Akibat kecelakaan yang dialaminya, Ryan Jamaluddin justru kembali ke masa lalu, di mana waktu itu dia sedang di rawat di rumah sakit dengan kesulitan ayahnya untuk biaya pengobatannya.
Mampukah Ryan Jamaluddin untuk mengubah kehidupan keluarganya di masa lalu, agar ayahnya tidak menderita dan diremehkan orang lain, termasuk sang Paman?
Lalu misteri pembunuh ibu dan ayahnya di masa lalu juga harus dipecahkan. Apakah Ryan Jamaluddin mampu melakukan semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Pelakunya
Di kehidupan kedua sekarang ini, Ryan berjanji tidak akan pernah membiarkan ayahnya menderita lagi, apalagi sampai kekurangan uang.
Selain rumah yang sudah dia jaminkan ke Bank terbayar, Ryan juga membuat dan mengisi rek tabungan untuk ayahnya, rekening pribadi yang dimiliki ayahnya, supaya ayahnya tidak pernah kekurangan lagi.
Ryan tidak mau di kehidupan keduanya ini ayahnya menderita, apalagi sampai mengalami tekanan dan sakit yang mengakibatkan ayahnya meninggal dunia.
"Ayah sehat-sehat saja kan, selama Ryan di jakarta?" tanya Ryan pada ayahnya.
Dia tetap merasa khawatir dengan keadaan ayahnya, selamat dia tinggal sendiri, karena dia harus bekerja di Jakarta.
"Ya Ryan, Ayah baik-baik saja. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Ayah."
"Oh ya, apakah kamu bisa menjaga diri di Jakarta sana? Kamu harus tetap menjaga kesehatan dan berhati-hati. Kota besar itu katanya jahat, jadi Kamu harus bisa memilih teman dan tempat tinggal yang baik."
Imam menasehati Ryan, karena dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada anaknya, sehingga anaknya itu bisa kenapa-kenapa, karena dia berada jauh di kampung dan tidak tinggal bersama Ryan. Rasa sayang dan perhatian ayahnya ini membuat Ryan terharu, sebab dia sudah besar dan bisa bekerja saja, ayahnya masih tetap sama seperti pada waktu dia masih kecil dulu.
Mendengar pertanyaan ayahnya yang penuh perhatian, Ryan justru memiliki niatan untuk membawa ayahnya itu tinggal bersamanya di Jakarta. "Ayah, bagaimana jika Ayah ikut Ryan tinggal di Jakarta saja?"
"Tidak."
Mendengar permintaan Ryan, ayahnya justru menjawab dengan menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak. Ayah tidak akan pernah meninggalkan rumah ini Ryan, lanjutnya lagi.
Imam menjawab dengan tegas, bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan rumah ini untuk ikut bersama dengan Ryan di jakarta.
"Kenapa yah?" tanya Ryan ingin tahu.
"Cinta Ayah ada di sini. Di rumah ini."
Ryan mengerutkan keningnya mendengar jawaban yang diberikan oleh ayahnya kali ini. Dia tidak paham dengan maksud perkataan ayahnya, yang menyatakan bahwa cintanya ada di rumah ini.
Imam terkekeh kecil, melihat wajah anaknya yang penuh kerutan di kening.
"Hehehe... tidak usah heran begitu. Lihat keningmu itu! tidak perlu berkerut seperti itu terus, nanti cepet tua."
Ryan reflek memegang keningnya sendiri, setelah mendengar komentar ayahnya. Hal ini membuatnya ikut terkekeh juga, karena tidak menyangka, jika ayahnya memperhatikan dirinya sedetail itu. Padahal sebenarnya apa yang dia lakukan seperti ini adalah hal yang biasa saja, di saat merespon sesuatu.
Ini adalah bentuk candaan ayahnya semata, yang tadi tidak disadari oleh ryan.
Sekarang ayahnya mulai bercerita tentang maksud dari alasannya tadi, mengatakan bahwa dia tidak akan meninggalkan rumah ini sebab cintanya ada di rumah ini juga.
"Rumah ini adalah rumah kenangan Ayah bersama dengan ibumu. Kamu juga lahir di rumah ini, dan ibumu meninggal juga di rumah ini."
Sekarang wajah tua Imam tampak bersedih, bahkan kedua matanya sudah tampak berkaca-kaca, mengingat kenangan lama yang sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu. Tapi tetap menyisakan kesedihan yang mendalam, seandainya ada waktu untuk mengingat kejadian yang dulu-dulu.
