Fabian Putera, seorang CEO matang berusia 27 tahun. Sulung dari pasangan Pratama Putera dan Sinta Pitaloka ini pertama kali dalam hidupnya merasakan yang namanya jatuh cinta. Ia jatuh cinta dengan seorang gadis SMA berparas ayu yang namanya Ayu juga.
Ayu Putri Darmadi, anak tunggal kesayangan Teguh Darmadi. Gadis piatu berumur 17 tahun, bersekolah di SMA Pelita tahun kedua. Memiliki paras ayu dan bertutur kata lemah lembut. Banyak yang menyukai sifatnya, tapi tak jarang pula yang iri akan kecantikannya.
Pertama kali bertemu di pesta ulang tahun Ayah Ayu, akankah Fabian bisa mendapatkan Ayu, sang cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tania I M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Suasana dalam bioskop hampir penuh. Fabian dan Ayu sudah duduk, masih sambil bergandengan tangan.
"Kak? ini tangannya nggak boleh dilepas apa?" Ayu bertanya. Tangannya sudah terasa berkeringat.
"Nggak."
'Astagaa, pemaksa banget sih.' Ayu hanya cemberut. Nonton film dengan bergandengan tangan? tanpa popcorn tanpa soda? Tidak pengertian sekali calon suaminya ini. Eh? calon suami? 'Apakah nanti kak Fabian dan aku akan benar-benar menikah?'
Kursi sudah penuh oleh para penonton bahkan film sudah diputar. Ayu masih melamun, dia belum menyadari film apa yang tengah diputar kali ini. Hingga jeritan penonton lain mengagetkannya, matanya membulat lebar. Film horror.
"Aahhhhhhhh." ikut berteriak. Fabian seketika kaget. Bagaimana tidak, sejak film diputar Ayu hanya diam saja. Dia pikir Ayu menikmatinya, ternyata tidak. Ayu malah ikut menjerit. Bahkan pelipis dan kening Ayu penuh dengan peluh.
"Kamu takut Yu? sini-sini aku peluk."
"Eh? dipeluk beneran?" Tidak menyangka Ayu langsung memeluknya begitu erat. Ia hanya iseng menawarkan tadi.
"Kak takuttt, suaranya serem ihh." mendongak sedikit. "Kak Fabian kenapa pilih film horror sih? Ayu nggak suka." Adunya merajuk.
"Kamu nggak suka ya? yaudah nggak usah ditonton, sini kakak peluk lagi." Sekalian modus, tanpa merasa bersalah. Ayu cemberut tetapi tetap memilih memeluk tubuh Fabian, mempererat tautan tangan di pinggang Fabian.
Akhirnya film selesai, tetapi Ayu belum melepaskan pelukannya. Fabian menunduk, memperhatikan wajah Ayu dengan mata terpejam erat itu.
"Yu? kamu tidur?" Tak ada jawaban.
Fabian sedikit menunduk, meletakkan tangan di bahu dan lutut Ayu, kemudian mengangkatnya. Menggendong ala bridal style keluar gedung dengan diikuti pandangan orang-orang disekitarnya.
"Eh itu bukannya Fabian Putera?"
"Mana-mana? eh iya yang gendong cewek itu kan? Siapa tuh cewek?"
"Fabian romantis banget sih, aku juga mau dong digendong kayak gitu."
"Aaaa meleleh aku bang."
Kira-kira begitulah bisikan dan teriakan perempuan yang melihat adegan romantis tersebut.
Fabian melangkahkan kakinya tidak perduli dengan kehebohan yang diciptakannya. Dalam pikirannya hanya ingin segera tiba di rumah, agar gadisnya bisa tidur dengan nyaman.
Kediaman keluarga Darmadi
Bi Suti membuka pintu, terkejut nonanya berada dalam gendongan seorang pria.
"Eh den Fabian, neng Ayu kenapa?" Tanyanya khawatir.
"Tidur bi, biar saya antar sampai ke kamarnya aja."
"Eh iya den." Bi Suti mengantarkan Fabian menuju kamar Ayu, membukakan pintu. Padahal tanpa diantar mah Fabian tau ya kan. Orang dianya yang bangunkan Ayu tadi pagi. Hihihi.
