"Aku rela untuk menjadi yang ke - 3...yang pertama Tuhanmu, yang kedua Ibumu, yang ketiga Istrimu...Aku...asal jangan ada yang keempat diantara kita..."
Sebuah janji suci yang tidak seorangpun bisa menggoyahkannya.
Kisah perjuangan hidup seorang Lyvia dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga.
° Novel Adrian Maulana
Satu-satunya pria yang meluluhkan hatinya.
Namun apa jadinya jika kepercayaan cinta dikhianati.
Apakah Lyvia masih bisa menerima kembali ketulusan cinta Adrian ?
Akankah Adrian bisa meluluhkan hati Lyvia ?
Yuk ikuti kisah selengkapnya...😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azzahra Nian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17. Perkenalkan Namaku Maya
Masih dalam rangka memperjuangkan cinta. Pagi-pagi Maya bergegas melajukan mobilnya kerumah Adrian. Tapi belum sempat dia memasuki halaman rumahnya, Maya melihat mobil Adrian sudah keluar dari rumahnya.
Tanpa sepengetahuan Adrian, Maya mengikutinya dari belakang. Namun Adrian tidak langsung ke kantor. Dia berhenti di depan rumah yang tidak dia kenal.
Lama Maya menunggu, tapi Adrian tidak kunjung keluar dari sana. Selang setengah jam, Adrian keluar menuju mobilnya. Tapi tidak sendiri, dia berjalan menggandeng seseorang.
Siapa dia..? Apakah ini wanita lain dihatinya.?
'Dari penampilan nya, tidak seujung kuku pun bisa menandingi ku..!!' gumamnya.
Maya masih mengikuti mereka. Hingga akhirnya sampai di depan Dealer yang kemarin dia datangi. Adrian hanya menurunkan gadis itu. Terlihat keakraban antara keduanya.
"Tunggu saja, akan aku bereskan kamu nanti...!" umpatnya sendiri. Dia langsung mengikuti laju kendaraan Adrian.
"Adrian...." panggilnya, ketika melihat Adrian berlalu dari tempat parkir.
"Maya....apa yang kamu lakukan disini..?"
"Aku...aku ingin bicara sama kamu..."
"Apalagi yang kamu inginkan...!" tanya Adrian sedikit geram.
"Beri aku sedikit waktu...."
Adrian mengajak nya untuk keluar dari area kantor. Mereka berdua menuju sebuah Cafe. Belum banyak orang disana. Adrian bisa sedikit meluapkan emosinya.
"Sekarang katakan....apa mau kamu...!"
Kata Adrian, setelah memesan 2 gelas capuccino.
"Beri kesempatan padaku untuk memperbaiki kesalahanku yang lalu..." rayunya pada laki-laki itu.
"Maaf Maya...aku sudah pernah bilang sama kamu, aku sudah membuang jauh-jauh perasaan itu...."
"Apa karena gadis kampung yang barusan kamu antar ketempat kerjanya..."
"Apa maksudmu, jadi kamu mengikutiku...?"
"Aku peduli padamu Adrian..." rayunya lagi.
"Apa yang kamu tau tentang dia..." tanyanya sedikit geram.
"Tidak ada....aku hanya menebak saja, ternyata seleramu serendah itu..."
"Jaga bicaramu Maya... apapun yang kamu lakukan, tidak akan mengubah perasaanku padamu. Meskipun kau hasut Mamaku sekalipun..." tegas Adrian.
Adrian bergegas kembali ke kantornya. Ditinggalkannya perempuan itu sendiri di cafe setelah dia menyerahkan 1 lembar lima puluhan ke kasir.
"Adrian...kenapa secepat itu kamu melupakan ku..." sesalnya dalam hati. "Ini semua pasti karena wanita itu..." gumamnya.
Maya segera pergi ketempat di mana Lyvia berada. Maya belum tau siapa nama perempuan yang akan dicarinya. Tapi dia ingat betul raut wajah perempuan itu.
"Selamat siang Ibu...ada yang bisa kami bantu...?" sapa Resepsionis dengan ramah.
"Apa saya bisa bertemu dengan pimpinan kalian...?" jawabnya.
"Maksud anda, ibu Lyvia....?"
"Ya..."
"Mohon maaf dengan ibu siapa...? atau mungkin anda sudah membuat janji...?" tanyanya kemudian.
"Belum, bilang saja Maya ingin bertemu."
"Baik ibu.... silahkan duduk, mohon menunggu sebentar."
Maya meneliti tempat itu, selagi resepsionis menghubungi orang yang dia cari.
Tak berapa lama, gadis itu menghampirinya.
"Ibu Maya...silahkan Bu, kami antar ke ruangan beliau..." ajaknya dengan santun.
Maya mengikuti langkah gadis di depannya. Dari Pin Nama yang ada di dadanya tertulis nama °Diana°.
*Tok tok tok....
"Masuk...." sahut Lyvia dari dalam.
"Silahkan Bu Maya..." Diana membukakan pintu dan mempersilahkan tamunya untuk masuk. Diana segera undur diri.
