NovelToon NovelToon
TEMAN TAPI MENIKAH

TEMAN TAPI MENIKAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:234k
Nilai: 5
Nama Author: Dhessy

Menikah dengan teman sendiri? Tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Dulu kami saling bermusuhan. Em, no! Bukan bermusuhan. Lebih tepatnya berteman, bersahabat, tapi jarang sekali kita bisa akur.

Dan sekarang kami harus terlibat dalam suatu pernikahan.

Tidakk!!

Rumah tangga yang bagaimana yang akan kami jalani nanti?
Apa rasa sayang sebagai teman bisa berganti menjadi rasa sayang sebagai suami?

Tolong! Tolong katakan padaku kalau ini hanya mimpi!

Katakan padaku ini tidak nyata!

- Carissa Amalina -


Harus tinggal satu atap dengan perempuan yang bawel dan cerewet tak pernah terbayangkan olehku.

Kami berteman sejak kecil. Walaupun tidak bermusuhan tapi juga jarang akur.

Kami lebih banyak berdebat, tak ada yang mau mengalah. Apa jadinya kalau dikumpulkan didalam satu rumah?

- Raka Putra Wibawa -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TTM 17

"Raka." Rissa menyebut nama Raka pelan.

Rasanya dia masih tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya.

Didalam kamar, di atas ranjang kamar hotel. Raka sedang tertidur. Dengan wanita lain.

Inikah kejutan yang telah disiapkan oleh Raka untuknya?

Ini yang dia dapatkan setelah dia mati-matian berusaha menyusul Raka?

Rissa harus menyaksikan suaminya membawa perempuan lain ke atas ranjangnya. Bagaimana bisa Raka melakukan hal itu? Semalam Raka begitu bernafsu mereguk kenikmatan dari dirinya. Tapi malam ini ada wanita lain yang tertidur di sebelah Raka.

Baik Raka maupun wanita itu masih tertidur pulas tak menyadari kehadiran Rissa.

Mata Rissa terpejam erat ketika dia melangkah mendekat, tubuh Raka dan wanita itu terlihat polos. Bahu keduanya yang tak tertutup selimut sebagai pertanda.

"Raka!" Teriak Rissa mengejutkan kedua manusia yang sedang tidur dibawah satu selimut.

Raka membelalakkan matanya melihat penampilannya dan juga wanita yang berada di sampingnya.

"Rissa..." Raka panik.

Air mata Rissa berjatuhan. Dadanya terasa sesak menyaksikan langsung suaminya berselingkuh dengan wanita lain. Apalagi tanda merah keunguan yang ada di bahu Raka menjadi bukti bahwa perselingkuhan itu nyata.

Berulangkali Rissa menarik napas lalu menghembuskannya untuk mengurangi sesak di dadanya. Namun nihil. Usahanya tak berhasil.

Bahkan kakinya terasa lemas dan hampir saja terjatuh kalau saja Rissa tak berhasil bersandar pada dinding kamar.

Wanita itu tersenyum puas melihat betapa hancurnya Rissa. "Raka..." Panggil wanita itu dengan nada manja. Rissa muak mendengarnya. "Dia siapa kok bisa masuk ke kamar kita?" Tanyanya berpura-pura tak mengenali Rissa.

"Diam kamu!" Bentak Raka.

Raka segera berdiri dan memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai dan segera memakainya.

Dengan cepat Raka menghampiri Rissa yang sedang menangis. Raka berusaha menyentuh Rissa namun dengan cepat Rissa menepisnya dengan kasar. "Jangan sentuh aku!" Ucapnya dingin.

"Aku bisa jelasin, sayang. Kamu salah paham. Ini nggak seperti apa yang kamu lihat."

Rissa tersenyum sinis di sela tangisnya. "Aku salah paham?" Jeda sebentar. "Sudah jelas kamu tidur dengan wanita lain dan kamu masih bisa bilang aku salah paham!?"

"Rissa..."

Kedua tangan Rissa terangkat pertanda dia tak ingin Raka menyentuhnya. Rissa menghapus air matanya dengan kasar. Mengatur napasnya yang terasa sesak untuk berucap pada Raka.

