NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Milikku

Suamiku Bukan Milikku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Poligami / Romansa / Tamat
Popularitas:506k
Nilai: 4.3
Nama Author: Humairah_bidadarisurga

MALAM INI HUJAN MENGGUYUR BUMI

Malam ini hujan mengguyur bumi,
dan suami tercinta tak ada di sini
dia mungkin sedang bercanda dan tertawa
bersama istri yang lain..
aku ingin menangis..
aku ingin sedih..
tapi dia berpesan padaku bila ini terjadi
maka kembalilah kepada cinta pada Allah
gelar lagi sajadah dan bersujudlah
baca lagi Al Quran penuh kecintaan
dan tetap genggam bahwa Allah adalah cinta teragung..
lalu kulakukan semua nasehatnya
hingga kudengar langkah kaki syaitan menjauh
syaitan itu sangat-sangat kecewa padaku
sebab tetap Allah tujuanku
di saat penuh rindu seperti malam ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Penjaga lapas itu masuk ke dalam lorong sel penjara dan memanggil nama narapidana yang akan di jenguk pagi hari ini.

Syakir dan Kirana sudah duduk di tempat yang sudah disediakan, di kursi kayu panjang dengan meja panjang untuk menemui narapidana.

Sesekali Syakir melirik ke arah Kirana dan tersenyum manis untuk menguatkan hati gadisnya itu.

"Kamu yang sabar ya, Kiran," ucap Syakir pelan secara tiba-tiba kepada Kirana.

Kirana menoleh ke arah Syakir dan menganggukkan kepalanya dengan pelan lalu membalas senyuman Syakir.

"Kirana sabar Syakir, apapun yang terjadi. Bukankah Syakir yang selalu mengajarkan Kirana untuk selalu sabar menghadapi situasi apapun dengan segala keadaan kondisinya," jawab Kirana dengan pelan menjelaskan kepada Syakir.

"Kirana, apapun yang terjadi, tetaplah bersama Syakir, apapun itu," ucap Syakir kemudian pelan menatap lekat kedua mata Kirana.

Kirana tersenyum kecut, dan sedikit heran dengan pernyataan Syakir yang secara tiba-tiba berucap seperti itu.

"Apa maksudmu Syakir, Kiran tidak paham," ucap Kirana pelan lalu menatap tajam ke arah Syakir seoakh meminta penjelasan tentang ucapannya.

Syakir tersenyum dan terkekeh pelan. Rasanya sangat gemas dan geregetan melihat kepanikan dan kebingungan Kirana seperti ini, ingin haru mencubit pipi yang memerah itu hingga pemilik pipi itu meringis kesakitan.

"Setiap manusia itu punya banyak sekali pilihan hidup, dan dari semua pilihan itu pasti mengandung resiko yang besar, apapun yang kita pilih pasti akan dihadapkan suatu ujian dan cobaan yang entah dari mana asalnya, baik dan buruk harus tetap dipilih, namun saat takdir itu sudah menjadi bagian dari garis kehidupan kita, maka kita sebagai manusia bisa apa? Selain menerima takdir dan perjalanan proses kehidupan itu dengan penuh keikhlasan dan ketulusan dan inti dari semua itu adalah kesabaran yang tidak ada batasnya. Jadilah wanita yang memiliki rasa sabar tanpa batas, disaat ujian dan cobaan menerpa, hanya itu yang bisa menguatkan kita lalu gelarlah sajadahmu, bersimpuhlah kepada Allah SWT untuk selalu menguatkan iman kita dan jauhkan dari segala keburukan dan godaan setan. Kirana paham maksud Syakir?" tanya Syakir lembut menatap Kirana yang masih dengan pandangan yang sama.

Kirana mengerjapkan kedua matanya dan tersenyum melihat Syakir yang terus menatapnya dengan gemas.

"Kirana paham maksud Syakir, Inshaa Allah apa yang Syakir ucapkan saat ini akan selalu Kirana ingat," ucap Kirana pelan kepada Syakir.

Bunyi keras pada pintu besi yang terbuka dan suara anak kunci diputar. Pintu besi itu terbuka dan menyembul dua orang pria paru baya, satu orang penjaga lapas yang sedang menggandeng Bapak Arif berjalan di sampingnya.