Lyvia beranjak dari tempat duduknya. Dia mengingat-ingat, siapakah tamunya ini. Namun tidak sedikitpun tersirat di benaknya tentang perempuan ini. Sedangkan Maya yang ingat betul raut wajah Lyvia, ingin sekali dia cakar wanita di depannya ini.
"Silahkan duduk Ibu...mohon maaf, saya Lyvia...ada yang bisa kami bantu...?" sapa Lyvia tidak kalah ramahnya dengan Diana di depan.
"Perkenalkan...,namaku Maya, aku adalah wanita satu-satunya yang pernah ada dihati Adrian." ,jawabnya sedikit ketus.
Sebenarnya Lyvia merasa kaget, Namun dia masih bisa menahan emosinya. Lyvia menghela nafasnya, mengumpulkan seluruh tenaganya kemudian bertanya.
"Oh ya....lalu, apa hubungannya dengan saya....?" tanya Lyvia.
"Saya hanya minta, tolong jauhi Adrian ...karena saya mengandung anaknya."
Ungkapan itu membuat Lyvia semakin terpukul. Tapi dia tetap bersikap tenang. Ia ingin mengetahui kebenaran dari semua yang dia ceritakan.
"Aku yakin...sebagai sesama perempuan kamu pasti paham posisiku...." pintanya, kali ini diiringi dengan derai air mata.
"Kenapa anda mesti datang ke saya...? seharusnya anda sampaikan ini kepada yang bersangkutan." jawab Lyvia yang masih mencoba untuk tenang.
"Sudah...saya sudah bicarakan ini padanya, namun dia menolak. Dengan alasan karena sudah terlanjur janji denganmu..."
"Tidak tidak....sebelum semua terlambat, pergilah temui dan mintalah pertanggung jawaban padanya." kata Lyvia, antara percaya dan tidak. Yang jelas dia yang harus menyelesaikan masalah ini.
"Apakah Anda akan meninggalkan Adrian?"
"I...iya...kalau memang itu sebuah keharusan, saya rela melepasnya..." jawab Lyvia.
Maya dengan tangis palsunya mulai merasa senang mendengar jawaban Lyvia. Setelah misinya dirasa berhasil, dia berpamitan an keluar dari tempat itu.
"Terimakasih banyak... semoga apa yang kamu katakan bisa aku percaya." katanya sambil menjabat tangan Lyvia.
"Yesss....kali ini aku pastikan kamu akan kembali lagi padaku Adrian..." gumamnya girang ketika sudah berada di dalam mobilnya.
"Lyvia... ternyata cukup mudah mengalahkanmu, aku tidak perlu banyak membuang waktu dan tenaga. Cukup dengan sedikit sentuhan perasaan yang di bumbui dengan kebohongan, kamu sudah jatuh dalam genggamanku."
Tawa Maya kali ini, seperti tawa kemenangan.
Maya melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Lyvia di dalam gundahnya. Meninggalkan Lyvia yang sedang meratapi nasibnya. Meninggalkan Lyvia yang mungkin sekarang sedang menangis mencerna omongannya.
Lyvia terduduk ditempatnya. tidak tau apa yang harus dia lakukan saat ini. tidak mungkin dia minta klarifikasi dari Adrian. Mungkin memang dia harus mengalah demi kebaikan bersama.
Sejak kepergian Maya, Lyvia tidak bisa konsentrasi sama sekali. Semua begitu hampa. Seperti kebanyakan perempuan, sekuat apapun dia, dia tetaplah perempuan yang mempunyai sisi lemah.
Apalagi jika benar-benar ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Pasti rasanya menyakitkan. Lyvia yang baru merasakan indahnya cinta, harus kembali dengan kesendiriannya.
"Diana...ke ruangan ku sebentar..." dipanggilnya Diana melalui telepon kantornya.
*Tok tok tok....
"Ya.... masuk Din..."
Diana segera merapat mendekati meja kerja Lyvia.
"Ada yang bisa saya bantu mbak...?" tanyanya kemudian.
"Iya...aku minta tolong, selesaikan laporan ini... contoh nya ada di file atasnya..." Lyvia menerangkan.
"Baik mbak ..."
Diana memperhatikan dengan seksama.
"Kepalaku agak pusing, nanti kalau sudah selesai kamu kirim ke e-mailku ya...?" pintanya sekali lagi.
"Iya mbak...." Diana segera keluar dari ruangan Lyvia dan mengerjakan apa yang menjadi tugasnya.
Lyvia masih terdiam di ruangannya. Berharap masih kuat dan bisa melanjutkan pekerjaannya. Namun, sekali lagi dia hanyalah wanita biasa. Yang rentan akan rapuhnya perasaan. Biarkan berjalan sesuai kehendak-Nya. Saat ini dia hanya butuh waktu untuk sendiri.
~ ----------------------------
~ ----------------------------
~ ----------------------------
Semua serb natural...😍😍😘
Lanjut ah...😗😗