NovelToon NovelToon
Sebatas Menikah

Sebatas Menikah

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pernikahan Kilat / Obsesi / Tamat
Popularitas:492.1k
Nilai: 4.5
Nama Author: Rani

Pernikahan yang berlandaskan rasa bersalah juga karena ingin bertanggung jawab membuat Icha terjebak dalam situasi rumah tangga yang sangat menyedihkan. Kehadirannya tak dianggap ada oleh suami yang dia cintai. Namun, dia masih bisa tetap bertahan.

"Bukan aku yang menginginkan pernikahan ini, kak Adit. Tapi kenapa kamu malah membuat aku semakin lama semakin tersiksa? Apakah aku harus tetap bertahan, atau malah pergi jauh meninggalkan kehidupan yang menyedihkan ini?" Marisa Aurelia.

"Beri aku waktu untuk belajar mencintai kamu, Icha. Jika aku sudah siap nanti, maka rumah tangga kita pasti akan baik-baik saja." Aditya Hutomo.

Namun, bukannya malah membaik. Rumah tangga yang sudah dasarnya rusak itu malah semakin rusak dengan munculnya orang ketiga. Akankah Icha masih tetap bertahan dengan Aditya yang semakin dingin padanya? Atau ... Icha malah memilih pergi meninggalkan kehidupan pahit yang selama ini menyiksa hati juga pikirannya.

Ikuti kisahnya di sini. Di Sebatas menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

*Bab 17

Icha yang sedang berada di dalam kamar, langsung berjalan cepat menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.

"Siapa sih? Nggak mungkin kalau itu kak Aditya. Tapi, yang biasa ngetuk pintu rumah inikan kak Adit. Dia mana suka mencet bel kalo minta aku bukain pintu."

"Tunggu bentar!" Icha berucap sambil mempercepat langkah kakinya saat tidak terdengar ketukan lagi.

Sementara Dwi yang baru saja berniat melangkahkan kaki, langsung membatalkan niat itu ketika dia mendengar suara seseorang.

'Icha. Iya, itu suara dia. Aku yakin sekali kalau itu memang suara Icha,' kata Dwi dalam hati.

Pintu itupun terbuka secara perlahan sambil memunculkan si pemiliknya. Saat pintu tersebut terbuka sepenuhnya. Kedua mata saling tatap dengan tatapan kaget bukan kepalang.

"Dwi!"

Icha yang paling kaget langsung memanggil nama sahabatnya. Sementara Dwi yang tak terima akan kenyataan yang ada di depan mata, mematung tanpa tahu harus berucap apa.

"D--Dwi ... kamu ... kamu kok bisa ... bisa ada di sini sih?"

"Tentu saja aku bisa, Cha. Jika tidak. Mana mungkin aku tahu akan kenyataan sahabat seperti apa yang sedang aku miliki sekarang."

"Sahabat yang terang-terangan membohongi aku selama bertahun. Apakah kita masih bisa di bilang sahabat setelah kenyataan pahit ini, Icha?"

"Dwi ... aku ... aku gak niat buat bohongi kamu kok. Ayo masuk ke dalam dulu. Kita akan bicara."

"Tidak perlu, Cha. Aku sudah tahu semuanya. Tahu kalau kau bohong padaku. Kalian. Kau dan dokter Aditya adalah sepasang suami istri. Iyakan?"

Makin kaget lagi Icha dengan kata-kata yang baru saja Dwi ucapkan. Terasa seperti jatuh dari ketinggian saja dia sekarang. Sulit untuk dia ucapkan seperti apa perasaan hatinya saat ini. Yang bisa dia lakukan sekarang, hanyalah diam mematung.

"Kenapa diam, Icha? Kamu kaget bukan?"

"Dari mana kamu tahu soal itu, Dwi? Siapa yang mengatakan hal itu padamu?"

"Tidak penting siapa dan dari mana aku tahu. Yang jelas, kita seperti bukan dua sahabat baik karena ulah kebohongan yang kamu buat ini, Icha. Untuk itu, aku putuskan persahabatan kita. Mulai dari detik ini, kita bukan sahabat lagi."

"Jangan lakukan itu, Dwi. Tolong dengarkan penjelasan aku dulu. Kita masuk ke dalam. Biarkan aku menjelaskan semuanya, Dwi."

"Tidak, Cha. Tidak perlu. Sudah terlambat untuk kamu menjelaskan. Kau tahu bagaimana aku, bukan? Aku paling tidak suka dikhianati. Apalagi dikhianati oleh orang yang paling aku percaya seperti kamu. Aku paling tidak suka itu."

Selesai berucap, Dwi berniat meninggalkan Icha. Hal itu membuat Icha tidak rela dan langsung reflek menahan tangan Dwi agar tidak pergi.

"Tolong jangan pergi dulu, Wi. Dengarkan dulu penjelasan aku. Aku akan jelaskan semuanya. Kamu tidak bisa bersikap egois seperti ini padaku, Dwi."

Ucapan itu membuat Dwi tertawa. Tawa sedih dan kesal yang penuh dengan ejekan tentunya.

"Kau bilang aku egois, Icha? Apa kamu tidak salah ucapkan kata-kata barusan?"

"Yang egois itu bukan aku, tapi kamu. Yang ingin persahabatan kita rusak juga bukan aku. Tapi juga kamu."

"Sekarang, tolong lepaskan tanganku! Aku tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun lagi dari kamu. Mulai dari detik ini, anggap saja kita bukan siapa-siapa. Kita tidak saling mengenal satu sama lain."

