"Kamu sudah tidak lagi menarik untukku. Aku bosan denganmu!"
Sepenggal kisah nyata yang dibubuhi banyak fiksi, seorang istri yang ditinggalkan sebab ia tidak lagi menarik. Gendut, kusam, tidak lagi enak dipandang, merupakan alasan sang suami menikah lagi dengan perempuan berstatus janda muda yang masih terlihat sexy dan cantik. Ia di poligami di saat ia tengah mengandung anak ke empat mereka. Dan pada akhirnya ditinggalkan.
Hingga ia berhasil move on dan kembali membangun rumah tangga bersama seorang dokter kaya dan tampan.
Namun saat ia telah berbahagia dengan sang dokter, ternyata sang mantan suami malah kembali dan memintanya untuk rujuk.
Genre : Romantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandrila Patilima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Aku Menyesal
Maafkan terlalu lama update lagi. Si bayi kadang jealous kalo maknya lihat HP mulu 🤭
Happy Reading 🥰
Jangan lupa tinggalin jempol yah 🤗
---------------------------------------------------------------------
Rasa lelah menghampiriku. Remuk terasa di seluruh tubuh. Beginilah nasib seorang janda yang harus bekerja keras untuk menafkahi kelima anaknya yang sampai saat ini tak jua dinafkahi ayahnya sendiri.
Delapan jam harus melayani banyak pasien yang mengantri di loket apotik. Terkadang aku dan Susan harus pintar-pintar mengisi waktu istirahat kami dengan saling bergantian untuk makan siang. Kasihan jika harus membiarkan para ibu hamil menunggu kami yang harus istirahat dulu.
Handphoneku bergetar terus. Banyak chat yang masuk dalam aplikasi WA-ku. Selain chat dari mas Hafizh, juga grup alumni SMA-ku ramai dengan perbincangan tentang reunia akbar yang diadakan pihak sekolah. Malam ini tepatnya acara tersebut, aku antusias untuk ikut dalam perayaan tersebut. Sebab ingin sekali bernostalgia dengan teman-teman lama yang sudah puluhan purnama tak saling bertatap muka.
Seminggu sebelumnya angkatan kami sudah mengumpulkan sumbangan untuk kegiatan melalui Dafa. Karena ia termasuk dalam panitia penyelenggara acara. Kegiatan ini direncanakan oleh organisasi ikatan alumni SMA 56, yang diketuai oleh Dafa sendiri. Sumbangan sesuai dengan keikhlasan individu masing-masing.
Tidak lupa juga pembahasan kami lanjutkan pada pakaian couple setiap angkatan. Menurut Dafa, dalam perencanaan acara dibahas tentang pakaian masing-masing tiap angkatan, jadi setiap angkatan bisa kompak dalam penyelenggaraan acara ini.
Kami sepakat untuk membuat kaus angkatan kombinasi warna Navy dan abu. Milikku sengaja dirancang panjang sampai melewati lutut dan sedikit dilonggarkan.
💞💞💞
Selepas sholat magrib aku lanjutkan kegiatan untuk bermain sedikit dengan anak-anak. Malam ini aku akan tinggalkan mereka pada Mbak Ani, dan juga Mbok Darmi yang berniat menginap di rumah, karena ia merasa kesepian di rumah Mbak Brenda.
"Mbak, malam ini titip anak-anak yah," sahutku pada Mbak Ani, ditengah-tengah kebersamaan kami.
"Iyah Rianti." Mbak Ani membalasku dengan senyum di bibirnya.
"Yaudah, kalo gitu aku siap-siap dulu yah Mbak, Mbok."
Mbak Ani dan Mbok Darmi menganggukkan kepalanya tanda mereka mengiyakan.
Aku segera berlalu meninggalkan mereka. Menuju kamar untuk berganti pakaian.
Rok Navy menjadi pilihanku untuk dipadukan dengan kaus yang sudah kupesan. Kini aku tidak perlu gusar lagi akan ukuran baju yang kupakai, karena setelah melahirkan si kembar, berat badanku turun seperti semula. Selain karena aku diet, juga badanku termasuk tipe badan yang tidak mudah gemuk. Kecuali saat aku hamil, karena selain sering makan, juga karena bertambahnya bobot janin dalam rahimku.
***
Kaus dan rok telah terpasang sempurna di tubuh langsingku. Tinggal jilbab yang belum kupakai. Sebelum itu aku poleskan sedikit make up tipis pada wajahku. Bersyukur kusam di wajahku telah hilang, jerawat telah punah, wajahku kembali mulus dibantu perawatan skincare yang biasanya kupakai sebelum hamil.
