Drama, Romance
Amyra Rahma, seorang gadis pendiam yang cukup peka dan juga cuek pada sekitarnya di saat bersamaan. Tapi, Isna Syifa -biasa dipanggil Isyi- adalah pengecualian, karena ia adalah satu-satunya sahabat Ara. Ara, begitulah gadis itu dipanggil.
Pada suatu hari, tiba-tiba Isyi mengajukan sebuah permintaan yang sangat aneh menurut Ara. Isyi meminta Ara untuk menjadi madunya! Isyi, are you crazy!?
Namun, pada akhirnya Ara tetap tidak bisa menolak permintaan Isyi, pun dengan Imran -suami Isyi- yang dengan berat hati harus memenuhi permintaan konyol istrinya, Isyi.
Dan kemudian, seiring waktu, sebuah peristiwa yang masih menjadi misteri mulai terbuka secara perlahan..
Cerita ini hanya fiksi, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat atau alur, itu adalah ketidaksengajaan.
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grayalfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 17
"Kau bersedia 'kan, Ara?" Tanya Imran pelan.
Tanpa mampu berkata-kata lagi, Ara menganggukkan kepalanya menatap Imran dengan penuh arti.
... -----...
Ara, Imran dan Isyi baru saja keluar dari rumahnya ketika dua orang ibu-ibu lewat di depan rumahnya.
"Nah, gitu dong mas Imran. Kalo keluar ya ajak dua-duanya biar adil dan nggak ada yang ngerasa di anak tirikan." Ucap seorang ibu sambil menyenggol teman sebelahnya seperti meminta persetujuan darinya, dan benar saja temannya itu menganggukkan kepalanya menyetujui.
Anak tiri!? Batin Ara bertanya-tanya.
"Iya, kasian mbak Isyi sendirian di rumah, sedangkan suaminya malah asyik keluar bareng istri muda tiap hari." Ibu yang satunya lagi mulai mengeluarkan komentar pedasnya.
Isyi mengusap lembut lengan Ara yang tersenyum kecut mendengarnya.
Memang hanya prasangka buruk yang akan muncul di benak orang banyak terhadap istri muda. Hampir tak pernah ada penilaian baik bagi mereka. Ya, karena faktanya mereka adalah orang ketiga yang hampir selalu bisa membagi cinta dan kasih sayang seorang suami.
Sementara itu, Imran menatap bingung pada keduanya.
Ha!?
"Iya, Bu. Mumpung mas Imran libur kerja dan Ara juga libur magang, jadi kita rencananya mau belanja bareng sambil jalan-jalan, cari angin Bu." Ucap Isyi sambil tersenyum.
"Ooh, itu istri mudanya masih kuliah apa gimana mas Imran?"
"Masih kuliah Bu, satu tahun lagi wisuda." Ara yang menjawab, berusaha tersenyum meski ia merasa sedikit sesak di dadanya.
"Ooh, masih kuliah toh."
"Padahal masih muda, ya. Tapi malah ngebet nikah, malah rela jadi yang kedua." Ucap si ibu yang satu pada ibu yang lainnya, berbisik-bisik versi ibu-ibu tukang gosip. Terdengar jelas di telinga Ara. Lalu mereka melengos pergi tanpa pamit.
"Isyi, aku minta maaf." Ucap Ara rendah.
"Hei, kenapa kamu minta maaf!? Kamu tak salah apa-apa disini. Justru aku yang minta maaf padamu." Isyi menggenggam tangan kanan Ara, mengusapnya lembut sambil menatap penuh arti pada Ara.
Maafkan aku Isyi. Aku sudah mengkhianati mu, kau begitu menyayangiku sedangkan aku malah seperti menikam mu dari belakang. Aku memang sakit hati setiap mendengar cemoohan orang, tapi aku lebih sakit hati melihat mu yang selalu baik dan sayang padaku, aku sakit hati pada diriku sendiri yang dengan tak tahu malunya malah menyukai suami sahabatku sendiri.
Isyi membawa Ara dalam pelukannya, Ara membalasnya dengan senang hati.
"A-ah." Tiba-tiba Ara meringis membuat Isyi melepaskan pelukannya saat itu juga, menatap khawatir pada Ara, Imran menatapnya tak kalah khawatir.
"Ara, kenapa?"
"Mana yang sakit."
Imran dan Isyi bersautan menanyai Ara.
"Ah nggak, ini kayaknya perut Ara sakit. Uh-" Ara memegang perutnya dengan kedua tangannya.
"Sakit kenapa? Kita ke rumah sakit ya" Isyi panik.
"Nggak, bukan. Kayaknya Ara mau ... mau.." Ara mendekatkan mulutnya pada telinga Isyi dan berbisik.
"Ara mau poop." Bisiknya begitu pelan di telinga Isyi. Tangannya masih memegangi perutnya.
"Astaga, Ara. Aku pikir ada apa." Isyi bernafas lega mendengarnya, ia menahan senyumnya.
Imran bertanya pada Isyi lewat matanya, tapi Isyi hanya tersenyum menanggapi.
"Yaudah, kelarin dulu sana, aku sama mas imran tunggini di mobil-"
"Nggak usah, kalian duluan aja, nanti aku nyusul."