Kirana menatap wajah Bapak Arif pagi itu dengan rasa iba dan prihatin, wajah Bapak Arif banyak sekali tanda biru yang membekas, Lika lebam dan luka sobek di dekat bibir yang darahnya sudah mengering begitu terlihat jelas.

Kirana menatap Bapak Arif dari atas kepala hingga ke bawah kakinya. Bapak Arif hanya memakai baju oranye, seragam khas untuk narapidana dan celana pendek selutut serta sandal jepit yang sudah tidak layak dipakai, entah dari mana sandal jepit itu rasanya bukan milik Bapak Arif.

Kirana dan Syakir berdiri, Kirana setengah berlari menghampiri Bapak Arif yang masih berdiri di ambang pintu besi itu. Kirana menyalimi punggung tangan Bapak Arif dengan sangat hormat. Bagi Kirana kini Bapak Arig sangat berarti bagi hidupnya. Tidak ada lagi yang dimiliki Kirana selain Bapak Arif, setelah kematian Ibunda tercintanya.

Ruangan tunggu itu sangat tertutup, hanya ada satu pintu untuk keluar masuk pengunjung yang menghubungkan pada pintu besi sebagai pembatas antara pengunjung dengan sel-sel jeruji besi di dalam, entah seperti apa bentuknya, yang terlihat dari luar memang hanya seperti itu.

Kirana memeluk erat tubuh Bapak Arif dengan penuh kasih sayang. Kirana sangat menyayangi Bapak Arif, walaupun perlakuan Bapak Arif dulu kurang berkenan bagi Kirana, namun Bapak Arif tetaplah Bapak kandung Kirana. Ada alasan mengapa Bapak Arif seperti itu, mungkin dari cara pengajaran Bapak Arif di masa lalu dan saat ini, Kirana memetik hikmah dari semua pelajaran dan pengalaman lalu untuk di terapkan saat ini.

Bapak Arif hanya menatap nanar kepada Kirana dan Syakir, rasanya sangat malu di kunjungi dengan kondisinya yang seperti ini. Bapak Arif membalas pelukan Kirana dengan erat dan penuh kasih sayang, lalu mengusap punggung tangan itu dengan sangat pelan.

Kedua mata Bapak Arif sudah basah, begitu perhatian anak gadisnya ini kepada dirinya yang sudah dianggap sampah masyarakat ini. Kirana masih mau datang dan menjenguk Bapak Arif yang notabene memang Bapak kandung Kirana.

Memang tidak mudah bagi Kirana saat ini yang di uji dengan berbagai cobaan dan masalah yang datang bertubi-tubi, namun kenyataan hidup harus tetap dijalani, suka atau tidak suka tetap harus disyukuri, menikmati semua yang kita terima tanpa mengeluh apalagi menyerah pada hidup.

"Bapak kenapa? Ini wajah semua biru seperti ini? Bapak habis berantem di dalam sel?" tanya Kirana pelan saat melepas pelukannya dari tubuh Bapak Arif.

Kirana menggandeng Bapak Arif dan menggiring berjalan hingga ke kursi kayu panjang yang sejak tadi di duduki oleh Kirana dan Syakir.

Pandangan Bapak Arif dan Syakir saling bertemu dan Syakir, Syakir mengangguk pelan sebagai tanda hormat.

Syakir berjalan memutar meja dan menghampiri Bapak Syakir yang masih berdiri di dekat kursi kayu itu lalu mencium punggung tangan Bapak Syakir penuh rasa hormat.

Kirana dan Syakir membantu Bapak Arif untuk duduk di kursi kayu panjang itu. Kirana duduk di sebelah Bapak Arif dan tersenyum manis.

Syakir pun kembali duduk di posisi semula setelah mengitari meja panjang itu agar bisa duduk saling berhadapan.

"Bapak belum menjawab pertanyaan Kirana sejak tadi, itu kenapa sampai biru dan lebam, dan itu disudut bibir Bapak, ada darah kering, Bapak habis berantem?" tanya Kirana dengan sangat lembut.

Bapak Arif hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu tersenyum lebar.

"Ini bagian dari proses kehidupan Kirana, mungkin kamu tidak bisa menerima hanya melihat bekas yang memburu ini, tapi jika kamu mengalaminya kamu akan tahu arti menikmati proses hidup yang harus kita syukuri," ucap Bapak Arif lirih dan menahan rasa sesak di dadanya.

