"Baiklah saya langsung saja, saya Dean D, umur sembilan belasa tahun saya cerdas dan cantik, saya juga orang yang setia." gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut dan suarah yang mantap, Hermawan mengangguk sembil menahan senyumnya karena gadis itu sangat percaya diri.
'Apa hubungannya denganku?' pikir Hermawan, mencoba bersikap biasa saja, walau sebenarnya dirinya ingin tertawa sekeras-kerasanya, gadis kecil itu sangat mengemaskan.
"Saya datang kesini untuk melamar anda Hermawan untuk menjadi suami saya." gadis itu tersenyum setelah mengatakan hal itu senyum yang sangat lembut.
Hening sesaat.
'Apa aku di lamar gadis ini?' Hermawan melongo sesaat kemudian tertawa lepas. "Hahahah, anda salah orang nona, saya tidak mengenal anda dan saya tidak tertarik pada anda." Jawab Hermawan sambil tertawa bahkan memengangi perutnya, yang mulai terasa sakit, beberapa cairan keristal mulai muncul di sudut mata Hermawan, laki-laki itu tertawa sambil mengelap air matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka July, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 Cemas
Hermawan kembali bekerja, tapi hatinya benar-benar tidak tenang ia terus memikirkan Dean, Hermawan terus teringat bagaimana Lucas menatap Dean dengan tatapan lembut dan penuh cinta, itu sangat menyeramkan bahkan menjijikan.
‘Tidak! aku tidak akan membiarkan Lucas mendapatkan Dean, dia istriku dan aku harus mempertahankannya!’ Laki-laki itu bertekat seakan ini adalah pertarungan hidup dan matinya dengan Lucas untuk memperebutka Dean.
***
Dean menatap mobil sport Ferary berwarnah putih miliknya yang sengaja di bawakan pak Dodi salah satu pelayanya. Dean melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menujuh salah satu tempat wisata di pusat jakarta, Dean mengajak Lucas masuk ke beberapa museum, Dean tahu Lucas sanagat menyukai sejarah, Dean juga memperkenalkan beberapa kesenian asal Indonesia seperti wayang, batik dan lain-lain.
Lucas tidak berhenti terkagum-kagum atas apa yang di lihatnya, ia juga memborong banyak sovenir untuk di bawah ke Prancis nanti.
“Kamu belanja lebih banyak dari perempuan,” Dean mengejeknya.
“Kamu tau aku jarang kesini,” Lucas membelah diri, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. “Kemana lagi kamu akan membawaku?” Lucas bertanya.
“Bandung,” Dean lalu menjalankan mobilnya menujuh Bandung, Hampir tiga jam mereka menempuh perjalanan panjang itu, walau hari mulai sore, tapi semangat Lucas tidak surut sedikitpun.
“Bukankah, kamu harus beribadah?” Lucas menginggatkan saat di jalan mereka mendengar suara azan. Suara yang dulu menurutnya seperti sebuah lagu yang indah.
“Ya, makanya aku mengajakmu ke sini,” jelas Dean, lalu menepihkan mobilnya di salah satu bangunan yang terdapat gubah di atasnya, mereka melangkah ke salah satu mesjid besar di kota itu, “Aku akan sholat dulu, kamu boleh beristirahat di mobil, kita akan melanjutkan pejalanan setelah isya’.“ Dean menjelaskan.
Lucas mengangguk mengerti, ia sudah belajar sedikit tentang agama yang dianut Edmond dan Dean, terutama saat Edmond dan Dean datang ke rumahnya, mereka selalu melakukan gerakan yang asing bagi Lucas, kadang berdiri dan bersujud, pakaian yang mereka gunakan juga saat beribadah sangat aneh dan tertutup, awalnya Lucas bertanya apa mereka tidak kepanasan, tapi Edmond menjelaskan semuanya.
Lucas juga bingung saat melihat Emily lebih memilih memasak ayam, sapi dan ikan selama Dean dan Edmond tinggal di sana. Lucas bahkan menjadi jarang mengkonsumsi daging babi kesukaannya, kalaupun Emily memasaknya, Lucas tidak pernah melihat Edmon dan Dean memakanya. Selain itu, Lucas tidak perna melihat Edmond meminum alkohol saat musim dingin tiba, Edmond lebih memilih meminum kopi, coklat hangat atau air jahe hangat yang di buat Emily untuk menghangatkan tubuhnya.
Rasa penasaran Lucas semakin lama semakin besar, hingga ia akhirnya membeli buku-buku mengenai kepercayaan yang di anut Edmond dan Dean, disana ia mulai mengerti semuanya, bahwa kepercayaan mereka berbeda, bukan hanya itu saja Lucas juga terkejut saat melihat Emily dan Mario ikut membaca beberapa buku yang berhubungan dengan Islam.
Emily juga menjelaskan bahwa dulu Edmond memiliki keparcayaan yang sama seperti mereka, tapi semua berubah saat Edmond memutuskan menikah, pada mulanya semua keluarga menolak keputusan Edmond terutama kakek dan nenek Dean, tapi mereka mencobah menerima semua keputusan itu, terlebih melihat bagaimana Edmond sangat menyayangi anaknya setelah kematian istrinya.
