Selamat datang di karyaku yang ke-18
Tidak sengaja membuat nyawa seorang pria melayang, Winda harus menanggung akibatnya. Memiliki ibu yang mengalami ganguan mental, membuat Winda berani melakukan apa saja, tak kecuali menjadi kekasih bayaran seorang pria yang tiba-tiba muncul merubah segalanya.
Follow IG: Sept_September2020
Ikuti IG Sept dan banyak Give Away setiap bulan menanti pembaca setia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Lain
Kekasih Bayaran Bagian 17
Oleh Sept
Tidak mau mendengarkan omong kosong dari teman sekantornya yang suka mesyumm dengan sang atasan. Akhirnya Winda mengusir Kavi, tidak percaya dengan ucapan pria tersebut.
***
Kavi pun pulang, kali ini ia langsung bergegas ke rumah orang tuanya. Mau merampok pada sang mama. Terpaksa ia akan meminta uang pada Hanum, mamanya.
Kediaman Gadhiata Ratama Prakash
Mbermm ...
Suara motor di halaman rumah yang sangat luas itu menggema, membuat Hanum tersenyum dan langsung mencari putranya.
'Tumben malam-malam dia pulang ke rumah?' tanya Hanum dalam hati ketika melihat putranya melepaskan helm yang sangat tidak wajar harganya itu. Harga helm bahkan lebih mahal dari pada motor yang dipakai Kavi.
"Kav!"
"Maaa!" Kavi langsung memeluk sang mama.
"Papa mana?"
"Oh, cuma cari papa? Nggak kangen sama Mama? Cerita sama Mama bagaimana kerjaan di kantor?"
Baru datang Hanum sudah memgelar wawancara ekslusif.
"Ma, Kavi mau ngomong."
"Lah ... ngomong aja. Kan Kita lagi ngomong?"
Mumpung papanya gak ada di sekitar sana, Kavi langsung menarik lembut lengan sang mama menuju kamarnya.
"Maaa."
"Iya, ada apa? Jangan nakutin Mama kamu ya, Kavii!"
Belum mendengar keterangan dari Kavi, Hanum sudah ketar-ketir. Karena gelagat Kavi yang menurutnya sangat mencurigakan. Pasti anak itu dalam masalah.
"Bantu Kavi, Ma."
"Bantu apa? Yang jelas Kavi kalau bicara. Kamu mau Mama mati karena serangan jantung?"
Kavi menelan ludah, kemudian kembali bicara. "Tapi jangan kasih tahu papa."
Hanum makin negative thinking. Hal apa yang tidak boleh diketahui oleh suaminya sendiri. Jangan-jangan?
"Kav! Kamu gak hamilinnn anak orang, kan?" tebak Hanum yang paranoid.
Kavi spontan menggeleng pelan. Dan Hanum langsung mengelus da da.
"Syukurlah. Lalu apa yang mau kamu bicarakan sama Mama?"
"Kavi butuh uang."
"Uang? Mama rasa tabungan kamu masih banyak. Bahkan Mama bulan kemarin transfer diam-diam!" ucap Hanum jujur.
"Pinjami Kavi uang dulu, Ma. Nanti Kavi ganti."
"Loh? Kamu uang buat apa? Beli mobil? Motor terbaru? Itu di garasi papamu siapa yang mau pakai? Lama-lama mesinnya jamuran."
"Kavi butuh uang cash, Ma."
Hanum makin bingung, seumur-umur baru kali ini Kavi minta uang.
"Berapa?" Hanum jadi penasaran.
"500 JT," jawab Kavi, karena dalam tabungan miliknya ada 500 JT lebih. Nanti kalau digabung, bisa pas 1 M.
"Mau beli apa, sih?" Hanum kepo. Karena setahu Hanum, Kavi ini anak yang paling mirip dirinya. Sederhana gak suka foya-foya.
'Mama gak boleh tahu untuk apa uang ini, bisa panjang urusannya,' batin Kavi kemudian memikirkan sesuatu untuk menciptakan kebohongan baru.
"Ada, Ma. Kavi mau beli sesuatu!"
"Ya sudah. Besok Mama transfer."
Kavi langsung memeluk mamanya dengan sayang. Hanum memang ibu yang paling pengertian.
"Makasih, Maaa!"
"Jangan ngucapin makasih, itu juga sebenarnya uang kamu sendiri," ucap Hanum sembari menepuk pundak putranya.
KLEK
Keduanya menatap ke arah pintu. Gadhi muncul dan menatap penuh curiga.
"Kalian sedang bisnis apa?" sindir Gadhi yang merasa ditikung.
"Bisnis orang tua dan anak!" jawab Hanum kemudian keluar dan menggandeng tangan suaminya.
"Bicara apa kalian? Kok mencurigakan?"
"Jangan kepo, Sayang. Yang jelas obrolan anak laki-laki dengan ibunya."
Gadhi tidak lagi bertanya, karena ia sangat percaya pada istrinya tersebut. Malah ia pikir jangan-jangan Kavi curhat masalah pacar. Ya, berpikir positive saja untuk memperpanjang umur.
Setelah bicara sebentar dengan orang tuanya, Kavi pamit pulang dengan wajah sumringah. Uang besok ia dapat, dan pasti kali ini Winda akan berterima kasih sekali padanya.
***
Sementara itu, di apartment yang sangat mewah, Olivia sibuk membersihkan isi kulksa milik Arjun.
Beberapa hari ia tidak bekerja, apartment Arjun tidak rapi seperti biasanya. Ya, karena selama ini Olivia lah yang mengatur apapun urusan pria tersebut.
"Pulanglah, ini sudah malam!" titah Arjun dengan dingin.
"Sebentar lagi, ini hampir selesai!"
Olivia memasukkan makanan ke dalam kantong kresek. Roti, buah, dan lain-lain yang sudah tidak segar harus dibuang.
Melihat Olivia beres-beres, Arjun hanya menatapnya dengan kosong. Sadar dirinya diawasi, Olivia kemudian bertanya, tapi tanpa menatap.
"Aku pikir itu sudah lama tidak kambuh. Kenapa Tuan pingsan lagi?"
"Tidak bisa membicarakan itu."
"Apa besok kita ke dokter lagi?"
"Aku bilang tidak usah membahasnya."
"Itu perlu, Tuan. Kesehatan anda sangat penting."
Arjun tersenyum getir.
"Tinggalkan semua itu, dan pulanglah."
Olivia hanya diam. Kemudian memasukkan kantong itu ke dalam kerajang sampah.
"Sudah aku panaskan soup, jika Tuan lapar semua ada di meja. Saya permisi."
Arjun hanya diam saat Olivia berpamitan. Tapi sesaat kemudian ia menahan sekretarisnya itu dengan sebuah pertanyaan yang membuat Olivia membisu.
"Aku tidak akan bertanya lagi, hanya sekali ini saja ... Apa ada orang lain yang selama ini sudah tidur denganmu?"
Mak JLEB BERSAMBUNG.
coba ketik/nyari di sini knp gaada thor?
eee thor mo baca *seruni dendam istri pertama nya knp gak bs di buka ya, di pencarian jg kayk gaada,? mksih info
bilang klo Winda jd pembokat di rmh mu jg buat duit yng km minta dl ke mm mu