Fabian meletakkan Ayu keatas ranjang dengan hati-hati, tak lupa menyelimutinya sebatas dada. Memandang sambil tersenyum lebar kemudian keluar kamar diikuti Bi Suti.
"Saya pulang ya dulu ya bi, salam buat om Teguh deh."
"Eh iya den, hati-hati.
Fabian keluar dari rumah Ayu menuju mobilnya. Dalam mobil dia masih saja tersenyum lebar. 'Awalan yang bagus Fabi.' batinnya.
Ayu terbangun pukul enam sore. Dirinya begitu terkejut karena sudah berada dalam kamar. Ayu bergegas bangun dan turun kebawah, dilihatnya Bi Suti tengah menata makan malam.
"Kak Fabian mana bi?" tanyanya.
"Eh neng udah bangun? Den Fabian langsung pulang habis tidurin neng Ayu tadi."
"Tidurin?"
"Eh maksud bi Suti habis menidurkan ne- eh apa sih. Pokoknya tadi den Fabian yang bawa neng ke kamar. Kuat banget ya den Fabian, gendong eneng dari mobil sampai kamar atas lho. Hihihi."
"Aduhh bi, iya iya puji aja terus itu kak Fabiannya."
"Habis ganteng banget lho neng, bibi jadi pingin."
"Ehh, pingin apa bi?"
"Punya anak kayak den Fabian dong neng, adem aja lihatnya. Hehehe."
Ayu hanya geleng-geleng kepala. "Ayah belum pulang ya bi?"
"Belum neng, mungkin sebentar lagi."
Baru saja selesai bicara, Teguh nampak muncul dari pintu depan.
"Ayah pulang."
"Ayaaahhhhh, darimana aja?." Ayu berlari memeluk ayahnya. Teguh tersenyum membalas senyum putrinya.
"Habis main golf tadi sama Pratama dan Bram. Anak ayah kelihatan senang ya, gimana kencannya tadi?"
"Hehehehe." Ayu hanya menjawab sambil cengengesan. Nampak sekali kalau dirinya sedang bahagia.
"Udah mulai suka sama Fabian ya?"
'Eh? benarkah?' "Ayah apaan sih, udah sana mandi. Ayah bau asem tau." Ayu berkata sambil mendorong ayahnya pelan.
"Hahahahaha baiklah-baiklah." Teguh berlalu sambil tersenyum. Putrinya sedang jatuh cinta ternyata. 'Semoga Fabian benar-benar dapat dipercaya.'
Fabian sudah sampai di kediaman Putera. Sambil tersenyum senyum sendiri ia melangkah memasuki rumah. Tampak Ibunya sedang menonton TV, disampingnya ada adiknya yang tengah memainkan ponsel.
"Sore all." Berlalu begitu saja.
"Huuu yang baru pulang kencan, bahagia banget sih sampai nggak salim dulu sama mama." Sinta menyindir. Galang masih fokus dengan ponselnya. Lebih tepatnya enggan menatap sang kakak.
"Ehh, biasanya juga nggak salim kan ma? kok sekarang protes sih?" tanyanya sambil berbalik.
"Ck, iya juga sih." Sinta menyadari kekeliruannya. Ia hanya ingin mengejek putranya. Senjata makan tuan.
"Hahahahhaah." Fabian tertawa keras, melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Hehh kurang ajar kamu, ngeledekin mama mulu." Sinta berkacak pinggang, menghembuskan napas keras.
"Lihat tuh abangmu, gara-gara cinta dia jadi kurang ajar." Sinta mengadu pada putra keduanya.
"Bukannya mama yang keliru ya?" Galang berkata masih dengan tatapan pada ponselnya.
"Kamu itu bukannya belain mama, nyebelin banget sih punya anak dua." Sinta berdiri menghentakkan kaki menuju kamarnya di lantai atas.
Galang mendongakkan kepala, mendengus, 'apa sudah tak ada harapan lagi untukku Yu? aku benar-benar cinta kamu.' Beranjak kemudian ikut melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.