"Gak apa-apa, kita tungguin aja. Nggak lama ini 'kan!?"
"Aku tuh suka lama, seriusan deh, kalian duluan aja, oke?"
Ara menatap Imran, memberinya kode agar membujuk Isyi dan berharap Imran memahaminya.
"Sudahlah Isyi, kita duluan aja ya, nanti keburu siang." Ucap Imran lembut menerbitkan senyuman kecil di bibir Ara dan Isyi mau akhirnya menuruti suaminya.
Sebelum sampai di mobil, Isyi kembali melihat ke belakang tapi Ara sudah tak ada disana. Sepertinya Ara benar-benar sudah tak tahan, pikir Isyi.
... -----...
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam lewat beberapa menit. Tapi Ara masih harus berusaha keras untuk membujuk Isyi agar memaafkannya. Ya, Isyi marah dan merajuk karena tadi siang, Ara tak kunjung menyusulnya dan ternyata ia malah tertidur di rumah.
"Isyi, aku benar-benar minta maaf. Aku nggak sengaja, serius." Ara mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya hingga membentuk huruf 'V' wajahnya ia tampilkan semenyesal mungkin mengandalkan puppy eyes-nya, Ara berharap ini akan mempan pada Isyi, seperti biasanya.
Isyi tak menanggapi ucapan Ara, ia tetap fokus pada layar televisi.
"Isyi, maafkan aku, ya!?" Ara tak patah arang, ia tidak akan berhenti meminta maaf sampai Isyi memaafkannya. Ara mendekati Isyi kemudian memeluknya dari samping. Isyi memilih memalingkan wajahnya.
"Isyi, kau benar-benar marah ya?!" Tanya Ara sekali lagi. Astaga Ara, sudah jelas-jelas Isyi sedang marah dan merajuk.
Isyi memutar bola matanya dan berkata dengan ketus
"Marah-semarah-marahnya."
Mendengar ucapan Isyi, bukannya marah, Ara malah berbinar.
"Kenapa kau terlihat senang?" Tanya Imran sambil geleng-geleng kepala. Rupanya sedari tadi ia hanya memperhatikan kedua wanita bersahabat itu.
"Hm?" Ara melirik Imran sekilas dan kembali menatap Isyi.
"Setidaknya dia sudah bersuara lagi, Isyi menjawab pertanyaan Ara. Itu artinya dia sudah tidak marah lagi." Ucap Ara optimis.
"Siapa bilang, aku masih marah." Isyi masih dengan nada ketusnya.
"Nggak apa-apa. Itu artinya, Isyi sayang sama Ara." Ucap Ara ceria.
Isyi hanya mendengus mendengar ocehan Ara.
"Marah kan tandanya sayang~" Ara tak hentinya mengoceh.
"Isyi~"
"Astaga Ara, kenapa kau berisik sekali.!?"
"Aku akan berisik sampai kau memaafkan aku."
Imran menahan tawanya melihat perdebatan dua wanita itu.
"Forgive me, please.." Ara menangkup kedua tangannya, memohon.
"Aku akan biarkan mas Imran tidur di kamarmu malam ini sebagai permintaan maaf ku." Lanjut Ara memberi penawaran.
Imran yang mendengar itu menunjuk dirinya sendiri. Menatap penuh tanya pada keduanya. Kenapa jadi aku? Batinnya.
"Oh mana bisa begitu." Isyi tegas menjawab.
"Kalo begitu maafkan aku. Kalo tidak, aku akan kirim mas Imran ke kamarmu."
Hei, kau pikir aku barang. Tadinya Imran masih akan membiarkan mereka. Tapi...
"Hoo, kau mengancam ku ya?" Tanya Isyi berdiri sambil menatap Ara.
"Iya, aku mengancammu. Apa kau takut?" Tantang Ara, ikut berdiri.
"No, siapa takut." Tangan Isyi bersedekap di dadanya.
"Hei-" Imran hendak melerai keduanya.
Hahaha
Niat Imran yang hendak melerai keduanya karena dirasa suhu di sekitar mereka mulai panas, mengurungkan niatnya ketika kedua wanita itu tertawa.
Haha hahaha.
Sementara kedua wanita itu tertawa lepas, Imran memiringkan kepalanya dengan sebelah alis yang terangkat.
Wanita memang aneh.
Imran tersenyum sambil menggeleng pelan.
"Bagaimana kalau malam ini kita tidur bersama?" Tanya Ara menawarkan.
Seketika Imran membulatkan matanya. Apa tidak apa-apa jika mereka bertiga tidur bersama di kamar yang sama? Imran menatap tak percaya pada Ara.
"Boleh juga." Jawaban Isyi membuat Imran tak hanya membulatkan matanya tapi juga mulutnya.
Ha!?
"Kita berdua akan bersenang-senang malam ini." Ucap Ara memeluk Isyi dari samping kemudian keduanya berjalan ke kamar Isyi. Tak menghiraukan Imran yang masih berdiri kaku.
Ha~
"Ternyata berdua." Guman Imran pelan pada dirinya sendiri.
To be continued~