahwa biola Efrima itu mahal harganya. Walaupun mereka berbicara dengan bahasa Inggris, Kandara mengerti.
^^^Para petugas Imigrasi mengira mereka dari Korea karena gunakan bahasa Korea. Padahal Kandara berbicara dengan anak-anaknya dengan bahasa Korea, agar pengawal Pak Darpha bisa mengerti yang mereka bicarakan.^^^
"Ibu harus membayar pajak untuk barang ini." Kata petugas Imigrasi tegas, cendrung galak sambil menunjuk biola Efrima di tangannya.
^^^Situasi tersebut membuat pengawal Pak Darpha sigap dan tegang. Walaupun tidak mengerti bahasa Indonesia, tapi melihat wajah Kandara, pengawal menyadari sedang terjadi sesuatu.^^^
"Bayar pajak untuk biola ini? Ini kami beli untuk menunjang performa anak kami sebagai pemusik dan kami harus bayar pajak untuk ini?" Tanya Kandara terkejut dan sangat cemas melihat wajah sedih Efrima, saat biola yang dibawa-bawanya diambil dan belum dikembalikan oleh petugas.
"Iya, Bu. Ini barang yang mahal, jadi harus bayar pajak untuk masuk ke sini." Jawab salah satu petugas yang melayaninya.
^^^Melihat Efraim mengeluarkan ponselnya, Kandara berkata cepat dalam bahasa Korea untuk Efraim, agar tidak live streaming. Cukup divideoin, agar Darel dan orang tuanya tidak tahu mereka sedang bermasalah di Imigrasi.^^^
"Baik... Berikan surat ketentuannya dan daftar jumlah yang harus saya bayar. Dan bapak jangan mengotak-atik biola anak kami." Kandara berkata tegas, karena seorang petugas mau memeriksa biola Efrima dengan asal dan kasar.
"Itu hanya alat musik dan ini surat-surat resmi pembeliannya. Jika ingin tau, apa benar itu alat musik, berikan pada anak kami memainkannya." Kaliana berkata sambil mengulurkan tangannya, untuk meminta biola Efrima.
"Kami belum bisa kembalikan sebelum proses ini selesai." Kata seorang petugas lain yang tidak mau lepaskan Kandara. Mendengar Kandara mau membayar, mereka jadi bersemangat untuk pertahankan biola Efrima.
Kandara makin kesal dan emosi melihat sikap petugas yang tidak profesional. "Bapak tidak dengar yang saya katakan tadi? Saya akan bayar. Apa kami bisa kabur dari sini? Jika anak kami sampai menangis karena alat musiknya rusak, kami akan menuntut bapak-bapak semua." Kandara tidak bisa kendalikan emosinya melihat sikap para petugas.
"Anak kami sedang berlatih untuk ikut kompetisi. Kami orang tua berusaha dukung anak, agar bisa berpresrasi untuk nama bangsa kita. Tapi bapak-bapak semua hanya melihat uang." Kandara berkata serius, karena emosi.
"Kembalikan dan berikan surat ketentuan dan jumlah pajak yang harus kami bayar. Jika kalian tidak berikan, dan anak kami menangis karena ini, lihat saja apa yang akan saya lakukan." Kandara sudah tidak pikirkan lagi akibat dari apa yang dia lakukan. Dia sudah berusaha ikut aturan, tapi para petugas mau nakal. Dia sudah nekat untuk buka masker dan mempublikasi sikap petugas yang tidak profesional.
Melihat sikap tegas Kandara, salah seorang petugas datang sambil membawa daftar dan berbisik pakai bahasa Inggris. 'Sudas jadi perhatian. Segera selesaikan.' Kandara mengerti, jadi lega dalam hati.
Bu Selvine hanya diam menyerahkan semua kepada Kandara, agar tidak jadi perhatian sambil memeluk bahu Efrima yang sudah kembali memeluk biolanya.
Petugas membawa Kandara ke samping untuk menunjukan surat ketentuan dan berapa jumlah yang harus dibayar. Kandara memanggil Efraim mendekat, untuk mendampinginya.
"Untuk apa Ibu membuat video? Ini adalah ketentuan resminya." Petugas jadi emosi melihat Efraim membuat video untuk apa yang akan dilakukan Kandara.
"Pak, anak kami harus buat video kejadian ini, agar ayahnya tau. Ibunya ada mengeluarkan uang yang banyak dan tidak terduga. Ini sebagai bukti dan kami tidak mengambil wajah bapak, hanya transaksi ini." Kandara berkata serius, sambil mencari dengan jarinya, biola masuk dalam kategori mana dan harus bayar berapa.
"Pak, lebih baik bapak langsung tunjuk yang mana, agar cepat prosesnya." Kata Kandara kepada petugas yang mengawasi. Petugas dengan kesal menunjuk ke nomor urut dan jumlah presentasi dari harga barang yang dimiliki.
Walaupun kategori yang mereka maksudkan tidak masuk akal, Kandara tidak mau perpanjang. "Ini Pak, dan silahkan berikan tanda terimanya." Kandara berkata sambil menyerahkan kartunya, bukan black card yang diberikan Darel. Bisa makin panjang dan hebo, jika petugas melihat itu.
"Ibu tidak punya uang tunai?" Tanya petugas ragu-ragu, melihat Kandara memberikan kartu debitnya.
"Pak, suami saya tidak berikan uang tunai. Bukankah sekarang sudah terbiasa lakukan transaksi menggunakan card atau barcode?" Kandara berkata tenang tanpa mempedulikan wajah tidak senang petugas yang melayaninya.
...~•••~...
...~●○♡○●~...
Terimakasih buat authornya..