"Aku kecewa sama kamu. Bukan hanya kecewa, tapi aku muak sama kamu." Rissa menoleh ke arah wanita yang masih duduk di atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut. "Dan kamu!" Tunjuk Rissa pada wanita itu. "Wanita macam apa kamu mau tidur dengan laki-laki yang bukan suami kamu?"

Wanita itu tersenyum sinis. Dia mendongakkan wajahnya menantang Rissa. "Lalu suami kamu ini juga laki-laki macam apa? Dia juga tidur dengan wanita yang bukan istrinya," ucapnya angkuh.

Rissa menggeleng pelan. "Kalian menjijikkan!"

Rissa segera berlari keluar kamar dan menuju kamar Kevin yang berada di samping kamar Raka. Tak peduli dengan Raka yang mengejarnya dan berusaha menjelaskan semuanya.

Pintu kamar Rissa ketuk dengan keras dan tidak sabar. "Kevin buka!"

"Ada apa, sih, Mbak?" Kevin menggerutu kesal. Baru saja ia mencoba memejamkan mata namun ketukan pintu yang begitu kasar menggagalkan rencananya.

"Loh, Mbak Rissa kenapa?" Gerutuannya berubah menjadi nada khawatir melihat Rissa yang menangis. Terlebih Raka menghampiri Rissa dengan penampilan yang begitu berantakan.

"Mas Raka?" Kevin mencoba meminta penjelasan kepada Raka.

"Rissa kamu..."

"Cepat bereskan barang-barang kamu. Kita pulang sekarang." Rissa menyela cepat sebelum Raka menjawab pertanyaan Kevin.

"Tapi, mbak?"

"Cepat, Kevin! Atau aku pulang sendiri!"

"O-oke."

Setelah Kevin selesai membereskan barang-barangnya, Rissa langsung menarik tangan Kevin untuk segera pergi dari tempat itu.

Rissa masih tak peduli dengan Raka yang berusaha mengejar Rissa. Kevin tak banyak bertanya ataupun tak berusaha menghentikan langkah Rissa.

Kevin hanya menuruti Rissa yang memintanya untuk segera check out dan pergi meninggalkan hotel tersebut.

"Rissa dengar penjelasan aku dulu, Rissa." Raka mengetuk kaca mobil berulang kali. Rissa tak peduli.

"Jalan, Vin!"

"Tapi, Mbak?"

"Mbak bilang jalan, Kevin!"

"Iya, Mbak."

Kevin menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran parkir hotel Nirwana. Rissa masih bisa melihat dari kaca spion bahwa Raka berusaha mengejarnya.

Namun Rissa tak peduli. Sakit hati dan kecewanya begitu dalam. Bahkan dia tak tahu apakah luka itu bisa sembuh atau tidak.

***

Sepanjang perjalanan, Rissa hanya diam menatap jalanan. Pandangannya kosong. Sesekali Rissa menyeka air mata yang menetes di pipinya.

Kevin tak berani berkata banyak selain sesekali dia menawarkan minum atau barangkali ingin ke kamar kecil. Namun hanya gelengan kepala Rissa yang Kevin dapat sebagai jawaban.

Kevin masih belum mengerti dengan apa yang terjadi diantara Rissa dan Raka. Kevin juga tak ingin ikut campur terlalu dalam mengenai hubungan mereka meskipun sebenarnya rasa ingin tahunya sangat besar.

"Ini langsung pulang, Mbak?" Tanya Kevin pelan.

"Iya, Vin. Ke rumah Mbak, ya? Nanti mobilnya kamu bawa pulang dulu nggak apa-apa," jawab Rissa tanpa melihat Kevin.

"Tapi Mbak sendiri di rumah. Aku khawatir."

"Enggak apa-apa. Mbak lagi pengen sendiri. Jangan bilang soal ini sama siapapun, ya, Vin?"

Kevin mengangguk. "Iya, Mbak."

***

Pukul 01.00 Rissa sudah sampai dirumah yang beberapa bulan terakhir dia tempati bersama Raka. Saat memasuki rumah, kenangannya bersama Raka terlintas begitu saja.

Rissa kembali meneteskan air matanya. Dadanya kian sesak mengingat perselingkuhan yang dilakukan oleh Raka.

"Aku salah apa sama kamu, Raka? Apa kurangnya aku sebagai istri kamu?"