Tanpa menunggu Icha menjawab apa yang dia katakan, Dwi langsung melepaskan genggaman erat tangan Icha dari tangannya. Hal itu membuat Icha semakin sakit saja rasanya.

"Dwi ... Dwi tolong jangan pergi dulu. Tunggu dulu, Dwi! Tunggu aku menjelaskan semuanya, Dwi."

Icha terus berucap memanggil nama sahabatnya sambil berjalan cepat mengejar Dwi. Namun, Dwi yang dikejar semakin mempercepat langkah kaki buat meninggalkan Icha.

Icha akhirnya memilih pasrah dengan membiarkan Dwi pergi. Dia tahu, Dwi harus diberi waktu untuk sendirian dulu. Membiarkan Dwi menenangkan pikiran adalah pilihan paling baik dari pada memaksa Dwi untuk mendengarkan apa yang dia ingin katakan.

Masalah yang datang bertubi-tubi membuat Icha semakin rapuh saja. Rasa sakit yang sudah ada, kini di tambah lagi dengan sakit barusan. Makin menumpuk lah rasa sakit yang ada dalam hati Icha sekarang.

Kehidupannya bak benang kusut yang tidak bisa di selesaikan. Belum usai satu masalah, malah datang masalah lain lagi.

Icha membatalkan niatnya untuk datang ke panti asuhan. Dia memilih berdiam diri di taman untuk meredakan rasa sesak yang terasa sedang menghimpit hati. Bak batu besar yang ada di atas dada. Membuat dia sulit bernapas dengan baik.

Icha terus berada di taman itu hingga waktu makan siang tiba. Dia melupakan makan siang karena masalah berat yang baru saja dia dapatkan.

Sementara itu, Aditya yang cemas karena Icha tidak menjawab panggilannya, langsung pulang ke rumah saat dapat jam istirahat makan siang. Ketika sampai ke rumah, dengan cepat Aditya masuk ke dalam setelah memarkirkan mobilnya di halaman.

Tujuan Aditya adalah kamar Icha. Dia akan langsung menuju kamar untuk melihat keadaan Icha. Dia akan pastikan sendiri bagaimana keadaan Icha sekarang. Jika benar perempuan itu sedang sakit, maka dia akan segera melarikan perempuan itu ke rumah sakit sekarang juga.

Rasa cemas yang memuncak membuat dia terlihat cukup panik. Aneh memang. Tapi itulah yang hatinya rasakan. Dia terlalu cemas akan keadaan Icha. Sampai-sampai, dia melupakan segalanya. Termasuk janji makan siang dengan Serry.

"Icha!"

Aditya berteriak cemas sambil membuka pintu kamar tersebut. Namun, saat pintu kamar tersebut berhasil dia buka, kamar itu kosong kerontang. Tidak ada Icha di sana.

Hal itu makin menambah rasa cemas dalam hati Aditya. Dia masuk ke dalam sambil memanggil nama Icha. Dia periksa seluruh kamar itu dengan seksama, sampai ke kamar mandinya sekalian. Namun, Icha tidak juga dia temukan.

"Ya Tuhan, di mana dia?"

'Apa dia baik-baik saja sekarang,' kata Aditya dalam hati.

Dengan hati yang masih terasa sangat cemas sampai menuju puncak panik, Aditya ingin mencari ke tempat lain di rumah ini. Pikiran buruk akan keadaan Icha semakin menghantui perasaannya.

Namun, ketika Aditya ingin membuka pintu kamar untuk keluar, dia keduluan Icha yang sudah membuka pintu kamar itu. Kedua pasang mata yang tidak sengaja saling pandang itu langsung bertatapan selama beberapa saat. Hingga pada akhirnya, Icha berpaling duluan.

"Kak Adit ngapain di sini? Ada perlu apa masuk ke kamar aku?" tanya Icha memulai obrolan untuk meredakan rasa deg-degan dalam. hatinya.

Aditya tidak langsung menjawab. Dia terdiam sejenak untuk mencari alasan yang tepat. Perasaan panik dan cemas yang dia miliki, kini mendadak berubah kesal. Kesal, sekaligus lega saat melihat Icha baik-baik saja sekarang. Tidak terjadi hal buruk sedikitpun pada istrinya seperti yang dia bayangkan tadi.

1
sakura
...
falea sezi
heleh bales dendam apaan g cocok jd anak mafia Thor terlalu bodoh
falea sezi
anak mafia tp menye2
Ruzita Ismail
Luar biasa
pecahan_misteri
novel ini jelek bet perempuan suka ditindas dan gampang sifat pemaafnya dan juga ngapain balikan kalo bisa cerai kalo si perempuan tidak ketemu mamah dan papahnya dia akan meninggal atau bisa menjadi gembel CK.novel mu jelek
lovina: komen yang mewakili
total 1 replies
Salmi Yenti
Lumayan
Salmi Yenti
Kecewa
Dewi Dama
Luar biasa
tiwi
Kecewa
tiwi
Buruk
Santi
Lumayan
Heryta Herman
kurang greget siksaan buat merry thor...
Mrs. Ketawang
Bohongnya itu lhoooo,kliatan bgt si Mama😅
Mrs. Ketawang
Manusia bodoh
Mrs. Ketawang
Semangat Marisa,.jadilah kejam di saat yg tepat & pada org yg layak untuk menerima kekejamanmu💪🏻💪🏻🔥🔥
Mrs. Ketawang
Lebih baik seperti ini
Mrs. Ketawang
Tinggalkan saja,..hatiku ikut sakit atas penderitaanmu Icha😭😭😭😭
Sutri Ana
Luar biasa
Novita Ardie Wianto
nyeseknya Sampek kejantung😌
vania
syukaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!