Kini Imam mulai menceritakan tentang kisah ibunya Ryan, yang meninggal dunia secara mendadak, pada saat ringan masih berusia 5 tahun.
"Waktu itu, ibumu baru saja pulang dari pasar. Dia berbelanja untuk kebutuhan rumah selama satu minggu, karena begitulah kebiasaan ibumu dulu. Jadi berbelanja ke pasar langsung, untuk stok kebutuhan selama satu minggu. Karena untuk ikan atau lauk pauknya, Ayah selalu bawa selepasnya melaut."
Imam waktu muda adalah seorang nelayan yang gigih. Jika tidak musim menangkap ikan, dia bisa bekerja di mana saja, yang penting bisa menghasilkan uang untuk menghidupi keluarganya.
Pagi itu dia tidak bisa mengantarkan istrinya ke pasar karena harus menjaga ikan-ikan yang diproses untuk ikan asin, baru saja dijemur. Imam juga harus menjaga dan menemani Ryan di rumah.
Sepulang dari pasar, ibunya Ryan bercerita jika tadi bertemu dengan Ilham, adik iparnya. Bahkan adik suaminya itu, juga memberinya minuman untuk menghilangkan rasa haus.
Tapi sayang, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, yang artinya kehidupan didepan kita adalah rahasia, untung maupun malang atau sial sering datang tiba-tiba tanpa disangka-sangka.
Dua jam setelah kepulangan istrinya dari pasar, ibunya Ryan mengeluh pusing dan mual. Bahkan tak lama kemudian ibunya Ryan muntah-muntah, dan mengeluhkan kepalanya yang terasa sangat pusing.
Imam Jamaludin yang mendengar teriakan istrinya, yang sedang muntah-muntah, berlari mendekat dan membiarkan Ryan bermain di halaman rumah sendirian.
Tapi sayangnya istrinya itu sudah jatuh pingsan. Imam panik dan tidak tahu harus berbuat apa, untuk bisa menyelamatkan istrinya selain membawanya ke tempat tidur.
Dia juga berusaha untuk menyadarkan istrinya itu, dengan memberikan banyak minyak kayu putih pada kaki dan tangan serta leher dan kening. Imam juga memijit-mijit beberapa bagian tubuh istrinya, upaya bisa cepat sadar.
Tapi ternyata istrinya tetap tidak bisa bangun, sehingga meminta pada Ryan untuk mencari bantuan ke tetangga.
Setelah ada tetangga yang datang, Imam meminta pada mereka untuk memanggil dokter atau mantri yang terdekat di kampung mereka ini.
Sayangnya nyawa istrinya tidak tertolong, sebelum tenaga kesehatan itu datang.
Tapi yang membuat Imam merasa terkejut adalah, perkataan dari mantri yang sempat datang dan memeriksa kondisi tubuh istrinya. Mantri atau dokter tersebut mengatakan bahwa istrinya itu meninggal dunia karena keracunan makanan atau minuman.
"Tapi dia belum sempat makan atau minum sepulang dari pasar. Karena istriku saja baru menyiapkan bahan-bahan yang beli di pasar untuk di masak," kata Imam pada waktu itu, menyangkal hasil pemeriksaan dokter.
"Tapi ini racun yang perlahan-lahan reaksinya, jadi korban tidak langsung merasakan reaksi dari bahan racun tersebut. Bisa saja istri Bapak tidak sengaja makan atau minum di pasar tadi. Dan dia tidak tahu, bahwa apa yang dikonsumsinya itu mengandung racun."
Imam menganggukkan kepalanya paham, dengan apa yang dikatakan oleh dokter mengenai segala kemungkinan yang terjadi, pada waktu istrinya di pasar.
Dari simpulan yang dibuat oleh dokter, Imam hanya bisa pasrah dan menerima nasib, jika mulai sekarang dia sudah tidak lagi memiliki istri, dan harus siap untuk hidup berdua saja bersama dengan anaknya, Ryan.
Dia tak mungkin menyelidiki segala sesuatu yang berkaitan dengan makanan maupun minuman, yang tadi sempat diminum istrinya saat berada di pasar. Sebab jika itu terjadi, bisa saja dia yang akan di tuduh telah melakukan rencana pembunuhan ini, atau dia akan dicaci maki banyak orang, karena telah menuduh orang-orang pasar meracuni istrinya.
jangan lupa mampir ya kak. biar tambah semangat iklan sbg sponsor
E tapi 2014 ada taruhan bola ya. Aku lupa loh
Diriku tandain buat baca chapter pertama
penasaran !!