Jilbab pashmina instan berwarna abu dengan panjang menutupi dada dan ketiak menjadi pilihan untuk kusandingkan dengan rok dan kaus yang sudah kupakai saat ini.
💞💞💞
Saat ini aku sudah berada di tempat parkir hotel berbintang lima, tempat berlangsungnya acara reuni. Hotel besar yang lumayan terkenal di daerahku.
Beberapa senior juga junior semasa sekolah berlalu lalang di depan hotel tersebut. Mataku jelalatan kesana kemari untuk mencari salah satu orang yang kukenal dekat. Dafa, dia yang sedang kucari saat ini.
"Riri." Terdengar suara lelaki yang memanggilku dari belakang. Aku tau pemilik suara itu, tidak ada yang memanggilku begitu selain Dafa.
Aku menoleh kearah suara tersebut. Terlihat Dafa setengah berlari menuju ke tempatku berdiri. Disaat yang bersamaan pun pandanganku tak sengaja melihat orang yang selama ini berusaha untuk tidak aku benci.
Mas Galih, lelaki itu turun dengan mesranya bersama istri tercintanya. Amira terlihat begitu sexy dengan dress batik sepanjang lutut juga tanpa lengan. Kulit mulusnya terpampang, sehingga mengundang banyak mata lelaki nakal untuk memandangnya.
Bisik-bisik para lelaki nakal pun mulai terdengar di telinga. Ada yang memujinya dan ada pula yang mulai mengatakan hal-hal yang di luar batas.
Mas Galih merupakan seniorku di sekolah. Saat aku baru memasuki sekolah menengah atas kelas satu, mas Galih sudah duduk di bangku kelas tiga SMA.
"Ri," panggil Dafa.
"Eh iya Da," jawabku sedikit terkaget.
Dafa yang sepertinya curiga akan tingkahku, langsung melempar pandangannya kearah yang sama denganku. Ia kemudian langsung menatapku kembali.
"Ayo masuk," sahut Dafa lagi.
Aku hanya mengangguk dan mengikuti langkah Dafa masuk ke dalam hotel. Kami naik lift menuju lantai dua tempat acara dilaksanakan. Saat hendak menutup pintu lift, beberapa orang senior yang kukenal masuk untuk ikut serta, salah satunya adalah Mas Galih dan Amira.
Suasana tiba-tiba berubah. Satu ruangan bersama orang yang telah menorehkan luka besar di dalam kehidupanku. Ahhh, aku benci mereka.
Aku hanya berdiri mematung di samping Dafa sambil menundukkan kepala, tidak ingin menatap kedua orang yang tidak berada jauh dari posisiku. Mas Galih sempat menatapku bersama Dafa, entah apa arti dari tatapannya, aku tidak peduli.
Sementara Dafa sangat sadar dengan posisiku saat ini. Ia berulang kali melihat kearah mas Galih dan Amira dengan tatapan tidak suka.
"Hai Mbak Rianti, apa kabarnya?" Amira si wanita penggoda itu menanyakan kabarku.
Aku mengangkat kepalaku. Kulebarkan senyum manisku untuk menyambut pertanyaan Amira.
"Alhamdulillah aku dan anak-anakku baik," jawabku padanya.
"Baguslah Mbak." Senyum simpul terlukis dari kedua bibir wanita itu. Rasanya ingin kurobek bibirnya, dasar wanita tidak punya harga diri!
Mas Galih hanya mematung. Pandangannya terfokus padaku dan Dafa yang berdekatan. Amira terlihat mencubit kecil lengan suaminya, sepertinya ia pun sadar bahwa mas Galih memperhatikanku.
Tiba-tiba lift yang kami naiki bergoyang hebat. Membuat pijakanku lengah dan terjatuh kearah mas Galih, secara refleks mas Galih hendak menangkapku, namun Dafa sudah lebih cepat menarikku hingga aku dan dia tak sengaja saling berpelukan.
Segera aku melepaskan diri dari Dafa. Dan berterima kasih karena sudah membantuku tadi. Dafa terlihat gugup, kemudian meminta maaf atas kejadian tadi.
"Apa-apaan sih Mas." Amira berbisik ke mas Galih, sepertinya ia marah atas tindakan mas Galih yang hendak menangkapku jatuh tadi.
"Maaf Dek, mas refleks," ucap mas Galih menatap Amira.
Amira mendengus kesal. Ia menatapku tajam, dan kembali menatap suaminya dengan tatapan marah.
Aku dan Dafa hanya saling menatap, dan tertawa kecil melihat kekonyolan mereka.
***
Kini aku dan Dafa sudah berkumpul bersama teman-teman seangkatan kami yang lainnya. Berbincang bersama sambil mengingat-ingat kejadian-kejadian lucu yang kami lakukan semasa sekolah. Tawa lepas menghiasi pertemuan kami.