Saat berjalan menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya bersama Raka, Rissa merasa tak sanggup. Dia terduduk lemas di atas lantai yang dingin.

Rissa menangis tersedu sambil memeluk kedua lututnya. Siapapun yang mendengarnya, pasti akan merasa kasian dan ikut merasakan apa yang Rissa rasakan.

Rumah tangga yang baru berjalan beberapa bulan sudah Raka nodai dengan perselingkuhan yang menyakitkan.

Apalagi yang bisa Rissa harapkan dari pernikahannya?

Rissa benci di khianati. Dia tak mungkin hidup bersama orang yang telah mengkhianatinya meskipun dia mencintai Raka.

Rissa tersenyum sinis. Cinta? Rissa tak yakin kalau Raka benar-benar mencintainya. Bisa saja ucapan cinta Raka tempo hari hanyalah bualan semata untuk menutupi perselingkuhan Raka.

💕💕💕

Raka mengacak rambutnya frustasi. Dia ingin mengejar Rissa tapi masih ada yang harus dia selesaikan terlebih dahulu.

Dia masih tak habis pikir kenapa mantan pacarnya bisa tidur di sebelahnya dalam keadaaan... Ahh... Untuk menyebutkannya saja Raka merasa mual.

Ternyata sikap baiknya terhadap Windi dimanfaatkan untuk merusak rumah tangganya bersama Rissa.

**Flashback**

"Raka, ya?"

Raka yang sedang berbicara dengan resepsionis hotel mendongak setelah mendengar suara seseorang yang begitu familiar menyebutkan namanya. Ada Windi yang berdiri didepannya samb tersenyum lebar. Raka terkejut, tapi juga bersikap biasa saja.

"Iya." Raka tersenyum tipis.

"Wah, aku senang banget ketemu kamu disini. Enggak nyangka, ya?"

Raka mengangguk saja. Dia juga tak menyangka akan bertemu kembali dengan Windi.

"Kamu menginap disini juga?"

Raka mengerutkan keningnya. "Iya. Kenapa?" Tanyanya singkat.

"Kita sama, dong. Kebetulan memang aku diutus kantor buat meninjau pembangunan gedung baru hotel ini."

Sekali lagi Raka hanya menanggapinya dengan senyuman tipis. Meskipun masih sama-sama di kota Semarang, namun jarak hotel dengan tempat kerja Windi cukup jauh. Lebih efektif untuk menginap saja daripada harus melakukan perjalanan pulang pergi.

Raka kembali berbicara dengan resepsionis. "Mbak, tolong nanti kalau istri saya datang, langsung suruh masuk aja, ya. Tolong di kasih kunci duplikatnya. Namanya Rissa, orangnya ini," ucapnya sambil menunjukkan foto Rissa yang menjadi wallpaper ponselnya.

Windi mengalihkan pandangannya. Dia tak sengaja melihat foto Rissa di ponsel Raka. Windi merasa kesal.

"Baik, Pak."

Baru saja Raka hendak pergi ke kamarnya, genggaman tangan Windi pada lengannya menghentikan langkahnya. "Ada apa?" Tanyanya dengan wajah datar.

"Kita udah lama nggak ketemu, Raka. Bisa kita ngobrol sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan."

"Sepertinya urusan kita sudah selesai, Windi. Kalau kamu mau minta maaf, aku sudah memaafkan kamu."

"Please, Raka!" Windi menatap Raka dengan tatapan memelas. Hal yang selalu Windi lakukan dulu ketika dia sedang merajuk meminta sesuatu. Dan Raka selalu luluh akan hal itu.

"Baiklah." Bukan karena Raka luluh akan tatapan Windi. Namun karena Raka ingin mencoba bersikap baik pada Windi.

Windi tersenyum senang. Dia kemudian mengajak Raka untuk duduk di saah satu kursi di cafe yang ada di hotel tersebut.

Windi memesankan minuman dan makanan yang biasa mereka pesan ketika dulu mereka masih berpacaran.

Niat hati Windi ingin membuat Raka mengingat kenangan mereka dulu. Namun ternyata Raka terlihat biasa saja.