Seajak saat itu, keluarga Edmond di Prancis selalu mendukung Edmond serta Dean, mereka tidak membedakan satu sama lain hanya karena soal kepercayaan mereka berbeda.
***
Hermawan terus menatap jam di tanganya, ‘Ini sudah jam enam, mengapa Dean belum kembali? Dari tadi ponselnya tidak aktif, apa mungkin mereka bersenang senang?Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan!’ Hermawan membatin.
Membayangkan Dean yang tersenyum lebar bersama Lucas sungguh membuatnya merasa pusing, kepalanya tiba-tiba berdenyut sakit, saat sebuah bayangan terlintas di otaknya, bayangan yang menunjukan Dean sedang bersenang-senang sambil menari di club bersama Lucas, Hermawan berpikir bawa bule sialan itu akan mengajak Dean-nya ke tempat itu, dan itu bearti Dean akan jatuh dalam pelukan Lucas.
Hermawan kembali mengelengkan kepalanya kuat-kuat, mengusir bayang itu agar pergi secepatnya dari kepalanya.
***
“Lu, ayo aku akan mengajakmu menonton pertunjukan seni.” Dean membangunkan Lucas yang tertidur sembaring menunggunya beribadah, Lucas masih terlihat menguap beberapa kali ia mengosok matanya.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu, ‘Aku lupa untuk memberitahu Wawan, tapi percuma, juga dia tidak akan membalas pesanku, lagi pula ia tidak peduli padaku, ya Wawan hanya peduli pada Aulia!’ batin Dean
Dean mengajak Lucas menonton pertunjukan angkung, dan mengajaknya berkeliling di kota bandung, Dean juga tidak melewatkan makan di pinggir jalan menyantap somai dan batagor, Lucas bahkan memintah tambah sampai dua kali untuk makanan itu.
“Lu, jangan terlalu kenyang, masih banyak jenis makanan yang lain,” Dean menjelaskan.
“Oke.” jawab Lucas dengan mulut penuh somai bahkan saus kacangnya memenuhi sudut bibirnya, membuat Dean mengeleng. Mereka berdua memang memiliki nafsu makan yang sama besar bahkan terkesan rakus, mungkin itu adalah kebiasaan yang di wariskan secara turun-temurun?
Sudah jam Dua belas malam Dean dan Lucas memutuskan untuk menginap di hotel karena mereka terlalu lelah, besok Dean berencana mengajak Lucas ke musium di kota itu, kemudian pulang, tapi sebelumnya akan mempir di Bogor, benar-benar perjalan yang panjang, karena Lucas tidak memiliki waktu yang banyak untuk liburanya, ia hanya punya waktu seminggu, sedangkan Lucas memaksanya untuk keliling Indonesia bagaimana bisa coba?
Dean mengatifkan ponselnya, tiba-tiba deretan pesan masuk sangat banyak dan semuanya dari Wawan, Dean membuka satu-satu pesan itu, semuanya menanyakan keberadaanya dan kondisinya.
Baru saja Dean ingin mengetik sesuatu, tiba-tiba ada sebuah pangilan masuk.
“Halo,” Jawab Dean malas.
“Kamu dimana? Sedang apa? sudah makan belum? Aku menunggumu kenapa tidak pulang?“ tanya suara di seberang sana bertubi-tubi
“Aku? Apa kamu tidak salah bertanya?!”
“Dean aku serius, aku suamimu aku berhak tau apa yang terjadi pada mu!”
“Kamu tau Wan, ini pertama kali kamu menelponku selama kita menikah, aku sangat senang,” jawab Dean jujur, Hermawan tiba-tiba diam apa selama ini ia sangat kejam pada Dean?
“Maaf, malam ini aku tidak bisa pulang, mungkin selama seminggu ini, aku aku akan mengajak Lucas berkeliling.” jelas Dean.
“Apa?!” Hermawan kembali merasakan sakit di dadanya setelah mendengar ucapan istrinya. “Kamu harus pulang sekaran! kalau tidak aku akan-”
“Akan apa? menceraikanku?” potong Dean.
Sekalih lagi Hermawan Diam, ia benar-benar merasakan sakit yang teramat sekarang, bukan hanya jantungnya tapi juga dadanya terasa sesak, tubuhnya juga tiba-tiba lemas mendengar Dean mengatakan perceraian.
‘Demi tuhan aku tidak akan pernah menceraikanmu.’ ingin sekali ia mengatakan itu, tapi lidahnya kelu.
“Sudahlah, sudah malam, kamu butuh istirahat begitu juga aku, lagi pula kamu harus bersyukur karena aku tidak ada, kamu bisa mendekati Aulia, gunakan kesempatan sebaik-baiknya, selamat malam.” Dean kemudian menutup telponya, wanita itu menarik napas dalam sejenak, ia masih merasakan sakit saat melihat suaminya selesai berciumam dan tersenyum lebar bersama Aulia, sepertinya hanya Aulia wanita yang mampu membuat Hermawan bahagia?