➦➣ISTRI RASA DEPKOLEKTOR 2↻
☔︎︎_FAV, LIKE, COMMENT_☔︎︎
🧨NO BOOM LIKE!🗡
Mencintaimu adalah kebahagiaan sederhana, tetapi memilikimu tuk jadi duniaku. ~Reyhan Aditya.
Rasa ini seperti baru bagiku, rindu yang membelenggu tak tau tuk siapa. Dia atau seseorang yang tak mampu ku ingat. ~ Asma.
Kamu hanya milikku, tataplah disisiku hingga akhir napasku. ~ Kendrick Al Zafran.
Antara rindu dan belenggu dalam cinta semu, kisah lalu merajut asa dalam penantian—perjuangan sang suami menyadarkan rembulan malamnya.
Bak kupu-kupu tak menemukan jalan pulang, langkahnya tertatih mengharapkan dekapan hangat sang kekasih halal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17#Kecurigaan, Keluarga Kacau
Pertanyaan Al cukup jelas tetapi keadaan pasien tidak memungkinkan. Sang dokter yang memang tahu tentang kasus pasien kali ini merasa harus memberikan perawatan yang terbaik. Semua itu karena kawan lamanya adalah dokter Asma selama di London. Secara tidak langsung, ia ditunjuk untuk menjadi dokter pengganti.
Namun disisi lain, ia juga tahu bahwa pria muda dewasa di depannya adalah tuan muda dari keluarga Zafran. Meski begitu, ia tak pernah toleransi jika menyangkut tentang keselamatan pasien yang sudah menjadi tanggung jawab dengan profesinya sebagai seorang dokter. Dedikasi harus diutamakan.
"Maaf Tuan Muda, tapi saat ini pasien membutuhkan istirahat dan bukan bepergian. Jika Anda kekeh membawanya pergi meski menggunakan helikopter, hal itu juga akan berpengaruh pada kesehatan pasien. Jadi saya sarankan untuk tetap berada di Indonesia.
"Bukankah selama ini Anda menjaga pola hidupnya. Apakah Anda pernah bertanya bagaimana perasaan atau keinginan pasien? Kita terbiasa melupakan fakta, dimana tidak seorangpun bisa membaca isi hati dan pikiran seorang manusia.
"Kita hanya berusaha untuk menjaga dari luar sedangkan dari dalam hanya pasien sendiri yang mampu melakukannya. Jika memang Anda ingin pasien kembali pulih. Maka tetaplah untuk di rumah sakit selama beberapa hari karena saya harus memantau keadaannya."
Dokter membenarkan jasnya, lalu mengulurkan tangan bersambut tangan Al. "Saya permisi dulu dan Anda bisa menemui pasien di ruang khusus yang sudah saya siapkan."
Setelah berjabat tangan, Si dokter berbalik melangkahkan kaki meninggalkan keluarga Zafran. Kepergian pria itu meninggalkan kebingungan antara ingin tetap di Indonesia atau justru kembali ke London. Jujur saja lebih baik dan aman ketika tinggal di luar negeri.
Sementara saat di Indonesia, semilir embusan arah anginpun mampu menipu harapan yang ada. Badai yang tak nampak mengawali kehidupan baru bertemu dunia lama. Rasa cemas dan gelisah di hati menyadarkan akan kebenaran yang selama ini tersimpan di dalam sanubari.
Papa Zaf menepuk pundak putranya. "Al, kita dengarkan saja apa kata dokter. Kita tidak bisa egois dan harus memikirkan keadaan kedepannya nanti. Mana mungkin untuk terus membuat Shine duduk di rumah atau hanya mendengarkan obrolan kita saja."
"Kita akan menjaganya bersama-sama dan jangan berpikir kamu seorang diri. Sekarang pergila, temani istrimu!" titah Papa Zaf melepaskan tangannya dari pundak sang putra.
"Benar yang dikatakan papamu, Al. Sebaiknya kamu pergi temui Shine dan mama serta papa akan mengurus semuanya termasuk biaya administrasi terlebih dahulu." sahut Mama Khadijah mendukung suaminya agar sang putra pergi berlalu meninggalkan keduanya.
Jika kemarin saat di London mereka tak bersama untuk melewati kesulitan hidup tapi hari ini mereka berkumpul mencoba untuk saling menguatkan. Obrolan yang serius setelah penantian selama dua jam, mereka masih harus tetap bersabar bahkan tidak menyadari keberadaan Fay yang duduk tak jauh dari tempat mereka.
