NovelToon NovelToon
Hot DuRen (Duda Keren)

Hot DuRen (Duda Keren)

Status: tamat
Genre:Duda / Tamat
Popularitas:406.1k
Nilai: 5
Nama Author: MAMAK DIBA

Tidak semua yang kita inginkan menjadi kenyataan.
Tidak semua yang kita rencakan berjalan sesuai kemauan.
Pasti ada masanya kita jatuh dan terpuruk.

Dan di saat aku jatuh dan terpuruk itulah selalu ada orang setia berada di sampingku.

Seindah apapun Pelangi akan kalah sama yang namanya Matahari,karena yang indah sesaat akan kalah dengan yang selalu ada setiap saat.


***


"will you be wife and mother to my daughter" tanya Alan yang belutut di depanku.

"tapi kita masih sama-sama terjebak masa lalu Mas, lantas bagaimana kita bisa memulai hubungan baru kalau masalalu kita masih terus menghantui" jawabku menatap matanya sendu.

"kita pasti bisa sama-sama bangkit dari rasa sakit ini Nay" ucapnya. "Trust me" lanjutnya mengiba.

aku berdecak pelan sebelum mengangguk.

"I will try" lirihku.

Alan lekas berdiri dan memeluk tubuhku setelah menyematkan cincin di jari manisku.





Ikuti terus kisah Naya dan Mas Duda ya. ☺

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMAK DIBA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

"Nay, bangun kita sudah sampai" ucap Alan menggoyangkan tubuhku pelan.

Aku mengerjap dan menatap sekeliling, ternyata benar kami sudah sampai. Aku melepaskan seatbelt dan keluar dari dalam mobil.

Aku membantu Alan membawa barang belanjaan.

"Assalamualaikum" ucapku.

"Walaikumsalam,"jawab Althaf keluar dari kamar.

"Yang lain mana dek? Nih bawa ke dapur" ucapku menyerahkan kantung belanjaa.

"Kak Nuha ada di kamar lagi murojaah, mama sama Ara lagi beki tusuk sate buat bbq.an"jawabnya.

"Mas saya mandi sama sholat dulu ya" ucapku."dek, itu mas Alan belum mahrib'an, pinjemjjn sarung sana ajak ke kamar kamu biar bisa sholat magrib" lanjutku.

"Iyaa mbak, ayook mas"ajak Althaf.

Selesai mandi dan sholat aku keluar kamar dan langsung ke dapur membuatkan coklat panas untuk Alan. Di dapur sudah ada mama,Nuha dan Ara yang sedang menata sosis, bawang bombai dan dumpling di tusukan untuk Bbq.

"Waaah Ara hebat"pujiku.

"Di ajarin sama nenek juga onty Nuha" jawabnya menunjuk mama dan Nuha.

"Ara mau coklat hangat juga nggak?" Tanyaku.

"No! Aku tadi udah dibikinin nenek susu cokelat tante"terangnya menggerakkan tangan ke kanan dan kekiri. Membuatku mama dan Nuha terkekeh gemas.

Aku membawa coklat panas ke ruang tamu. Tapi aku tidak menemukan Alan di sana. Aku berjalan ke teras depan dan melihat Althaf juga Alan sedang memainkan gitar setelah selesai membuat bara untuk bbq.an nanti.

Aku meyenderkan tubuhku di daun pintu sembari melihat Alan yang sedang memetik senar gitar menyanyikan lagu sewindu-Tulus.

###

Sudah sewindu ku di dekatmu

Ada di setiap pagi, di sepanjang harimu

Tak mungkin bila engkau tak tahu

Bila ku menyimpan rasa yang kupendam sejak lama

Setiap pagi kumenunggu di depan pintu

Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu

Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis

Di setiap pagimu, siangmu, malammu

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran

Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan

Dan kau lupakan aku semua usahaku

Semua pagi kita, semua malam kita

Oh tak akan lagi kumenunggumu di depan pintu

Dan tak ada lagi tutur manis kumerayumu

###

"Ekhemmmm, " deheman Nuha menyadarkankundari lamunan pesona Duren as duda keren di sana.

Aku menoleh ke samping Nuha dan mama mengulum senyum.

"Samperin  mbak, jangan di liatin doang"goda Nuha.

"Apaa siih dek" jawabku. Wajahku pasti sudah memerah.

"Aku ke kamar sebentar buat cek handphone,"ucapku segera kabur ke dalam kamar membuat Nuha dan mama tertawa.

Aku memegang dadaku yang berdebar kencang, aku juga melihat wajahku yang merah merona di depan kaca. Aku menangkup kedua pipiku dan menepuknya pelan.

"Gilaaaa, ini bener bener gilaaa. Inget lu udah punya Rizwan Nay"tunjuk'ku pada diriku yang ada di pantulan kaca.

Aku meraih ponselku, pesanku belum di balas sama sekali oleh Rizwan . Aku mencoba menghubunginya tapi tidak di angkat. aku mendesah kasar lalu berjalan keluar kamar.

