Andi dan Intan adalah dua kakak beradik yang terlahir dari keluarga sederhana. Andi umur 5 tahun dan Intan adiknya umur 3 tahun. Bapaknya meninggal karena serangan jantung, sedangkan mamaknya menikah lagi dengan seorang pria duda.
Mereka (Andi dan Intan) harus berjuang sendiri tanpa kedua orang tua, hingga menjadi pengemis dan pengamen untuk bertahan hidup. Akan tetapi, Andi dan Intan berpisah karena suatu kecelakaan di sebuah lampu merah.
Bagaimana kisah selanjutnya tentang kedua kakak beradik ini? Ikuti kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tampan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17: Menjadi Pengemis Dan Pengamen-2
Pagi yang cerah dan langit tampak biru bersih, fly over yang disertai lampu merah itu sudah ramai dan terdengar hiruk-pikuk kendaraan. Dapat dikatakan, hiruk-pikuk kendaraan menjadi alarm bagi Andi, Intan, Putri, dan ibu itu.
Setelah bangun pagi dan sebelum beraktivitas, Andi, Intan, dan Putri lebih dulu pergi jajan sebagai pengganti sarapan sambil membawa gelas plastik kecilnya masing-masing.
Selesai jajan, mereka siap untuk mengharapkan uluran tangan orang-orang.
Di saat lampu merah Putri tidak mengemis, melainkan mengamen. Dia bernyanyi sambil memukul-mukul gelas plastik kecilnya.
Tetapi, Andi dan Intan langsung mengulurkan tangan dengan gelas plastik kecil yang digenggamnya di tempat berbeda.
Andi sambil menoleh Putri seolah bertanya, "Kok lain atau beda?" Lalu, dia mengurungkan niatnya untuk melanjutkan mengulurkan tangan dan kembali menepi ke bahu jalan bersama Intan. Mereka memperhatikan cara baru yang dilakukan Putri.
Lampu merah berikutnya, Andi mencoba mengamen seperti yang dilakukan Putri. Dia bernyanyi dengan lagu anak-anak yang diketahui sambil memukul-mukul gelas plastik kecilnya.
\~<>\~<>\~<>\~<>\~
Lirik lagu yang dinyanyikan Andi:
Lihat kebunku,.
Penuh dengan bunga,.
Ada yang putih,.
Dan ada yang merah,.
(Dan selanjutnya)
\~<>\~<>\~<>\~<>\~
Sedangkan Intan hanya mengikuti ujung-ujung lagunya saja sambil bertepuk tangan.
Setelah selesai bernyanyi, Andi kemudian mengulurkan tangan dengan gelas plastik kecil yang digenggamnya kepada pemilik atau sewa mobil. Apakah ada yang memberi uluran tangan? Mungkin ada, tidak, dicuekin atau kata maaf.
Saat lampu hijau, mereka kembali mengulurkan tangan kepada setiap orang-orang yang berjalan kaki. Uang yang mereka dapat dikumpul-kumpul atau langsung dibelikan jajan.
Lampu merah berikutnya lagi, Andi bernyanyi yang juga diikuti oleh Intan sama seperti di lampu merah sebelumnya.
\~<>\~<>\~<>\~<>\~
Lirik lagu yang dinyanyikan Andi:
Kasih Ibu kepada beta,.
Tak terhingga sepanjang masa,.
Hanya memberi tak harap kembali,.
Bagai sang surya menyinari dunia,.
(Dan selanjutnya)
\~<>\~<>\~<>\~<>\~
Di saat Andi dan Intan bernyanyi, seorang ibu pengendara mobil yang jaraknya kira-kira dua mobil dari mereka merasa iba melihat dan ingin memberikan sesuatu, tetapi tidak sempat karena keburu lampu hijau.
Lewat lampu merah sekitar 20 meter, ibu itu berhenti dan keluar dari mobilnya. Ibu itu menghampiri Andi dan Intan.
"Nak, Mama kalian di mana?" tanya ibu itu sambil membungkukkan punggungnya.
"Enggak pulang," jawab Andi lalu menunjukkan ekspresi wajah mau menangis.
"Sudah, jangan menangis ya, Nak" kata ibu itu sambil mengelus-elus rambut Andi dan Intan.
"Bapak kalian di mana?" tanya ibu itu kemudian.
