~NOVEL KE 11~
Novel ini merupakan kumpulan cerita kehidupan dari seorang remaja sebelas tahun bernama Hani.
Dia adalah putri tunggal dari pasangan Lea dan Erik yang sibuk bekerja sepanjang waktu.
Sehingga sehari-hari nya, Hani bermain sendiri bersama pensil dan buku sketsa nya.
Semuanya berjalan biasa sampai ketika Hani menerima sebuah pensil ajaib dari seorang Pak Tua.
Mulai saat itu lah kehidupan monoton gadis kecil itu berubah jadi istimewa!
Yuk ikuti kisah-kisah nya!
catatan: Novel ini Mel dedikasikan khusus untuk dua bocil Mel (Ram dan Riy) dan umum nya untuk semua anak-anak hebat Indonesia.
Love you all, Kiddo..🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Disekap
"Sayang, kamu sudah sadar?"
Erik menepuk pelan pipi Lea yang mulai sadarkan diri.
"Erik..?" Panggil Lea dengan kesadaran yang pulih seutuhnya.
"Ya, Sayang.. aku di sini.. kamu sudah sadar?" Tanya Erik begitu khawatir.
"Aku.."
Lea menghentikan ucapannya manakala ia ingat pada penculikan yang menimpa putrinya.
"Erik! Hani! Dia dan Nuri diculik!" Pekik Lea yang tiba-tiba bangkit duduk dari posisi berbaring nya di sofa.
"Lea, Sayang! Tenangkan dirimu! Ya. Aku sudah melihat rekaman CCTV nya. Kita akan melaporkan penculikan ini ke kantor polisi sekarang juga. Tapi itu setelah kamu sudah merasa lebih baik.." tutur Erik menjelaskan rencananya.
"Aku sudah baik, Erik! Ayo! Cepat kita pergi ke kantor polisi sekarang juga!" Ajak Lea dnegan kekuatan yang muncul entah dari mana.
"Ya Tuhan..! Hani, Sayang.. bagaimana kondisi nya sekarang. Aku khawatir sekali!" Pekik Lea kembali bergumam sendiri.
Erik membantu Lea bangkit berdiri.
"Ya, Sayang. Aku pun sama khawatirnya seperti mu. Tapi kita harus tetap berprasangka baik. Kita yakinkan saja kalau Hani dalam kondisi baik-baik saja sekarang ini," komentar Erik kemudian.
Selanjutnya, Erik berkata kepada kepala keamanan di mall tempat Lea pergi belanja bersama Hani dan Nuri.
"Terima kasih, Pak. Untuk bantuannya. Mungkin nanti akan ada polisi yang akan datang ke sini untuk mengecek rekaman CCTV," tutur Erik kepada kepala keamanan tersebut.
"Begini saja, Pak. Biar salah satu staf saya ikut menemani Bapak ke kantor polisi dengan membawa rekaman CCtV yang diperlukan juga. Dengan begitu laporan Bapak akan cepat diproses oleh kepolisian. Mohon tunggu sebentar. Saya akan membuat surat pengantar terlebih dulu," ujar sang kepala keamanan kepada Erik.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Erik dan Lea mengendarai mobil volvo menuju kantor polisi. Sementara mobil mercedes milik Lea yang ia bawa saat berangkat, telah diantarkan oleh salah satu staf keamanan lain dari pihak mall MataBulan. Di belakang volvo Erik, seorang staf keamanan mengikuti mereka dengan kendaraan motornya.
***
Sementara itu di gedung terbengkalai tempat Hani dan Nuri disekap..
"Nama kamu siapa? Umur mu berapa?"
Nuri menatap takut perempuan yang usianya berbeda beberapa tahun di atasnya itu.
Sejak dipisahkan dari Hani, Nuri lalu dimasukkan ke sebuah kamar yang terkunci. Di mana dalam kamar tersebut terdapat seorang anak perempuan yang sedang duduk santai membaca komik di atas salah satu kasur yang ada di sana.
Ketika masuk, ikatan di pergelangan tangan Nuri langsung dilepas oleh penculik di belakang nya. Sayangnya, belum sempat Nuri mencoba melarikan diri, penjaga itu telah lebih dulu mengunci pintu kamar dan mengurung Nuri di dalamnya.
Nuri pun langsung duduk meringkuk sambil menyender ke pintu. Sementara itu matanya menatap was-was pada anak perempuan lain yang telah lebih dulu berada di kamar.
Setelah beberapa lama, anak perempuan yang usianya berkisar antara enam belas atau tujuh belas tahun itu kemudian bangkit berdiri dan menghampiri Nuri. Sayangnya Nuri yang masih merasa takut malah langsung berlari mundur menjauhi perempuan itu.
