Dong Fang, seorang anak muda yang penuh penyesalan, memulai perjalanannya dengan tujuan yang buruk: membalaskan dendam. Didalam perjalanannya membalaskan dendam, dirinya belajar mengenai banyak hal, termasuk kebijaksanaan. Tanpa dia sadari, perjalanannya untuk bertambah kuat, menuntunnya kejalan Keabadian.
Namun, di tengah perjalanan yang panjang dan penuh rintangan, Dong Fang menyadari bahwa perjuangan sejati bukan hanya tentang mengalahkan musuh-musuhnya di medan perang, melainkan juga tentang mengalahkan diri sendiri dan menemukan kedamaian dalam hati.
Dalam novel ini, Dong Fang belajar tentang nilai-nilai kebijaksanaan dan kesabaran, dan tentang pentingnya menghargai semua makhluk hidup, bahkan musuh-musuhnya sekalipun.
Melalui perjalanan Dong Fang, novel ini mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah perjalanan yang panjang dan penuh warna, dengan tantangan dan kegagalan yang tak terhindarkan. Namun, dengan tekad yang kuat, kesabaran, dan kerja keras, kita dapat menghadapi semua rintangan dan mencapai tujuan kita.
Perjalanan Pendekar Pedang Abadi juga mengajarkan kita tentang keindahan dan kekuatan alam semesta, dan betapa kita harus merenung dan belajar dari alam ini. Dong Fang menyadari bahwa setiap benda hidup di dunia ini memiliki perannya masing-masing, dan keberadaannya sangat penting untuk menjaga keseimbangan alam.
Dalam keseluruhan novel, kita melihat bahwa keberanian, tekad, kebijaksanaan, dan kesabaran adalah kunci untuk mencapai keabadian sejati. Perjalanan Pendekar Pedang Abadi mengingatkan kita bahwa hidup adalah perjalanan yang tak terbatas, dan meskipun kita mungkin tak pernah mencapai tujuan kita, prosesnya lah yang memberikan arti sejati dalam hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taufik Ichsan Aditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 16 - Duel
Dengan Jurus Aliran Air, Dong Fang menyerang Shan Bai. Serangan pertama itu terlihat cepat dan kuat. Dong Fang menyerang leher Shan Bai.
Shan Bai menghindari serangan itu, namun setelah dirinya menghindari serangan itu, serangan-serangan lain mengarah kearah bagian-bagian vitalnya.
Shan Bai menyeringai, dia terus menghindar serangan Dong Fang karena tak mempunyai ruang untuk dirinya menyerang, serangan lawannya terlalu cepat dan tak terlihat ada celah.
Melihat serangannya bisa terus dihindari, Dong Fang mengubah pola gerakannya. Serangan-serangan Dong Fang kini tak hanya menyerang bagian vital lawannya, namun seluruh badan lawannya yang pertahanannya rendah.
"Kau benar-benar kuat Fang." Shan Bai kini menahan serangan Dong Fang yang mengarah kearah ulu hatinya. Dia sedikit termundur saat menahan serangan itu.
"Ini belum seberapa." Dong Fang menjawab, dia mempercepat gerakannya dan memperkuat serangannya dengan menggunakan tenaga dalam.
Dong Fang yang menyerang Shan Bai dengan jurus Aliran Air versinya, kini menggunakan tenaga dalamnya untuk menyerang Shan Bai. Tangannya bersinar putih keemasan saat melayangkan pukulan.
Shan Bai terlihat kaget melihat itu, 'Bagaimana mungkin? Bukankah cahaya pada tangannya itu sama dengan Jurus Tapak Racun? Tapi, mengapa gerakannya berbeda?' pikiran Shan Bai kini sedikit kacau karena melihat yang mengejutkan baginya. Namun keterkejutan itu, bukan hal baik baginya. Celah yang besar terlihat dan membuat pukulan Dong Fang bisa dengan cepat mencapai wajah lawannya.
Shan Bai yang baru sadar dari keterkejutan nya, dia melihat tinju yang terkepal dengan cepat mengarah kepada wajahnya. Karena pukulan itu cepat dan sudah dijarak yang tak bisa dihindari, Shan Bai hanya bisa sebisanya menghindari pukulan itu dan membuat pukulannya mengenai bagian yang lemah diwajahnya.
Tapi, usaha Shan Bai tak terlalu membuahkan hasil. Wajahnya yang terpukul, membuatnya terpental dua meter dan terjatuh ketanah.
"Pertarungan bukan hanya soal adu fisik dan tenaga dalam, namun juga soal siapa yang hati dan pikirannya lebih kokoh." Jika Dong Fang bisa tersenyum, pastinya dia sudah tersenyum lebar. Dia kemudian menambahkan, "Setidaknya itu yang ditulis dalam buku yang aku baca." Dong Fang kemudian bergerak dengan seluruh kecepatannya kearah Shan Bai.