"Sudah meninggal," jawab Andi dengan lugu dan air matanya menetes dipipinya.
Ibu itu seperti tersentak seakan paham permasalahan di keluarga Andi dan Intan. Mungkin karena NALURI seorang ibu.
"Apa kalian sudah makan?" tanya ibu itu.
"Sudah, makan kue," jawab Andi.
"Apa kalian masih lapar?" tanya ibu itu lagi.
Andi dan Intan hanya terdiam. Walau tidak ada jawaban, ibu itu tetap membawa mereka ke sebuah warung makan di sekitar lampu merah sambil memegang pundak Andi.
Tiba di warung makan, mereka langsung duduk. Kemudian ibu itu memesan dua piring nasi untuk Andi dan Intan saja.
Tidak berapa lama, pesanan pun datang. Tetapi Andi dan Intan tidak langsung makan, mereka seperti malu-malu.
"Makanlah, Nak" kata ibu itu sambil mendekatkan piring lagi ke depan Andi dan Intan. Mereka pun makan. Ibu itu menuang air minum ke gelas Andi dan Intan.
Ibu itu berlinang air mata melihat mereka makan dengan lahap.
"Tuhan, lindungilah kedua anak ini," doa ibu itu dalam hati.
Ditengah lahapnya makan, Andi berkata, "Enak kan, Dik!"
Intan hanya mengangguk, lalu menoleh ibu itu dengan tatapan lembut dan tempelan debu diwajahnya semakin menambah keimutannya.
"Cepat makan, Dik! Biar minta uang lagi kita," kata Andi tiba-tiba.
"Namamu siapa, Nak?" tanya ibu itu sambil menundukkan kepalanya menatap wajah Intan dan memegang kepalanya.
"Intan," jawab Intan dengan malu-malu seperti suara berbisik.
"Siapa?" tanya ibu itu mengulangi.
"Intan," jawab Intan dengan mengeraskan sedikit suaranya.
"Namamu siapa, Nak?" tanya ibu itu kemudian kepada Andi.
"Andi," jawab Andi.
Melihat nasi di piring Andi dan Intan sudah mulai habis, ibu itu menawarkan untuk tambah.
"Tambah nasinya, Nak?" tanya ibu itu. Andi hanya geleng-geleng kepala.
"Nak, ikut dengan Ibu aja, ya!" kata ibu itu tiba-tiba kepada Intan setelah mereka selesai makan. Maksud ibu itu, dia ingin mengadopsi Intan.
"Ikutlah aku Bu, jangan hanya Adikku aja," kata Andi sambil menunjukkan ekspresi wajah mau menangis.
Mendengar perkataan Andi yang tidak rela berpisah dengan adiknya, hati ibu itu bagaikan disayat-sayat hingga meneteskan air mata. Tetapi mau bagaimana lagi, niat ibu itu hanya ingin mengadopsi satu orang saja.
Karena tidak mampu menahan air mata, kemudian ibu itu beranjak menuju kasir untuk membayar nasi Andi dan Intan.
Setelah membayar, ibu itu kembali duduk di tempat semula.
"Nak, ini uang jajan kalian, ya" kata ibu itu sambil memberikan uang. Mereka pun menerimanya dengan senang.
"Nak, besok Ibu datang lagi, ya" kata ibu itu sambil mengelus-elus rambut Intan. Andi hanya mengangguk.
Kemudian, mereka beranjak dari tempat duduknya masing-masing dan keluar dari rumah makan. Andi dan Intan berlari menuju di mana Putri berada. Ibu itu menatap mereka yang kelihatan gembira sambil tersenyum dan berlinang air mata.
Setelah bertemu dengan Putri, Andi menoleh ke arah ibu itu yang tidak ada lagi karena sudah pergi. Mereka kembali mengulurkan tangan hingga sore hari.
-----
Kemiskinan atau kesengsaraan tidak akan berakhir dari dunia ini, tetapi kebaikan (mungkin) akan berakhir. Jadi tugas kitalah untuk saling membantu, membantu yang kurang mampu agar kebaikan tidak berakhir. Memberi kepada orang yang tidak mampu tidak menjadikan kita jatuh miskin.
-----
BERSAMBUNG..
**Hai para READER, jangan lupa Vote, Like dan Komen ya. Terima kasih..**🙏🌹