"Bagaimana? Apa kau menerima tawaranku?" tanya seorang pria yang berpenampilan dengan setelan jas bermerk dunia. Matanya menatap gadis dihadapannya dengan sejuta maksud.
"Apa anda akan memenuhi semua kebutuhan saya? Termasuk biaya perawatan tubuh saya yang terbilang tidak murah?" gadis itu mencoba memastikan kembali apa yang ditawarkan oleh pria yang tengah mengunci pergerakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 17. 'Mas'
Kali ini Arruna yang terbengong dengan permintaan pria ini. Pasalnya yang dia tahu, panggilan seperti itu Naomi pakai untuk orang yang berjualan makanan di pinggir jalan. Naomi selalu memanggil mereka dengan sebutan itu.
"Nggak salah?" tanya Arruna bingung dengan permintaan Revald.
Revald mengangkat alisnya, seolah bertanya apa Arruna keberatan mengenai panggilan tersebut.
"Bukan ... maksudnya itu ...." Arruna sendiri juga bingung bagaimana menjelaskannya. Mengetahui posisi Revald yang merupakan pemilik showroom mobil terbesar di Surabaya, agaknya tidak pantas kalau dirinya memanggil pria itu dengan sebutan yang sama seperti orang penjual bakso atau nasi goreng yang ada di pinggir jalan.
"Kenapa?" tanya Revald singkat.
Sedangkan Arruna takut salah kata dan berakhir kena denda jika ia tidak menuruti perintah pria itu.
"Begini ... jangan salah paham dulu," Arruna yang biasanya sangat pemberani, kini tidak bisa berkutik sama sekali jika berhadapan dengan Revald. Pasalnya ada aturan yang mengikat Arruna. Dirinya benar-benar terjebak oleh permainan CEO satu ini.
"Jangan berbelit!"
"Iya, iya. Sabar dulu dong." entah kenapa Arruna merasa enggan. Kemudian Arruna melangkah mendekat ke arah Revald.
Biar bagaimanapun Revald merupakan orang terpandang. Arruna tidak bisa berkata sesuka hatinya.
"Setahu aku, panggilan mas itu ditujukan kepada penjual makanan yang ada dipinggir jalan. Emangnya kamu mau aku panggil seperti mereka?" tanya Arruna dengan suara lirih agar tidak terdengar oleh orang lain. Sementara staf butik yang sangat peka pun membalikkan tubuh mereka. Seolah tidak mendengar maupun melihat apa yang pelanggan mereka perbuat.
Ctak!
"Aawww!" pekik Arruna seketika sembari mengusap keningnya yang disentil secara tiba-tiba oleh Revald.
"Siapa yang bilang?"
"Naomi," jawab Arruna ketus.
"Kalau gitu, panggil aku Ayang." perintah Revald.
Sontak Arruna terbatuk seketika disuruh memanggil demikian oleh Revald. Mana sudi dirinya memanggil pria pemaksa dan suka seenaknya sendiri dengan panggilan yang sangat menggelikan menurutnya.
"Nggak!"
"Harus!"
"Menggelikan banget." Debat Arruna.
Revald memicingkan mata, menatap Arruna begitu dalam juga melangkah ke depan.
"Turuti atau bayar denda?" tawar Revald sembari mengangkat alisnya. Membuat Arruna membeku di tempatnya. Bukan karena takut dengan orangnya, melainkan takut kalau sampai disuruh membayar denda. Sebab denda yang tercantum di dalam kontrak mereka jumlahnya sangatlah fantastis.
"A-ayang," lirih Arruna tanpa melihat ke arah Revald.
Diam-diam Revald menarik satu sudut bibirnya ke atas, di kala melihat ekspresi Arruna yang tidak berkutik dan menjadi penurut hanya karena ancaman kecil yang dia lontarkan.
***
Hari yang ditunggu pun tiba. Suasana di gedung mewah yang terletak di kota Surabaya tersebut tampak begitu ramai oleh para tamu yang hadir di pernikahan orang yang berpengaruh. Terlebih lagi kakek dari sang mempelai pria.
Di hari pernikahan seperti ini, biasanya sang mempelai pengantin akan terlihat sangat bahagia. Karena hari seperti ini merupakan hari yang paling bersejarah dan mereka tunggu-tunggu. Di mana hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup mereka.
Namun, tidak bagi Arruna. Wanita itu terdiam sedari subuh tadi. Tidak mengeluarkan suara sama sekali meskipun banyak orang-orang yang memuji kecantikan wanita itu hari ini.
"Kamu kenapa sih, Ru? Dari tadi kok cemberut terus," tanya Naomi. "Keliatan tua loh kamu," imbuhnya berniat menggoda Arruna. Sebab anak dari majikan ibunya tersebut tidak berbicara sama sekali.
"Aku mau bunuh diri saja," ujar Arruna tiba-tiba dengan tatapan kosong ke arah depan. Di mana di sana menampilkan sosoknya yang begitu cantik dengan riasan yang sempurna.
kampus rada elit bayar e
ubaya
petra
kampus yg standart
itats
unipra
stesia
wijaya
hangtua
upn
17agustus
tinggal pilih
itu bukan manja tp kebablasan
salah asuham
gkk bahaya tah