"Ayo kita menikah."Ucap seorang pria bertubuh tegap dan tampan. Dia adalah seseorang yang tidak sengaja telah tidur bersamaku di malam itu.
Aku hanyalah seorang pelayan yang bekerja dengannya. Aku mana mungkin bisa menikahinya!
Tapi bagaimana dengan nasib anak yang ada di dalam kandunganku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEMINIE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daisy Di Culik!
"Kau tidak perlu tahu. Yang perlu kau lakukan adalah menjauh dari kehidupanku. Kau tahu, aku menyesal telah bertemu denganmu. Kalau kau tidak segera melakukan apa yang kukatakan, jangan berharap hidupmu bisa selamat."Ancam Nathan. Dia jadi sangat begitu membenci Amber.
Amber hanya bisa diam sambil menggigit bawah bibirnya merasa begitu kesal.
Cih! Semua ini pasti gara-gara wanita j*lang itu! Aku harus memberi pelajaran kepadanya!
Nathan kemudian pergi begitu saja meninggalkan Amber tanpa kata perpisahan.
*****
Nathan kembali lagi ke kantornya dan BUGH? Nathan di pukul oleh Aiden yang juga sedang berada di kantornya. Nathan sempat heran kenapa Aiden tiba-tiba memukulnya.
"Kau kenapa sih?!"Tanya Nathan jadi ikut marah.
"Dasar pria br*ngsek kau Nathan! Tadinya aku ingin kesini lebih cepat untuk menghajarmu! Aku tidak sangka ternyata kau pria b*jingan! Apa yang sudah kau lakukan kepada Daisy hah?!"Tanya Aiden dengan emosi yang tidak terkendali. Dia menarik kerah baju Nathan dengan rahang yang sudah mengeras.
Nathan hanya bisa diam. Dia tahu itu memang salahnya dan dia masih sangat merasa bersalah untuk hal itu.
"Itu kecelakaan."Ucap Nathan dengan wajah datarnya.
"Kau bilang apa?!"
"Aku tahu kalau aku bersalah. Itu makanya aku mau bertanggung jawab menikahi Daisy. Lagipula dia juga sedang hamil anakku."Ucap Nathan masih dengan wajah datarnya.
"Kau! Kau bicara seperti tidak merasa berdosa ya? Enak ya sudah menidurinya? Daisy itu wanita lugu dan baik yang baru kutemui. Heh, pantas saja dia langsung menolak diriku."Ucap Aiden kembali mengingat penolakan Daisy tentang pernyataan cintanya.
"Apa maksudmu?"Nathan langsung berwajah kecut karena sepertinya sahabatnya itu juga menyukai wanitanya.
"Iya Nath. Aku jatuh cinta padanya. Dia adalah wanita yang selama ini kucari-cari. Selama ini aku sudah sering bertemu dengan wanita licik yang sombong. Tapi setelah bertemu dengan Daisy, aku langsung mengaguminya dan ingin memilikinya."Ucap Aiden.
"Hati-hati kalau bicara! Daisy sebentar lagi akan menikah denganku!"Ucap Nathan.
"Apa kau mencintainya Nath?"Tanya Aiden.
Nathan seketika bungkam. Dia masih belum tahu akan perasaannya apakah dirinya memiliki rasa cinta kepada Daisy. Dia rasa belum tetapi setidaknya dia sudah memiliki rasa suka kepada wanita itu.
"Heh, kau pasti tidak mencintainya kan Nath. Daisy pasti menderita menikah dengan orang yang tidak mencintainya. Itu akan jauh lebih menyakitkan."Ucap Aiden lagi.
"Cepat atau lambat aku akan mencintainya. Butuh waktu untuk hal itu. Jadi jangan coba-coba untuk mendekati calon istriku."Ucap Nathan dengan dingin.
Nathan kemudian berjalan lagi untuk masuk ke kantornya. Tapi Aiden malah menarik jasnya lagi.
"Bagaimana caranya kau bisa menikahinya? Ibumu saja pasti tidak akan merestui hubungan kalian kan? Dia pasti malu banget tuh sudah mengetahui apa yang dilakukan anaknya."Sindir Aiden.
Nathan mengapal tangannya. Ingin sekali rasanya dia memukul wajah Aiden, tetapi dia memilih untuk menahannya. Dia sudah terlalu lelah untuk marah-marah dan berdebat.
"Aku tidak peduli dengan restu dari ibuku. Dia tidak berhak untuk terus mengatur kehidupanku."Ucap Nathan.
"Hm? Jadi bagaimana kalau misalnya ibumu membuangmu? Kau otomatis pasti akan jatuh miskin karena bukan bagian dari keluarga Rodriguez lagi kan? Bagaimana kau akan menghidupi biaya keluargamu nantinya?" Tanya lagi Aiden.