Kirana menatap lekat kedua mata Bapak Arif dan menyandarkan kepalanya di lengan kekar Bapaknya itu. Rasanya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya atau bahkan belasan tahun sebelumnya, masih hangat dan tersana sangat nyaman sekali. Bapak Arif mengusap kepala Kirana yang terbalut hijab dengan sangat lembut. Kirana semakin manja bergelayut pada Bapak Arif, Syakir hanya menatap dengan penuh rasa haru saat mereka harus terpisah jarak dan tempat yang tidak semestinya.

"Kirana, kasihan Bapak sudah lapar, nanti jam besuk keburu habis," ucap Syakir pelan mengingatkan Kirana yang masih memejamkan kedua matanya menikmati sandaran ternyamannya saat ini.

Kirana membuka kedua matanya dan tersenyum tersipu.

"Astagfirullah, Kirana lupa Syakir. Terima kasih sudah mengingatkan. Bapak makan dulu ya, biar Kiran suapi. Kirana hari ini masak makanan kesukaan Bapak," ucap Kirana pelan sambil membuka tas besar itu untuk mengambil rantang bersusun dan satu kantong plastik berisi kerupuk udang.

Bapak Arif hanya mengangguk pasrah dengan permintaan anak gadisnya itu. Memang sejak pagi, Baoak Arif menahan rasa laparnya. Jatah sarapan dari penjara berupa nasi cadong berisi nasi putih dengan lauk ikan teri dan tahu isi, sudah dimakan oleh teman satu selnya yang meminta dengan paksa.

"Terima kasih Kiran, sudah peduli dengan Bapak. Bapak tidak bisa membalas semua kebaikan Kiran dan Nak Syakir kepada Bapak," ucap Bapak Arif pelan.

Rantang bersusun itu dibuka dan letakkan berjajar di meja kayu panjang itu. Satu botol besar air mineral dan satu botol air teh manis hangat juga sudah diletakkan di atas meja.

Kirana mengambil piring plastik dan mulai mengambil nasi putih dengan sendok makan, lalu aham goreng, tempe dan tahu goreng serta sayur asem. Satu suapan berhasil masuk ke dalam mulut Bapak Arif.

Bapak Arif mengunyah makanan itu dengan pelan, seolah sangat menikmati makanan itu.

"Enak Pak?" tanya Kirana pelan lalu menyuapkan kembali satu suapan kepada Bapak Arif.

Bapak Arif menganggukkan kepalanya pelan.

"Sangat enak sekali, rasanya sama dengan masakan mendiang Ibumu," ucap Bapak Arif dengan suara lirih.

Kirana hanya terdiam tidak menimpali ucapan Bapak Arif, Kirana tahu jika semakin dibahas masalah Ibu, baik Bapak dan Kiran akan menangis menyalahkan diri sendiri kenapa tidak bisa mengobati secara maksimal untuk kesembuhan Ibu Asih.

Makanan itu sudah habis, Baoak Arif mengikuti air teh hangat hingga habis tak bersisa. Kirana hanya tersenyum melihat Bapak Arif yang menyukai makanan yang dibawa Kirana.

1
Shifa Burhan
authornya kayak seorang wanita muslim yang tau akan hukum ajaran agam islam tapi miris nya dia malah membenarkan semua kelakuan menjijikan Kirana dan fahad

miris pola pikir mu thor

belajar lagi ajaran islam
*islam melaknat pelakor dan pebinor
*islam melaknat lelaki mendekati istri orang
*islam melaknat istri mencerita masalah rumah tangganya pada lelaki lain
*islam melaknat istri yang dekat dengan pria lain
*islam melaknat istri yang membela pria lain didepan suaminya
*islam melaknat istri menjatuh kan kehormatan suaminya didepan pria lain
*islam melaknat istri yang tidak bisa menjaga kehormatan suaminya
*islam melaknat istri yang bisa membuat fitnah dengan dekat dengan pria lain

belajar agama lagi dengan benar, ingat thor walaupun ini hanya novel tapi cara kau membenarkan sebuah kesalahan niscaya kau akan diminta pertanghunh jawaban

