Bagaimana jika hubungan yang telah di jalin selama empat tahun terbentang oleh restu orangtua?
Apa harus terus bertahan hingga restu itu datang tanpa kepastian hubungan? atau memilih untuk mengakhiri hubungan dan menjalani kehidupan masing-masing? Atau malah memilih bertahan dan memantapkan hubungan itu meski harus melawan restu?
Begitu lah dengan kisah Kriss dan Delia yang hubungannya harus terombang-ambing karena RESTU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Roy!! Breng•sek!!!" Geram Kriss sambil mencengkram ponselnya.
Kriss mengenal Roy, Roy adalah laki-laki yang menyukai Delia sejak jaman Delia kuliah. Dan foto yang sedang Kriss lihat sekarang adalah foto Roy yang sedang merangkul pundak Delia.
Sebenarnya Delia dan Roy tidak hanya berfoto berdua, melainkan beramai-ramai dengan teman-teman satu kampus mereka. Tidak ada Kriss disana karena saat itu Kriss sedang sibuk-sibuknya mengejar dosen untuk skripsinya. Ya, foto itu merupakan foto lama, tapi di tangan Mama Lastri foto itu seperti foto baru.
Dengan nafas yang memburu, Kriss menghubungi sang Mama.
Setelah panggilan terhubung, tanpa basa-basi Kriss langsung meminta kejelasan dari foto yang Mamanya kirimkan.
"Aaargh..." geram Kriss sambil membanting ponsel yang baru ia beli ke tembok setelah panggilan dengan sang Mama berakhir.
"Loe bilang takut kehilangan gue!! Tapi kenapa baru sebulan kita hubungan jarak jauh, loe malah jalan sama si Roy?!" Teriak Kriss frustasi.
Sedangkan di kamarnya, setelah Kriss mengakhiri panggilannya, senyum bahagia diatas penderitaan anaknya sendiri pun makin lebar.
"Tinggal selangkah lagi." Lirih Mama Lastri.
***
Keesokan harinya.
Benar saja apa yang Tante Leni katakan, setelah mendengar rencana Mama Lastri, Elen yang sedang liburan dengan teman-temannya di Bali langsung pulang ke ibukota.
Dan disini lah Elena dan Tante Leni sekarang, dirumah Mama Lastri.
"Seneng deh kamu bisa langsung dateng untuk bantu Tante." Ucap Mama Lastri pada Elena.
"Apalagi Elen Tante." Balas Elen.
"Tante Leni udah cerita kan sama kamu tentang rencana Tante?"
"Udah Tante."
"Jadi kapan kamu berangkat ke Singapura? Biar Tante suruh Kriss jemput. Nanti kamu tinggal di apartemennya Kriss aja."
"Memangnya boleh tinggal di apartemennya Kriss?"
"Boleh dong. Lagian kalian kan gak cuma berdua. Ada Ivanna juga disana. Ivanna sekarang udah tinggal bareng Kriss." Jawab Mama Lastri.
"Ya udah, gimana kalau malam ini juga aku berangkat. Semakin cepat aku berangkat kan semakin cepat rencana Tante terwujud."
"Oh.. sayang kamu tuh sat set sat set banget sih." Puji Mama Lastri.
"Oke, nanti malam kamu akan berangkat. Biar Tante urus semuanya dulu." Ucap Mama Lastri lagi.
***
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Sudah waktunya jam makan siang. Delia pun cepat-cepat keluar dari kantornya dan pergi ke kantor provider untuk mengurus kartu SIM nya yang hilang.
Setelah kurang lebih satu jam mengurus kartu SIM nya. Akhirnya nomor lama Delia kembali aktif, ia pun memasukkan kartu itu ke dalam ponsel yang baru ia beli sebelum datang ke kantor provider.
Delia yang sejak semalam masih penasaran dengan Kriss langsung menghubungi nomor Kriss. Berbeda dengan Kriss yang tidak mengingat nomor Delia, Delia malah mengingat nomor Kriss di luar kepalanya.
Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi. Begitu lah suara operator yang menjawab panggilan Delia.
Delia menghela nafasnya kasar.
"Apa yang terjadi sebenarnya Kriss? Tolong kabari aku Kriss." Lirih Delia.
Dalam keadaan putus asa, Delia pun keluar dari dalam kantor provider.
"Del..." panggil seseorang.
Delia pun menoleh.
"Roy." Ucap Delia saat melihat teman semasa kuliahnya dulu.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Roy.
"Urus kartu SIM, ponsel aku hilang kemaren."
"Oh."
"Kamu sendiri?"
"Aku kerja disini." Jawab Roy.
"Oh.. yah? Aku baru tau loh. Aku kira kamu mau ngelanjutin usaha matrial keluarga kamu." Balas Delia.
"Orangtua aku sih maunya gitu. Tapi aku gak mau, aku mau keluar dari zona nyaman." Jawab Roy.
"Oh iya kamu udah makan siang belum?"
"Astaga. Aku lupa." Balas Delia sambil menepuk keningnya.
"Ya udah, aku duluan yah." Pamit Delia.
"Eh.. Del tunggu." Roy menarik tangan Delia yang hendak berlalu dari hadapannya.
"Apa?"
"Aku anter yah." Tawar Roy.
"Gak usah Roy. Aku gak mau ngerepotin kamu."
"Gak ngerepotin kok." Balas Roy.
"Udah gak usah nolak. Jam segini jalanan macet, kamu belum makan juga. Jadi biar aku anter. Aku pake motor kok, jadi bisa sekalian singgah beli makanan buat kamu." Ucap Roy lagi. Roy pun menarik tangan Delia menuju tempat Roy memakirkan motornya.
Bersambung...