****

Aku dan Nuha membakar dan Nuha sedang membakar sosis , mama menemani Ara bermain lego, dan Althaf juba Alan masih asik main gitar.

"Gimana dek tadi rapatnya lancar  ?"tanyaku.

"Amman kak" ucap Nuha membuat tanda Ok dengan tangan. Aku menganggukan kepala.

"Dek , Given katanya mau kenal kamu lebih deket, tadi juga titip salam dia buat kamu"ucapku.

"Walaikumsalam"jawabnya.

"Kamu kalau mau sama Given juga gapapa dek, dia orangnya baik meski agak tengil"ucapku menatap Nuha.

"Ya silahkan aku juga nggak ngelarang mbak, tapi aku nggak mau pacaran, aku mau masih ingin bahagian mama, mbak Nay juga Althaf" jawabnya tersenyum sendu.

"Althaf juga tahun ini juga LULUS SMA mbak, dia udah ganti pengin masuk kedokteran. Mbak kan tahu biaya Msuk kedokteran Mahal" ucapnya "aku jadi inget papa mbak, dulu masih ada papa yang biayain kita, tapi sekarang"lanjutnya mulai terisak pelan.

Aku memeluknya mengusap punggungnya pelan "masih ada mbak kan ? Kita sama-sama biayai  Althaf ya, inget kata papa, pendidikan itu penting"ucapku mengingatkan kata papa dulu.

Nuha mengangguk dalam pelulanku.

"Ada apa nih pelukan kayak telletubis"ucap Althaf lalu mengambil piring sate sosis dan dumpling yang sudah matang.

"Nah giliran kamu sama mS Alan yang bakar, aku sama Nuha mau duduk sama Ara dan juga ibunda ratu" kekehku mengalihkan pertanyaan dan di hadiahi protesan Althaf yang membuatku dan Nuha terkekeh.

"Kamu duduk aja, minum dulu, biar saya yang gantian bakar"ucap Alan menatapku.

"Okee mas"jawabku lalu menarik Nuha untuk duduk bergabung dengan mama dan Ara.

"Psssssstttt ssttttttt Nay" aku menoleh ke kanan ke kiri tapi tidak ada orang mama Nuha dan Ara sedang asik bermaiin mainan gigi buaya. Aku mengedikan bahu.

"Nay, aku ndek (di) belakang kene (sini) loh" aku langsung menoleh ke belakang hampir saja aku berteriak untungnya aku sadar itu.bi Denok bukan setan meskipun sebelas dua belas sih. Hihii

Aku berjalan mendekati bi Denok.

"Ada apa bi?" Tanyaku.

"Kalian ngapain, kok.saya nggak di ajak"ujarnya.

"Bibi mau ?"godaku menaik turunkan alis.

"Yo jelas mau to," jawabnya sedikit sewot.

"Yaudah nanti tak kasih arangnya yo bi,lumayan abunya bisa buat jadi abu gosok"ucapku lalu berlari menjauh.

"NAYAA!dasar bocah edyaan, gendeng"teriaknya kesal.

Aku terbahak sambil memegang perutku yang terasa kaku karena tertawa lama. Nuha ikut tertawa bahkan Ara juga ikut tertawa karena melihat kami tertawa. Mama hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kami.

1
Junita Makakombo
ceritanya bagus
Aprillia
lanjut Thor👍🏼👍🏼💪🥰🥰🥰🥰
Bintang Ray234🌸🌸
Semangat terus ya buat kaka Author🌸🌸
Widia Aja
Tamat?????????
Widia Aja
Naya,
Kamu tuh sebenernya juga cinta sama Alan, tapi kamu keras kepala, keras hati, egois..
Widia Aja
Jangan keras kepala dan egois deh Naya
Widia Aja
Almer anak nya Nah dan Given atau anaknya Desti?
Widia Aja
HUUUUAAAAA......😭😭😭😭😭😭
Widia Aja
Nah looooh.....
Widia Aja
🥺🥺🥺
Widia Aja
Rizwan koma???
Widia Aja
bab berikut akan mengandung bawang nih kayak nya
Widia Aja
Si Bibi ama anak nya yg hamil, tetap di rumah nya aja, jangan di kasih atau ditanggung segalanya...
keliatan bibit pelakor nya, ibu nya juga mendukung selama cowoknya ganteng dan kaya...
hati2 ya Nay..
nanti senjata makan tuan
Widia Aja
yawdah gak apa2
Widia Aja
Udah dikasih gratis jangan minta kamar VIP ya bi...
Widia Aja
Lanjoooooott.....
Widia Aja
bertambah lah rasa pinisirin kuh
Widia Aja
Alan jangan jadikan Nay bodyguard anak nya dong..
Widia Aja
Pertemuan yg "indah"
Widia Aja
Waaahh.....
Jesy ternyata siluman ulat bulu yg kegagalan ama duda kaya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!