renungkan lah
Shifa Burhan
sefatalnya kesalahan syakir tapi lebih menjijikan kelakuan Kirana yang seorang istri, curhat pada lelaki lain, tinggal dengan lelaki lain, pergi dengan lelaki lain, mengunbar aib rumah tangganya pada lelaki lain, merendahkan harga diri suaminya didepan pria lain, memilih pria lain didepan suami

kelakuan Kirana lebih menjijikan dari seorang pelacur sekalipun, tapi miris, tidak bermoral nya, munafik nya novel ini dan pemikiran author malah membenarkan semua kelakuan Kirana

mudah mudahan saja author punya suami yang sifatnya kayak Kirana dan punya teman wanita yang baiknya kayak fahad, amin
Shifa Burhan
yang membuat novel ini jadi munafik adalah
*melaknat kelakuan pelakor fatma tapi kalian memuja kelakuan pebinor fahad
*kalian melaknat intrkasi syakir dan fatma tapi kalian malah membenarkan intrkasi Kirana dan fahad
soesi soesi
Kecewa
soesi soesi
Buruk
Ira Sulastri
Kl jd istrinya udah saya tinggalkan, bukan mau durhaka tp realita jg kebutuhan banyak. Untuk apa mempertahankan rumah tangga yg tak sehat jg
Ira Sulastri
Alloh tak akan menurunkan rejeki kl hanya bersholawat saja tp di barengin dg ikhtiar/ usaha, kl pernikahan dr awal sdh di awali dg kebohongan hidup tak akan damai karena akan terbiasa dg kebohongan2 selanjutnya
Ira Sulastri
Suami mmg harus di ingatkan kewajiban, jangan mau enaknya saja. Kebutuhan banyak dan harga serba ganti harga bukan naik lg
Ira Sulastri
Lebih baik pergi cari kerja untuk anak2 drpd berharap dg suami sampah, g ada usaha untuk keluarga
Ira Sulastri
Jangan kasih ampun untuk Sinta, jangan pernah jenguk dia di hotel prodeo. Biarkan dia menghabiskan sisa hidupnya disana, merenung kejahatan yg SDH di lakukan nya
Ira Sulastri
Daniel harusnya rumah di pasangi cctv supaya kamu mudah memantau keadaan rumah di saat Melati kau tinggalkan, kasih penjaga an untuk Melati. Gugatan cerai ga usah ngomong ke Sinta, toh Sinta ga jauh dr Melati karena dia sama aja sebagai alat oleh Baskoro
Ira Sulastri
Lah Daniel gimana sih udah punya bukti kejahatan Sinta dan keluarganya kok ga cerai kan Sinta dr kemarin2, malah di diamkan saja. Kan jd berlarut-larut masalah nya
Jue
Lelaki seperti Syakir di panggil dayus , Nafsu berbini dua tapi mampu berlaku adil , Setiap solat mahupun segala amalan tidak di jadikan tiang untuk kehidupan seharian , Jangan sembang soal derhaka pada orang tua lah , Saat kamu menikah dengan Kirana janji pada tuhan untuk menjadikan Kirana tulang rusuk tanpa tersakiti aja kamu abaikan ,
Orang lelaki ketika kamu menikah keluarga kecilmu adalah tanggungjawab utama , Anak-anak boleh patuh pada orang tua tapi itu berlaku kalau orang tua masih hidup berlandaskan syariat agama , Ini orang tua seperti ibu bapa Syakir tak wajib ditaati lelaki itu boleh bersikap keras kerana mereka nakhoda setiap bahtera rumah tangga .
falea sezi
karma buat orang tua syakir ngerii
falea sezi
uda jd pelakor ngambil suami Kirana skg jd pelakor lagi hadeh
falea sezi
hadehh mending cerai lah kasian Kirana syakir egois keluarga egois Fatimah sama aja ma fahad aja
falea sezi
halah km emank mau dimadu kah bunda ayu egois sadar
Pipit Suciati
Luar biasa
Hanipah Fitri
Syakir sepertinya ketabrak mobil
Hanipah Fitri
yg sangat bersalah dari hal ini adalah bunda Ayu dan Ayah nya Syakir, karna tidak berterus terang mengenai Syakir yg telah mempunyai istri, seandainya terus terang kepada umi Amirah dan Abi Fatih tdk akan seperti ini kondisi nya.
ibu ayu terlalu memaksakan dan telah memisahkan antara Syakir dan Kirana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!