"Eh Da, Tania mana? Kok nggak diajak?"
Tania adalah perempuan cantik yang membuat aku dan Dafa tidak bersahabat lagi. Kabarnya setelah lulus kuliah Dafa menikahi Tania.
Semua orang diam. Termasuk Dafa, ia meneguk habis minuman soda yang ada di tangannya.
"Tania sudah meninggal Ri. Dia meninggal pada saat melahirkan anak pertama kami."
"Bayiku juga meninggal Ri." Dafa terlihat bersedih, sepertinya ia begitu terpukul atas kejadian itu.
Aku hanya mampu mengucapkan belasungkawa kepada Dafa. Selama ini aku tidak pernah lagi berhubungan dengan Dafa ataupun sahabat yang lainnya, sebab itu aku tidak tau perihal kematian Tania.
"Maaf Da, aku tidak tau kalau Tania meninggal."
"Tidak apa-apa Ri, kamu juga berhak tau." Dafa kembali tersenyum dan mengajak kami untuk bersenang-senang kembali.
Kemudian aku pamit sebentar untuk menuju toilet. Berjalan menyusuri lorong hotel yang tampak megah. Entah siapa pemiliknya, yang pasti aku sangat suka dengan desain eksterior hotel ini.
Langkahku terhenti saat melihat mas Galih yang sedang berdiri tepat di depan toilet wanita. Mungkin ia sedang menunggui istrinya.
Dengan berjalan cuek aku melewati mas Galih. Namun dengan cepat mas Galih menahan tanganku. Segera saja kutepis.
"Ri, aku ingin bicara sebentar," sahut mas Galih.
"Mau bicara apa lagi Mas. Diantara kita tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Rianti, aku rindu anak-anak. Aku ingin bertemu mereka." Perasaan sedih terbaca jelas di wajahnya
"Cih, Untuk apa lagi kau bertemu mereka Mas, bahkan untuk menafkahi mereka saja tidak kau lakukan." Aku hanya bisa tersenyum simpul melihat tingkah mas Galih. Seakan lupa dengan perlakuannya dulu.
"Aku menyesal Ri, tolong maafkan aku."
"Aku dan anak-anak sudah memaafkanmu Mas. Sudahlah, kami sudah bahagia tanpamu. Dan kau berbahagialah dengan istri cantikmu itu."
Aku tersenyum penuh kemenangan. Sekarang kau baru sadar apa arti keluarga untukmu? Cuiih, bahkan aku masih ingat semua perlakuanmu terhadap kami Mas.
"Tapi aku ingin kembali. Kembali berkumpul bersamamu dan anak-anak."
"Hahahaha. Kamu lucu Mas. Dulu kami kau campakkan. Sekarang ingin kau pungut kembali. Maaf Mas, sayangnya aku ataupun anak-anak tidak ingin lagi hidup bersamamu."
Aku hendak pergi meninggalkannya. Namun tangan kokoh itu menggenggam kuat tanganku.
"Jujurlah padaku Ri, kau saat ini hanya sedang meluapkan emosimu kan? Sejujurnya kau masih mencintaiku Ri. Aku tau itu," ucap mas Galih dengan percaya dirinya.
Plaaaak.
Satu tamparan mendarat di pipi lelaki yang sok kepedean ini.
"Cinta kau bilang. Pede sekali kau Mas. Apa kau tau, kalau aku akan segera menikah?" Aku menatap tajam matanya, kembali kulemparkan senyum penuh arti padanya, sebelum benar-benar pergi meninggalkannya.
"Dan yah, tamparan itu bukan untuk rasa sakitku. Tapi karena kekurangajaranmu yang sudah memegang paksa tanganku." Sedikit aku berikan peringatan untuknya, dan pergi berlalu meninggalkannya.
Bersambung 😁😁
dan sangat betul...buah dari kesabaran adalah sesuatu yg manis...
karena memang sabar sejatinya adalah ujian yg amat sangat berat...maka Alloh pun akan menyiapkan hadiah yg ISTIMEWA....
banyak pelajaran. hidup yg bisadipetik dari novel ini...bagaimana sabar dan ikhlas seorang hamba ketika mendapatkan ujian Nya...bagaimana kasih sayang dan ketulusan ditanamkan...dan bagaimana kewajiban sebagai umat dijalankan...
keren thorr sayaaanngg novel ini...ceritanya lugas..layaknya kehidupan real..alurnya gak bertele-tele dan yg paling keren..pesan moralnya sampek dgn mudah ke pembaca...
lluuvv authoorr sayaaanngg...💝💝💝💝💝
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