Dong Fang menyerang Shan Bai dengan seluruh kekuatan fisiknya. Dong Fang menggunakan lagi Jurus Aliran Air yang dipadukan dengan Jurus Tapak Racun, meskipun jurus tapak racun yang Dong Fang gunakan tak mengandung racun.
Kombinasi dua jurus itu menjadi jurus yang sukar ditebak, cepat dan juga memiliki daya hancur yang tinggi. Shan Bai menggerakkan giginya, dia terus menghindar dan menahan serangan Dong Fang, dia sama sekali tak memiliki kesempatan menyerang.
Shan Bai terus memerhatikan pola serangan jurus yang digunakan Dong Fang, hingga menemukan jurus itu memiliki jeda sebanyak dua detik setelah melakukan tendangan kearah lehernya.
Melihat kesempatan itu, Shan Bai bergerak cepat kesamping kaki Dong Fang yang sedang menendang. Jari-jari tangannya diselimuti tenaga dalam yang membentuk pisau tenaga dalam, kini mengarah kearah ulu hati Dong Fang, senyum sudah terlukis di wajah Shan Bai.
Dong Fang yang sadar kelemahan jurusnya dan sadar akan serangan lawannya, mencoba menghindar secepat yang dia bisa. Sampai-sampai tanah yang dipijaknya memadat karena tekanan kaki Dong Fang.
Serangan pisau tenaga dalam yang mengarah kepada Dong Fang, kini berhasil dia hindari. Meskipun begitu, serangan itu berhasil merobek baju bagian pinggang sebelah kirinya.
Setelah sadar serangan Shan Bai tak mengenai Dong Fang, Shan Bai menghentikan langkahnya dan mundur beberapa meter. Hal itu juga dilakukan oleh Dong Fang, dia mundur beberapa langkah menjauh dari lawannya.
Shan Bai tertawa, "Kau benar-benar orang yang menarik, kau benar-benar tak terprediksi." Shan Bai menatap tajam kearah Dong Fang, dia bersiap menyerang kembali. Namun tatapan tajam itu berganti menjadi tatapan curiga, "Fang, apa kau memakai baju pelindung?" mata Shan Bai fokus pada sobekan pada baju Dong Fang, terdapat sesuatu berwarna hitam didalamnya.
Dong Fang melihat pada arah pandangan Shan Bai melihat, yaitu dirinya. Karena itu, dia pun memandang dirinya, "Apa ada yang salah dariku? Aku tidak menggunakan baju pelindung." tanya Dong Fang pelan sambil menggeleng.
"Kalau begitu, apa benda hitam itu?" tanya Shan Bai dengan wajah curiga.
Dong Fang melihat lagi kearah dirinya sendiri, hingga menemukan robekan dalam pakaiannya dan sesuatu berwarna hitam didalamnya, "Ah, aku lupa tidak melepaskan ini." ucap Dong Fang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dong Fang kemudian mengeluarkan pemberat yang dipakai olehnya. Dia kemudian melempar sembarangan pemberatnya. Setelah pemberatnya itu terlempar, sebuah getaran kecil di tanah terasa hingga tempat Shan Bai, bahkan tanah tempat mendarat pemberatnya pun menjadi padat dan retak disekelilingnya.
"Ini benar-benar ringan. Aku tak menyangka berat badanku bisa seringan ini." Dong Fang kini merasakan kekuatan tubuhnya yang terlepas dari pemberat sambil menatap kearah lawannya.
Shan Bai yang melihat itu menelan ludah, dia ragu bisa berbuat hal yang sama dengan yang dilakukan temannya itu. Setelah itu dia tertawa keras, membuat Dong Fang yang menatap Shan Bai keheranan, meskipun tak terlihat ekspresi apapun.
"Aku menyerah, kurasa kau jauh lebih kuat dari yang aku bayangkan." Shan Bai tertawa kecil, kemudian mendekat kearah Dong Fang.
Dong Fang diam, setelah Shan Bai sampai ditempatnya, dia berkata, "Padahal pertarungan yang sebenarnya baru saja akan dimulai, kenapa kau tiba-tiba menyerah?" Dong Fang menghela nafas panjang, padahal dirinya ingin mencoba kecepatannya tanpa memakai pemberat.
Mendengar pertanyaan itu, Shan Bai kembali tertawa, "Tentu saja aku menyerah. Setelah melihat pemberat itu, sudah jelas aku yang akan kalah dan tak memiliki peluang menang." ucapnya sambil tersenyum kecut.