Obrolan mereka lebih banyak di dominasi oleh Windi yang bertanya. Sedangkan Raka hanya menjawab seperlunya saja. Raka merasa was-was kalau Rissa tiba-tiba datang dan melihatnya tengah duduk bersama mantan pacarnya.

Raka tak ingin membuat Rissa salah paham.

Saat Raka mengatakan bahwa dia akan ke kamar mandi, saat itulah Windi memanfaatkan waktunya untuk menuangkan sebuah obat ke dalam minuman Raka.

"Kalau aku tidak bisa memiliki kamu, maka tidak ada yang boleh memiliki kamu, Raka. Termasuk Rissa sial*n itu!" Ucapnya disertai senyuman licik dari bibirnya.

Saat obat itu mulai bereaksi, dengan cepat Windi mulai melakukan rencananya. Membawa Raka ke kamar Raka sampai akhirnya Rissa datang dan menyaksikan Raka tertidur bersama Windi.

**Flashback off**

💕💕💕

"Kamu gila, Windi!" Teriak Raka penuh dengan amarah.

Saat Raka kembali ke kamarnya, Windi masih duduk diatas sofa tanpa rasa bersalah sama sekali. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat hubungan Raka dan Rissa hancur berantakan. Bahkan di hadapannya sendiri.

"Aku gila karena kamu, sayang." Windi beranjak dan berjalan mendekati Raka. "Raka, kamu milikku," bisiknya tepat di telinga Raka.

"Gila! Pergi kamu dari sini!" Raka menyeret tangan Windi dan menariknya untuk keluar dari kamarnya.

Raka bergidik ngeri saat melihat Windi yang tertawa puas. Menertawakan nasib rumah tangga Raka yang diambang kehancuran.

***

Berkali-kali Raka mencoba menghubungi ponsel Rissa. Berkali-kali juga Raka mencoba mengirimkan pesan. Namun ponsel Rissa tidak aktif sama sekali.

Ingin rasanya Raka pulang menyusul Rissa dan menjelaskan semuanya. Namun Raka juga tak bisa meninggalkan acara peresmian yang akan dilaksanakan beberapa jam lagi.

Entah apa yang akan dia katakan kepada kedua orangtuanya nanti kalau mereka menanyakan perihal Rissa. Raka tak ingin kedua orangtuanya tahu akan permasalahan yang sedang terjadi pada rumah tangganya.

💕💕💕

Kayak sinetron, ya? Udah ketebak 🤣🤣

Biarlah... Aku nulis cuma iseng aja kok.. semoga menghibur. 😛😛

1
Raudatul zahra
Yaa Allah nangis pas part ini🥺😢
Raudatul zahra
fyuuuuhhh... untung cuma mimpi nya Rissa.. 2 bab ikutan nangis.. bab ini baca nya sambil tersenyum manis donggg☺️☺️
Raudatul zahra
author kok🥺🥺 jahaaaattt 😭😭😭😭
Raudatul zahra
kesel pake banget thooorrrr
Raudatul zahra
Rissa yg terluka, aku yg nangis 😭😭
Raudatul zahra
aku kecewa sama kamu Raka !!!!!!!😭😭
Raudatul zahra
Raka, aku padamu😍😍😍
Raudatul zahra
🥺🥺🤗🤗
Raudatul zahra
😍😍😍
Raudatul zahra
kanebo kering 😭😭🤣🤣
Sri Wahyuni
p0lmopnmmmmlkklkj
Sri Wahyuni
bagus bgt novel ini, kok aq baru nemu ya
KHORI PRASTYA
halo salam kenal
Hykmah Hykmah
kak bagus ceritanya, part nya tambahin sampai 200 kk, ditunggu
aisya_
lakiknya gak tegas bgt sama mantannya, gak tampar ke apa ke, susah kali ya kalo masih cinta
Mel Melda
Aku yg melelehh🤗🤗🤗🤗
Mariana Frutty
✅✔️
Effi Hartati
ini adalah definisi sat set sat set yg gue suka 😭😭
Yatimela Afirah
bagus
TongTji Tea
wait apa aku yang galfok ya thor?
usia 27 udah jadi spesialis kandungan .
wah Rissa termasuk jenius nii.
TongTji Tea: semangat Thor ..its Ok .sekarang kan pasti lebih jago💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!