Gadis itu mendengar semua obrolan tanpa terkecuali karena memang stay di tempat yang sama. Meski tidak berniat menguping tapi rasa penasaran membuatnya nekat duduk seorang diri dengan wajah tertutup koran. Penyamaran yang bisa dilakukan dimana saja.
"Pa, kenapa Mama merasa, Al menyembunyikan sesuatu tentang istrinya. Apakah itu hanya perasaanku saja atau memang Al menghindari kita sebagai orang tua." ujar Mama Khadijah dengan perasaannya yang tidak enak menyampaikan keluh kesah seorang ibu.
Papa Zafran yang memang juga memiliki perasaan sama seperti milik istrinya mencoba untuk tetap bersikap biasa. Padahal hati merasa tidak nyaman. Jujur saja ia bisa melihat dan menyadari saat Al berusaha memendam kenyataan hanya saja sebagai ayah, ia paham bahwa apapun yang dilakukan sang putra pasti memiliki alasan kuat.
Bisa saja ia menyuruh anak buahnya untuk memberikan informasi tanpa harus memberikan ultimatum tapi itu tetap tidak dilakukan karena ia lebih mempercayai kebenaran sang putra dari bibir. Dasar utama hubungan adalah keyakinan tanpa keraguan.
Mama Khadijah terdiam karena melihat suaminya membisu tanpa jawaban, sedangkan Fay yang masih mengamati harus berpikir keras. Pasutri di depan sana terlihat tenggelam dalam dilema. Situasikah yang membuat keluarga itu terlihat kacau?
Anehnya lagi, gadis itu masih stay. Padahal bisa saja pergi tetapi seakan ada yang menahan hingga tetap berada di tempat tersebut. Emosi di hati, kemelut di dalam benak pikiran menyatu mencoba mencapai kesepakatan meski tak kunjung menemukan jawaban.
Satu hal yang gadis itu pahami. Insting dan juga feeling menyatu membuat ia merasa harus mengetahui apa yang terjadi pada pasien. Gadis itu tak menyadari jika waktu yang digunakan akan mencapai jalan yang tepat.
Penantiannya bisa menemukan titik terang keberadaan sang kakak. Meski saat ini Fay masih belum tahu seperti apa wajah sang pasien. Andai sudah melihat pasti akan tenang di dalam kegelisahan perpisahan tanpa pertemuan.
"Ma, sebenarnya kita bisa saja membuat selebaran untuk mencari keluarga Shine tapi pasti Al menolak melakukan hal itu. Papa hanya ingin keluarga kita mendapatkan menantu yang baik agar bisa menjaga Al.
"Shine memang sepertimu hanya saja melihat kondisinya saat ini, justru akan menjadi salah satu kesulitan untuk mempertahankan hubungan. Al terlihat selalu over dalam melindungi Shine. Papa senang meski hati mempertanyakan sikap putra kita.
"Apa Mama tidak mau mencoba berbicara empat mata dengan Al?" Papa Zaf bertanya mengalihkan perhatian sang istri yang kini menatapnya.
Sebagai seorang ibu, ia tentu saja ingin putranya bisa terus terang dalam setiap permasalahan kehidupan tetapi ia juga menyadari Al bukanlah pria lemah. Pria yang sedikit-sedikit mengeluh dan berlari ke pangkuannya. Jadi untuk melakukan sesi tanya jawab antara ibu dan anak, ia merasa lebih terkesan mencurigai.
"Mama rasa tidak, kenapa bukan Papa saja yang mencoba? Sesama pria bisa saling mengerti bagaimana pola pikiran masing-masing." ucap Mama Khadijah membalikkan posisi agar sang suami memahami situasi keduanya hanya bisa menunggu Al berbicara terus terang.
"Tidak semudah itu, Ma. Cara Al menjaga Shine sudah jelas mempertegas hubungan mereka menjadi tanggung jawab utama. Sudahlah kita akhiri dulu percakapan ini, sebaiknya Mama temenin Al di kamar dan papa sendiri yang akan membayar administrasi." Papa Zaf berharap putranya segera memberikan kejelasan.
Apalagi istrinya memang bukan seorang ibu yang selalu mendominasi. Justru memberikan kebebasan pada Al untuk memutuskan mana yang baik dan mana yang benar. Kepercayaan itu akan menjadi keluhan ketika hati merasa tak sanggup lagi untuk memutuskan atau menyadarkan diri.
Apakah pilihan dan keputusan yang diambil sudah tepat? Yah pada saat tidak bisa menemukan jalan keluar, pastilah putra mereka akan datang mencurahkan isi hati dan pikiran dalam pangkuan kekeluargaan. Itulah yang mereka tunggu. Al mau berbagi perasaan tanpa paksaan.