"Tenang lah. Aku tak akan menyakiti mu. Aku juga sama seperti mu. Aku dibawa paksa ke tempat ini.." ujar perempuan itu mencoba menenangkan Nuri.
Nuri tak membalas perkataannya. Ia hanya menatap was-was ke arah perempuan itu.
"Nama ku Tara," sapa Tara memperkenalkan diri dari kejauhan.
Secara perlahan Tara melangkah mendekati Nuri. Namun saat ia merasa kalau Nuri akan kembali berlari menjauhinya, akhirnya Tara menyerah.
Gadis itu lalu memutuskan untuk ikut duduk di lantai seperti Nuri. Dengan posisi kedua lutut yang tertekuk dan dipeluk oleh tangannya sendiri.
Tanpa aba-aba, Tara pun menceritakan kisahnya hingga ia bisa berada di tempat ini.
"Aku dijual oleh ayah ku sendiri. Ayah ku memang payah sekali. Dia berhutang ke rentenir. Dan kesulitan untuk membayar hutang-hutang nya. Pada akhirnya, aku malah diserahkan ke pemilik tempat ini untuk menutupi semua hutang nya. Payah sekali bukan, Ayah ku itu?" Ujar Tara menceritakan kisahnya.
Nuri perlahan larut dalam cerita Tara. Pandangannya terhadap gadis itu pun perlahan turut melembut.
"Tapi aku bisa mengerti pilihan Ayah ku itu. Setidaknya ini lebih baik, dibanding adik perempuan ku yang harus berada di sini?"
" Oh ya! Aku punya seorang adik perempuan. Umurnya baru delapan tahun sebulan yang lalu. Sedihnya, aku tak sempat mengucapkan happy birthday padanya, karena aku terlanjur berada di tempat ini sebelum hari ulang tahunnya tiba.." lanjut Tara bercerita.
Hening sejenak..
"Jadi, siapa namamu? Biar ku tebak umur mu ya! Mm.. tiga belas tahun kan?!" Tebak Tara mencoba bersikap akrab.
Nuri spontan mengoreksi tebakan gadis itu.
"Dua belas.. umur ku dua belas tahun.." koreksi Nuri dengan suara kecil.
"Ooh.. dua belas.. yah.. hanya beda setahun saja!" Kilah Tara dengan sikap acuh.
Selanjutnya, Nuri menatap lekat Tara sambil menilai kepribadian gadis di depannya itu. Setelah memutuskan kalau Tara adalah orang yang baik, akhirnya Nuri pun memperkenalkan dirinya juga kepada Tara.
"Nama ku Nuri, Kak.. aku diculik saat sedang berdua dnegan sahabat ku di luar mall. Apa kakak tahu. Agar aku bisa menolong Hani, Kak? Nuri ingin pergi dari sini..!" Cicit Nuri sambil diiringi derai air mata yang tak bisa ditahannya.
Tak lama kemudian, Tara bangkit berdiri dan menghampiri Nuri yang duduk meringkuk dalam tangisnya. Gadis yang usianya lebih tua itu lalu merangkul bahu Nuri dan mengusapnya berkali-kali.
Ia bisa sedikit mengerti perasaan Nuri saat ini. Karena seperti Nuri, sebenarnya Tara pun ingin bisa kembali pulang ke rumahnya lagi. Ia rindu pada adiknya, Zavana.
Sayangnya Tara tahu. Bahwa itu adalah harapan yang sulit untuk diwujudkannya. Karena dari yang ia dengar dari penjaga di rumah ini. Kalau setiap anak yang sudah masuk ke rumah ini, maka tak ada yang pernah melarikan diri dengan selamat.
"Hh.. sabar ya, Nuri. Nanti kita akan cari jalan keluarnya, ya.. jangan menangis lagi.." hibur Tara dengan kalimat kosong.
***
Di kamar gudang yang berada di lantai bawah, Hani duduk meringkuk seorang diri.
Begitu terpisah dari Nuri, Hani diseret paksa ke sebuah kamar gelap yang pengap dan juga lembab.
Hani tak bisa melihat ada apa saja di ruangan itu ataupun juga besar ruangannya seluas apa. Karena hanya kepekatan saja yang bisa ditangkap oleh matanya, begitu penculik di belakangnya mendorong Hani hingga tersungkur jatuh ka lantai yang lembab.
Kini, sudah setengah jam berlalu. Dan Hani masih tak mendengar suara apapun selain tetesan air di sisi lain dalam ruangan tempatnya berada kini.
Dalam kegelapan inilah akhirnya Hani membiarkan dirinya untuk menangis bebas.
Gadis kecil itu akhirnya luruh juga dalam rasa takut yang mendera jiwanya saat ini.
"Mama.. Papa.. tolong Hani.. Hani mau pulang, Ma!" Lirih Hani dengan suara pelan.
***