Nathan tersenyum. "Aku tidak sebodoh itu. Dan aku yakin sekali jika ibuku tidak akan mau membuangku. Kau tahu, akulah aset miliknya yang sebenarnya. Jika dia membuangku, maka dia juga rugi besar untuk hal itu. Selama ini aku menjadi kaya karena aku mengandalkan otak jeniusku."Ucap Nathan sambil menunjukkan kearah kepalanya.
Aiden akhirnya terdiam.
"Sudah kan? Masih ada hal yang ingin kau tanyakan lagi?"Tanya Nathan.
Lagi-lagi Aiden diam. Tapi wajahnya mulai menekuk tanda jika dia kesal.
Nathan kemudian melanjutkan jalannya menuju kantornya dengan perasaan yang cukup bangga.
Sementara Aiden semakin tidak terima dengan perbuatan Nathan. Dia jadi merasa kasihan kepada Daisy dan dia juga sayangnya tidak bisa berbuat apa-apa untuknya.
Apa yang harus kulakukan untuk membahagiakan Daisy? Dia wanita baik-baik. Kuharap Nathan tidak membuat wanita itu menderita...
******
"Daisy, temani aku belanja di pasar yuk. Hari ini aku ingin beli bahan makanan yang cukup banyak karena persediaan di rumah sudah habis semua."Ajak Lily.
"Apa tidak apa-apa kalau aku ikut?"Tanya Daisy.
"Tidak, Daisy. Kau tidak perlu khawatir. Hari ini kita naik taksi saja, soalnya kalau naik motor bakal susah untuk bawa belanjaannya."Ucap Lily.
"Ah, baiklah. Aku akan bersiap-siap dulu..."
Sesampai di pasar, Daisy langsung merasa tidak nyaman karena dirinya berada di tengah keramaian banyak orang. Apalagi cuacanya panas membuatnya lebih cepat kelelahan.
"Daisy, kau terus pegang tanganku ya biar gak nyasar."Ucap Lily menggenggam tangan Daisy.
Daisy hanya mengangguk menurut. Mereka berdua terus berjalan di antara keramaian tersebut sampai menyenggol banyak orang hingga Lily tidak sadar jika dirinya sudah terlepas genggaman tangannya dari Daisy.
Daisy langsung kebingungan dan panik karena beberapa detik saja sosok Lily sudah menghilang dari pandangannya.
" Lily? Lily? Lily!"Panggil Daisy berkali-kali bahkan sampai berteriak namun tidak ada yang mempedulikan teriakannya sampai ada seseorang yang membungkam mulut Daisy.
"Emph!!!"
Daisy ditarik oleh seseorang dengan paksa sampai keluar dari pasar dan menggeretnya masuk ke dalam mobil.
Daisy sudah berusaha untuk memberontak namun dirinya sempat diikat kaki dan tangannya dan dirinya dibuat tidak sadarkan diri.
Daisy telah diculik seseorang.
Sementara Lily dia baru sadar telah melupakan Daisy. Dia menengok ke belakang untuk melihat Daisy, namun sayangnya wanita itu sudah menghilang.
"Daisy? Daisy? Daisy?!"Sekarang malah Lily dan bergantian untuk meneriakinya. Dia berlari dengan panik dan mencari ke setiap sudut pasar.
" Daisy? Daisy dimana kau?!"Karena tidak menemukan Daisy dimanapun, akhirnya Lily memilih keluar dari pasar dan menghubungi seseorang.
Tuut...tuut...
"Halo?"Sapa seseorang dari balik telepon.
"Tuan...! Itu..."
"Ini saya sekretarisnya nona. Ada apa Nona?"Tanya Rio yang mengangkat teleponnya.
"Ah, bisakah kau berikan hpnya kepada Tuan Nathan? Ini sangat mendesak!"Ucap Lily terdengar begitu panik.
"Maaf Nona, tapi Tuan Nathan sedang ada meeting."Jawab Rio.
"Apa? Kalau begitu bisakah kau memberitahunya kalau Daisy menghilang?"Tanya Lily.
"Apa? Nona Daisy menghilang? Kok bisa?"Tanya Rio ikut kaget.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya sekarang! Aku perlu bantuan kalian untuk mencari Daisy, kumohon!"Ucap Lily.
"Ba-baiklah saya akan segera memberitahu Tuan soal ini...nona tenangkan diri dulu ya..."Ucap Rio.
"Baik, terima kasih!"
Telepon langsung terputus dan Rio dengan cepat menuju ruang meeting untuk menemui Nathan.
"Tuan...maaf telah menganggu acara pentingnya, tapi kita dapat kabar buruk!"Ucap Rio.
"Apa?"
"Nona Daisy menghilang Tuan!"
"Apa? Kenapa bisa?"Nathan ikut syok mendengarnya.
"Tadi nona Lily barusan menelepon. Dia terdengar panik. Dia tidak sempat menjelaskan apa penyebab nona Daisy bisa menghilang."
Nathan kembali memegang kepalanya merasa pusing.
Sementara itu Daisy, dia dibawa ke sebuah hutan dan mobilnya berjalan mengarah ke jurang.
Next....
.. 👍👍👍👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